LANJUTAN 9

1465 Kata
  Kepergian Krisna dari kampungnya , sedikit besar berpengaruh pada motivasi Krisna, harapan Krisna sangat besar bahwa Ia bisa sukses apapun Profesi yang akan Dia jalani, meskipun hanya menjadi seorang OB tapi Dia yakin ada jalan menuju sukses itu.   Murung , beban batin saat itu Krisna rasakan, apalagi dengan kondisi Kakeknya yang seakan – akan punya pesan sendiri untuk Krisna, semua kejadian antara Krisna, Ki Amin dan Siti, bukanlah sesuatu hal yang kebetulan, ada sebab akibat di masa lalu atau perjanjian – perjanjian di masa lalu yang harus di bayar, terutama oleh Ki Amin.   “ Kau ini kenapa?, pulang dari kampung bukannya bahagia malah cemberut saja.” Ujar Bram sambil duduk mendekati Krisna di depan area kantor.   “ Ini Bang, Aku sedang galau.” Ujar Krisna.   “ Kau ini macam tetangga Ku dulu, Dia murung tiba - tiba hilang.” Ujar Bram.   “ Hilang Gimana maksudnya Bang?” Tanya Krisna.   “ Ia hilang, Hilang bersama motor ku, aku kira dia sedang sedih, tau – taunya pencuri, makannya Kau juga jangan seperti itu, murung , sedih, Aku takut semua motor di parkiran ini hilang.” Ujar Bram sambil tersenyum kecil.   “ Ah abang ini selalu saja, Aku sedang banyak pikiran Bang.” Ujar Krisna.   “ Banyak pikiran? Coba Kau cerita pada Ku.” Ujar Bram.   “ Ini Bang, waktu Aku pulang kampung kemarin kan Aku dapat telepon dari kantor, hari ini ada rapat untuk semua karyawan, aku pamit ke orang tua ku , Mereka terutama Bapak ku merasa jika Aku lebih mementingkan pekerjaan dari pada kondisi kakek Ku yang sedang sakit, dan Aku pun sesumbar kepada Bapak Ku , Kalau Aku bisa sukses di kota.” Ujar Krisna.   “ Lalu kenapa Kau sesumbar seperti itu?” Ujar Bram.   “ Ya Aku hanya bingung saja Bang, bingung Aku, Bapak ku malah membuat Aku semakin ruwet , tapi Aku juga kasihan sama Kakek Ku.” Ujar Krisna.   “ Menurut Ku, Pilihan Kau untuk kembali ke kota sudah tepa.” Ujar Bram.   “ Tepat , kenapa bisa Bang ?” Ujar Krisna.   “ Tepat, coba Kau pikir, jika Kau masih di sana apa Kakek Mu bisa langsung sembuh?” Tanya Bram.   “ Belum tentu juga Bang.” Ujar Krisna.   “ Nah itu dia, tapi jika Kau balik ke kota , kesempatan bekerja di perusahaan besar itu tidak hilang, dan Kau bisa terus berdoa untuk kesembuhan Kakek Mu di sana.” Ujar Bram.   “ Dan satu lagi, bayangkan jika kau tetap di sana, pekerjaan Kau hilang, dan Kakek Mu belum tentu sembuh, semakin sulit Kau dapat kerja, semakin pusing Kau mencarinya lagi.” Ujar Bram.   “ Sekarang yang penting panjatkan do’a untuk Kakek Mu di sana, dan terus bekerja, belajar lebih baik, biar sesumbar Kau itu bisa terwujud, bukan hanya bualan saat kau sedang emosi saja.” Ujar Bram.   “ Sudah, cape juga Aku bicara terus, ceria lah sedikit, hibur Abang Kau ini yang sudah menjadi seorang motivator untuk Kau.” Ujar Bram.   “ Ia Bang , terima kasih buat wejangan nya.” Ujar Krisna.   “ Oh ia Bang, Abang sempat cerita ke OB yang lain  soal kejadian waktu kita berdua lembur ?” Tanya Krisna.   “ Aku tidak ngomong pada siapa pun, cukup kita saja yang tau, Aku takutnya Ob yang lain jadi takut, dan Efeknya nanti kita kerja lebih cape, dan lantai itu malah semakin tak terurus.   “ Ia juga ya Bang, Ya sudah Mudah – mudahhan itu kejadian terakhir ya Bang, dan jujur Aku gak mau lembur lagi Bang, Abang aja yang lembur jangan ajak Aku.” Ujar Krisna.   “ di kasih satu juta sehari pun aku gak mau lembur lagi Kris, kapok aku, dan katanya besok juga bakal ada rapat malam lagi, makannya kita besok harus pulang lebih awal.” Ujar Bram.   “ Aku Ikut Abang saja bagusnya gimana.” Ujar Krisna.   “ Oh ia Kris, Aku tadi lupa, sebenarnya Kakek Mu itu sakit apa?” Ujar Bram.   “ Aku juga kurang tau Bang, tapi yang ku lihat badannya lebih kurus.” Ujar Krisna.   “ Memangnya Umur Kakek mu sudah berapa tahun?” Tanya Bram.   “ Kakek Ku sekarang umurnya sudah seratus lebih Bang, Aku pun tidak tau tepatnya berapa.” Ujar Krisna.   “ Mantap sekali Kakek Mu, apa rahasianya?’’ Tanya Bram.   “ Rahasianya? Banyak nikah Bang.” Ujar Krisna bercanda.   “ Ah yang betul Kau?” Tanya Bram.   “ bercanda Bang,” sambil tertawa terbahak – bahak. “ Kakek Ku itu setia Bang, makannya umurnya panjang, dan makanannya selalu asli dari hutan, makan nasi pun harus hasil panen sendiri, bahkan bikin Kopi pun harus jemur kopi dulu baru di tumbuk terus di seduh.” Ujar Krisna.   “ Nah kan, sudah Ku duga Kau hanya bercanda, Mantap juga gaya hidup Kakek mu , pantas lah panjang umur, bikin segelas kopi saja butuh waktu berminggu – minggu, Kalau Aku jadi Kakek mu, Kayanya aku akan hidup dengan penuh beban.” Ujar Bram.   “ Beban kenapa Bang?” Tanya Krisna.   “ Ia beban, sehari – hari Aku tidak bisa minum kopi setiap pagi, mau minum hari senin baru di seduh hari sabtunya.” Ujar Bram.   “ Ya gak gitu juga Bang, dan lagi pula gak ada yang mau jadi cucu Abang.” Ujar Krisna.   Perbincangan mereka sedikit besarnya membuat Krisna melupakan masalahnya, di tengah – tengah obrolan mereka, datang Yuda meminta ktp untuk indentitas diri di jaminan pekerja, saat Krisna membuka dompet ,Krisna yang saat itu ikut dengan Yuda, tidak sadar ada benda jatuh dari dompetnya, benda itu lalu di ambil oleh Bram, benda itu ternyata benda pemberian Pak Sugeng yang sempat menghilang dan berpindah tempat ke dompet Krisna.   Bram awal curiga dengan benda itu, sebelum Bram mengembalikannya , Bram sengaja mencari benda itu di internet, tapi tidak mendapatkan jawaban.   Dengan sifat Bram yang acuh, benda itu tidak berarti apa - apa untuknya, Bram akhirnya mengembalikan benda itu kepada Krisna, Krisna merasa tidak kehilangan apa pun, tapi pada saat Bram memperlihatkan Benda itu, langsung saja Krisna membuang benda itu dan berpura – pura, bahwa benda itu hanya s****h.   Krisna sangat kesal dengan benda itu, benda itu seakan punya nyawa, berpindah tempat dengan mudahnya, Krisna dulu  mencari – cari benda itu , tapi ternyata selama ini berada di dompetnya sendiri.   “ Itu jimat ya?” Tanya Bram.   “ bukan Bang.” Krisna gelisah. “ itu hanya s****h Aku lupa buang waktu belanja di minimarket kemarin.” Ujar Krisna.   “ Ya terserah Kau saja lah, mau itu s****h atau pun jimat, yang penting sudah ku kembalikan, takutnya penting.” Ujar Bram.   “ oh ia Bang, kebetulan itu sampah.” Ujar Krisna.     “ Tapi jika itu Jimat, buat apa kau pakai Jimat, jangan bilang untuk pemikat.” Ujar Bram.   “ Betul Bang itu Hanya s****h, Aku sudah tampan Bang tidak perlu pakai begituan.” Ujar Krisna.   “ Ia ia, santai saja, Kok Kau seperti panik saja.” Ujar Bram.   “ Ia Bang, Aku panik, Aku belum makan dari tadi siang.” Ujar Krisna.   “ Bisa saja Kau, ya sudah makan sana.” Ujar Bram.   Krisna sengaja pergi meninggalkan Bram, agar Bram tidak banyak pertanyaan tentang benda itu, Krisna pun berniat untuk mengambil benda itu nanti, dan Krisna berpikir jika benda itu di bakar,, benda itu akan hilang selamanya.   Tapi saat benda itu dia cari di tempat s****h, benda itu menghilang, Bram pun sempat melihat Krisna sedang membuka tempat s****h dan terlihat sedang mencari sesuatu, Bram hanya tersenyum dengan kelakuan Krisna, dan sesuai dugaan Krisna benda itu sudah lenyap tanpa jejak.   Krisna sekali lagi di buat kelimpungan dengan benda itu, seakan – akan di permainkan oleh benda mati, niatan untuk memusnahkan benda itu pun pupus, tapi betapa terkejutnya Dia ketika masuk ke dalam kamar kosnya, di meja itu sudah ada benda putih mirip benda yang sempat Krisna buang. “ Di sini Kau rupanya.” Ujar Krisna sambil memegang benda itu.   “ Akan ku bakar benda ini,” Krisna pergi ke dapur untuk mengambil korek dan setumpukkan kertas koran bekas. “ sudah waktunya Kau pergi dari hidupku.” Ujar Krisna sambil menggenggam erat benda itu. Krisna berjalan menuju halaman rumah. “ Tau rasa Kau, dan jangan pernah Kau mengganggu Ku lagi. Ujar Krisna.   Pak Yaya keluar melihat Krisna. “ Tumben Mas bakar s****h?” Tanya Pak Yaya.   “ Eh Bapak, Ia nih Pak, gak papa kan Pak saya Bakar s****h di sini?” Ujar Krisna.   “ Ya gak papa Mas, Dari pada di buang ke sungai, ya Sudah Mas, Bapak ke dalam lagi ya.” Ujar Pak Yaya.   Krisna langsung membakar tumpukan koran lalu di simpan di  dalam kobaran api itu, perlahan kain pembungkusnya terbakar, kertas bertuliskan huruf aneh itu pun ikut terbakar, sudah habis semua benda itu terbakar, Krisna sedikit lega tapi anggapan Krisna itu salah, ada makhluk yang murka atas perbuatan Krisna.   Krisna merasa dirinya telah lepas, tapi akibat perbuatannya itu, gangguan terhadap Krisna semakin nyata adanya, dan membuat Krisna semakin tertekan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN