LANJUTAN 54

3579 Kata
Kampung tempat kelahiran pak Dadang kini semakin mencekam, bukan tanpa sebab kejadian – kejadian mistis dan gangguan – gangguan sosok – sosok setiap malam di rasakan oleh warga, warga tidak berani keluar rumah setelah malam menjelang, surau pun kini semakin sepi, dengan tidak adanya Ijam, kegiatan keagamaan pun jarang sekali di lakukan di surau, kebanyakkan orang hanya beribadat di rumah masing – masing.   Sosok – sosok yang datang di kampung itu, merasa di undang oleh pak Sugeng, Pak Sugeng dulu ternyata memiliki perjanjian dengan beberapa sosok di dalam hutam, jika Pak Sugeng tidak menepati perjanjian itu, akibatnya sosok – osok itu akan sering meneror Pak Sugeng, bahkan imbasnya menjadi teror untuk satu kampung.   Setelah kepergian kaki tangannya Pak Sugeng melakukan aktivitas hariannya secara sendiri, kondisinya yang belum pulih , memaksa Pak Sugeng harus berpikir keras dan mencari cara agar hidupnya tetap berlangsung.   Akhirnya Pak Sugeng memaksakan badannya agar bisa bergerak lebih banyak, usahanya membuahkan hasil , satu hari pertama dia menunjukkan perubahan yang signifikan, kakinya yang terasa kaku, kini perlahan bisa melakukan tugasnya, Dia kini bisa mengambil semua keperluan dirinya sendiri, meskipun dengan kekuatan dan tenaga yang di kurasnya secara penuh.   “ Aku harus memaksakan diriku , jangan sampai kalah dengan keadaan.” Ujar Pak Sugeng.   Prinsip pak Sugeng pun membuahkan hasil, di hari kedua, tidak banyak tenaga yang dii keluarkan pak Sugeng untuk bergerak, hingga akhirnya Pak Sugeng pulih total dalam waktu satu minggu, Pak Sugeng pun teringat tentang perjanjian lamanya dengan penghuni hutan, perjanjian itu mengharuskan pak Sugeng untuk menghasut warga agar menjauh dari sang pencipta, tapi kini keadaan berbalik saat kedatangan Ijam, warga kini telah banyak berubah, meskipun surau belum berjalan sepenuhnya, tapi kebanyakan warga sudah memulai ibadatnya dari rumah masing – masing.   “ Sepertinya, penunggu hutan itu marah, sehingga banyak sekali sosok asing yang ada di rumahku.” Ujar Pak Sugeng.   Pak Sugeng pun mencari cara agar Sosok – sosok yang berada di rumahnya bisa pergi untuk selamanya.   “ Bagaimana caranya agar aku bisa terbebas dari perjanjian itu, warga di sini sekarang sudah terhasut oleh anak angkatnya Si Dadang, Apa sebaiknya aku pergi saja dari kampung ini.” Ujar Pak Sugeng.   Pak Sugeng berpikir keras, hingga akhirnya dia memutuskan untuk melawan sosok itu, pak Sugeng mempersiapkan semua mantra – mantra yang pernah ia pelajari dan menunggu malam tiba.   Pak Sugeng pun mencoba untuk pergi ke luar rumah dan ingin mencoba menghasut kembali warga agar mau menuruti perintahnya, tapi sayangnya warga yang sudah terlalu banyak sakit hati, menolak dengan mentah dan bahkan warga yang lain pun saat itu tidak ada yang mau berbicara dengannya, hal itu membuat pak Sugeng sangat marah, dan memaki setiap orang yang dia jumpai.   “ Kalian belum tahu siapa saya, dan sudah saatnya kalian menerima kemarahanku." Ujar pak Sugeng kepada setiap warga yang di jumpainya.    Dengan amarah yang menggebu pak Sugeng kembali ke rumahnya, namun Pak Sugeng telah di sambut beberapa sosok yang sedang bertengger di atas rumah, pak Sugeng kembali memaki semua sosok yang bertengger di rumahnya, dan akhirnya masuk ke dalam.   Warga yang sempat melihat Pak Sugeng, merasa curiga dan takut, sebab kelakuan Pak Sugeng sudah di luar nalar, dan orang – orang menganggap jika pak Sugeng sudah tidak waras, hingga berita itu pun sampai kepada Ayu dan Siti.   Ayu yang sedang membaca buku di kamarnya Siti, seketika terkejut mendengar Siti yang memanggilnya dengan kencang, Siti langsung menutup pintu kamarnya, dan menceritakan semua yang Dia tahu kepada Ayu.   “ Kamu Tahu dari mana Siti, kita jangan hanya mendengar kabar yang belum tentu benar, kita harus mencari tahu dulu.” Ujar Ayu.   “ Memang aku hanya mendengar dari warga sekitar, tapi bagaimana kita mencari tahunya, Aku tidak mau berurusan dengan orang seperti dia.” Ujar Siti.   “ Kita tidak harus berurusan dengan orang seperti itu, lagi pula tidak ada yang ingin tahu keadaan dia sekarang aik atau tidak.” Ujar Ayu.   “ Bukan begitu Ayu, Kabar Pak Sugeng untuk Ijam dan Krisna itu sangat penting, coba hubungi Krisna lagi, dan beritahu kabar ini.” Ujar Siti.   “ Ia Ia, susah bicara sama orang yang sedang kasmaran.” Ujar Ayu.   Ayu pun kembali mencoba menghubungi Krisna, tapi sayangnya Krisna kembali sulit untuk di berikan kabar, hal itu membuat Ayu kesal, karena niatan baiknya seperti tidak di hargai.   “ Tidak ada jawaban lagi Sit, coba Kamu hubungi Ijam.” Ujar Ayu.   “ Aku tidak punya nomor telepon miliknya.” Ujar Siti.   “ Ya sudah, lain kali Saja, Aku sudah kesal duluan.” Ujar Ayu.   “ Ya sudah terserah Kamu saja , bagusnya seperti apa, Aku ikut saja.” Ujar Siti.    “ memangnya kenapa Pak Sugeng bisa sampai berkelakuan aneh seperti yang Kamu ceritakan?” Tanya Ayu.   “ Entah Yu, mungkin dia sudah tidak mempunyai pengikut, bahkan kini sudah di tinggalkan anak buahnya, jadi sepertinya dia terkena gangguan mental, tapi tidak tahu juga , itu hanya perkiraanku saja.” Ujar Siti.   “ Tapi masuk akal juga, jika memang Dia mulai berkelakuan aneh.” Ujar Ayu.   “ Ia Yu, Tapi kita harus tetap waspada, orang itu kan terkenal licik, mungkin itu tipu daya untuk dia, agar menarik simpati warga sini kembali.” Ujar Siti.   “ Eh tunggu, kenapa kita jadi terus berprasangka buruk, tidak baik tahu.” Ujar Ayu.   “ Ia ya, kenapa kita jadi terus membicarakan orang lain, dan berprasangka buruk juga, ya sudah sebaiknya kita tidak usah di bahas lagi.” Ujar Siti.   “ oh Ia Yu, kapan orang tua mu pulang?” Tanya Siti.   “ Mungkin besok Sit, memangnya kenapa, Jika kamu keberatan Aku tinggal di sini , aku bisa pulang Ko.” Ujar Ayu.   “ Bukan begitu Ayu, Kamu ini belum apa – apa sudah berprasangka buruk, Aku justru ingin orang tua Kamu lebih lama tinggal di sana, Aku kesepian di rumah, kan Kamu tahu sendiri temanku hanya kamu.” Ujar Siti.   “ YA jangan terlalu lama juga, Aku tidak enak tinggal terlalu lama di sini.” Ujar Ayu.   “ Rencananya Aku besok mau ke Kota, Kamu mau Ikut?” Tanya Siti.   “ memangnya ada Apa ?, tumben sekali Kamu ke kota, apa jangan – jangan Kamu mau bertemu dengan Ijam?” Tanya Ayu.   “ Bukan Ayu, Aku Ingin membeli sesuatu untuk saudaraku di kampung seberang itu.” Ujar Siti.   “ Padahal jika kamu jujur untuk bertemu Ijam pun Aku tidak akan apa – apa Sit.” Ujar Ayu.   “ Sudah Ayu, jangan mencoba memancingku, dan juga jangan menggodaku.” Ujar Siti.   “ Ia Ayo Sit, Aku juga akan ikut.” Ujar Ayu.   “ Dan satu lagi, jangan dulu bahas Ijam, Aku malu jika terdengar oleh orang tuaku.” Ujar Siti.   “ Tenang saja, rahasia kamu Aman.” Ujar Ayu.   Di sisi lain Ijam dan Krisna pergi mengantar Ki Amin, Ki Amin keadaannya semakin memburuk, untuk bicara pun kini ki Amin sangat kesulitan, Pak Dadang begitu sangat cemas melihat keadaan ayahnya yang kini semakin parah.   “ Pak , Jangan Panik, kita harus terus berusaha membuat Ki Amin sembuh.” Ujar Ijam.   “ Ia Jam, Sudah lama ki Amin belum kunjung sembuh, Apa perkataan Pak Sugeng itu benar jika Ki Amin memang sudah waktunya pulang?” Tanya Pak Dadang.   “ Pak, setiap manusia umurnya sudah di atur, bukan di atur oleh manusia, tapi di atur oleh sang pencipta, Ki Amin sangat beruntung di berikan kesempatan hidup yang lebih lama , mungkin sang pencipta ingin ki Amin berubah sebelum di pinta pulang oleh sang pencipta.” Ujar Ijam.   “ Apa masih ada waktu untuk Ki Amin bertobat ?” Tanya Pak Dadang.   “ jika ki Amin masih di berikan kesempatan, semuanya bisa pak, yang penting sekarang ki Amin sembuh dulu.” Uujar ijam.   “ bukan itu yang Bapak Khawatirkan jam, yang bapa takutkan jika Ki Amin di panggil sebelum bertobat.” Ujar Pak Dadang.   “ Bapak lebih baik berpikir positif saja, dan berdoa agar ki Amin di berikan kesempatan lebih lama lagi untuk berubah dan bertobat.” Ujar Ijam.   “ Ia Jam, maafkan, Bapak hanya takut hingga akhirnya membuat Bapak tidak bisa berpikir positif.” Ujar Pak Dadang.   “ Tidak apa – apa pak, ya sudah mari kita susul Krisna dan Bu Eni.” Ujar Ijam.   Semua keluarga Pak Dadang saat itu berada dalam satu ruangan dan hanya bisa melihat ki Amin dari balik kaca besar. Ki Amin terlihat seperti sehat dan seperti tidak memiliki penyakit apa pun, pihak medis sekalipun tidak menemukan penyakit atau gejala – gejala yang membuat Ki Amin mengalami sakit lama.   “ Kenapa kata dokter ki Amin dalam keadaan sehat?” tanya Pak Dadang.   “ Apa mungkin dokter salah mendiagnosa ?” Tanya Krisna.   “ sepertinya memang Ki Amin memiliki sesuatu yang tidak kita tahu.” Ujar Ijam.   “ Maksudnya?” Tanya Bu Eni.   “ Lebih baik kita bawa pulang ki Amin , dan membahas ini di rumah saja.” Ujar Ijam.   “ Ya Sudah, Kita bawa pulang kembali ki Amin.” Ujar Pak Dadang.   Mereka membawa kembali ki Amin pulang menuju rumah pak Yaya, di sana pak Yaya merasa kebingungan, sebab Kepergian mereka belum lama dan melihat kondisi Ki Amin yang layak untuk di rawat oleh dokter.   “ Kenapa Kalian sudah pulang?, Bukannya tadi mau membawa ki Amin ke dokter.” Tanya Pak Yaya.   “ dokter tidak menemukan penyakit apa pun Pak, sehingga kita memutuskan untuk membawa Ki Amin kembali.” Ujar Krisna.   “ kenapa bisa Mas?, Apa dokternya tidak salah?” Tanya Pak Yaya.   “ Tidak mungkin dokternya salah Pak, tapi Saya bingung kenapa bisa.” Ujar Krisna.    Ki Amin pun di baringkan di atas kursi, semua orang dalam rumah itu pun, melihat Ki Amin sangat kesulitan untuk berbicara sekalipun, hingga akhirnya Pak Dadang mendekat dan bertanya beberapa hal kepada Ki Amin.   “ Pak, Bapak ini kenapa, jujur pada kita semua, jika Bapak seperti ini terus kami tidak tega Pak.” Ujar Pak Dadang.   Semua orang di rumah itu pun, hanya terdiam melihat kondisi Ki Amin, hingga akhirnya Ki Amin berusaha membuka mulutnya.   “ Rumah.” Ujar Ki Amin berbicara samar – samar dengan suara berat.   “ Rumah apa Pak?” Ujar Pak Dadang.   “ kampung.” Ujar Ki Amin.   “ kenapa dengan rumah di kampung Pak, Dadang mau mengikhlaskan dan membawa Bapak semuanya pindah.” Ujar Pak Dadang.   Ki Amin menggelengkan kepalanya.   “ Lalu apa Pak?, Rumah yang di kampung ada apa?” Tanya Pak Dadang.   “ kotak.” Ujar Ki Amin.   Bu Eni langsung teringat, tentang ucapan Ki Amin, tentang sebuah kotak yang di kubur di salah satu kamar.   Bu Eni langsung saja memberitahu Pak Dadang dan yang lainnya, mendengar cerita Bu Eni Ki Amin pun menggerakkan  kepalanya mengiakan semua perkataan Bu Eni.   “ Lalu apa yang harus Kita lakukan Bu?” Tanya Krisna.   “ Kakekmu bilang jika sebaiknya benda itu di kembalikan kepada pemiliknya yaitu pak Sugeng.” Ujar Bu Eni.   Pak Dadang dan Ijam pun baru sadar dengan pembicaraan itu, kotak itu memang dari awal sudah di ketahui oleh Pak Dadang dan sempat memberi tahu Ijam tentang hal itu.   “ Sepertinya kita harus kembali ke kampung.” Ujar Pak Dadang.   “ Tapi kan Pak Sugeng sedang mencari kita.” Ujar Ijam.   “ Pak Sugeng mencari Bapak sama Ijam?” Tanya Krisna.   “ Panjang ceritanya Kris, nanti saja kita bahas.” Ujar Pak Dadang.   “ bagaimana caranya kita bisa masuk ke rumah Pak Sugeng?,, sedangkan Pak Sugeng memiliki banyak kaki tangan.” Ujar Ijam.   “ kita harus membicarakan ini dan memikirkan ini secara matang, sekarang lebih baik Ki Amin di bawa dulu ke kamar, coba bantu Bapak mengangkat Ki Amin.” Ujar Pak Dadang.   Pak Dadang pun sangat serius memikirkan cara agar bisa membawa kotak itu ke rumah Pak Sugeng, tapi Bu Eni kembali teringat jika Kotak itu tidak bisa sembarangan di ambil dan di pindahkan, harus pemiliknya lah yang memindahkan benda itu.   “ Bagaimana caranya, memang benda itu sebenarnya milik siapa?” Tanya Krisna.   “ milik Ki Amin Kris.” Ujar Ijam.   “ Bagaimana Kakek Bisa memindahkan kotak itu, untuk berdiri dan berbicara juga sulit.” Ujar Krisna.   “ Ijam Ada cara, mudah – mudahan cara ini berhasil.” Ujar Ijam.   “ Apa caranya Jam?” Tanya Krisna.   “ Jika benar benda itu milik Ki Amin, maka Pak Dadang yang harus memindahkan benda itu, menurut artikel yang Ijam baca, biasanya benda itu di turunkan secara turun temurun.” Ujar Ijam.   “ Cara mengetahuinya bagaimana Jam?” Tanya Krisna.   “ Cara mengetahuinya hanya satu, Kita harus mencoba dulu, sebab benda ini hanya bisa di pindahkan oleh keturunan dari Ki Amin.” Ujar Ijam.   “ Berarti Aku juga bisa Jam, lebih baik Aku saja yang memindahkan benda Itu.” Ujar Krisna.   “ Jangan Kris, Kamu sebaiknya jaga Kakekmu di sini, terlalu berbahaya , Apa lagi pak Sugeng pasti sedang mencari kita semua, termasuk kamu Kris.” Ujar Pak Dadang.   “ Jadi siapa saja yang akan berangkat ke kampung?” Tanya Krisna.   “ hanya Bapak dan Ijam, Kamu tunggu Kakekmu di sini, sebab di sini tidak ada lagi yang bisa di andalkan selain Kamu.” Ujar Pak Dadang.   “ kenapa bukan Ijam saja yang di sini,?” Tanya Krisna..   “ Ijam ini memang sudah di anggap anak oleh Bapak, tapi tidak ada hubungan darah antara Bapak dan Ijam, jadi jika terjadi sesuatu Ijam tidak akan terlalu bahaya, berbeda dengan Kamu Kris, Kamu darah daging Bapak, dan jika ada apa – apa dengan Bapak, maka Kamu juga akan mengalami hal yang sama.” Ujar Pak Dadang.   “ Ya Sudah jika itu keputusannya, Krisna mendukung saja.” Ujar Krisna.   “ Kapan kita berangkat Jam?” Tanya Pak Dadang.   “ lebih cepat lebih baik Pak.” Ujar Ijam.   “ besok pagi kita berangkat Jam.” Ujar Pak Dadang.   “ Hanya saja uang Ijam sudah habis Pak.” Ujar Ijam.   “ Krisna juga tabungan sudah habis untuk membayar perawatan Ki Amin.” Ujar Krisna.   “ Tenang saja pak, Saya masih memiliki pegangan Uang, Pakai saja dulu.” Ujar Pak Yaya memberikan sejumlah Uang.   “ Jangan Pak, Saya merasa tidak enak hati, Bapak sudah banyak membantu Saya dan keluarga, dan sekarang masa kami harus merepotkan lagi.” Ujar Pak Dadang.   “ Jika Bapak tidak mau menerima, Berarti saya meminjamkan saja, yang penting Bapak dan Ijam bisa berangkat dan semua persoalan yang di hadapi keluarga Bapak cepat selesai.” Ujar Pak Yaya.   “ Itu rasanya lebih baik, Saya akan mengganti Uang Bapak dan yang lainnya dalam waktu secepatnya.” Ujar Pak Dadang.   “ jangan di pikirkan pak, pakai saja uang ini saya senang membantu.” Ujar Pak Yaya.   “ terima kasih banyak pak, Bapak selalu membantu keluarga Krisna.’ Ujar Krisna.   “ sudah menjadi kewajiban kita semua untuk saling membantu satu sama lain.” Ujar Pak Yaya.   “ Tinggal satu hal yang harus kita pikirkan.” Ujar Ijam.   “ apa itu?” Tanya Pak Dadang.   “ Cara agar kita bisa masuk ke rumah Pak Sugeng.” Ujar Ijam.   “ Bapak juga sedang memikirkan cara yang terbaik, agar kita mudah masuk dengan selamat.” Ujar Pak Dadang.   “ Apa kita buat Pak Sugeng pergi ke luar?” Tanya Krisna.   “ itu tidak akan berhasil Kris, lebih baik kita meminta bantuan warga saja untuk mengalihkan perhatian Pak Sugeng.” Ujar Ijam.   “ Bagaimana caranya?” Tanya Krisna.   “ Kita minta salah satu warga untuk berkunjung ke rumahnya, dan membuat Pak Sugeng sibuk.” Ujar Ijam.   “ Apa warga ada yang mau Jam?” Tanya Krisna.   “ Aku ada kenalan beberapa orang, mudah – mudahan mereka mau, dan Pak Sugeng tidak curiga.” Ujar Ijam.   “ Aku ikut saja rencana Kamu di sana jam, Tapi jika butuh bantuan, aku siap langsung datang ke sana membantu kalian.’ Ujar Krisna.   “ Dan jika kita sudah bisa mengangkat kotak itu, dan membawa ke rumah Pak Sugeng, apa lagi yang harus kita lakukan Jam?” tanya Pak Dadang.   “ kita coba saja kubur di belakang rumah Pak Sugeng.   “ mudah – mudahan rencana ini berhasil, Bapak sebenarnya sudah capek, tapi demi keluarga kita, Bapak harus terus berjuang.” Ujar Pak Dadang.   Tiba- tiba Bu Eni berteriak.   “ Pak tolong , Ki Amin kepa.’’ Teriak Bu Eni.   Mendengar teriakan itu, semua orang yang saat itu sedang berdiskusi langsung masuk dan melihat kondisi ki Amin, ki Amin menggeliat kepanasan, hal itu membuat semuanya Panik.   “ Pak Apa yang bisa Dadang bantu?’ Tanya Pak Dadang.   Ki Amin tidak menjawab dan hanya berguling – guling kepanasan.   “ beri Ki Amin minum, dan buka semua bajunya.” Ujar Krisna.   Pak Yaya pun menelepon teman nya , dan menanyakan perihal kondisi Ki amin yang kepanasan, Pak Yaya begitu terkejut mendengar saran dari temannya.   “ Pak Saya mendapat saran dari kawan saya, dia menyarankan agar Ki Amin di berikan Air doa saja.” Ujar Pak Yaya.   “ Air doa dari siapa?” Tanya Krisna.   “ dari pembuka agama, atau dari siapa pun yang paham tentang hal ini.” Ujar Pak Yaya,   “ Ya sudah Ijam mencoba sebisa mungkin.” Ujar Ijam.   Ijam membawa segelas air dan membacakan beberapa doa yang ia Tahu, dan memberikannya kepada Ki Amin.   “ Ki, Coba minum sedikit, Ijam memang tidak memiliki ilmu agama layaknya seorang pembuka agama, tapi setidaknya Ijam meminta ijin sang pencipta agar Penyakit Ki Amin di ringankan.” Ujar Ijam sambil memberikan minum kepada ki Amin.   Perlahan menggunakan sendok, ijam menyuapi ki Amin yang masih meronta kesakitan dan kepanasan, perlahan air itu masuk ke dalam tenggorokan Ki Amin, awalnya ki Amin memuntahkan Air itu, tapi selang beberapa waktu ki Amin mulai tenang dan bisa meminum Air itu dengan sempurna.   “ Ki , jika Ki Amin ingin mengatakan sesuatu katakan saja sekarang.” Ujar Ijam.   “ Ia Pak, jangan ada rahasia lagi, jika sudah begini yang ada Kami hanya bisa pasrah melihat kondisi Bapak.” Ujar Pak Dadang.   Lalu dengan perlahan ki Amin berbisik kepada Ijam.   “ Jam, Aki sudah bosan dengan hidup Aki.” Ujar Ki Amin.   “ Ki Amin jangan mengucapkan kata – kata seperti itu, Ki Amin harusnya bersyukur, di berikan kelebihan umur oleh sang pencipta.” Ujar Ijam.   “ betul apa yang di bilang Ijam Pak, Bapak harus berubah dari sekarang sebelum terlambat.” Ujar Pak Dadang.   “ Apa yang harus Aki lakukan?” Tanya Ki Amin berbisik.   “ Ki Amin cukup mengimani sang pencipta, mulai belajar kembali beribadat dan mencoba kembali melakukan sembahyang wajib, banyak cara yang bisa Ki Amin lakukan dengan kondisi Ki Amin seperti ini pun sang pencipta maha pemberi ampun dan maha penyayang.” Ujar Ijam.   “ Ia Pak, perlahan saja, yang penting ada kemauan dari diri Bapak untuk berubah.” Ujar Pak Dadang.   Ki Amin pun menganggukkan kepalanya, pertanda ingin berubah dan ingin memperdalam ilmu agama, tidak ada kata terlambat dalam hidup, semuda apa pun manusia bahkan setua apa pun usianya, jika dirinya bersungguh sungguh untuk berubah dan ingin menjadi lebih baik maka segala sesuatunya pasti akan di mudahkan.   Semua orang yang berada di sana merasa senang melihat keinginan ki Amin, tapi dalam hati pak Dadang muncul ketakutan akan kehilangan ki Amin dalam waktu dekat.   “ Jam , Apa Ki Amin akan baik – baik saja?” tanya Pak Dadang.   “ Pasti Pak, kita harus berprasangka baik saja, jangan memiliki parasangka buruk jika tidak ingin hal buruk terjadi.” Ujar ijam.   “ bapak merasa senang Jam, bapak memiliki Anak sepeti dirimu, bisa membuat Bapak tenang.” Ujar Pak Dadang.   “ Jangan bilang seperti itu Pak, tidak baik memuji berlebihan, yang penting kita harus pikirkan cara terbaik untuk membantu ki Amin berubah menjadi lebih baik lagi dan mudah – mudahan dengan berubahnya Ki Amin , penyakitnya pun bisa cepat di angkat dan Ki Amin kembali pulih.” Ujar Ijam.   “ Ia Jam.” Ujar Pak Dadang.   Krisna merasa Pak Dadang dan Ijam sangat dekat, hal itu membuat dirinya sangat senang dan bangga, berkat Ijam dan keputusan ijam titik terang mulai terlihat. Krisna pun teringat tentang telepon genggamnya yang sudah 2 hari tidak dia buka, terdapat banyak pesan yang tertuju kepadanya, salah satunya pesan dari Ayu, tapi sayangnya Krisna tidak menggubris pesan dari Ayu dan menganggap jika Ayu hanya sedang mencari perhatian dari Krisna saja, Padahal banyak pesan penting yang bisa membantu pak Dadang dan Ijam saat menuju kembali pulang kke kampung.   “ Pak Apa rumah kita di kampung akan di jual saja?” tanya Krisna.   “ sepertinya akan kita jual saja Kris, Memang banyak kenangan manis di sana , hanya saja setelah kejadian ini, bapak mulai berpikir  untuk tidak bertahan di sana, suasananya sekarang sangat berbeda apalagi dengan kejadian ini.” Ujar Pak Dadang.   “ lalu bagaimana dengan gerabah milik Ijam di sana?” Tanya Krisna.   “ pembuatan gerabah di sana hanya sebagai opsi saja Kris, nanti jika memang sudah kembal musim hujan atau debit air cukup, maka gerabah pun tidak akan berjalan lagi, dan akan kembali hidup ketika musim kemarau saja.” Ujar ijam.   “ ya sudah , Krisna ikut saja keputusan bapak, jika memang bapak ingin pindah.” Ujar krisna.   “ Bagaimana pekerjaan Mu Kris?” Tanya Pak Dadang.   “ Krisna belum dapat pekerjaan lagi Pak.” Ujar Krisna menundukkan kepalanya.   “ Sudah jangan di pikirkan, Jika nanti rumah kita berhasil terjual, kita membuka usaha keluarga saja.” Ujar Pak Dadang.   “ Ia Pak.” Ujar krisna.   “ Meskipun nanti rumah kita lebih kecil dari rumah yang ada di kampung, tapi setidaknya rumah kita yang baru harus nyaman dan dekat dengan surau agar kita mudah beribadah.” Ujar pak Dadang.   “ Nanti Ijam coba tanya – tanya kepada teman siapa tahu ada kenalan atau keluarga mereka yang akan menjual rumahnya.” Ujar Ijam.   Pembicaraan mereka mulai santai dan ringan, beban mereka sedikit berkurang setelah mendengar ki Amin ada kemauan untuk berubah dan lebih dekat kepada sang pencipta, harapan terus di panjatkan agar semua persoalan bisa terselesaikan dan tergantikan dengan kebahagiaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN