LANJUTAN 52

4441 Kata
Ketukan pintu terhadap rumah Ayu terus menerus berulang, Ayu dan Siti yang ketakutan membiarkan suara ketukan itu, dan benar saja, di sela – sela suara ketukan terhadap pintu, ada suara sosok yang memanggil , entah siapa , namun sosok itu terus menyahut.   “ Ade, De.” Ujar suara sahutan itu.   Ayu dan Siti saling memandang satu sama lain.   “ Suara siapa itu Sit?” Tanya Ayu.   “ Entah suara siapa, Aku tidak kenal suara itu.” Ujar Ayu.   “ Mungkin orang tuamu.” Ujar Siti.   “ Bukan, orang tuaku tidak pernah memanggilku dengan sebutan Ade.” Ujar Ayu.   “ Mungkin sosok itu tahu, jika kita ketakutan di sini.” Ujar Siti.   “ Ya jelas ketakutan , kalau Aku berani Tidak akan diam saja di kamar ini.” Ujar Ayu.   “ Kita tunggu saja, Dia tidak akan masuk ke rumah, tenang saja, kita baca doa saja terus.” Ujar Siti.   “ Di luar sepertinya hujan juga, tambah lagi ada makhluk lain di luar sana, kita harus bagaimana Sit.” Ujar Ayu.   “ Tenang saja, Aku jamin tidak akan masuk ke rumah, Kita tunggu saja, kita jangan tertidur dan lengah.” Ujar Siti.   Mereka hanya terdiam tapi sepertinya sosok itu masih penasaran dan terus mengetuk pintu, di tambah hujan yang menghasilkan genangan membuat sosok itu seperti bermain air dan terdengar suara cipratan – cipratan air. Hujan pun turun semakin besar, sosok itu juga sepertinya belum berkenan untuk pergi meninggalkan rumah Ayu, lalu Siti teringat jika sosok itu ketakutan dengan lidi dan kaca. Waktu sudah menunjukkan jam 1 malam, suara sosok itu masih terdengar dan semakin menjadi di tambah deru air hujan yang semakin deras. “ Ayu Aku baru ingat sesuatu.” Ujar Siti.   “ Ingat Apa Sit.” Ujar Ayu yang sudah mulai mengantuk lelah.   “ Sosok itu aku ingat dia takut dengan kaca dan juga lidi.” Ujar Siti.   “ Lalu Kita harus bagaimana?” Tanya Ayu.   Di tengah – tengah perbincangan mereka, angin terdengar sangat kencang hingga menimbulkan suara, layaknya badai berukuran sedang yang menghantam wilayah itu, tidak ayal pepohonan pun bertumbangan satu persatu dan menimpa aliran listrik , dan seketika listrik pun padam.   “ Sit, kenapa menjadi semakin parah keadaannya, untung saja kamu sudah ada di sini Sit. Ujar Ayu.   “ Ia Malah mati lampu juga, cari sapu lidi di rumahmu dan cermin yang kamu punya.” Ujar Siti.   “ Gelap Sit, Aku takut, kita ambil berdua saja.” Ujar Ayu.   “ YA Sudah ini kan rumahmu, tunjukan di mana sapu lidi dan cermin itu.” Ujar Siti.   Mereka pun turun dari ranjang, dengan menggunakan cahaya telepon genggam milik Ayu, mereka mengambil sapu lidi untuk di simpan di depan pintu dan di setiap sudut ruangan.   “ Di mana Yu, jangan bilang Kamu lupa menyimpan sapu lidinya.” Ujar Siti.   “ Sebentar Aku lupa, terakhir aku ingat di kamar ku, atau di kamar orang tuaku di depan.” Ujar Ayu.   “ Ya Sudah kita cari.” Ujar Siti.   Mereka pun masuk ke dalam kamar milik Orang tua Ayu, terdapat cermin berukuran cukup besar dan tergeletak sebuah sapu lidi bekas membersihkan ranjang milik orang tua Ayu.   “ kita diam di sini saja Yu, di sini cerminnya besar , sekarang cabut satu lidi dan simpan di setiap sudut.” Ujar Siti.   Mereka pun melakukan itu dengan cepat, tepat jam menunjukkan pukul 2 pagi, tapi suasana di kampung itu tidak berubah sama sekali, terkadang suara tertawa yang melengking pun terdengar dengan jelas menandakan sosok itu masih ada dan bermain dengan genangan air di depan rumah Ayu. Waktu berlalu begitu cepat, hingga terdengar suara adzan yang menjadi penanda fajar tiba, perlahan suara dari sosok itu pun menghilang, hanya saja deras hujan masih terdengar, Ayu dan siti pun saling menatap mengucap syukur.   “ Sit, apa makhluk itu sudah pergi?” Tanya Ayu.   “ Suara adzan yang mengusir sosok itu, sekarang kita bersiap untuk sembahyang dan berharap sosok itu tidak kembali lagi untuk selamanya.” Ujar Siti.   Ayu dan siti bersembahyang bersama, rasa lelah dan kantuknya langsung terobati dengan air yang mulai membasahi mulai dari muka, tangan , rambut, telinga hingga kaki, meskipun setelah itu mereka memutuskan untuk tidur sejenak untuk melepas lelah dan kantuk.   Di sisi lain Pak Sugeng kini sudah terbangun dari tidurnya, dia berusaha keluar dari tebing bukit yang licin, hujan sepertinya tidak ingin segera berhenti, Pak Sugeng pun mulai membuka mata dan melihat sekeliling untuk mencari jalan agar bisa naik.   “ Hujan dari semalam tidak berhenti juga, badanku sakit semua, ini semua gara – gara hujan, Apa tidak ada orang yang menyadari kepergianku, anak buahku pun tidak mencariku, atau mungkin belum.” Ujar Pak Sugeng.     Pak Sugeng meregangkan badannya, lalu menyusuri jalur sisi bukit di mana Ia terjatuh , mengikuti jalur jalan itu, pak Sugeng dari atas bukit seperti melihat aliran air yang cukup deras di bagian bawahnya, Pak Sugeng pun memutar arah ke arah di mana Ia terjatuh.   “ Sangat sulit, tidak ada jalan juga.” Ujar Pak Sugeng.   " tolong – tolong.” Ujar Pak Sugeng berteriak meminta bantuan.   Usahanya hanya sia – sia saja, lokasinya yang sangat jauh dari pemukiman dan kebun milik warga menjadikan Pak Sugeng sangat sukar dii temukan, tapi hal itu tidak membuat Pak Sugeng jera dan bertaubat, hal itu justru membuatnya hanya menyalahkan orang lain dan membuatnya hanya memupuk dendam semakin dalam.   “ coba saja si Dadang tidak berkhianat, mungkin akan lain , dan Aku juga tidak usah repot - repot mencarinya sendiri, di tambah anak buahku yang tidak bisa di andalkan.” Ujar Pak Sugeng menggerutu.   Pak Sugeng memegangi kepalanya, rasa dingin pun sudah di rasa terbiasa untuk tubuhnya, rasa hau mulai mendera, dan air hujan yang turun menjadi pengobatnya, hanya saja rasa laparnya tidak terobati, dan Pak Sugeng mulai panik.   “ Lapar, biasanya jam segini anak buahku membelikan sarapan yang enak di pasar kampung, sekarang malah air hujan yang menjadi air kopi pagi hariku.” Ujar Pak Sugeng.   Dirinya semakin panik ketika mulai terlihat ular besar sedang melilit di sebuah ranting pohon dan menatap tajam pak Sugeng, ular itu sebenarnya tidak menyerang Pak Sugeng, hanya saja Pak Sugeng yang trauma terhadap ular membuat dirinya berlari terbirit – b***t dan akhirnya lupa jika di bawah bukit itu terapat aliran sungai yang sangat besar, akhirnya Pak Sugeng tergelincir jatuh ke aliran sungai yang cukup deras.   “ Tolong.” Ujar Pak Sugeng mengucapkan kata – kata terakhir.   Pak Sugeng sempat sadar dan berusaha untuk berenang ke pinggir sungai, hanya saja hujan yang tidak kunjung berhenti membuat aliran sungai sangat deras dan membuat Pak Sugeng kelelahan, dan akhirnya tidak sadarkan diri.   Pak Sugeng terayun dan terbawa aliran sungai terus menerus, Pak Sugeng terombang-ambing tidak karuan dan akhirnya tergulung ke dalam aliran sungai deras, hal itu tidak membuat Pak Sugeng pergi untuk selamanya, pak Sugeng masih di berikan kesempatan untuk bertaubat oleh sang pencipta dan terbawa hingga ke hilir sungai dengan aliran yang cukup rendah.   Sedangkan Ijam dan pak Dadang masih menunggu waktu yang tepat untuk melanjutkan perjalanan, hujan yang tidak kunjung reda membuat air naik dan mengakibatkan banjir.   “ Pak sepertinya air mulai naik.” Ujar Ijam di pelataran surau.   “ Ia Jam, untung surau ini posisinya cukup tinggi, hingga kecil kemungkinan air akan sampai ke surau ini.” Ujar pak Dadang.   “ Tapi kasihan warga yang lain Pak, kita harus bagaimana.” Ujar Ijam.   “ Kita tidak bisa berbuat apa – apa, Kita hanya musafir , kita tidak bisa membuat keputusan, kecuali memang ada orang yang benar - benar sangat membutuhkan kita.” Ujar Pak Dadang.   Ijam melihat ke arah langit, dan terlihat awan abu – abu yang masih menyelimuti kawasan itu, Ijam pun hanya melihat perlahan Air yang terus menerus naik, terdengar suara teriakan warga, saling sahut menyahut dan terlihat kepanikan dari raut wajah warga.   “ Pak Kasihan mereka, kita haus bagaimana.” Tanya Ijam.   “ kita tidak bisa melawan alam Jam, kita hanya bisa berharap dan berdoa di sini gar tidak terjadi hal yang lebih parah dan buruk.” Ujar Pak Dadang.   Ijam pun berlari ke seberang di mana air mulai naik, ternyata sumbatan s****h yang cukup banyak dan membuat air semakin lama semakin naik dan menyebab kan air setinggi lutut dewasa menggenangi pemukiman pinggir jalan itu.   Ijam membantu mencoba untuk membuang tumpukan s****h yang menyumbat, dengan berbagai cara, warga yang hanya panik berlarian ke sana ke sini dan mencoba menyelamatkan barang berharga yang mereka miliki. Ijam yang melihat sumber masalah dari naiknya air, langsung segera menyelesaikan dari sumber awal, Ijam mengambil setiap s****h yang menghalangi drainase dengan menggunakan kayu dan benda yang ada di dekatnya, Ijam tidak bisa menyelesaikannya sendiri, dan membuka sumbatan itu, harus ada bantuan tenaga yang membantu Ijam, Pak Sugeng yang melihat Ijam berusaha sendirian pun ikut turun dan membantunya, warga pun terdiam dan menanyakan apa yang sedang mereka lakukan.   “ Pak Jangan turun , nanti sakit, ini hujannya besar, air juga semakin lama semakin naik, Ijam rasa drainase ini penyebabnya, ada banyak sekali yang menyumbat drainase ini, Ijam mau mencoba membukanya.” Ujar jam.   “ Ya sudah Bapak Bantu, sebelum air ini semakin besar.” Ujar Pak Dadang.   Mereka berdua terus berusaha membuka sumbatan di aliran itu, drainase yang cukup besar, dengan isi s****h yang banyak menjadi penghalang dan tantangan untuk Ijam dan Pak Dadang. Di sisi lain warga hanya menohok dan terus menyelamatkan barang mereka ke tempa yang lebih tinggi, hingga ada salah satu warga yang menyadari penyebab naiknya air di sana, warga itu pun menanyakan rencana Ijam dan berniat membantunya.   “ Kita harus membuka tumpukan s****h di sini, agar air bisa terus melaju dan tidak menggenang di sini, jika di biarkan lama – lama di sini airnya kan tinggi.” Ujar Ijam.   Akhirnya banyak warga yang mulai membantu, hingga akhirnya setumpukkan besar s****h bisa mereka angkat dan air mulai tidak tersumbat, perlahan tapi pasti air mulai turun dan tersisa genangan kecil layaknya hujan biasa turun.   Semua warga terasa sangat terbantu dan tidak memikirkan ke arah sana, yang mereka ingat jika air akan naik dan membanjiri harta benda mereka, selain rasa terima kasih dari warga, Pak Dadang merasa bangga terhadap Ijam, pemikirannya yang jauh lebih maju dan berbeda di bandingkan dengan orang lain membuat Ijam mudah sekali mendapatkan perhatian, tingkat kecerdasan yang di miliki serta keberanian mengambil peluang dan berjuang membuat dirinya mudah bergaul dan sangat di cintai setiap orang di sekitarnya.   Apresiasi terhadap Ijam dan Pak Dadang tidak hanya di situ saja, warga yang telah mengetahui jika mereka adalah seorang musafir langsung berinisiatif, memberikan tumpangan kepada Ijam dan Pak Dadang, bukan tanpa sebab, banyak warga yang ingin memberikan bantuan berupa uang tunai, tapi Pak Dadang dan Ijam menolaknya secara halus, mereka melakukan itu bukan karena uang tapi karena dari hati terdalam mereka dan kesadaran mereka akan membantu sesama.   Ijam dan Pak Dadang sangat bersyukur, di balik bencana yang di alami sebelumnya, Mereka percaya di balik suatu kejadian ada makna yang bisa di ambil dan sekarang pun menjadi bukti serta jawaban dari kepercayaan mereka.   “ Bagaimana Pak, apa kita menerima tumpangan dari mereka atau meneruskan perjalanan saja seperti biasa?” Tanya Ijam keada Pak Dadang.   “ Tidak ada salahnya menerima bantuan dari orang ain, asalkan mereka ikhlas dan benar – benar ingin membantu, tidak ada salahnya Jam.” Ujar Pak Dadang.   “ Baik jika Bapak setuju, lagi pula Badan Ijam sudah menggigil kedinginan.” Ujar Ijam.    Warga menyambut baik kehadiran Ijam dan Pak Dadang, mereka di jamu layaknya tamu, Ijam dan Pak Dadang merasa sangat bersyukur selain mendapat jamuan, mereka juga mendapat tumpangan untuk bisa sampai ke kota.   Setelah beristirahat hingga waktu pun menunjukkan pukul 5 sore, pak Dadang dan Ijam berpamitan kepada seluruh warga di sana, dengan di antarkan mobil menuju tempat tujuan mereka yaitu rumah pak Yaya.   Perjalanan yang di tempuh pun tidak terlalu jauh dengan kendaraan, perjalanan yang sudah di lewati Ijam dan pak Dadang sudah di lakukan sebanyak setengah jalan, sehingga hanya memerlukan waktu satu jam untuk sampai di rumah Pak Yaya.   Sesampainya di rumah Pak Yaya, mereka di sambut oleh teriakan dari dalam rumah pak Yaya.   “ pergi Kau, jangan terus mengganggu ku.” Ujar Krisna berteriak dari dalam rumah.   Mendengar hal itu, Ijam dan Pak Dadang langsung masuk ke rumah Pak Yaya.   “ Pak Terima kasih untuk tumpangannya , hati – hati di jalan pulang.” Ujar Ijam berterima kasih kepada warga yang mengantarkan dirinya dan pak Dadang.   Setelah masuk ke rumah, Ijam dan Pak Dadang sangat terkejut melihat kondisi Krisna , tidak hanya mereka yang terkejut, Bu Eni Dan Pak Yaya pun terkejut dengan kedatangan mereka,   “ Bapak, Ijam.” Ujar Bu Eni mulai meneteskan air mata.   “ Bu Kenapa Krisna?” Tanya Ijam.   “ Krisna kembali sakit , Dia sempat ingin mengakhiri hidupnya, Jadi Ibu Satukan Ijam dan Ki Amin di kamar ini agar Ibu tidak terlalu sulit untuk mengurusi mereka." Ujar Bu Eni.   “ Kenapa lagi kamu Kris.” Ujar Pak Dadang   “Kamu Juga ke mana saja?, tidak ingat jika kita sedang di sini, apa kamu jangan - jangan kembali ke kampung dan bertemu si Sugeng itu.” Ujar Bu Eni sangat marah kepada Pak Dadang.   “ Nanti Bapak jelaskan Bu, yang penting sekarang kita harus mengobati Krisna.” Ujar Pak Dadang mencoba menenangkan Bu Eni.   Ijam dan Pak Dadang merasa kebingungan dengan apa yang di alami Krisna, sempat terbesit di benak Bu Eni jika sakitnya Krisna bersumber dari Pak Sugeng, hanya saja hal itu d bantah oleh Pak Dadang.   “ Apa mungkin Krisna sakit akibat Pak Sugeng?” Tanya Bu Eni.   “ Bu jangan selalu memiliki Prasangka buruk, kita harus berpikir rasional dan positif.” Ujar Pak Dadang menenangkan Bu Eni.   “ Bapak masih saja membela Pak Sugeng?” Tanya Bu Eni.   “ Bukan begitu Bu, Kita sebagai umat manusia jangan selalu memiliki prasangka buruk terhadap orang lain, meskipun orang itu jahat, belum tentu juga Dia yang berbuat seperti ini kepada Krisna, Jangan membuat diri Ibu memiliki penyakit hati.” Ujar Pak Dadang.   “ Bapak ini kenapa gaya bicaranya seperti ini, biasanya terpancing emosi.” Ujar Bu Eni.   “ Maaf Bu, Bapak sekarang sudah berubah, jauh lebih tenang, selama perjalanan menuju ke sini banyak sekali kejadian dan cerita yang membuat Bapak dan Ijam bisa mengambil makna kehidupan, mungkin nanti jika waktunya sudah tepat, Bapak atau Ijam akan menceritakannya kepada Ibu.” Ujar Ijam.   “ Syukur jika memang begitu, Lalu kita harus bagaimana sekarang dengan kondisi Krisna saat ini?” Tanya Bu Eni.   Ijam sontak teringat dengan Ayu dan Siti.   “ Bu, Ayu dan Siti sudah tahu kondisi Krisna?” Tanya Ijam.   “ Belum Jam, Ibu tidak terpikirkan sampai ke sana.” Ujar Bu Eni.   “ Dulu saat Krisna sakit , mereka yang bisa membuat Krisna perlahan sembuh, karena mereka tempat Krisna bertukar pikiran, lebih banyak waktu yang Krisna habiskan dengan mereka dibandingkan dengan saya, atau bahkan dengan Ibu dan Bapak sekalipun.” Ujar Ijam.   “ Kapan Krisna sakit?, Kenapa Ibu tidak mengetahuinya?” Tanya Bu Eni.   “ Sudah cukup lama Bu, Ijam tidak ingin membuat Ibu dan Bapak Khawatir, jadi Ijam memanggil Ayu dan Siti, dan memang sejak Ayu Dan Siti datang ke sini, Krisna langsung sembuh dari sakitnya dalam beberapa hari langsung pulih.” Ujar Ijam.   “ Kalau begitu kabari Ayu segera Jam.” Ujar Pak Dadang.   “ Ijam sekarang tidak ada telepon genggam, waktu di kampung tertinggal, coba Ijam Pinjam milik Krisna.” Ujar Ijam.   “ Telepon genggam milik Krisna, sepertinya ada di kamarnya, Sebab semenjak tidur di kamar ini, Ibu tidak melihatnya, Coba kamu ambil di atas Jam.” Ujar Bu Eni.   “ sudah biar Bapak saja yang ambil , kamu istirahat saja Jam.” Ujar Pak Dadang.   Pak Dadang langsung saja bergegas naik ke lantai dua menuju kamar Krisna, dan begitu terkejutnya Pak Dadang ketika masuk sudah di sambut dengan sosok yang sedang berdiri membelakangi Pak Dadang.   Pak Dadang pun sepertinya menyimpan rasa penasaran terhadap sosok itu, dahinya berkerut dan perlahan mendekati sosok itu.   “ siapa Kamu?” Tanya Pak Dadang keheranan.   Ketika Pak Dadang ingin menyentuhnya sosok itu seketika menghilang, Pak Dadang pun hanya terdiam tanpa kata,  Pak Dadang tidak ingin mengambil puing terhadap sosok itu dan segera mencari telepon genggam milik Krisna, terlihat bungkusan putih tergeletak di atas tempat tidur milik Krisna, bungkusan itu Pak Dadang lihat dan seperti mengenal benda itu.   “ benda Apa Ini?, sepertinya tidak asing.” Ujar Pak Dadang.   Pak Dadang pun menyimpan benda itu di dalam sakunya, dan melihat jika telepon genggam Krisna berada di bawah tempat tidur miliknya. Pak Dadang pun bergegas memberikan telepon genggam milik Krisna kepada Ijam, Ijam yang saat itu sedang berbincang dengan Pak Yaya terlihat  sangat serius menandakan ada hal yang lebih penting yang belum pak Dadang mengetahuinya.   “ Ini Jam telepon Ayu sekarang.” Ujar Pak Dadang.   “ Nanti pak, ada yang harus Bapak tahu sebelumnya.” Ujar Ijam kepada Pak Dadang.   Pak Dadang pun ikut serta  duduk dengan mereka, Pak Yaya menjelaskan duduk permasalahan penyebab Krisna menjadi sakit, semenjak kepergian Pak Dadang , dan ketika kepergian Pak Dadang, Krisna merasa terpukul dan akhirnya ingin mendapatkan jalan pintas agar segera mendapatkan jalan keluar dari setiap permasalahan yang di alami keluarganya.   Mendengar cerita Pak Yaya, Pak Dadang seketika langsung menundukkan kepalanya dan merasa bersalah terhadap keadaan Krisna sekarang, Perlahan Air mata Pak Dadang menetes , ijam hanya bisa melihat dan begitu juga pak Yaya yang merasa bersalah memberitahu sebab musabab dari setiap kejadian yang terjadi di rumahnya.   “ pak Sudah jangan merasa bersalah, tidak ada gunanya menyesali setiap kejadian yang telah terjadi, lebih baik kita mencari jalan agar Krisna cepat kembali pulih.” Ujar Ijam.   “ Ia Pak, Saya juga jadi merasa tidak enak kepada Pak Dadang, Saya hanya ingin memberi tahu setiap kejadian yang di alami di rumah ini sepeninggal Pak Dadang ke kampung.” Ujar Pak Yaya.   “ Ia Pak saya yang sangat berterima kasih, kehadiran keluarga saya di sini hanya menjadikan beban untuk Pak Yaya , saya meminta maaf yang sebesar besarnya.” Ujar Pak Dadang kepada Pak Yaya.   “ Jangan bicara seperti itu pak, saya senang jika keluarga Bapak ada di sini, rumah yang awalnya dingin dan sepi kini kembali hangat , setelah kedatangan Mas Krisna di rumah ini, rumah ini kembali hidup, Saya sangat senang .” Ujar pak Yaya.    “ tapi saya tetap tidak enak Pak.” Ujar Pak Dadang.   “ sudah Pak Jangan di pikirkan, yang penting sekarang tujuan Kita sama, yaitu ingin membuat Krisna dan ki Amin sembuh.” Ujar Pak Yaya.   “ Oh IA Pak, Pak Yuda ke mana?, kenapa tidak terlihat?” Tanya Ijam.   “ Baak juga tidak tahu crita yang sebenarnya seperti apa, hanya saja Mas yuda pernah bercerita kepada bapak , jika Dia takut dengan Krisna.” Ujar Pak Yaya.   “ Kenapa Bisa Takut?” Tanya jam.   “ Mas Yuda menyangka Jika Mas Krisna menganut ilmu hitam, sebab dulu Mas Kris pernah menawarkan benda bungkusan putih untuk Mas yuda.” Ujar Pak Yaya.   “ Lalu kenapa Bapak tidak takut?’ Tanya Ijam.   “ Bapak Tahu jika itu salah paham, benda itu pun pemberian dari teman bapak di toko antik , jadi Bapak rasa Mas Kris dan Mas yuda salah paham , hanya saja bapak tidak bisa berbuat apa – apa.” Ujar Pak Yaya.   “ apa Bram juga sama?” Tanya Ijam.   “ untuk Bram Bapak kurang tahu Mas, Cuma Bram sudah lama tidak berkunjung ke sini, biasanya hampir setiap hari bertemu dengan Krisna.” Ujar Pak Yaya.   “ Ia mungkin juga Pak, kejadiannya seperti dengan Pak yuda, hingga akhirnya Krisna pun merasa kembali tertekan.” Ujar ijam.   Pak Dadang hanya terdiam sambil mendengarkan perbincangan antara Ijam dan Pak Yaya, Pak Dadang dalam hati kecilnya merasa sangat terpukul melihat keadaan orang – orang yang di cintainya dalam keadaan sakit. Pak Dadang langsung meninggalkan Ijam dan Pak Yaya dan masuk ke kamar Krisna dan Ki Amin, Pak Dadang mengelus – elus dahi Krisna, dan memegang tangan ki Amin.   “ Pak, maafkan Dadang ya>’ ujar Pak Dadang.   Ki Amin pun terbangun dari tidurnya.   “ Dang, dari mana saja kamu, tidak kasihan kamu sama anak dan istrimu.” Ujar ki Amin dengan nafas berat.   “ Dadang salah pak, makannya Dadang minta maaf, dan tidak akan meninggalkan kalian lagi.” Ujar pak Dadang.   “ Dang, Kita harus mengembalikan kotak yang di kubur di kamar penyimpanan gabah. “ Ujar ki Amin.   “  Dadang tahu Pak, hanya saja kondisi kampung sedang tidak baik, Pak Sugeng kini semakin meraja lela, bahkan empat menyekap Dadang pak, Tapi Dadang bersyukur , dengan kejadian Itu, mata hati Dadang terbuka dan perlahan Dadang bisa berubah.” Ujar Pak Dadang.   Di tengah perbincangan Ki Amin dan Pak Dadang, Krisna terbangun dan melihat pak Dadang seperti orang asing , Krisna menatap wajah Pak Dadang secara teliti, seakan tidak mengenali Bapak kandungnya, kondisi itu membuat Pak Dadang menangis melihat keadaan anak kandungnya, Bu Eni pun mulai meneteskan air mata tidak dapat menahan haru di antara mereka.   “ Bapak, maafkan Krisna, Krisna tidak tahan lagi Pak.” Ujar Krisna memeluk Pak Dadang.   “ Jangan berbicara seperti itu Kris, kita pasti bisa menemukan jala keluarnya bersama.” Ujar Pak Dadang.   “ Krisna tidak tahan lagi dengan gangguan – gangguan makhluk halus, di tambah Krisna tidak tega melihat keluarga Kita dalam belenggu makhluk itu.” Ujar Krisna.   “ tenang saja kris, Bapak juga kini bisa melihat Makhluk lain, gara – gara alis Bapak di potong.” Ujar Pak Dadang berbohong.     “ Ia Pak, Krisna tidak tahan lagi.” Ujar Krisna.   “ Kamu jangan seperti ini Kris, Bapak sekarang sudah berubah, Bapak sudah menjauhi hal – hal berbau mistis lagi, kini Bapak sudah tahu arti hidup yang sesungguhnya, perjalanan di setiap surau yang Bapak singgahi, memberikan ilmu dan pengalaman hidup berharga untuk Bapak, jadi kamu pun harus kuat, jangan terus seperti ini, jika ada masalah bicarakan dengan Bapak, jika kamu sedang kesusahan bicarakan dengan seluruh keluargamu, jangan merasa sendiri lagi.” Ujar Pak Dadang.   “ Maafkan Krisna Pak.” Ujar Krisna.   “ Bapak yang harusnya minta maaf, sudah dari dulu Bapak tidak pernah mendengarkan kamu, rasa egois Bapak sangat tinggi, tapi kini Bapak sudah berubah, hati Bapak lebih tenang, hati Bapak kini bisa mengalah, mungkin semua karena Ijam dan kejadian yang Bapak alami kemari itu.” Ujar pak Dadang.   Krisna hanya terdiam dan merenung.   “ Kamu harus kuat Kris, kita harus kuat, jika kita lemah seperti ini, sosok yang selalu mengikuti kita lah yang akan senang, coba berpikir secara logis, Bapak pun sama sudah jenuh dengan semua ini, tapi jalan pintas dengan mengakhiri hidup, itu bukan pilihan terbaik, sang pencipta menciptakan kita itu untuk menjalani kehidupan bukan untuk mengakhiri kehidupan, hidup kita akan berakhir dengan sendirinya dan dengan waktu yang sudah di tentukan oleh sang pencipta juga, jadi jangan pernah sekali – kali lagi melakukan hal buruk itu, banyak orang lain ingin hidup dengan layak tapi keadaan mereka tidak membuat mereka memutuskan untuk mengakhiri hidup, Kamu ini segala halnya di permudah oleh sang pencipta bersyukurlah banyak - banyak, jangan pernah kamu mengecewakan Bapak dengan berbuat seperti itu, lebih dekatlah dengan sang pencipta, ingat pesan Bapak.” Ujar pak Dadang.   “ Maafkan Krisna Pak, Krisna memang sedang sangat tertekan saat itu.” Ujar Krisna menundukkan kepalanya.   “ Ya Sudah , sekarang Kamu harus berjanji jangan pernah berbuat seperti itu lagi, dan mulai sekarang Kamu harus lebih banyak bersyukur dan lebih dekat dengan sang pencipta dengan cara sembahyang yang rajin dan selalu mengingat penciptamu.” Ujar Pak Adang.   “ Ia Pak , Krisna berjanji.” Ujar Krisna.   “ Sudah sekarang kamu harus sembuh, bangun dari tempat tidurmu, ikut dengan Bapak kita sembahyang bersama.” Ujar Pak Dadang.   “ Ia Pak.” Ujar Krisna.   Bu Eni yang melihat Krisna mulai membaik dengan kehadiran Pak Dadang sangat merasa bahagia, Krisna seperti mendapatkan obat yang paling mujarab , wejangan dari Pak Dadang langsung seketika di terapkan oleh Ijam pun tersenyum melihat Krisna bangun dari tidurnya dan mengikuti pak Dadang untuk sembahyang bersama.   “ Bu Bagaimana dengan Ayu dan Siti, apa harus Ijam hubungi?” tanya Ijam kepada Bu Eni.   “ Jangan Jam, kasihan Ayu dan siti jika harus jauh – jauh datang ke sini, lagi pula Krisna Sepertinya sudah membaik, kamu juga lihat sendirikan” Ujar Bu Eni.   “ Ia Bu, syukurlah, yang penting Krisna bisa membaik, bagaimana pun caranya.” Ujar ijam.   Pak Dadang dan Krisna menjalankan ibadat dengan sangat hikmat, Krisna seperti tersentuh hatinya dan tidak henti – hentinya Krisna meneteskan air mata, seperti penuh penyesalan dalam dirinya, begitu pula pak Dadang, yang terlihat sama – sama menyesali semua kesalahan terdahulunya.   Di sisi Lain berita kehilangan Pak Sugeng mulai hangat di perbincangkan warga, kepergiannya yang tiba – tiba tidak diketahui oleh anak buahnya sendiri, tidak berbeda dengan warga Kampung asal Pak Sugeng, warga Kampung seberang pun melihat kejanggalan mobil yang selalu terparkir dekat dengan jalan setapak menuju hutan, prasangka buruk pun mulai menjadi asumsi setiap warga terhadap pemilik mobil itu.   Hingga akhirnya berita kehilangan Pak Sugeng pun terdengar sampai ke telinga Ijam, Ijam yang masih memiliki orang -orang kepercayaan di kampung memberi tahukan tentang kabar itu melalui kontak Ayu kepada Krisna, Ijam pun sangat terkejut mendengar berita itu.   “ Kamana perginya orang itu, apa dia mencariku dan Pak Dadang?” Tanya Ijam dalam hatinya.   “ Aku tidak akan memberitahukan hal ini kepada Bapak, Aku tidak akan merusak momen kebersamaan antara Pak Dadang dan Krisna saat ini, lebih baik aku simpan saja dulu sampai waktu yang tepat.” Ujar Ijam.   TIdak hanya Ijam yang mengetahui kabar kepergian pak Sugeng, Yuda pun mendengar hal yang sama, Yuda merasa ada sesuatu yang janggal dengan kepergian Pak Sugeng, Yuda yang memiliki dendam pribadi terhadap pak Sugeng, menyambut Baik berita itu dan terus menerus mencari perkembangan berita itu melalui teman - temannya.   Perkembangan berita saat ini sangat mudah sekali di dapat baik itu berita benar atau berita bohong, hal itu membuat Yuda sangat teliti dan cermat dalam mengolah setiap berita yang dia dengar, bahkan berita Krisna sakit pun Yuda mengetahuinya, Yuda pun sebenarnya tidak tega dengan keadaan Krisna , tapi sebagai bentuk antisipasi Yuda mau tidak mau harus meninggalkan rumah pak Yaya.   Tidak ayalnya dengan Bram yang merasa sedih dengan keadaan Krisna, Bram mengetahui kabar itu dari Ijam, Bram pun membeberkan alasannya untuk menjauhi Krisna kepada Ijam, Ijam pun menampung semua masalah yang tengah di hadapi Krisna, dan mencoba mengolah sendiri masalah itu agar tidak sampai ke telinga Krisna agar Krisna tidak kembali merasa tertekan hingga saat dia sudah pulih, kebenaran -kebenaran itu akan di ungkap oleh ijam.   Sebagai seorang sahabat Ijam sangat peduli terhadap Bram, Bram pun di berikan penjelasan secara rinci tentang kondisi Krisna, dengan harapan Bram bisa mengerti keadaan dan situasi saat itu, tapi Bram sepertinya bersikukuh dengan pendiriannya dan tetap menganggap jika Krisna memiliki ilmu hitam dan tetap akan menjauhi Krisna untuk selamanya, Ijam pun tidak bisa berbuat banyak, Ijam hanya meminta waktu yang akan membuktikan jika anggapan Bram sebenarnya jauh dari fakta, dan tujuan Krisna tidak bermaksud ke arah untuk menyelakai Bram. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN