LANJUTAN 55

4880 Kata
Pak Sugeng kini sudah kehilangan wibawanya, banyak warga yang sudah tidak takut dan menghiraukan dirinya, Pak Sugeng saat itu merasa menjadi orang asing, tidak adanya teman dan keluarga membuat Pak Sugeng kesepian , di tambah dengan keangkuhan Pak Sugeng yang membuat dirinya di tinggalkan oleh para pengikut serta anak buahnya.   “ Rupa – rupanya warga kampung ini sudah mulai menjauhi Ku, Aku harus mencari rencana dan menyusunnya , hingga bagaimana caranya mereka bisa mempercayaiku lagi.” Ujar Pak Sugeng.   Pak Sugeng kembali ke rumahnya sambil terus menerus memikirkan cara, hingga terbesit dalam benaknya untuk berpindah dan mencari kampung lain.   “ Apa Aku sebaiknya mencari daerah lain saja, Tapi jika aku mencari daerah lain, aku harus memulainya kembali dari awal, layaknya Aku datang ke kampung ini dulu.” Ujar Pak Sugeng.   Pak Sugeng terus menerus berpikir mencari cara, membujuk warga agar bisa kembali adalah kunci agar Dia bisa selamat dan terbebas dari hukuman perjanjian, Pak Sugeng pun mencoba menawarkan keadaan anak buahnya gaji yang lebih besar, namun hasilnya tetap sama, penolakan terus menerus Dia dapatkan, hingga Pak Sugeng pun melakukan sesuatu hal yang tidak terduga.   Pak Sugeng teringat jika banyak sekali sosok yang berdiam di rumahnya, sosok itu sebagai tanda perjanjian Pak Sugeng yang belum di tepati, Pak Sugeng memanfaatkan kabar jika banyak teror sosok dan makhluk halus yang mengganggu warga, Dia memanfaatkan hal itu sebagai s*****a untuk meminta mantan kaki tangannya kembali bekerja untuknya.   Hal itu membuat kaki tangan Pak Sugeng mau untuk kembali bergabung, tapi sayangnya warga yang lain tidak terpengaruh sedikit pun dengan ancaman Pak Sugeng.   “ Bagus jika kalian ikut kembali bergabung, Bukan hanya gaji yang akan Aku naikkan, tapi juga kalian tidak usah memikirkan kebutuhan keluarga kalian, Aku akan menanggungnya selama kalian mau bekerja di sini dan mengikuti perintahku.” Ujar Pak Sugeng.   Pak Sugeng mendapatkan beberapa orang sebagai alat dan dukungan untuk menghasut warga dan juga mencari keberadaan Pak Dadang dan Ijam, dengan Kaki tangan yang ada Pak Sugeng mulai memerintahkan mereka untuk mencoba menghasut warga agar kembali percaya terhadap pak Sugeng, dengan menakut - nakuti warga dengan adanya sosok di rumah Pak Sugeng yang bisa sewaktu – waktu meneror.   Di Sisi lain Ayu dan Siti bersiap – siap untuk berangkat menuju kota, di mana Siti ingin membeli sedikit keperluan untuk saudaranya di kampung seberang.   “ Sit, Sudah siap belum?, Lama sekali Kamu dandan Ya?” Tanya Ayu.   “ Sebentar ini sudah selesai.” Ujar Siti.   Siti keluar dari kamarnya dengan penampilan yang berbeda, penampilannya lebih modis dan dengan sedikit sentuhan riasan wajah , Siti terlihat lebih cantik dan sangat cerah.   “ Kita hanya membeli hadiah untuk saudaramu kan?” Tanya Ayu.   “ Ia memang begitukan rencana awalnya.” Ujar siti.   Ayu menatap Siti dari ujung kepala hingga ujung Kaki.   “ Cantik sekali temanku Ini, Jangan – jangan dengan riasan seperti ini Mau bertemu dengan seseorang.” Ujar Ayu.   “ Bertemu dengan siapa Ayu?, Kan memang kita Mau ke kota hanya membeli hadiah sajaa.” Ujar Siti.   “ Ia deh Ia, Cuma Aku malu , penampilanku biasa saja.” Ujar Ayu.   “ Tidak apa – apa, Aku juga hanya ingin mencoba baju ini saja, tapi jika Kamu keberatan Aku bisa ganti.” Ujar Siti.   “ Jangan Siti, Masa sudah cantik seperti ini, harus ganti, tidak apa – apa Sit, Aku justru senang, cuman bercampur heran saja.” Ujar Ayu.   “ Tidak Tahu Yu, Aku juga Aneh tiba – tiba ingin menggunakan baju Ini dan berias , biasanya juga Aku Pakai riasan sederhana saja.” Ujar siti.   “ Ya Sudah siapa Tahu Kamu di jalan bertemu jodoh Mu, Kan Pas dengan penampilan seperti ini.” Ujar Ayu.” Ujar Ayu.   “ Ngawur saja Kamu Yu, Aku tidak Mau bertemu dengan jodohku dengan keadaan seperti ini.” Ujar Siti.   “ Memangnya kenapa?, Kamu sangat cantik Siti.” Ujar Ayu.   “ Aku tidak Mau bertemu dengan jodohku dengan keadaan seperti ini, ini bukan aku yang sebenarnya, Aku ingin bertemu dengan jodohku saat aku dalam keadaan biasa saja, jadi Aku tahu dia mencintaiku bukan karena penampilan luarku, tapi dari dalam diriku.” Ujar Siti.   “ Bijak sekali temanku ini.” Ujar Ayu.   “ Ayo kita berangkat , nanti kalau sore suka macet.” Ujar Siti.   Ayu dan Siti pun berangkat menuju kota yang sama di mana Ijam dan keluarga Pak Dadang tinggal sementara, dalam perjalanan menuju kota, Siti pun menjadi pusat perhatian, saking banyaknya orang terkagum dengan perubahan Siti, Siti pun merasa risi karena menjadi pusat perhatian.   “ Sit, Kamu kenapa?” Tanya Ayu.   “ Kenapa orang – orang melihatku seperti itu, bukan hanya laki – laki, tapi sampai perempuan juga melihatku seperti keanehan, apa riasanku berlebihan?” Tanya Siti.   Ayu tersenyum sambil melihat ke arah Siti.   “ Siti, menurutku orang – orang tadi itu terkagum – kagum dengan mu, bukannya menganggapmu aneh.” Ujar Ayu.   “ Apa benar?” Tanya Siti.   “ Benar Sit, kenapa Kamu harus tidak percaya diri segala, Kamu ini cantik, di tambah dengan riasan yang Pas, ya pasti saja orang lain baik laki – laki atau pun perempuan akan terkesima melihatmu.” Ujar Ayu.   “ Aku Kapok berias seperti ini, Aku tidak nyaman, apa kita kembali ke rumah dulu?” Tanya Siti.   “ Siti, masa sudah cantik seperti ini, kita harus kembali lagi, kamu harus belajar sit, Kamu ini dasarnya sudah cantik, Aku tekankan pada Kamu sit, orang – orang itu hannya kagum, kamu harusnya berbangga Sit, Aku juga bangga terhadapmu, dan jangan lupa bersyukur, orang lain saja yang memiliki paras biasa saja mereka malah terlihat percaya diri dan seperti sengaja merias dirinya secara berlebihan.” Ujar Ayu.   “ Ia itu kan orang lain, Aku seperti ini saja sudah risi.” Ujar Siti.   “ Ia sit, Jadi saranku Kamu juga harus terbiasa, biar Ijam juga suka.” Ujar Ayu bercanda dengan Siti.   “ Tuh kan, mulai lagi bahas Ijam, Jika di bahas lagi Aku pulang lagi.” Ujar Siti.   “ Ya sudah kalau, begitu pulang saja sendiri, aku saja sendiri yang ke kota.” Ujar Ayu teersenyum.   “ Tuh kan, Kamu curang.” Ujar Siti tersenyum.   Perjalanan mereka terasa lebih menyenangkan , di tambah terik sinar matahari yang tidak terlalu panas, suasana jalanan juga tidak terlalu ramai, membuat Ayu dan Siti merasa senang, hingga sampai di tempat perbelanjaan.   “ Sudah sampai lagi?” Ujar Ayu.   “ Ia ya , padahal jauh tapi tidak terasa sudah sampai lagi.” Ujar Siti.   “ Ya Sudah ayo kita masuk.” Ujar Siti.   Ayu dan Siti masuk area perbelanjaan, mereka di sana membeli semua kebutuhan yang di beli untuk hadiah saudara Siti, layaknya perempuan pada umumnya, belanja merupakan sesuatu yang menyenangkan untuk mereka hingga terlupa aka waktu.    Di saat itu juga Ayu dan Siti bertemu dengan Pak Yaya dan Ijam, Pak Yaya dan Ijam membeli kebutuhan bulanan untuk keperluan di rumahnya.       “ Sit, Aku melihat Ijam, entah betul atau tidak, dia bersama seorang Pria tua.” Ujar Ayu.   “ Kamu jangan berbohong lagi, tidak baik tahu berbohong terus.” Ujar Siti.   “ Betul, Mataku masih jelas melihat, itu seperti Ijam.” Ujar Ayu.   “ Jika masih ada kata – kata seperti, berarti Kamu belum yakin.” Ujar siti.   “ Ya Sudah Aku Akan mendekati mereka.” Ujar Ayu.   Ayu mendekati Ijam dan Pak Yaya yang sedang berbelanja.   “ Ijam.” Ujar Ayu memanggil.   Ijam mengerutkan dahinya.   “ Ayu, sedang apa Kamu di sini, di mana Siti.” Ujar Ayu.   “ Kenapa langsung menanyakan Siti?, jangan – jangan kalian?’ tanya Ayu curiga.   “ kAn Kamu biasanya ke mana – aman selalu dengan Siti, ya wajar Aku menanyakan keberadaan siti.” Ujar Ijam.   “ Oh Ia Ayu, perkenalkan Ini Pak Yaya, pemilik rumah di mana Kami termasuk Krisna tinggal.” Ujar Ijam memperkenalkan.   “ Ia Jam, Aku sudah tahu, kan dulu Aku pernah ke rumah.” Ujar Ayu.   “ Oh ia ya, kenapa Aku kenalkan kembali.” Ujar Ijam.   “ Aku di sini sedang mengantar Siti belanja.” Ujar Ayu.   “ Oh begitu, Lalu di mana Siti,?” Tanya Ijam.   “ Jam, Di lanjut dulu mengobrolnya, Bapak Mau ke atas dulu, nanti jika sudah selesai Bapak tunggu di luar saja, tidak enak mengganggu anak muda mengobrol , Bapak sudah tua, jadi takut mengganggu.” Ujar pak Yaya.   “ Bapak bisa saja, padahal di sini juga tidak apa – apa, kami tidak terasa terganggu, lagi pula kami tidak akan lama berbincang.” Ujar Ijam.   “ Tidak papa jam, Bapak juga pernah muda, Bapak tunggu di luar ya .” Ujar Pak Yaya meninggalkan Ijam dan Ayu.   “ Jam , Ayo ketemu Siti.” Ujar Ayu.   Ijam mengiakan, dan mengikuti Ayu. Ayu sempat kebingungan mencari Siti, Ayu dan Ijam mencari Siti seperti kehilangan seorang teman.   “ Di mana Sitinya Yu?” Tanya Ijam.   “ Tidak tahu Jam, Tadi saat Aku menghapirimu, Dia ada di sini.” Ujar Ayu.   “ Mungkin Dia sedang di kamar mandi.” Ujar Ijam.   “ ya Sudah Aku lihat Dia di kamar mandi, Kamu jangan dulu ke mana – mana ya.” Ujar Ayu.   “ ia engga.” Ujar Ijam.    Saat Ayu meninggalkan Ijam untuk menyusul Siti ke kamar mandi Ijam melihat seseorang yang sedang berjongkok di bawah baju – baju yang tergantung, Ijam menghampiri Orang Itu.   “ Maaf Ada yang bisa saya bantu, Ibu sedang mencari apa.” Ujar Ijam.   Rupa – rupanya orang itu sedang mencari cincin emasnya yang terjatuh, hingga Ijam pun membantu mencarinya, di sisi lain Ayu yang mencari Siti menemukan siti sedang diam di depan kaca kamar mandi.   “ Siti, dari mana saja Kamu, Aku mencari ke sana dan ke sini, ternyata malah di kamar mandi.” Ujar Ayu.   Siti tidak menjawab dan wajahnya memerah gugup.   “ Tidak ada Apa – apa Yu, Aku hanya ingin membersihkan riasanku saja.” Ujar Siti.   “ kenapa?, Kamu suda cantik.” Ujar Ayu.   “ Aku tidak tahu.” Ujar Siti.   “ Dengarkan Aku Sit, Kamu sudah cantik, dan ijam menunggu di luar, ingin bertemu, hanya bertemu.” Ujar ayu.   “ Justru karena ada Ijam, Aku menjadi tidak percaya diri, Kamu tahu kan Aku menyimpan hati kepada Ijam, dengan penampilanku seperti ini , Aku sangat malu.” Ujar Siti.   “ Siti, Coba Kamu pikir, Ijam itu layaknya orang – orang yang tadi melihatmu dengan Kagum, Ijam pun Aku rasa akan melakukan hal yang sama, dia akan terkagum – Kagum melihat mu Sit, kamu ini kenapa biasanya tidak sampai seperti ini.” Ujar Ayu.   “ Entah Yu, Aku merasa sangat gugup , apalagi ketika kamu menyebutkan nama Ijam, Aku layaknya orang kebingungan.” Ujar Siti.   “ Dengarkan Aku Siti, Jika Kamu menyimpan rasa terhadap Ijam, kamu harus melawannya, jangan biarkan Ijam menjauh darimu, justru kamu harus memberi kan sinyal jika kamu memiliki rasa terhadapnya.” Ujar Ayu.   “ Lalu sekarang Aku harus bagaimana?” Tanya Siti.   “ Temui Ijam, jangan membuat Ijam menunggu terlalu lama di luar.” Ujar Ayu.   “ Ya Sudah.” Ujar Siti.   Siti menarik nafasnya dalam – dalam, Siti dan Ayu pun menghampiri Ijam, Ijam yang saat itu tengah mengobrol dengan seorang Ibu – ibu , langsung saja di dekati Siti.   “ Ijam sedang apa?” tanya Siti kesal.   Ayu hanya melihat dari kejauhan sambil tersenyum.   “ Siti apa Kabar?, Aku tadi membantu Ibu Ini mencari cincin nya yang hilang, tapi sekarang sudah ketemu, ternyata tersangkut di tumpukan baju di sana.” Ujar Ijam tersenyum.   “ Oh Aku kira sedang apa.” Ujar Siti tersenyum.   “ Memang nya kenapa?” Tanya Ijam mengerutkan dahinya.   “ Tidak Jam, oh ia Apa Kabar?” Tanya siti mengalihkan pembicaraan.   “ Aku Baik siti, Ayu di mana bukannya tadi kalian bersama?” Tanya Ijam.   “ dia tadi di belakangku.” Ujar Siti gugup.   “ Siti, Kamu terlihat beda, kamu terlihat lebih segar.” Ujar ijam memuji.   Hal itu membuat Siti semakin gugup dan menundukan kepalanya.   “ kamu bisa saja jam.” Ujar Siti gugup.   “ kamu kenapa jadi gugup seperti ini, Aku benar – benar bilang seperti itu karena memang penampilan Kamu sangat berbeda.” Ujar Ijam.   “ Tidak apa – apa jam.” Ujar Siti.   “ Oh IA sit, Aku pulang dulu ya, tidak enak terlalu lama, sebab Aku sedang di tunggu Pak Yaya di luar, kamu hati – hati ya pulangnya.” Ujar Ijam.   “ Oh Ia jam.” Ujar siti mengangguk.   “ Ya Sudah Aku Pamit, sampaikan pamitku untuk Ayu.” Ujar Ijam.   Ijam pun pergi meninggalkan Siti sendirian, dan saat Ijam pergi Ayu menghampiri Siti.   “ Bagaimana Siti?” Tanya Ayu tersenyum.     “ Bagaimana apanya?” Tanya Siti.   “ Itu tadi.” Ujar Ayu.   “ Jangan memberikan pertanyaan yang ambigu ayu.” Ujar Siti.   “ Itu Bagaimana Ijam, Kamu tadi kenapa tampak marah?” tanya Ayu.   Siti tersenyum.   “ Aku mengira jika Ibu – Ibu itu ada hubungan dengan Ijam, sebab Ijam memberikan cincin kepadanya, ternyata dugaanku salah, dan Aku akhirnya malu sendiri.” Ujar Siti.   “ Makannya kamu jangan terlalu cemburu, belum apa – apa juga, sudah gugup dan cemburu duluan.” Ujar Ayu.   “ Sudah jangan di bahas lagi, Aku malu, sekarang kita pulang, sudah menjelang sore juga, dari pada kemalaman di jalan, kamu tahu sendiri kan keadaan kmapung kita sekaarang lebih banyak makhluk yang mengganggu.” Ujar Siti.   “ ya sudah cepat kita pulang.” Ujar Ayu.   Ayu dan siti bergegas pulang, tapi harapannya pupus untuk cepat sampai di rumah, kondisinya berbalik, suasana jalanan begitu padat, membuat mereka terjebak Macet.   “ Siti bagaimana ini, kita bisa sampai malam di rumah, mana jarak dari jalan raya menuju rumah cukup jauh dan harus berjalan kaki.” Ujar Ayu.   “ Sabar saja mudah – mudahan tidak terlalu malam.” Ujar siti.   “Memangnya kalau makhluk seperti itu, mereka keluar nya jam berapa?” Tanya Ayu.   “ Tidak ada patokan Jam Ayu, mereka basanya keluar saat pergantian sore menuju malam.” Ujar Siti.   “ Aku kira Ada Jamnya.” Ujar Ayu.   “ Tidak Ayu, Mereka itu bukan anak sekolah, tidak keluar dan masuk sesuai jam.” Ujar Siti.   “ jika kita terlalu malam bagaimana ?” Tanya Ayu.   “ Berharap saja jangan.” Ujar Siti.   Siti merasa cemas dengan keadaan saat itu, Siti melihat jam tangan yang di pakainya, tepat saat itu pukul menunjukkan jam 6.30 malam dan mereka akhirnya sampai di kampungnya.   “ Ayu, sebaiknya kita bergegas, sebelum hari semakin gelap.” Ujar Siti.   “ Ayo Sit, sebaiknya kita berlari kecil saja.” Ujar Ayu.   “ Aku benci suasana seperti ini sit.” Ujar Ayu.   “ memangnya siapa yang suka dengan suasana seperti ini.” Ujar Siti. Siti melihat ke arah atas langit, terlihat kumpulan awan gelap seperti ingin memuntahkan hujan yang sangat besar, mereka mempercepat gerak langkah nya, mereka tidak sadar sedang di perhatikan sosok yang tengah bertengger di pohon besar yang mereka lewati, rumah – rumah juga tidak tampak Aktivitas di dalamnya, warga yang biasanya masih ada di luar rumah pun seperti sudah menjadi kebiasaan untuk tetap berdiam di rumah ketika malam menjelang, hal it juga membuat orang tua Siti sangat khawatir. Siti dan Ayu akhirnya sampai di rumah Siti, langsung saja mereka Masuk ke dalam rumah, Orang tua Siti pun langsung menyambut mereka dengan wejangan – wejangan dengan nada tinggi, dengan harapan mereka tidak melakukan hal yang sama di kemudian hari, namun mereka menjelaskan secara rinci setiap kejadian di kota sana, hingga orang tua siti mengerti dan memaafkan kejadian saat itu, Ayu dan Siti pun tidak mengambil Hati perkataan Orang tua Siti, sebab mereka tahu Orang tua sangat sayang terhadap anaknya dan tidak mau jika sesuatu yang buruk terjadi terhadap anaknya.   “ Ayu, Kamu sadar tidak, jika kita tadi sedang di perhatikan sosok aneh di jalan sana.” Ujar Siti.    “ Jangan di bahas dulu, lebih baik kita membersihkan diri kita, lalu ke kamar saja.” Ujar Ayu. Siti pun mengiakan saran dari Ayu, mereka membahas hal itu secara diam – diam agar tidak terdengar orang tua siti. “ Melanjutkan pembicaraan yang tadi Sit, aneh bagaimana maksudmu?” Tanya Ayu. “ Aku tidak akan membahas bentuk dari makhluk itu, yang jelas mereka ternyata sudah menyebar di kampung ini, kita harus terus berdoa agar rumah kita di jauhi oleh sosok seperti itu.” Ujar Siti. “ Ia juga Sit, sebaiknya kita bergegas tidur saja, Aku tidak mau kembali mendengar hal – hal aneh lagi.” Ujar Ayu. Gangguan – gangguan setiap malam hampir di rasakan oleh setiap warga, tidak berbeda dengan pak Sugeng sendiri, dia pun acap kali mendapat gangguan berupa lemparan – lemparan benda asing, hingga  terkadang sampai membuatnya terluka. Pak Sugeng yang menyebutkan kepada setiap warga jika gangguan setiap malam berasal dari murka nya, setiap kejadian berusaha di manfaatkan oleh Pak Sugeng untuk mendapatkan kembali simpati warga. “ hari Ini Kalian pulang lah, besok pagi kita kan mencari Dadang dan anaknya Ijam.” Ujar Pak Sugeng kepada anak buahnya. Namun ada beberapa orang yang memang sengaja di tugaskan untuk berjaga di luar rumah milik Pak Sugeng, mereka pun sebenarnya sangat takut mendapat gangguan, namun hal itu mereka mencoba melawan demi uang yang di janjikan oleh Pak Sugeng. Gangguan pertama di rasakan oleh penjaga rumah di luar sana, awalnya situasi di luar rumah pak Sugeng sangat aman, cuaca pun cukup cerah , perkiraan warga tentang akan turunnya hujan tidak terbukti, anak buah Pak Sugeng saat itu sedang bercengkerama sambil meminum segelas kopi hitam, sambil membakar sebagian ranting pohon yang jatuh mereka mencoba menghangat kan badan, tapi sayangnya mereka melakukan hal yang ceroboh, mereka merasa lapar dan akhirnya membakar ikan asin sebagai teman nasi, namun bukannya rasa kenyang yang mereka dapat, malah hal mengerikan yang terjadi, sosok itu mencium bau – bau menyengat dari ikan asin dan menganggapnya sebagai undangan untuk mereka. Mereka awalnya tidak menyadari tentang kehadiran sosok yang merasa di undang oleh mereka, suap demi suap mereka nikmati, namun tidak berselang lama, mereka di kejutkan dengan sebuah lemparan kayu lapuk kepada mereka. Mereka terdiam sambil melihat ke arah atas, rumah Pak Sugeng yang di kelilingi pohon besar menjadikan tempat bertengger yang bagus untuk sosok itu, anak buah pak Sugeng masih belum menyadari dan hanya melanjutkan makan mereka. Akhirnya sosok itu pun kesal dan menunjukkan wujudnya kepada mereka, mereka terkejut dan melemparkan semua barang yang mereka genggam, mereka mengetuk pintu rumah pak Sugeng hanya saja pak Sugeng mengacuhkan mereka yang tengah ketakutan. “ Kenapa lagi mereka, mengganggu saja, sudah mahal – mahal Aku gaji mereka, masih saja merepotkan, paling juga di luar hujan.” Ujar Pak Sugeng yang sedang duduk di ruang tengah sambil membaca surat harian. Kaki tangannya yang berada di luar, tidak henti hentinya mengetuk pintu, hal itu membuat Pak Sugeng kesal dan akhirnya membukakan pintu untuk mereka. “ Ada Apa lagi?” Tanya Pak Sugeng sambil membuka pintu. Pak Sugeng melihat Sosok yang sedang berdiri membelakanginya, dan hal itu yang membuat anak buahnya berteriak ketakutan dan memaksa masuk ke rumah Pak Sugeng. Pak Sugeng langsung menutup pintu dan menguncinya rapat – rapat. “ Makhluk itu kembali mengganggu.” Ujar Pak Sugeng. Anak buahnya yang ketakutan hanya mengikuti Pak Sugeng, Pak Sugeng duduk kembali dan memikirkan cara agar sosok itu tidak berdiam di rumahnya, hingga terdengar suara ketukan pintu , anak buah Pak Sugeng kembali ketakutan, Pak Sugeng pun membukakan pintu, perlahan Dia membukanya, ternyata memang benar sosok menyeramkan tengah berdiri di depan pintu rumah miliknya, Pak Sugeng pun mencoba tetap tenang, sambil membaca mantra - mantra, tapi sayangnya sosok itu malah menertawakan mantra – mantra milik Pak Sugeng, Pak Sugeng pun mencoba mengambil kerikil dalam pot bunga miliknya dan melempari sosok itu dengan kerikil , sayangnya hal itu juga hanya membuat sosok itu semakin marah terhadap pak Sugeng. “ Mau apa Kamu, Kamu belum tahu siapa saya di sini.” Ujar Pak Sugeng.  Sosok Itu hanya menyampingkan kepalanya , dan terus menatap tajam Pak Sugeng. “ Pergi Kamu, Jika Kamu kembali ke sini lagi, Aku Akan membacakan mantra – mantra.” Ujar Pak Sugeng. Sosok itu hanya tertawa semakin keras, cekikikannya membuat bulu kuduk Pak Sugeng berdiri, dan akhirnya Pak Sugeng menutup pintunya, tapi langkahnya sangat berat, bibirnya menjadi kelu, pak Sugeng yang berniat memanggil bantuan dari anak buahnya hanya bisa terdiam, hingga akhirnya sosok itu masuk ke dalam rumah pak Sugeng. Sosok itu masuk ke dalam salah satu ruangan di dalam rumah pak Sugeng, pak Sugeng pun mengejar sosok itu, dan membuka kamar yang di masuki sosok itu, dan begitu tercengangnya Pak Sugeng, terdapat banyak sekali sosok yang berbeda di dalam kamar itu, Ada puluhan sosok yang mendiami kamar itu dan hal itu membuat Pak Sugeng marah. “ Kalian ini berani – beraninya masuk ke dalam kediamanku, di undang oleh siapa kalian hingga berani datang ke sini.” Ujar Pak Sugeng. Salah satu sosok itu pun menunjuk kepada diri Pak Sugeng sendiri. “ tidak mungkin Aku memanggil kalian, sekarang jika kalian tidak mau pergi dari rumahku Aku akan menyakiti kalian.” Ujar Pak Sugeng. Tiba – tiba Kamar yang di penuhi sosok itu tertutup dengan keras, dan Pak Sugeng berusaha membukanya dengan sekuat tenaga. “ tolong Aku , jangan diam dan melihat saja.” Ujar Pak Sugeng kepada anak buahnya. Awalnya anak buah Pak Sugeng hanya berdiam sambil menggelengkan kepalanya menolak perintah Pak Sugeng, melihat hal Itu Pak Sugeng kembali memaki dan memarahi anak buahnya. “ Cepat bantu, kalian ini Aku gaji mahal – mahal untuk menuruti perkataanku, cepat bantu!” Ujar Pak Sugeng dengan nada tinggi. Akhirnya anak buah Pak Sugeng menuruti permintaan Pak Sugeng, mereka bertiga memegang pintu dan mencoba membukanya, setelah mereka berusaha dengan sangat keras, pintu itu tiba – tiba terbuka dan semua sosok yang ada di kamar itu berhamburan keluar, dan terbang menuju ke segala arah, hal itu membuat anak buah Pak Sugeng lari terbirit- b***t ketakutan meninggalkan Pak Sugeng sendirian. “ Aku Tidak akan bisa melawan mereka sendirian, lebih baik Aku pergi untuk malam ini dan mencari cara mengusir mereka.” Ujar pak Sugeng. Pak Sugeng berlari ke luar, tapi salah satu sosok memegangi Kakinya dan membuat Pak Sugeng terjatuh. “ lepas, lepaskan , Kalau tidak Aku akan membacakan mantra kembali.” Ujar Pak Sugeng mengancam. Sosok itu hanya terkikik , dan semakin mencengkeram erat Kaki Pak Sugeng. “ Lepaskan , tolong.” Ujar Pak Sugeng berteriak. Sosok itu langsung melepaskan Kaki Pak Sugeng, Pak Sugeng langsung berlari keluar dan kembali tersandung, antah Apa yang membuatnya terjatuh dan ketika Dia terjatuh Pak Sugeng, melihat ikan Asin yang berserakan, dan hal itu membuat pak Sugeng marah dan mengejar Anak buahnya. “ Pantas saja mereka datang ke sini, mereka di undang oleh anak buahku sendiri, tapi memang sosok itu sudah ada sebelumnya, tapi di tambah dan di pancing dengan hal ini membuat mereka menjadi semakin banyak.” Ujar Pak Sugeng. “ Aku Akan mengejar mereka, dan akan Aku beri pelajaran.” Ujar Pak Sugeng berlari meninggalkan rumah besar miliknya. Anak buah Pak Sugeng berlari sangat kencang, hingga Pak Sugeng tidak dapat mengejarnya, Pak Sugeng pun berhenti tepat di depan rumah Siti, dan berteriak tidak jelas. “ Tidak tahu diri, gara – gara kalian Rumahku semakin banyak penghuninya.” Ujar pak Sugeng menggerutu. Pak Sugeng duduk di depan rumah Siti, mendengar kegaduhan Di luar rumahnya, Siti Mengintip dari balik jendela, dan melihat seorang Pria yang merupakan Pak Sugeng tengah duduk di pelataran rumah milik orang tua Siti. “ Ayu, Bangun Ada suara berisik di luar rumah.” Ujar Siti membangunkan Ayu. “ Aku takut Sit, biarkan saja, Aku tidak mau mendengar suara – suara itu lagi.” Ujar Ayu. “ Ini Bukan suara makhluk astral. Aku takut ada pencuri.” Ujar Siti. “ Pintu dan jendela sudah di kunci kan?” Tanya Ayu. “ sepertinya sudah.” Ujar Siti. “ Ayo kita lihat saja.” Ujar Siti. Ayu dengan mata yang masih mengantuk menuruti Siti untuk menemaninya , melihat keluar dari jendela, Siti melihat Pak Sugeng sedang duduk sambil memegang kepalanya. “ Siapa Sit?” Tanya Ayu. “ Aku Tidak tahu, Tapi dari perawakannya mirip seperti Pak Sugeng.” Ujar Siti berbisik. “ Pak Sugeng?, Kamu Yakin?” Tanya Ayu. “ Aku hanya mengira, sebab pria berbadan tinggi besar dengan kulit putih di kampung ini hanya Pak Sugeng.” Ujar Siti. “ Apa pencuri dari kampung lain?” Tanya  Ayu. “ Aku harap bukan.” Ujar Siti. Siti pun kembali mengintip dari balik kaca, terlihat Pria itu awalnya duduk sendiri, tapi kini ada sesosok makhluk yang ikut duduk bersamanya, pak Sugeng tidak menyadari hal Itu, hanya saja Siti mulai Panik dan mengajak Ayu kembali ke kamar. “ Ayu, cepat kembali ke kamar.” Ujar Siti panik sambil berbisik. “ Kenapa?” Tanya Ayu penasaran. Mereka kembali masuk dan mengunci kamarnya, Siti langsung berbaring dan menutupi badannya dengan selimut, melihat reaksi Siti yang seperti itu, Ayu tidak banyak bertanya dan langsung melakukan hal yang sama. Ayu mengetahui penyebab siti melakukan hal itu. “ sepertinya Siti melihat sesuatu lagi.” Ujar Ayu. Mereka berdua ketakutan dan terus membaca doa dan mulai menghiraukan kegaduhan yang terjadi di luar sana, terdengar kembali suara teriakan yang tidak jelas, hingga Siti dan Ayu pun hanya terdiam dan berharap sosok dan pria yang ternyata Pak Sugeng segara pergi dari depan rumah Siti. Di sisi lain Pak Sugeng yang baru sadar sudah di ikuti olek sosok yang ada di rumahnya, terus berlari tanpa tujuan, hingga Pak Sugeng melihat rumah Pak Dadang yang telah lama Kosong, di sana Pak Sugeng berusaha bersembunyi dari kejaran sosok itu. “ sepertinya Aku di sana bisa aman, Apa Aku pindah ke rumah ini saja, si Dadang dan keluarganya tidak akan kembali ke rumah ini.” Ujar Pak Sugeng. Pak Sugeng masuk ke dalam rumah itu dan melihat seisi rumah yang masih utuh, hanya berapa perabotan rumah tangga saja yang berserakan, pak Sugeng menutup rumah itu dan berdiri di balik pintu milik Pak Dadang. “ semoga saja sosok itu berhenti mengikutiku, Aku bukannya takut, tapi jumlah mereka terlalu banyak, sehingga sepertinya aku akan kalah.” Ujar Pak Sugeng. Pak Sugeng perlahan mulai masuk ke lebih dalam, Dia duduk di kursi penuh dengan debu, warga lain tidak ada yang berani memasuki rumah Pak Dadang, bukan karena mereka takut ada sosok penghuni lain, tapi mereka segan dengan pak Dadang dan juga ki Amin yang sudah di anggap sebagai sesepuh di kampung itu, Pak Sugeng baru menyadari jika Warga di kampung sebenarnya menghargai Pak Dadang dan juga Ki Amin, setelah kepergian Pak Dadang dan juga Ki Amin, imbasnya mulai terasa oleh Pak Sugeng sendiri yang hanya menggunakan nama mereka sebagai alat dan tameng untuk mengendalikan warga agar mempercayai mereka.  Pak Sugeng pun kembali merasa ada seseorang yang memperhatikannya, Pak Sugeng melihat lebih dalam ke arah dapur, pak Sugeng tidak melihat siapa pun , Pak Sugeng kembali berjalan menuju Kamar Ki Amin, terlihat ada seseorang yang mirip dengan Ki Amin sedang tertidur membelakangi Pak Sugeng. “ Ada Orang?, Siapa Dia?” Ujar Pak Sugeng sambil mendekati orang itu.     Orang itu terlihat bernafas dengan cepat, seperti sedang mengalami sakit parah, Pak Sugeng terus mendekat hingga akhirnya melihat jelas sosok itu, bau amis mulai Ia Cium, perlahan Pak Sugeng memegang bagian kaki dari orang itu, dan ketika di pegang sosok itu mulai bergerak dan berbalik melihat Pak Sugeng. Sungguh terkejut Pak Sugeng melihat sosok itu, badannya kotor dan memunculkan bau Amis, tapi ternyata sosok itu adalah orang dalam gangguan jiwa, Pak Sugeng yang sudah lemas menyuruh orang itu untuk pergi dari kampung itu. “ Aku kira sosok lain di rumah ini, ternyata orang dalam gangguan jiwa.” Ujar Pak Sugeng yang masih merasa ketakutan. Pak Sugeng kembali melihat orang itu yang hanya berdiam diri melihat Ke Arah Pak Sugeng. “ Kenapa Kamu belum keluar dari rumah ini, Cepat keluar, jika tidak ingin Aku pukul.” Ujar Pak Sugeng mengancam. Orang gangguan jiwa itu melihat dengan sedih kepada Pak Sugeng, ia pun jongkok dan akhirnya menangis. “ Pergi Kau, Jika Aku melihat dirimu sekali lagi di kampung Ini, Kau Akan ku pukul.” Ujar Pak Sugeng. Pak Sugeng tidak memiliki belas kasihan sedikit pun dan mengusir orang dalam gangguan jiwa itu, Orang dalam gangguan jiwa itu pun mengalah dan pergi meninggalkan Pak Sugeng, Pak Sugeng tidak pernah merasa kasihan terhadap orang Lain, kebiasaan itu yang telah Ia dapat sejak dari lingkungan keluarga sangat sulit untuk di rubah dan telah menjadi darah daging dalam kehidupannya. “ Kenapa hari ini kembali sulit untuk di jalani, orang lain bisa tidur dengan nyenyak sedangkan Aku harus mencari naungan lain, sebab rumahku sudah di kuasai sosok lain.” Ujar pak Sugeng. Pak Sugeng kembali termenung dan memikirkan kejadian saat itu, Dia mengingat kembali wajah dari orang dalam gangguan jiwa itu dan merenung. “ Jika seperti ini terus Aku lama – lama seperti orang yang tadi Aku usir, Aku harus segera mencari cara dan mengembalikan kejayaanku, sebelum Aku bergabung dengan orang dalam gangguan jiwa tadi.” Ujar Pak Sugeng. Pak Sugeng kembali melihat keadaan luar dari jendela, Pak Sugeng melihat sekeliling dan akhirnya melihat orang yang sempat ia usir tertidur di teras rumah warga lain, tapi orang itu seperti di ikuti oleh sosok yang tadi mengikutinya, bahkan sosok itu terus menatap ke arah orang dalam gangguan jiwa itu. “ Kenapa Sosok itu mengikuti terus, Apa dulu Dia bersekutu dengan sosok itu, hingga balasannya dia kini dalam gangguan jiwa?” Tanya Pak Sugeng dalam hatinya. Dalam diri Pak Sugeng mulai ada rasa khawatir dirinya akan memiliki nasib yang sama dengan orang itu, dengan kelakuan yang angkuhnya dia tidak mengambil hikmah dari kejadian yang baru saja dia alami dan tetap pada pendiriannya, dan terus memupuk rasa dendam dan amarah yang semakin menggebu – gebu, hingga Pak Sugeng sudah tidak dapat berpikir dengan jernih. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN