LANJUTAN 51

3130 Kata
Layaknya seorang musafir, Ijam dan Pak Dadang berpindah dari satu surau ke surau yang lain di setiap perjalanannya, salin untuk beribadah dan beristiahat, surau pun menjadi tempat perlindungan yang bagus untuk menghindari Pak Sugeng, bukan tanpa sebab pak Sugeng tidak akan menyangka jika Ijam dan Pak Dadang berlindung di surau.   Setiap bersinggah di suatu surau Pak Dadang sepertinya mendapatkan ilmu pengetahuan tentang mendalami agama secara dalam, Pak Dadang selalu mendengarkan setiap ceramah pembuka agama, sedikit demi sedikit, perlahan namun pasti Pak Dadang semakin paham tentang arti hidup yang sebenarnya.   Tujuan hidup bukan hanya sekedar kenikmatan di dunia, tapi lebih dari itu, Tujuan hidup sebenarnya adalah kebahagiaan di dunia dan kehidupan di hari setelahnya, Pak Dadang semakin berubah menjadi lebih baik, dirinya terlihat lebih tenang dalam menghadapi setiap kejadian yang di alami.   Tepat saat itu tengah hari, Pak Dadang dan Ijam pun sudah menjalankan sembahyang, mereka berdiam di pelataran surau dan berbincang sambil menunggu matahari sedikit turun agar tenaga mereka tidak terlalu banyak terkuras.   Ijam melihat jika Pak Dadang perawakannya sangat bersih, berbeda dengan keadaan dulu, di mana Pak Dadang meskipun dalam keadaan sehat tapi rupa wajahnya terlihat lusuh.   “ Pak, Ijam boleh mengatakan sesuatu.” Ujar Ijam.   “ Bilang saja, biasanya juga langsung bilang, gak pakai izin segala.” Ujar pak Dadang.   “ Bapak terlihat lebih muda.” Ujar Ijam.   “ Memang apak masih muda, jika Ki Amin itu baru sudah tua.” Ujar pak Dadang.   “ betul Pak, seme kejadian di hutan hingga akhirnya kita tinggal beberapa hari di surau, Bapak menjadi sangat berbeda, biasanya Bapak menghadapi masalah dengan emosi, tapi kini Bapak terlihat lebih tenang.” Ujar Ijam.   “ Bapak juga entah kenapa bisa menjadi seperti ini, yang Bapak rasakan setiap sembahyang adalah rasa damai dan tenang di dalam hati.” Ujar Pak Dadang.   “ Ia Pak, sekali lagi Ijam bersyukur Pak, mudah – mudahan sekarang menjadi awal untuk kita , agar memiliki kehidupan yang lebih baik, harta bukan segalanya , tapi segala sesuatunya harus seimbang, antara bekal di dunia dan di hari setelah kita tidak ada nanti.” Ujar Ijam.   “ Ia Jam, Bapak juga ingin segera sampai di rumah pak Yaya, Bapak ingin membawa keluarga kita menjauh dari daerah ini.” Ujar Pak Dadang.   “ Maksudnya Bapak, kita akan meninggalkan kampung tempat kelahiran Bapak dan tinggal di kota?” Tanya Ijam.   “ Tidak keduanya Jam, Tidak di kota, tidak juga di kampung, Bapak akan membawa mereka ke tempat yang jauh dan memulai hidup baru di sana.” Ujar Pak Dadang.   “ Apa Bapak yakin?, bukan apa – apa Pak, butuh modal yang besar untuk berpindah ke suatu tempat dan belum tentu kita bisa nyaman di tempat baru.” Ujar ijam.   “ Begini Jam, Bapak juga pernah mendengar tentang hal ini di surau sebelum kita sampai di sini, pembuka agama di sana bilang, jika kita menghormat satu sama lain , kita pun akan di hormati, jika kita menghargai orang lain, kita juga akan di hargai, dan jika kita berbuat baik terhadap orang lain, kita pun akan mendapatkan kebaikannya pula, jadi jangan pernah takut, kita ini sebenarnya keluarga baik – baik, jadi Bapak rasa tidak terlalu sulit untuk beradaptasi.” Ujar Pak Dadang.   “ Ia Pak, tapi bagaimana dengan tanah dan rumah di kampung?’ Tanya Ijam.   “ Kan Kamu sendiri barusan bilang Jam, kehidupan itu harus seimbang, menurut Bapak, Bapak sudah banyak berbuat keburukan di sana, Bapak ingin meninggalkan semua keburukan di kampung, cukup sampai di situ saja, meskipun nanti di tepat baru kita harus menyewa tempat tinggal, tapi kita masih sehat, masih kuat untuk mencari nafkah , jangan terlena dengan apa yang kita punya, jangan pernah merasa cukup dalam mencari ilmu, jadi Bapak harap, Ijam bisa mengerti keputusan Bapak.” Ujar Pak Dadang.   “ Ia Pak, semua kembali lagi pada keputusan Bapak.” Ujar Ijam menundukkan kepalanya.   “ kenapa Jam, Kamu tampak bersedih mendengar keputusan Bapak?’ Tanya Pak Dadang.   “ Jika Bapak pergi ke tempat lain, Ijam pasti akan merindukan kalian.” Ujar Ijam.   “ Jam, Kamu juga mau tidak mau harus ikut, Kamu sudah menjadi anak Bapak, meskipun bukan anak kandung, tapi Kamu sudah ada di hati Bapak sebagai anak, bapak tidak melihat latar belakang keluargamu dulu yang meninggalkan Kamu, Bapak sangat bangga terhadapmu.” Ujar Pak Dadang.   “ Ijam tidak enak Pak, Ijam juga sudah dewasa , sepertinya Ijam juga bisa menentukan pilihan Ijam sendiri.” Ujar Ijam.   “ Bukan itu jawaban yang Bapak inginkan, meskipun Kamu sudah dewasa tapi dalam pandangan Bapak Kamu masih saja anak Bapak yang harus dapat perhatian, ikut saja dulu, nanti jika kita sudah menemukan tempat yang cocok untuk kita, Kamu bisa mencari rumah dekat – dengan Bapak, Bapak tidak mau jauh dari anak – anak Bapak, baik Krisna atau pun Kamu, Bapak ingin jika kalian nanti memiliki keluarga, tetap dekat dengan Bapak dan Ibu.” Ujar Pak Dadang.   “Sekali lagi terima kasih ya Pak.” Ujar Ijam.   “ Kamu jangan merasa di bedakan dengan Krisna, Krisna pun sangat peduli terhadapmu layaknya adik kandungnya sendiri, dan jangan sekali lagi berterima kasih kepada Bapak, Bapak menjadi seperti ini pun berkat dirimu jam.” Ujar Pak Dadang.   Di sela – sela perbincangan mereka, cuaca berubah seketika, cuaca yang terik tiba – tiba berubah mendung dan akhirnya hujan deras, mereka pun mengurungkan niat untuk melanjutkan perjalanannya.   “ Bagaimana ini Jam, Awalnya terik , malah hujan.” Ujar Pak Dadang.   “ Ia Pak , cuaca sekarang sedang tidak menentu, kita juga harus menjaga kondisi kita agar tetap sehat, jangan sampai sakit.” Ujar Ijam.   “ Ya sudah kita tunggu saja sampai hujan benar- benar reda, jika Kamu lapar belilah makanan untuk dirimu sendiri Jam.” Ujar Pak Dadang.   “ kita pergi bersama Pak, makan dan minum pun harus sama, Bapak tidak makan pun Ijam akan melakukan hal yang sama.” Ujar Ijam.   “ Kan katanya kita harus jaga kondisi, Bapak tidak lapar, tadi di dalam surau di sediakan minum dalam galon, Bapak sudah minum tadi, dan cukup kenyang.” Ujar Pak Dadang.   “ Minum saja tidak cukup pak.” Ujar Ijam.   “ Sudah jangan memancing perdebatan hanya soal minum dan makan, yang penting sekarang kamu istirahat saja sambil menunggu hujan reda, saat hujan reda kita langsung bergegas berangkat.” Ujar Pak Dadang.   Ijam pun hanya mengiakan, mereka menunggu waktu cukup lama, hingga waktu berlalu begitu cepat, sore hari pun menjelang , Ijam dan Pak Dadang pun sudah melakukan kewajiban sembahyangnya, tapi hujan belum sedikit pun menandakan reda.   Di sisi lain Pak Sugeng pun sudah menyuruh kaki tangannya, untuk turun dan mencari Pak Dadang dan Ijam di kampung seberang hutan, namun hasilnya nihil dan membuat Pak Sugeng turun sendiri mencari keberadaan mereka.   “ Rupanya mereka sudah mengendus rencanaku, Aku curiga di sini ada penghianat dan menjadi mata – mata untuk mereka.” Ujar Pak Sugeng di hadapan kaki tangannya.   “ sepertinya Aku jangan memberitahukan rencana ku selanjutnya kepada anak buahku, Aku mulai tidak percaya dengan mereka.” Ujar Pak Sugeng di dalam hati.   Pak Sugeng pun pergi langsung meninggalkan anak buahnya di rumah, pak Sugeng dengan kendaraannya langsung datang sendiri ke kampung seberang dan mencari sendiri keberadaan pak Dadang dan Ijam, semua jalan di susuri oleh pak Sugeng, hingga menemukan sebuah surau.   “ Rasanya tidak mungkin Dadang masuk ke tempat ini, Aku sudah mendoktrinnya agar menjauhi surau.” Ujar pak Sugeng tersenyum.    karena keangkuhan pak Sugeng dia tidak turun dari kendaraannya, dan merasa tidak layak berada di tempat itu, dirinya merasa tidak pantas untuk turun dan menanyakan langsung kepada warga sekitar tentang Ijam Dan Pak Dadang.   “ Mereka tidak pantas untuk aku ajak bicara, sepertinya Dadang sudah pergi dari kampung ini, aku akan menyusuri setiap jalan, setiap tempat, asalkan Aku bisa menemukan orang itu, penghianat terhadap kepercayaanku.” Ujar Pak Sugeng.   Pak Sugeng pun menyusuri setiap jalan dengan perlahan , hingga akhirnya Pak Sugeng menemukan jalan setapak, pak Sugeng pun mengira jika Pak Dadang dan Ijam melewati jalan setapak Itu.   “ Sepertinya mereka jalan ke arah sini, tidak mungkin mereka berjalan ke arah jalan raya, mereka pasti sedang bersembunyi dan menghindar dari kejaran anak buah ku.” Ujar Pak Sugeng.   Pak Sugeng tidak mengetahui jika jalan setapak itu adalah jalan menuju hutan , Pak Sugeng dengan angkuhnya menyangka jika mereka telah masuk ke arah jalan setapak itu, Pak Sugeng masuk semakin dalam menyusuri jalan setapak, banyak warga yang berpapasan dengan Pak Sugeng dan dengan ramah mereka menanyakan tujuan Pak Sugeng, tapi Pak Sugeng tidak menggubris sedikit pun, pakaiannya yang rapi dan bersih menjadikan warga juga semakin heran dan kebingungan, hanya saja mereka pun kembali acuh dan membiarkan Pak Sugeng masuk lebih dalam ke dalam hutan.   “ Di mana mereka, bisa- bisanya masuk ke dalam hutan seperti ini, di pikir mereka Aku tidak akan mencari sampai sedalam ini, tunggu saja jika mereka ku temukan.” Ujar pak Sugeng menggerutu.   Pak Sugeng terus berjalan sampai ujung jalan setapak, tidak ada jalan terusan, tapi Pak Sugeng tetap pada pendiriannya dan terus masuk ke dalam hutan.   “ Ke mana lagi ini, jalannya sudah habis, mana sudah gelap juga, lebih baik aku lanjutkan besok.” Ujar Pak Sugeng.   Pak Sugeng pun memutuskan untuk kembali pulang, dan layaknya karma untuk Pak S Dia tidak dapat menemukan jalan setapak yang telah ia lalui, semakin mencari, semakin dalam juga Pak Sugeng tersesat.   “ Sepertinya Aku tersesat, Aku harus telepon anak buahku.” Ujar Pak Sugeng.   Pak Sugeng mengambil telepon genggam miliknya dan sayang sekali tidak terdapat sinyal di area itu, di tambah baterai teleponnya yang akan habis dalam beberapa menit, Pak Sugeng sungguh kesal dan merasa jengkel hingga akhirnya malam pun tiba, Pak Sugeng tidak beranjak sedikit pun dari tempat dirinya berdiri, waktu ke waktu yang terasa begitu lambat berjalan, sungguh membuat Pak Sugeng amat sangat marah.   “ Rasanya lebih baik Aku tunggu di sini sampai ada yang sadar ada  mobilku di sana.” Ujar Pak Sugeng.   Pak Sugeng menunggu hingga malam menjelang, dan Pak Sugeng hanya bisa melihat ke atas, ke kanan dan ke kiri , pandangannya pun terbatas, hanya cahaya kunang – kunang yang menjadi satu – satunya sumber penerangan, dan itu pun tidak bertahan lama, angin mulai bertiup sangat kencang, udara pun mulai terasa dingin masuk hingga ke tulang, dan akhirnya hujan pun turun dan sedikit demi sedikit membasahi tubuh Pak Sugeng, Pak Sugeng langsung berlindung di bawah pepohonan rindang dirinya sempat terjatuh sebab jalan yang di pijaknya tidak terlihat jelas.   “ s**l sekali Aku hari ini, sudah kehujanan , tersesat lagi, gara – gara si Dadang dan anak angkatnya yang menyebalkan, Aku jadi tersiksa seperti ini.” Ujar Pak Sugeng menggerutu.   Pak Sugeng langsung berusaha membersihkan dirinya dari lumpur – lumpur yang mengotori pakaiannya, Di tengah dinginnya malam dan angin yang berembus, di sertai hujan , membuat Pak Sugeng sangat kesal, namun kesialannya tidak hanya di ditu saja, sesosok makhluk tengah memperhatikan diri Pak sugeng dan ingin menggodanya.   Suara tangisan pun menjadi awal gangguan – gangguan terhadap Pak Sugeng, Pak Sugeng pun merasa dirinya tengah di permainkan oleh sosok itu.   “ Keluar Kamu, Aku sudah biasa menghadapi makhluk sepertimu.” Ujar Pak Sugeng.   “ Jangan hanya menangis dan tiba – tiba tertawa.” Ujar Pak Sugeng melihat ke sekeliling.   Pak Sugeng pun dengan tatapan yang terbatas, melihat secara samar ke atas pohon, dan hanya terlihat sebuah bayangan samar, matanya yang tengah di basahi air hujan , tidak bisa dengan jelas melihat sosok itu, Pak Sugeng pun marah, dan malah menantang sosok Itu.   “ Tunjukan Wujudmu di hadapanku, Aku akan memberikan pelajaran terhadapmu.” Ujar Pak Dadang.   Dan secara tiba – tiba, Pak Sugeng mendapat serangan berupa lemparan ranting dan berhasil mengenai kepalanya.   “ Tunjukan dirimu , jika memang berani tunjukan wujudmu.” Ujar Pak Sugeng berteriak.   Kembali lagi serangan itu datang, lemparan Batu berukuran besar pun berhasil mendarat di pundak Pak Sugeng, Pak Sugeng pun mulai merasakan kesakitan, Dan meluapkan amarahnya dengan membacakan mantra – mantra. Pak Sugeng pun mulai membacakan mantra – mantra yang di percayainya bisa mengusir sosok itu, namun hasilnya di luar dugaan dirinya, sosok itu malah tertawa dengan sangat keras, dan kembali melemparkan segenggam tanah dan mengenai matanya.   “ Kamu sudah mulai membuat saya amat sangat marah, Kamu belum tahu siapa saya, saya bisa menangkapmu dan menjadikanmu b***k saya.” Ujar Pak Sugeng.   Namun hanya cekikikan tertawa sangat melengking yang menjawab teriakan Pak Sugeng, Pak Sugeng pun melemparkan batu dan apa pun yang ada di dekatnya ke arah atas, dengan pencahayaan yang sedikit, hanya terang bulan yang menjadi lampu senja untuk Pak Sugeng.   Pak Sugeng secara membabi buta melemparkan ke arah atas, namun Pak Sugeng mendapatkan serangan berupa api yang hampir mengenai tubuhnya, Pak Sugeng pun akhirnya menyerah dan berlari meninggalkan pohon itu, cuaca hujan pun dan jalan yang licin di sertai jalanan yang curam, membuat Pak Sugeng terjatuh ke dalam sisi bukit dan membuatnya semakin terjebak di sana.   Kondisi pinggiran bukit yang licin di sertai hujan deras yang terus menerus turun, membuat Pak Sugeng tidak bisa berbuat apa – apa, dan akhirnya hanya bisa terdiam sambil menatap ke atas langit yang tengah di dera hujan cukup besar.   “ Kenapa hari ini Aku sangat kurang beruntung, semua ini Pasti ulah si Dadang, anak buahku juga sepertinya khawatir dengan kondisi ku, semoga mereka menyadari kepergianku, dan semoga saja makhluk itu tidak muncul di sini.” Ujar Pak Sugeng.   Di sisi lain anak buah Pak Sugeng tidak sedikit pun menghawatirkan Pak Sugeng, mereka merasa bebas dan senang  dengan kepergian Pak Sugeng, tidak ada yang tahu tepatnya kepergian Pak Sugeng, dalam hati mereka dan anggapan mereka Pak Sugeng pergi ke luar kota untuk mengadakan ritual bulanan. Anak buah Pak Sugeng pun , seperti gembira dengan tidak pulangnya pak Sugeng, Pak Sugeng yang terkenal sangat pelit di tambah kondisi rumahnya yang kosong, membuat anak buahnya memiliki pemikiran buruk untuk menjarah harta dan bahan makanan milik Pak Sugeng, hanya saja niatan mereka pun di batalkan, rumah besar dengan banyak sekali pintu dan barang antik membuat anak buahnya kebingungan dan tidak tahu tepat di mana Pak Sugeng menyimpan hartanya.   Niatan buruk menghasilkan hasil yang buruk pula, kaki tangan Pak Sugeng pun malah menjadi bahan permainan untuk sosok penghuni rumah Pak Sugeng, rumah yang sangat besar dan sering kosong, membuat sosok itu nyaman dan memilih tinggal di rumah Pak Sugeng, sosok itu mulai mengganggu anak buah pak Sugeng yang perlahan masuk mengendap endap dan mencari harta Pak Sugeng, Suara tertawa pun menjadi tanda, di tambah Bau wewangian yang aneh untuk mereka, mulai dari lemparan – lemparan benda yang mengenai mereka , hingga kemunculan sosok itu membuat kaki tangan pak Sugeng mengurungkan niatnya untuk menari dan mengambi harta benda mili Pak Sugeng.   Sosok itu hanya melihat mereka berlari terbirit – b***t dan dengan ringannya tertawa itu terdengar jelas dan membuat salah satu anak buah Pak Sugeng kehilangan kesadaran. Tidak hanya di situ saja, niatan buruk itu menjadikan kaki tangan pak Sugeng tahu dan menganggap jika Pak Sugeng memang benar – benar mempunyai penjaga di rumahnya, hanya saja anggapan itu tidaklah benar, sosok itu datang bukan karena sengaja, sosok itu ada karena di rumah sebesar itu tidak pernah ada kegiatan agama bahkan tidak pernah ada kegiatan Ibadah sedikit pun, kepercayaan terhadap hal lain pun menjadikan Pak Sugeng menjauh dari sang pencipta. Hal itu membuat sosok – sosok itu sangat suka mendiami rumah Pak Sugeng.   Kaki tangan Pak Sugeng terus menerus berlari dan terus berteriak sepanjang jalan, hal itu pun membuat Siti keluar rumah dan mempertanyakan tentang kejadian itu.   “ Ada apa ya, kenapa mereka berlari sambil berteriak, apa ada pencuri?” Tanya Siti.   Siti pun hanya melihat 4 orang itu berlari sangat kencang, siti pun penasaran dan begitu terkejutnya Siti saat di belakang mereka terlihat sosok yang terbang mengejar mereka, sontak saja Siti masuk dan mengunci pintu rapat – rapat , Siti pun tidak memperlihatkan jika Dia bisa melihat sosok itu, Siti takut Sosok itu tahu dan masuk ke rumahnya, Siti langsung membaca doa dan mengambil telepon genggam miliknya untuk mengabari Ayu.   “ Aku harus menelepon Ayu agar tidak keluar rumah.” Ujar Siti.   “ Halo Sit, ada apa malam -malam telepon?” Tanya Ayu.   “ pokonya jika ada orang berlarian dan berteriak, kamu jangan keluar rumah.” Ujar Siti nafas terengah – engah.   “ Kamu kenapa Sit, kaya yang habis lari saja, nafasmu sampai habis begitu.” Ujar Ayu.   “ Bukan begitu, turuti saja, sebab jika aku jelaskan kamu akan takut, mana di rumahmu kamu hanya sendiri saja.” Ujar Siti.   Terdengar dari luar, terakan orang – orang.   “ Ia Sit, Ada yang seperti berlari dan berteriak di luar sana, apa yang harus aku lakuan?’ Tanya Ayu.   “ Kamu jangan keluar Yu, baca doa pengusir makhluk halus saja.” Ujar Siti.   “ Memangnya ada apa?, jangan membuat aku takut?” Tanya Ayu.   “ Pokonya berhubungan dengan makhluk halus.” Ujar Siti.   “ YA Sudah , Aku tidur di rumahmu saja ya?, Aku takut tidur sendirian, orang tua ku baru pulang besok.” Ujar Ayu.   “ Jangan dulu keluar Ayu, nanti saja besok.” Ujar Siti.   “ Aku takut Sit.” Ujar Ayu.   “ Jangan takut Ayu, berdoa saja, jika kamu keluar dan datang ke sini, justru akan memancing sosok itu mengikutimu.” Ujar Siti.   “ Tapi aku benar- benar takut.” Ujar Ayu.   Siti pun memutuskan untuk pergi menemani Ayu di rumahnya, rumahnya hanya terhalang 6 rumah, Siti keluar pintu dan terkejut sosok itu sedang berada di atas rumah miliknya, Siti pun berpura – pura tidak melihat, hanya saja suara tertawa sosok itu membuat Siti terkejut, langkahnya terasa berat, jarak 6 rumah pun teerasa berjalan sepanjang 600 meter layaknya jalan yang jauh untuk di lewati, setelah sampai di rumah Ayu, Siti langsung menggedor pintu Ayu dan saat melihat ke belakang sosok itu sudah berdiri membelakangi Siti dan terdiam di teras Ayu.   “ Ayu, Buka .” Ujar Siti tergesa – gesa.   Ayu pun langsung membuka pintu dan menyuruh Siti masuk.   “ Ayu, dia ada di depan rumahmu, Ayo kita sembunyi di kamar saja, dan jangan lupa kunci pintu.” Ujar Siti.   Mereka langsung masuk dan bersembunyi di kamar, mereka terus membaca doa dan berharap sosok itu masuk ke rumah Ayu, hanya saja ketika mereka bersembunyi di kamar dan di selimuti seluruh tubuhnya, keringat pun tidak sedikit yang bercucuran, bukan hanya karena panik, tapi panas yang di rasa akibat selimut yang menutupi seluruh badan mereka.   “ sampai kapan kita begini Sit?’ Tanya Ayu.   “ Sampai pagi mungkin.” Ujar Siti.   Terkejut seketika mereka mendengar suara seseorang yang mengetuk pintu rumah Ayu, mereka semakin cemas, dan di perparah tercium wewangian , Siti pun mengintip ke arah jendela kamar  dan terlihat sosok itu sedang mengintip, Ayu pun terus membaca doa sebisa dan setahu dia, hingga akhirnya doa itu berhasil mengusir makhluk itu dan membuat sosok itu tidak berani masuk ke dalam kamar Ayu dan Siti berada, tapi suara ketukan pintu itu terus menerus terdengar, tidak ada satu pun dari mereka yang mau membukakan pintu, hingga akhirnya suara itu hilang dan membuat mereka berdua sedikit tenang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN