Hubungan antara Krisna dan Pak Dadang sebagai ayah dan anak semakin erat terjalin, selama bertahun tahun mereka layaknya orang lain, tapi kini semuanya semakin membaik, meskipun Krisna terkadang masih berdiam sendiri dan melamun, Pak Dadang terus membuatnya bahagia dan terus memberikan semangat untuk anaknya.
Dari hari ke hari Krisna mulai menunjukkan perubahan yang tinggi, hingga akhirnya Pak Dadang dan yang lainnya tahu jika Krisna selalu memendam sendiri masalah yang tengah ia hadapi, hal itu lah yang membuat Pak Dadang dan yang lainnya sedikit menutupi masalah yang tengah mereka hadapi.
“ Kris , jangan melamun terus seperti itu, Aku ingin melihat Kamu yang dulu, yang ceria, yang humoris, bukan seperti ini.” Ujar Ijam kepada Krisna yang sedang berada di pelataran rumah.
“ Tidak Jam, badanku hanya terasa masih lemas saja.” Ujar Krisna.
“ Ya Sudah biar badan Kamu kembali pulih, bagaimana jika kita pergi ke luar hari ini.” Ajak Ijam.
“ Memangnya Mau ke mana, jangan terlalu jauh, Aku masih belum kuat, terlalu lama di rumah membuatku tidak bisa jauh berjalan.” Ujar Krisna.
“ Tidak akan jauh Kris, Kita akan membuat badan mu bergerak saja, Kamu sih terlalu lama rebahan, jadi tulang tulangmu kaku.” Ujar Ijam.
Krisna hanya membalas Ijam dengan senyuman, Krisna mengikuti saran dari Ijam, Ijam dan Krisna berjalan di sekeliling wilayah area dekat rumah, Kaki Krisna yang awalnya terasa kaku perlahan mulai lancar, keringat pun mulai keluar dari setiap pori – pori tubuhnya, memuat badannya lebih segar.
“ Jam betul, badanku rasanya lebih ringan di bandingkan hari kemarin.” Ujar Ijam.
“ Ia lah Pasti, Terus saja kita lakukan setiap hari, pasti badanmu cepat kembali pulih.” Ujar Ijam.
“ Nanti siang kita coba lagi saja.” Ujar Krisna tersenyum.
“ Jika tengah hari bukan keringat yang ada, tapi kulit yang gosong karena sinar matahari.” Ujar Ijam.
“ Bercanda Jam, Terima kasih ya Jam, sudah membawa bapak kembali ke rumah.” Ujar Krisna.
“ jangan berterima kasih seperti itu Kris, kalian sudah menganggapku sebagai keluarga, maka Aku pun akan melakukan hal yang sama, Jadi sudah kewajibanku untuk saling menjaga.” Ujar ijam.
“ Tapi kenapa Bapak bisa berubah seperti itu, Apa yang membuatnya berubah Jam?” Tanya Krisna.
“ Banyak hal Kris, Yang jelas Bapak bisa berubah karena kehendak sang pencipta, dengan hal itu Bapak Lebih dekat dengan sang pencipta, sudah jangan di pikirkan , kita harusnya bersyukur dengan perubahan Bapak.” Ujar Ijam.
“ Lalu bagaimana dengan pak Sugeng?” Tanya Krisna.
“ Aku kurang tahu Kris, Oh ia kita beli sarapan di pasar sana.” Ujar Ijam mengalihkan pembicaraan.
“ Jangan Jam, di sana ada penunggunya.” Ujar Krisna.
“ Penunggu apa?, Aku tidak paham.” Ujar Ijam.
“ Di Sana ada penjual bubur ayam, sangat ramai dengan yang beli, tapi saat aku mengantre ternyata penjual itu menggunakan penglaris, aku melihat jelas sosoknya, dan aku tidak mau membahasanya.” Ujar Krisna.
“ ya sudah kita beli di tempat yang lain saja.” Ujar ijam.
“ Tapi Aku tidak ada uang, kan Kamu tahu sendiri aku tidak bekerja.” Ujar Krisna.
“ Aku juga sama tidak sedang bekerja, tapi Aku ada sedikit uang, cukup untuk beli dua porsi sarapan.” Ujar ijam.
“ ya sudah jika begitu, Aku ikut saja.” Ujar Krisna.
Hubungan antara Ijam dan Krisna kini mulai kembali terjalin , sempat merenggang dan canggung, kini rasa itu telah tiada, layaknya adik dan kakak mereka saling membantu satu sama lainnya.
Dua porsi sarapan pun datang untuk Ijam dan Krisna, mereka makan dengan lahap, meskipun Krisna terus saja melihat ke sekeliling memastikan jika tempat itu tidak menggunakan penglaris.
“ Kenapa Kris,?’’ tanya Ijam.
“ Aku hanya memastikan jika di sini tidak menggunakan penglaris.” Ujar krisna.
Ijam tersenyum.
“ Jika memang ada, penglaris itu tidak akan mempan untuk kita, sebab doa sebelum makan bisa menghilangkan sihir penglaris itu, dan tidak semua tempat ramai menggunakan penglaris, banyak juga tempat termasuk tempat ini, yang memang masakannya sangat enak dan membuat orang – orang tidak bosan untuk membeli.” Ujar Ijam.
“ Ia ya Jam, Maaf Aku hanya terlalu khawatir saja.” Ujar Krisna.
“ Sekarang kamu ,makan saja , jangan terlalu banyak berpikir, nikmati setiap suapannya.” Ujar Ijam.
Krisna pun dengan tenang memakan makanan yang sudah ada di depannya, Ijam sangat senang melihat Krisna yang kini sudah pulih, sembari makan Ijam mendengar ada seorang pembeli yang tengah membahas orang asing yang di temukan di pinggir sungai, Ijam yang awalnya tidak tertarik dengan berita itu, tiba – tiba merasa ingin mengetahui lebih dalam tentang berita yang terjadi.
“ orang itu sudah meninggal atau belum.” Ujar ijam dalam hatinya.
“ Kenapa Aku jadi ingin mengetahuinya.” Ujar ijam.
“ Kris, kita nanti ke jembatan yang di bawahnya sungai, katanya ada orang tersangkut di pinggir sungainya.” Ujar Ijam.
“ Tidak Jam, biasanya Aku suka melihat sosok yang aneh – aneh.” Ujar Krisna.
“ Antar Aku saja, kamu jangan melihat ke bawah jembatan.” Ujar Ijam.
“ Ya Sudah, kenapa kamu sangat tertarik dengan berita itu?” tanya Krisna.
“ Tidak apa – apa Kris, Aku hanya ingin tahu saja.” Ujar Ijam.
Krisna dan Ijam pun langsung melihat kebenaran berita itu, Ijam dan Krisna berjalan tidak terlalu jauh hingga terlihat keramaian warga.
“ Ada apa Ya Kris, Aku penasaran.” Ujar Ijam.
“ Kan tadi katamu ada orang yang tersangkut di sungai, Aku tunggu di sini saja, Aku malas jika harus melihat sosok lain di antara warga sana.” Ujar Krisna.
“ Ya sudah tunggu sebentar, Aku tidak akan lama, hanya ingin melihat saja.” Ujar ijam.
Ijam pun meninggalkan Krisna, dan mendekati kerumunan warga terlihat orang – orang tengah membantu mengangkat korban, terdengar suara teriakan warga jika korban itu masih hidup, Ijam hanya melihat sepintas dan korban pun langsung di bawa menuju rumah sakit.
Ijam tidak menyadari jika korban itu adalah pak Sugeng yang terjatuh ke sungai dalam hutan, Ijam pun kembali menemui Krisna dan memutuskan untuk kembali pulang, di sisi lain pak Sugeng yang masih di berikan kesempatan untuk hidup, mulai tersadar di dalam mobil.
“ Di mana ini.” Ujar Pak Sugeng dalam hatinya.
Badannya terasa sangat kaku bahkan tidak dapat di gerakan, tangan – tangannya kebas, dan tidak terasa apa- apa, Pak Sugeng hanya bisa membuka mata tanpa berbicara sedikit pun, bekas luka benturan di sekujur badannya , hingga luka goresan benda tajam pun kini hinggap di badannya, baju yang di kenakan pun sudah terkoyak tidak berbentuk lagi.
Dengan kesigapan tim perawat dan dokter Pak Sugeng bisa tetap hidup, terombang - ambing di atas air hingga meminum banyak air membuat kondisi pak Sugeng awalnya begitu parah bahkan sepertinya sangat sulit untuk kembali hidup, tapi sang pencipta berkata lain, Pak Sugeng seperti di berikan kesempatan untuk hidup dan bertobat serta menebus semua kesalahan yang pernah Dia lakukan sebelumnya.
Sayangnya kesempatan yang di dapat oleh Pak Sugeng, dan kejadian yang sempat ia Alami belum bisa mengubah pemikiran dan Prinsip dalam hidup Pak Sugeng, hanya rasa dendam dan amarah yang ada dalam hati pak Sugeng yang kini semakin menjadi – jadi.
“ Dasar tidak berguna, semua orang yang Ku miliki semuanya tidak berguna, terutama Si Dadang, dan anak angkatnya yang membuatku menjadi tersiksa seperti ini, awas saja jika mereka Ku temukan, mereka akan merasakan apa yang Aku rasakan sekarang ini.” Ujar Pak Sugeng dalam hatinya.
Waktu berlalu begitu cepat, hingga malam pun tiba, kondisi Pak Sugeng membuat dokter dan tim perawat terkejut dengan perubahan kondisi yang dia alami, tingkat kesembuhan yang sangat cepat membuat mereka keheranan dan kebingungan.
Hingga dalam tiga hari pak Sugeng sudah bisa membalikkan badan dan mulai berbicara.
“ Dokter, bisa saya meminjam telepon, saya ingin memberitahukan anak buah saya untuk datang ke sini dan membayar semua tagihan.” Ujar Pak Sugeng.
Dokter pun memberikan telepon genggamnya, Pak Sugeng pun menelepon kepada salah satu anak buahnya untuk menemuinya di kota, Pak Sugeng meskipun dalam kondisi tidak berdaya, tetap menunjukkan rasa angkuh dan sombongnya.
“ Dokter jangan khawatir, saya ini orang paling kaya di kampung , saya paling berpengaruh di kampung, jadi tolong dokter berikan pelayanan paling baik untuk saya, saya akan membayar semua tagihan beserta bonus untuk dokter jika melayani saya dengan baik.” Ujar Pak Sugeng.
Dokter hanya tersenyum dan meninggalkan Pak Sugeng tanpa menjawab sedikit pun sambil menggelengkan kepalanya.
“ Dokter ini belum tahu siapa Aku sebenarnya, rupa – rupanya dia ingin di berikan pelajaran.” Ujar Pak Sugeng angkuh.
Pak Sugeng tidak sedikit pun merasa berterima kasih terhadap pertolongan tim dokter, Dia merasa jika kesembuhan dan terselamatkan dari kejadian yang menimpanya berasal dari ilmu yang selama ini Ia anut, padahal semua itu sebuah kesalahan besar, hatinya yang sekeras batu sangat sulit melihat nilai positif dalam kejadian yang di alaminya.
Berselang berapa waktu, akhirnya anak buah Pak Sugeng pun datang, dan meminta agar Pak Sugeng di pulangkan, untuk di berikan pengobatan di rumah miliknya, pihak dokter awalnya menolak, tapi karena di sertai dengan ancaman, membuat Pak Sugeng di izinkan untuk di bawa pulang, meski seluruh biaya pengobatan tetap di bayar secara penuh oleh pak Sugeng.
Pak Sugeng yang masih belum bisa berdiri, keluar dari rumah sakit dengan cara di gendong oleh anak buahnya, Pak Sugeng dengan kondisi seperti itu masih saja selalu menyalahkan orang lain di sepanjang perjalanan pulang pun pak Sugeng tidak henti – hentinya memaki dan memarahi anak buahnya, ucapan terima kasih pun sepertinya sangat sulit untuk di ucap oleh Pak Sugeng dengan rasa angkuh yang dia miliki.
“ Ke mana saja Kalian?, Aku berjuang mencari Si Dadang sampai masuk ke dalam hutan dan akhirnya Aku celaka seperti ini, Kenapa kalian tidak mencariku, bulan sekarang kalian tidak mendapat gaji.” Ujar Pak Sugeng.
Semua anak buah yang menjemput Pak Sugeng hanya berdiam, sebab jika mereka membuka mulut pun pasti akibatnya akan lebih parah untuk mereka dan keluarga, tekanan yang di alami kaki tangan pak Sugeng memang sangat berat, mereka ingin terbebas dari Pak Sugeng , hanya saja kebutuhan keluarga yang terus mendesak mereka bertahan dengan Pak Sugeng.
Sesampainya di rumah Pak Sugeng, dia melihat barang – barang miliknya berserakan tidak karuan, melihat hal itu Pak Sugeng pun kembali memuntahkan amarahnya.
“ Apa yang terjadi dengan rumahku.” Ujar Pak Sugeng berteriak.
“ Kalian mencoba menjarah rumahku?” Ujar Pak Sugeng menatap tajam ke seluruh anak buahnya.
“ Mulai hari ini, dan detik ini juga, kalian akan menanggung akibatnya, jangan salahkan Saya jika Keluarga kalian akan merasakan kelaparan.” Ujar Pak Sugeng.
Seluruh Kaki tangan Pak Sugeng dengan tanpa penyesalan meninggalkan rumah Pak Sugeng, tidak ada sedikit pun raut penyesalan di wajah mereka, melihat hal itu Pak Sugeng amat sangat marah, dan bersumpah akan melakukan semuanya sendiri.
“ Dasar tidak Berguna.” Ujar Pak Sugeng.
Dia hanya bisa terduduk diam sendiri di rumah besarnya, kebiasaan memerintah dalam diri Pak Sugeng tidak bisa di hilangkan, rasa kehilangan dari diri Pak Sugeng sangat terasa , kebutuhan akan kaki tangannya yang sangat besar namun egonya sendiri yang menuntut agar dirinya terlihat kuat.
“ Aku harus mencari orang baru lagi, Aku ternyata tidak bisa melakukan semua sendiri, terutama saat ini kondisiku yang belum pulih sepenuhnya.” Ujar Pak Sugeng menyesal.
“ Tapi ada baiknya Aku mencari orang bukan dari kampung sini saja, mereka sudah berbuat curang dan ingin merugikanku.” Ujar Pak Sugeng.
Begitu kesulitannya pak Sugeng untuk memindahkan dirinya sendiri, Pak Sugeng harus bersusah payah untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mempunyai harta menggunung tidak menjamin pak Sugeng mendapatkan semua yang dia inginkan, tidak adanya keluarga dan orang lain di sekitarnya, membuat harta itu seakan tidak berguna sama sekali.
Pak Sugeng memang terlahir dari keluarga yang berada sedari dulu, dia sering melihat orang tuanya memperlakukan orang lain dan bawahannya dengan kasar dan tidak manusiawi, bahkan k*******n pun dalam keluarga Pak Sugeng bukan hal asing bagi mereka, dan itu pun kini di teruskan oleh Pak Sugeng, budaya k*******n dalam hidup dan keluarga pak Sugeng menjadikannya orang yang angkuh dan tidak tahu tentang tenggang rasa serta bersosialisasi dengan orang lain.
Tidak pernah ada rasa penyesalan dalam diri Pak Sugeng, yang dia rasa hanya dendam dan juga amarah, kepiawaiannya dalam hal berbicara , menghasut, serta membuat kebohongan , menjadi salah satu sumber pencarian harta untuknya, meskipun dari keluarga yang sangat berada, tapi jika tidak memiliki kepribadian yang baik seperti Pak Sugeng, harta itu tidak akan pernah di rasa cukup dan yang akhirnya membuat pak Sugeng menghalalkan segala cara, dengan anggapan bahwa harta bisa membeli segalanya.
Tapi anggapannya itu sangat salah, harta yang ia miliki pun tidak dapat membantunya, bahkan untuk membalikkan badannya sendiri, Dia sangat kesulitan, dengan keangkuhan yang dia miliki, dia pun merasakan akibatnya.
“ Semua ini gara – gara kaki tanganku sendiri, coba saja mereka setia dan tidak berbuat macam – macam , aku juga tidak akan seperti ini, dan mereka juga bahkan masih tetap mendapatkan uang dariku.” Ujar Pak Sugeng, sambil berusaha memindahkan badannya ke atas kursi.
Tubuh Pak Sugeng di paksa bergerak , dengan sisa tenaga yang ada dia berusaha menggapai kursi untuk duduk.
“ Aku buktikan Aku juga bisa melakukan semuanya sendiri, dasar warga tidak tahu diri.” Ujar pak Sugeng.
Pak Sugeng terus saja menyalahkan orang yang tidak bersalah, hingga akhirnya malam menjelang pak Sugeng yang tidak bisa beranjak ke mana – mana, dan hanya bisa terdiam di kursi mulai merasa lapar dan kebingungan.
“ Rasanya Aku lapar, bagaimana caranya Aku ke dapur?, Aku akan menyuruh orang saja untuk beli makanan di luar.” Ujar pak Sugeng.
Pak Sugeng mengambil telepon genggamnya dan menelepon salah satu anak buahnya.
“ Tolong belikan Aku makanan di luar, antarkan cepat ke rumahku, nanti Aku beri uang untuk ongkos.” Ujar pak Sugeng kepada salah satu mantan anak buahnya.
Penolakan pun di dapat dari anak buah pak Sugeng, hal itu membuat pak Sugeng marah.
“ Beraninya kamu menolak perintahku, tidak tahu terima kasih kau.” Ujar Pak Sugeng.
Pak Sugeng terus menerus menghubungi seluruh mantan anak buahnya dan mereka pun menjawab dengan jawaban yang sama, mendengar hal itu Pak Sugeng kembali marah, dirinya tidak pernah di bantah sebelumnya, bahkan semua perintahnya selalu di ikuti dan turuti.
“ Mereka ini tidak tahu malu, sudah Aku bantu, tapi tidak tahu caranya berterima kasih.” Ujar pak Sugeng.
Pak Sugeng pun kebingungan, dirinya dengan rumah yang sangat besar berada dalam kondisi lemah dan tidak berdaya, tidak ada satu orang pun yang mau mengurusi dirinya, Pak Sugeng pun akhirnya mau tidak mau menahan rasa laparnya , waktu semakin malam pak Sugeng seperti kehilangan setengah kesadarannya, Dia seperti melihat sosok asing di dalam rumahnya.
“ Siapa itu?, kenapa ada orang di dalam rumah ini.” Ujar pak Sugeng.
Sosok itu hanya melihat ke arah Pak Sugeng, Pak Sugeng pun membalas tatapannya, meskipun dirinya setengah sadar akibat dehidrasi, tapi Pak Sugeng berusaha mencari tahu, sosok apa yang tengah ada di hadapannya.
Sosok itu pun tiba – tiba menghilang, pak Sugeng pun sedikit mengerutkan dahinya.
“ Apa Aku sedang berhalusinasi?” Tanya Pak Sugeng.
Sosok itu sepertinya penasaran dengan pak Sugeng, tidak hanya mengganggu secara halus, tapi sosok itu juga mulai mengganggu secara kasar, dengan menyiramkan air kepada Pak Sugeng, sontak saja Pak Sugeng terkejut, Pak Sugeng pun berusaha agar tetap sadar, dan mencari tahu sosok apa yang dai hadapi.
Namun Pak Sugeng tidak dapat menahan kesadarannya, Pak Sugeng pingsan dengan posisi terlentang, sosok itu pun mendekati Pak Sugeng dan berdiri di sampingnya, Pak Sugeng tidak merespon dan hingga akhirnya sosok itu menghilang dan menjauhi Pak Sugeng.
Setelah beberapa waktu, Pak Sugeng pun sadar dari pingsannya, tapi dengan santainyad
sosok itu duduk di bawah kaki Pak Sugeng, Kakinya yang masih belum bisa di gerakan hanya bisa terdiam, lantas Pak Sugeng pun berteriak sangat kencang.
“ Siapa Kamu?, kenapa ada di rumahku?” Tanya Pak Sugeng.
Sosok itu hanya mengangguk dan memainkan kakinya naik dan turun, tanpa menoleh sedikit pun, Pak Sugeng yang tidak bisa berbuat banyak hanya isa pasrah dengan keadanya saat itu.
Sosok itu semakin malam semakin menjadi, sosok itu layaknya sedang bermain di taman hiburan, berjalan ke sana - kemari dengan di sertai tertawaan yang menyeramkan, hingga akhirnya sosok itu teralihkan dengan suara ketukan dari luar, sosok itu langsung pergi entah kemana.
Pak Sugeng pun merasa senang sebab ada orang yang masuk ke rumahnya, namun sayangnya harapan pak Sugeng harus pupus, sebab ternyata bukan oranglah yang mengetuk pintu melainkan sosok lain yang merasa di undang ke dalam rumah itu.
“ Kenapa rumahku menjadi sarang makhluk seperti kalian.” Ujar Pak Sugeng berteriak.
Layaknya di undang, semakin malam, semakin banyak sosok yang datang ke dalam rumah Pak Sugeng, Pak Sugeng pun selain merasa ketakutan dia juga merasa kebingungan dengan apa yang tengah terjadi di rumahnya.
Di sisi lain Ayu memilih untuk sementara tinggal dan menginap di rumah Ayu, kejadian semalam membuat dirinya ketakutan dan merasa segan untuk tidur di rumah sendiri.
“ Sit, Boleh Aku Tidur di sini.” Ujar Ayu.
“ Boleh saja Yu, kenapa aku harus menolak, sebelum orang tuamu pulang, tinggal saja di sini, orang tua ku juga pasti senang jika kamu tinggal di sini.” Ujar Siti.
“ Tapi rumahku baik – baik saja kan, tidak akan ada yang masuk seperti sosok yang semalam?” Tanya Ayu.
“ Tentu saja tidak Yu, makhluk seperti itu akan masuk ke rumah kita jika di sana tidak pernah ada kegiatan agama , rumahmu kan berbeda, orang tuamu juga kan sangat rajin beribadat.” Ujar Siti.
“ Syukurlah jika begitu.” Ujar Ayu.
“ Yu, kamu tahu gak, jika Pak Sugeng sudah kembali?” Tanya Siti.
“ Sudah Sit, Aku mendengar dari warga, bahkan katanya semua anak buahnya pun sekarang di pecat.” Ujar Ayu.
“ Rencana jahat apalagi yang akan dia lakukan?” Ujar Siti.
“ Entah lah, tapi yang Aku dengar jika Pak Sugeng sekarang belum pulih sepenuhnya.” Ujar Ayu.
“ Apa Kamu sudah memberitahukan hal ini kepada Krisna, kan Kamu pernah bilang jika Pak Dadang kembali ke sini.” Ujar Siti.
“ entah Sit, Aku masih marah dengan Krisna.” Ujar Ayu.
“ Ayu, turunkan egomu sedikit, sekarang kan situasinya berbeda, ini ada hubungannya dengan keluarga Krisna, bukan hubungan antara kamu dan Krisna.” Ujar Siti.
“ YA Sudah.” Ujar Ayu mengambil telepon genggamnya.
Krisna saat itu sedang berbincang dengan Ijam dan Pak Dadang, telepon genggamnya di simpan di dalam kamar, membuat panggilan telepon dari Ayu pun tidak terangkat .
Ayu pun kesal dengan Krisna.
“ Tidak di angkat Sit.” Ujar Ayu kesal.
“ kenapa?” tanya Siti.
“ Tidak tahu Sit, kadang Aku bingung dengan Krisna, Aku merasa sekarang tidak di anggap lagi, memang jarak kita cukup jauh, tapi kan sekarang bukan jaman batu semua serba modern tapi kenapa rasanya susah untuk berbicara sepatah kata juga.” Ujar Ayu kesal.
“ Berpikir positif saja, mungkin Krisna sedang sibuk, atau sedang ada urusan lain, atau bahkan sedang sakit.” Ujar Siti.
“ Bagaimana Aku bisa tahu keadaannya, memberikan kabar juga jarang.” Ujar Ayu Kesal.
“ Sabar, Kan Aku bilang berpikir positif saja.” Ujar Siti.
“ ya Kamu kan enak tinggal bilang saja, lalu hubungan mu dengan Ijam bagaimana?” Tanya Ayu.
“ Kenapa Ijam?, Lagi pula Aku tidak ada hubungannya dengan Ijam.” Ujar Siti dengan raut wajah yang memerah.
“ Siti, Aku sudah lama dekat dengan Kamu, dari dulu ketika Kamu bertemu dengan Ijam, tingkah lakumu langsung berubah.” Ujar Ayu.
“ Maksudnya?” Tanya Siti.
“ Setiap Aku membicarakan Ijam pun, Kamu seperti salah tingkah, dan saat kemarin pun di kampung seberang Kamu menunjukkan hal yang sama.” Uar Ayu.
“ Aku masih tidak mengerti.” Ujar Siti.
“ Saat di kampung seberang dulu, Aku kan melihat pria seperti Ijam, kamu pun langsung melihatnya dan wajah kamu langsung memerah di tambah kamu memperlihatkan raut wajah cemburu.” Ujar Ayu.
“ Kamu ini pintar saja mengalihkan pembicaraan.” Ujar siti.
“ bukan begitu Sit, sebaiknya Kamu jujur saja kepada Ku, jangan di pendam sendiri , yang ada nanti malah jadi jerawat.” Ujar Ayu.
“ jika boleh jujur, Aku memang menyimpan perasaan terhadap Ijam, tebakan kamu memang benar, hanya saja Aku takut dan merasa belum pantas.” Ujar Siti.
“ betulkan perkiraanku, Aku boleh memberi saran?” Tanya Ayu.
“ harus lah, Kamu yang memancing pembicaraan ini.” Ujar Siti.
“ Sepertinya Ijam memiliki hal yang sama terhadapmu, bukan tanpa sebab, Aku melihat kalian mirip , kata orang jika wajah kita mirip itu berarti jodoh.” Ujar Ayu.
“ mitos itu, Apa saranmu?” Ujar Siti.
“ Saranku sebagai sahabat, jangan pernah merasa Kamu tidak pantas, pantaskan diri Kamu sendiri, Kamu berhak mendapatkan Ijam atau pun laki – laki lain yang Kamu sukai, Kamu ini cantik, pintar, solehah, Apa lagi yang membuat Kamu merasa tidak layak.” Ujar Ayu.
“ Aku merasa jika Ijam bisa mendapatkan wanita lebih dariku.” Ujar Siti.
“ Kamu sendiri yang bilang kalau Aku harus berpikir positif, tapi kamu sendiri berpikir negatif, Tidak ada di luar sana wanita sebaik Kamu, Ijam pantas bersamamu.” Ujar Ayu.
“ tapi Apa Ijam bisa tahu isi hatiku?” Tanya Siti
“ Tentu saja bisa, tenang nanti Aku yang akan menjadi makcomblang untukmu.” Ujar Ayu.
“ kenapa dadaku bergetar begini ya?” Tanya Siti.
“ belum apa – apa sudah bergetar seperti itu, kita berdoa saja semua akan baik – baik saja, keluarga Pak Dadang juga semoga cepat kembali lagi ke kampung ini, jika pak Dadang kembali Ijam pun akan ikut juga pastinya.” Ujar Ayu.
“ Ia Yu, kita doakan bersama.” Ujar Siti.
“ rasanya sedang ada yang kasmaran seperti ini, hingga aku ingat saat salah satu temanku melihat Ijam sedang membuat gerabah, tatapannya begitu tajam, hingga tidak berkedip sedikit pun .” Ujar Ayu.
“ Siapa itu?” Tanya Siti dengan wajah memerah.
“ Itu Kamu Siti.” Ujar Ayu tertawa.
“ Ia maaf aku tidak bisa mengontrol pandanganku, Aku seharusnya tidak berbuat seperti itu.” Ujar Siti.
“ sudah, lain kali lebih baik kamu beberkan semuanya terhadapku, Ijam itu baik untuk kamu, Aku senang jika Ijam bisa bersama mu Sit, Aku sebagai teman ingin Kamu mendapatkan yang terbaik, terutama pasangan hidup.” Ujar Ayu.
“ Aku juga berharap Kamu dan Krisna tetap bersama, sebab kalian saling melengkapi, Krisna yang kadang konyol di tutupi dengan kelakuanmu yang konyol juga tpi sosok ke ibuan mu yang akhirnya menjadi penyeimbang.” Ujar Siti.
“ Apa benar Aku konyol juga?” Tanya Ayu.
“ Aku tidak akan mengiakan, kamu yang tahu diri kamu sendiri.” Ujar Siti
“ Tapi ada benarnya juga , Tapi itu juga terkadang sih aku berbuat konyol.” Ujar Ayu.
Perbincangan tentang Ijam terus menjadi pembahasan yang menarik untuk Ayu dan Siti, Hingga tidak terasa waktu pun beranjak tengah malam, Ayu dan Siti pun memutuskan untuk beristirahat, tapi sayangnya niatan itu harus terganggu.
“ Sudah malam Yu, sebaiknya kita tidur, nanti subuh kita sembahyang bersama.” Ujar Siti.
“ Ia Siti, Sekarang Kamu istirahat, kasmaran itu memang indah tapi memerlukan tenaga yang besar, jadi Kamu harus tidur yang cukup.” Ujar Ayu.
“ Sudah yu, jangan di bahas lagi, tidak akan ada habisnya jika terus di bahas.” Ujar Siti.
Ketika mereka akan tertidur, suara geraman terdengar dari luar rumah.
“ Suara apa Itu ?” Tanya Ayu ketakutan.
“ Entah Yu, kita abaikan saja, mungkin suara hewan yang Cuma lewat.” Ujar Siti.
“ Masa hewan suaranya seperti itu, hewan apa memangnya?” Tanya Ayu.
“ Paling juga kucing atau gak tikus.” Ujar Siti menenangkan Ayu.
“ Kamu ini kaya ke anak kecil saja, di mana ada kucing sama tikus suara nya seperti itu.” Ujar Ayu.
“ Ya sudah, Kamu cek ke luar sana, Aku tidak Mau keluar , takut melihat yang engga – engga.” Ujar Siti.
“ Aku pun sama, Aku tidak mau, biarkan saja, Tapi Aku takut jika itu suara sosok yang semalam.” Ujar Ayu.
“ Mudah – mudahan bukan, sekarang kita tidur saja, Aku kan sedang kasmaran jadi perlu tidur cukup.” Ujar Siti.
“ Kamu ini , situasi sedang seperti ini masih suka bercanda.” Ujar Ayu.
“ Kan Kamu sendiri yang mulai.” Ujar Siti.
Hingga akhirnya suara geraman itu sangat jelas terdengar, seperti berada di dekat jendela, Siti pun berusaha untuk mengintip dari balik jendela, tapi sebelum siti sampai untuk mengintip, mereka kembali di kejutkan dengan suara geraman yang sangat kencang, Siti pun melompat kaget dan mengurungkan niatnya untuk mengintip sosok yang ada di balik kaca jendela kamarnya.
Suara itu terus menerus terdengar, Ayu dan Siti terus membacakan Doa, perlahan suara itu menjauh dan akhirnya menghilang, Siti pun keluar Kamar dan menanyakan hal ini kepada Ibunya, Ibunya siti tidak mendengar sama sekali tentang geraman itu, dan akhirnya siti kembali ke Kamar miliknya.
“ Ada Apa Sit?” tanya Ayu.
“ Ibu bilang tidak Mendengar apa – apa, justru kita malah di marahi, kata ibu tidak baik anak gadis berbicara sampai tengah malam seperti ini, dan kata ibu malah mengundang makhluk seperti itu, entah benar atau tidak, tapi memang kita tadi sudah tidak tahu waktu.” Ujar Siti.
“ Lalu sekarang bagaimana, sudah dua hari berturut – turut, kita mengalami hal seperti ini, Aku jadi sangat takut.
“Takut itu dengan sang pencipta, sosok itu juga di ciptakan olehnya, jadi untuk apa takut terhadap ciptaannya juga.” Ujar Ayu.
“ Ia maaf, Aku tidur di dekat tembok saja ya, Aku takut tidur di pinggir , mana dekat dengan jendela kamar pula.” Ujar Ayu.
“ kan Kata Aku juga jangan takut, ya sudah kamu tidur dekat tembok saja.” Ujar Siti.
Akhirnya Ayu dan Siti bisa tertidur dengan nyenyak, hanya saja ternyata geraman itu memang berasal dari sosok yang kebetulan sedang berada dekat dengan rumah Siti, Sosok itu mencium bau – bau yang mengundang dirinya, Ayu terpaksa harus terbangun dari tidurnya, Ayu kembali mendengar suara – suara aneh, Ayu mencoba membangunkan Siti.
“ Siti bangun, Aku mendengar suara aneh.” Ujar Ayu.
“ Suara apa lagi Ayu, kamu mungkin sedang tertidur.” Ujar Siti.
“ Suara seperti orang menangis, dan suaranya sangat jelas terdengar.” Ujar Ayu.
“ Ya sudah bawa kembali sapu lidi, di rumahku kacanya tidak sebesar di rumahmu, tapi cukup untuk mengusir makhluk seperti itu.” Ujar Siti.
Mereka berdua kembali dalam keadaan menyeramkan, keadaan kampung itu memang sedang kacau dan carut marut, banyak orang yang salah jalan dan membuat banyak sekali sosok yang serasa di undang ke kampung itu dan akhirnya malah membuat warganya sendiri tidak nyaman dan tidak leluasa untuk melakukan aktivitas di malam hari, gangguan – gangguan itu akan sangat terasa di malam – malam tertentu, dan semua sosok yang mengganggu warga berasal dari kediaman atau rumah besar milik Pak Sugeng.