Tidak terbesit sedikit pun, rasa bersalah dari tingkah laku Pak Sugeng yang sudah terlewat batas, amarahnya sudah tidak terbendung terhadap Pak Dadang, hingga seluruh kaki tangan Pak Sugeng di kerahkan untuk menari Pak Dadang dan keluarga, layaknya hewan buruan, Pak Dadang untuk sementara hanya bisa bersembunyi sambil mempersiapkan rencana balas dendam.
Sudah hampir tiga hari lamanya Ijam dan Pak Dadang berlindung di kampung seberang, persediaan bekal Ijam pun mulai habis, tidak adanya alat komunikasi membuat Ijam dan Pak Dadang semakin terpuruk, tapi sang pencipta tidak pernah tidur, masih banyak pertolongan melalui perantara orang – orang baik yang berada di kampung itu, bahkan mereka tidak sungkan untuk meminjamkan pakaian yang mereka miliki.
“ warga di sini memang sangat bersahaja, ramah dan saling melindungi satu sama lain.” Ujar Pak Dadang.
“ Memang betul Pak, tapi mereka hanya perantara untuk membantu kita.” Ujar Ijam.
“ Perantara apa Jam?” Tanya Pak Dadang.
“ Orang baik, akan mendapatkan kebaikan dari sudut mana pun Pak, Jadi sang pencipta itu maha pemberi ampun, Jadi tidak ada salahnya Bapak berubah sejak sekarang.” Ujar Ijam.
Pak Dadang terdiam.
“ Maafkan Ijam Pak, Ijam tidak bermaksud menggurui.” Ujar Ijam.
“ Tidak Apa – apa Jam, tidak ada yang namanya menggurui, Lebih bagus seperti ini , saling mengingatkan satu dan yang lain , Bapak juga harus jujur, jika pengetahuan agama Bapak memang kurang, jadi kita harus saling menasihati satu sama lain, baik tua ataupun muda.” Ujar Pak Dadang.
“ Ijam juga bukan orang sempurna, layaknya manusia biasa ijam pun memiliki sifat buruk, jadi Bapak juga jangan menganggap Ijam terlalu baik." Ujar Ijam.
“ Kamu memang anak yang baik Jam, meskipun Bapak bukan Ayah kandungmu, tapi Bapak bangga padamu.” Ujar Pak Dadang.
Pak Sugeng yang murka , mengerahkan seluruh kaki tangannya untuk mencari Ijam dan Pak Dadang, hingga salah satu kaki tangannya melihat Ijam berada di kampung seberang.
“ Ternyata anak itu masih ada di dunia ini, bagus kalau begitu, kita bisa memanfaatkan mereka, jangan sampai mereka keluar dari kampung itu.” Ujar Pak Sugeng kepada Kaki tangannya.
Keberadaan Ijam dan Pak Dadang pun kini terendus oleh Pak Sugeng, firasat pun muncul kepada Pak Dadang, tidurnya selalu gelisah dan itu pun di sadari oleh Ijam.
“ Pak, kenapa?, Bapak sakit?” Tanya Ijam.
“ Tidak tahu Jam, Bapak hanya tidak bisa tidur saja, hati Bapak tidak tenang.” Ujar Pak Dadang.
Waktu menunjukkan tengah malam, dan Pak Dadang pun memutuskan untuk segera pergi dan mengajak Ijam segera berkemas.
" Jam Kita harus pergi sekarang.” Ujar Pak Dadang.
“ kenapa pak, Tiba – tiba seperti ini?” Tanya Ijam keheranan.
“ Tidak tahu Jam, yang penting kita harus pergi sekarang.’ Ujar Pak Dadang.
“ Ya sudah, Ijam ikut saja Pak, tapi kita akan ke mana?” Tanya Ijam.
“ Pokoknya pergi dulu dari kampung ini.” Ujar Pak Dadang.
“ Kita langsung pulang ke kota saja?” Tanya Ijam.
“ ya Sudah, kita ke kota saja.” Ujar Pak Dadang.
“ Cuma ada satu hal Pak yang mengganjal.” Ujar Ijam menundukkan kepala.
“ Apa itu Jam?” Tanya Pak Dadang.
“ Uang Ijam sudah habis, Ijam tidak membawa telepon genggam, bagaimana kita bisa ke kota?” Tanya Ijam.
“ Sudah Jam, jangan di pikirkan, kalau perlu kita berjalan ke kota pun tidak apa – apa.” Ujar Pak Dadang.
“ Bapak yakin , ke kota sana jika berjalan mungkin butuh waktu seharian tanpa istirahat.” Ujar Ijam.
“ Bapak sangat yakin Jam, sebab Jika kita masih tetap di sini pun, lama – lama bekal pun akan habis.” Ujar Pak Dadang.
“ Ya sudah Ijam ikut saja bagusnya seperti apa.” Ujar Ijam.
Mereka pun pergi secara tergesa gesa bahkan tanpa pesan, untuk kesekian kalinya Mereka berdua pergi menjauh dari Pak Sugeng, Firasat itu memang benar – benar terjadi , Pak Dadang yang dulu oleh Pak Sugeng sengaja di buka mata batinnya, kini bahkan lebih peka terhadap firasat buruk di bandingkan dengan Krisna.
Entah apa yang di pikirkan Ijam saat itu, melihat Pak Dadang yang seakan sangat yakin terhadap firasatnya, tanpa henti – hentinya Pak Dadang menunjukkan wajah cemas.
“ Pak sebenarnya apa yang terjadi, dan membuat Bapak memutuskan untuk berangkat sekarang, jangan membuat Ijam khawatir.” Ujar Ijam sambil berjalan menyusuri jalanan kampung.
“ Bapak tidak bisa menjelaskannya Jam, Hati Bapak serasa berat, dan Bapak tidak bisa melawan keinginan untuk segera pergi dari kampung ini.” Ujar Pak Dadang.
Ijam pun mengerutkan dahinya sebagai tanda keanehan yang di perlihatkan oleh Pak Dadang, Ijam hanya bisa mengikuti gerak langkah Pak Dadang yang bisa di bilang cepat untuk usia seumur pak Dadang, layaknya mempunyai motivasi lain dalam diri Pak Dadang.
Keanehan pun mulai di rasakan Ijam, Ijam melihat Pak Dadang seperti orang yang ketakutan, matanya selalu melihat tipis ke arah kanan dan kiri, Pak Dadang seperti tengah di ikuti sosok lain dalam pandangan Ijam.
“ Pak Tunggu sebentar, Ijam lelah, kita boleh istirahat dulu di bawah pohon ini.” Ujar Ijam.
“ Jangan di pohon itu Jam, mana ini baru jam 2 pagi, nanti saja sudah dekat jalan raya.” Ujar Pak Dadang.
“ Tapi Ijam sudah lelah Pak.” Ujar ijam.
“ Paksakan Jam, jangan Biarkan diri Kamu lemah.” Ujar Pak Dadang menarik tangan Ijam.
Pak Dadang pun di kejutkan dengan suara tangisan yang cukup keras, seketika mereka terdiam, Pak Dadang melihat Ke arah atas, dan mereka pun terkejut melihat sosok yang sedang bergelantungan di atas pohon, Pak Dadang hanya terdiam dan memarahi sosok itu, sedangkan Ijam hanya tertunduk sambil membaca doa – doa untuk mengusir sosok itu.
“ Kamu Ini Belum pulang, jam segini masih berkeliaran.” Ujar Pak Dadang lantang.
Sosok itu hanya menertawakan Pak Dadang dan Ijam.
“ Malah tertawa, pergi, atau Aku beri pelajaran Kamu.” Ujar Pak Dadang.
Sosok itu seperti menghiraukan seruan Pak Dadang dan malah semakin menjadi.
“ Malah semakin keras Tertawamu, sekali lagi Kau tidak pergi Ku pukul Kau.” Ujar Pak Dadang.
Ijam melihat Pak Dadang seperti tidak memiliki rasa takut, berbeda saat berada di dalam hutan yang terlihat sangat tersiksa dengan gangguan – gangguan itu, Namun sosok itu malah semakin menjadi dan sepertinya sangat marah terhadap Pak Dadang.
“ cepat pergi, jangan hanya terus tertawa saja, Kau seperti menghinaku.” Ujar Pak Dadang terpancing emosi.
“ sudah pak , lebih baik kita pergi.” Ujar Ijam.
“ Tidak jam, Bapak harus memberikan pelajaran untuknya.” Ujar Pak Dadang sambil membawa setumpuk tanah di tangannya.
“ Tanah Itu untuk apa Pak?’ Tanya Ijam tidak berani melihat ke atas.
Pak Dadang hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Krisna, matanya fokus pada sosok itu, dan dengan sekuat tenaga Pak Dadang melemparkan Tanah di genggamannya, seketika juga sosok itu terdiam, dan hanya menatap ke arah Pak Dadang.
“ Pergi , Atau akan Aku lemparkan lagi tanah ini.” Ujar Pak Dadang membentak Kepada sosok itu.
Sosok itu langsung terbang pergi menghilang, tapi sepertinya sosok itu tidak berhenti di situ saja, Pak Dadang dan Ijam pun langsung meneruskan perjalanannya.
“ Pak , kenapa Bapak tidak takut dengan sosok itu?’ Tanya Ijam.
“ Bapak saat di surau sana, sering mendengarkan ceramah pembuka agama, Bapak mendengarkan jika derajat manusia itu lebih tinggi di banding sosok yang tadi kita lihat, dan entah kenapa hati Bapak juga tidak merasa takut sama sekali dengan sosok itu, semuanya terjadi begitu saja.” Ujar Pak Dadang.
“ Mungkin semuanya sudah mendapat hikmah dari setiap kejadian Pak, jadi Bapak pun harus sangat bersyukur.” Ujar Ijam.
“ Ia Jam, setelah cukup lama menumpang hidup di surau itu, ada ilmu yang bisa Bapak ambil di sana.” Ujar Pak Dadang.
“ Syukurlah Pak, semoga Bapak juga terus mendapat berkah dari setiap kejadian yang tengah kita alami.” Ujar Ijam.
Di tengah pembicaraan mereka, tiba – tiba sosok itu kembali datang dan membalas lemparan kepada Pak Dadang, Pak Dadang dan Ijam sangat marah, mereka serasa di permainkan oleh sosok itu, Pak Dadang melihat ada sebuah lidi yang tercecer di jalan, lidi itu seperti bekas membersihkan genangan air, Pak Dadang langsung mengambil salah satu lidi dan dengan sengaja mengibaskan lidi itu ke arah sosok yang ada di depannya, sosok itu tampak ketakutan dan pergi menjauh, Ijam hanya terperangah melihat Pak Dadang.
“ Hebat sekali Bapak, untuk ke sekian kalinya bisa mengusir makhluk itu, dan dari mana Bapak Tahu jika lidi bisa mengusir sosok itu?” Tanya Ijam.
“ Dulu Bapak sempat mendengar obrolan Ki Amin dengan kawan – kawannya, dulu Ki Amin pun pernah mengalami hal seperti kita, hanya saja dulu Ki Amin berada di ladang, Ki Amin di ganggu oleh sosok itu dan dengan satu kali kibasan lidi, sosok itu langsung pergi terbirit-b***t, hal itu awalnya Bapak tidak percaya, Bapak awalnya menganggap jika itu semua mitos, dan ternyata detik ini Bapak membuktikannya sendiri, sehingga sekarang Bapak percaya dengan yang namanya mitos.” Ujar Pak Dadang.
“ Menurut Bapak mitos itu semuanya benar atau tidak pak?” Tanya Ijam, sambil meneruskan perjalanan mereka.
“ Tidak semuanya benar Jam, Tapi intinya dengan adanya mitos , bisa menjadi pembatas untuk perilaku manusia agar tidak berbuat berlebihan, bayangkan jika tidak ada mitos atau larangan – larangan terhadap manusia, yang ada timbul ke tidak seimbangan di alam dan akhirnya merugikan juga untuk manusia itu sendiri.” Ujar Pak Dadang.
“ Tapi Bapak percaya tentang mitos mencukur alis bisa melihat sosok seperti tadi ?” Tanya Ijam.
“ memang ada yang pernah mengatakan hal itu, Bapak belum bisa menyebut itu benar , sebab apak belum pernah melakukannya, memangnya kenapa Jam?’ Tanya Pak Dadang.
“ Ijam mau jujur sama Bapak.” Ujar iam.
“ Jujur tentang apa Jam.” Ujar Pak Dadang.
“ Jadi dulu saya dan Krisna ingin mengetahui maksud dari sosok yang selalu mengikuti Krisna, hingga akhirnya saya menyarankan Krisna untuk bisa melihat mereka dan langsung menanyakan perihal tujuan dan maksud makhluk itu, hanya saja Krisna tidak sanggup untuk menerimanya, hingga akhirnya dia sakit, hal itu juga yang membuat Ijam merasa bersalah telah membuat Krisna bisa melihat sosok yang tidak bisa Ijam lihat.” Ujar Ijam menyesal.
“ jika itu memang benar berarti mitos itu pun benar, Kamu jangan merasa bersalah Jam, Bapak juga berterima kasih terhadapmu, sudah membuat Krisna kuat dan berani meskipun dengan cara yang sedikit keras.” Ujar Pak Dadang.
“ Ijam pun menyaran kan hal itu kepada Krisna, karena Ijam yakin dan Ijam sering membaca artikel tentang hal ini, Ijam ingin keluarga ini segera kembali damai dan jauh dari belenggu sosok – sosok lain dan orang – orang yang hanya ingin mempermainkan serta memanfaatkan kita.” Ujar Ijam.
“ terima kasih ya Jam, Kamu sangat peduli.” Ujar Pak Dadang.
“ Sudah menjadi kewajiban Ijam Pak.” Ujar ijam.
Mereka pun terus memaksakan kaki mereka untuk terus berjalan, waktu ke watu, jam ke detik berlalu begitu cepat , perbincangan mereka pun menjadi obat lelah di perjalanan, hingga akhirnya terlihat matahari mulai naik, jalanan pun perlahan mulai terlihat, hingga sampai lah di ujung jalan besar, dengan perbekalan yang sedikit, Ijam memutuskan untuk membelikan uang terakhirnya , untuk membeli makanan untuk mereka, tapi dengan lantang Pak Dadang menolak.
“ Pak Ijam beli makanan dulu Ya.” Ujar Ijam berpamitan .
Pak Dadang yang tengah duduk di trotoar jalan seketika berdiri dan menolak.
“ Jangan Jam, kita bisa berpuasa, atau mungkin sebaiknya kita membeli minum saja, simpan bekalmu untuk hal yang penting nanti, perut Bapak bisa menunggu dan menahan lapar, Kamu pun harus bisa Jam.” Ujar Pak Dadang.
“ Apa Bapak yakin, Ijam takut Bapak sakit.” Ujar Ijam cemas.
“ Jangan berpikir seperti itu, dengan keadaan seperti ini kita harus kuat, dan berpikir positif, dan sebaiknya kita mencari surau dulu untuk sembahyang.” Ujar Pak Dadang.
“ Ia Pak, Ijam menurut saja.” Ujar Ijam.
Pak Dadang dan Ijam mencari surau di sepanjang jalan, tidak lah sulit menemukan surau untuk beribadah, mereka pun bersembahyang sambil mengisi kembali tenaga yang sudah cukup terkuras habis, Ijam melihat Pak Dadang sangat benar – benar ingin berubah, kemauannya itu sangat di dukung dengan setiap kejadian yang dari pandangan Ijam memiliki arti besar dalam perubahan Pak Dadang.