Sebagai seseorang yang pernah memiliki kekuatan dan kekuasaan, Pak Sugeng kini harus beradaptasi dengan keadaannya, Pak Sugeng takut dirinya akan mengalami nasib yang sama dengan orang dalam gangguan jiwa di rumah peninggalan Pak Dadang, dalam keadaan yang Masih mencekam , Pak Sugeng terus mengamati orang dalam gangguan jiwa itu.
“ kenapa Aku menjadi terpikirkan tentang hal yang tidak Ku duga sebelumnya, rasa takut ini belum pernah Aku rasakan.” Ujar Pak Sugeng.
Orang dalam gangguan jiwa itu langsung melirik ke arah Pak Sugeng dan tersenyum kepadanya.
“ Tidak tahu diri, Aku malah di berikan senyuman.” Ujar Pak Sugeng langsung menutup pintu jendela rumah Pak Dadang.
Suasana di dalam rumah Pak Dadang yang sunyi dan gelap, dan hanya barang – barang berdebu yang menemani malam Pak Sugeng di sana, Dia mencoba membaringkan badannya , lelahnya sudah tidak bisa tertahankan, dan akhirnya Pak Sugeng pun terkalahkan dalam kantuknya, namun itu tidak berlangsung lama, Pak Sugeng harus terbangun dengan suara gaduh di dalam kamar Ki Amin.
“ Suara Siapa lagi? Jangan – jangan orang itu lagi.” Ujar pak Sugeng.
“ Baru saja Aku mencoba untuk tidur, dan Ini Masih jam 1 malam.” Ujar Pak Sugeng kesal dan melihat ke arah Kamar Ki Amin.
Pak Sugeng pun berdiri dari tidurnya, Dia perlahan langsung menghampiri Kamar Ki Amin, Dia pun terkejut, melihat ada sosok yang tertidur.
“ Kamu tidak ada takut – takutnya, Sudah ku bilang Kamu keluar dari rumah ini.” Ujar Pak Sugeng menganggap jika sosok itu adalah orang dalam gangguan jiwa yang tadi Di Usirnya.
Sosok itu tidak menggubris sedikit pun, sosok itu terlihat seperti sedikit kejang – kejang, dan itu membuat Pak Sugeng mengerutkan dahinya keheranan.
“ Kamu ini kenapa, sudah ku bilang cepat keluar dari rumah ini.” Ujar Pak Sugeng berteriak kepada sosok itu.
Pak Sugeng pun ke luar kamar dan mengambil pemukul dari kayu, Dia mengambil itu untuk memukul sosok itu.
“ Sudah tidak bisa di ajak kompromi, maka k*******n yang akan Kamu dapatkan.” Ujar Pak Sugeng.
Pak Sugeng berlari ke arah Kamar ki Amin, dan Pak Sugeng langsung terkejut, ketika sosok itu sudah tidak ada di Atas tempat tidur milik Ki Amin yang penuh debu.
“ Kemana Dia, Keluar Kamu.” Ujar Pak Sugeng melihat ke sekeliling sambil berteriak.
Pak Sugeng kebingungan mencari sosok itu, Dia terus menerus mencari, mulai dari balik pintu, jendela, di bawah tempat tidur dan hingga akhirnya pandangan pak Sugeng melihat ke arah lemari tua milik Ki Amin, perlahan ia mendekat , sambil memegang erat kayu yang ada di tangannya Pak Sugeng perlahan membuka lemari itu.
“ kamu tidak akan bisa kabur lagi, seluruh sudut di kamar ini sudah ku telusuri, pasti kamu bersembunyi di lemari ini.” Ujar Pak Sugeng.
Pak Sugeng membuka lemari itu dan memukul ke segala Arah, tapi Sosok itu tidak ada di dalam lemari, yang ada hanya pakaian – pakaian milik Ki Amin yang sudah usang dan penuh dengan debu, dan rusak di makan rayap.
“ Ke mana orang Itu.?” Tanya Pak Sugeng.
Saat Pak Sugeng membalikkan Badannya, Pak Sugeng langsung di kejutkan dengan sosok yang dia cari tengah memandang wajah Pak Sugeng, dengan wajah pucat sosok itu langsung memalingkan wajahnya dan pergi terbang ke arah jendela kamar Pak Sugeng.
“ Lagi – lagi Aku di goda oleh sosok itu, bahkan dengan sosok yang berbeda juga, lama – lama seperti ini, Aku bisa -bisa mati berdiri, Aku harus segera mungkin mencari cara , agar sosok itu tidak mengganggu ku lagi.” Ujar Pak Sugeng kesal.
Pak Sugeng tidak sadar, semua sosok yang tengah menggodanya berawal dari ulahnya sendiri, dirinya yang selalu menganggap remeh segala hal, menjadikan dirinya sangat angkuh dan menghalalkan segala cara untuk meraih apa yang dia inginkan.
Pak Sugeng berjalan perlahan dan mencoba keluar dari rumah Pak Dadang, Tapi sayangnya Pak Sugeng masih tetap di goda dan di ganggu oleh makhluk yang sedari tadi memperhatikannya, pintu rumah Pak Dadang tiba – tiba tidak bisa di buka dan terkunci.
“ Kenapa lagi pintu tua ini, Tiba – tiba terkunci.” Ujar Pak Sugeng kesal.
Pak Sugeng terus memukul pintu itu hingga menimbulkan kegaduhan, warga sekitar yang rumahnya berdekatan dengan Pak Dadang, mengintip dari kaca jendela mereka, mereka tambah ketakutan dengan suara pintu yang di pukul oleh Pak Sugeng, Pak Sugeng berteriak , namun teriakan pak Sugeng tidak pernah di anggap oleh warga yang memiliki rumah berdekatan dengan Pak Dadang.
Pak Sugeng melemparkan kayu yang di pegangnya.
“ Sekarang Apa lagi, jika kalian terus mengganggu ku , lebih baik Aku menghadapi kalian, tunjukan wujud kalian.” Ujar Pak Sugeng menantang dengan suara lantang.
Tidak adanya tanggapan oleh sosok – sosok yang di rasa ada oleh Pak Sugeng, membuat Pak sugeng mengamuk dan menghancurkan benda milik pak Dadang, hingga tiba – tiba pintu rumah Pak Dadang terbuka dengan sendirinya, Pak Sugeng langsung saja berlari ke luar.
“ Akhirnya pintu tua itu terbuka juga, sepertinya aku harus mencari tempat istirahat lain, apa Aku pulang ke rumah ku saja.” Ujar Pak Sugeng sedikit bingung menentukan pilihan.
Pak Sugeng pun kembali berlari kecil kembali menuju rumah miliknya, Pak Sugeng kebingungan menentukan pilihan, tidak adanya kerabat dan teman, membuat Pak Sugeng kesulitan mendapatkan pertolongan, dia terus berlari menuju rumahnya, tapi sayangnya rumah Pak Sugeng seperti menutup diri untuknya, seluruh pintu dan jendela tampak tertutup rapat , hal itu menambah keanehan di hari itu.
“ Sudah ku bilang kepada kalian, Aku tidak takut kepada kalian, jika perlu ayo tunjukan kemampuan kalian, serang Aku, Aku lebih baik terluka parah dari pada di goda dan di remehkan seperti ini.” Ujar Pak Sugeng.
Pak Sugeng seperti sudah sangat tertekan dan terpancing emosi, sehingga hal yang di lakukannya tidak terkontrol, Pak Sugeng pun terduduk di depan rumahnya, tenaganya yang terkuras habis membuatnya tiba – tiba terjatuh dan tertidur di area pelataran milik nya, sosok – sosok yang ada di sana hanya melihat dan memperhatikan pak Sugeng, semakin hari , sosok – sosok yang datang ke rumahnya menjadi sangat banyak tapi sayangnya Pak Sugeng tidak menyadari hal itu dan terus berbuat kejahatan yang di anggapnya bisa membuat dirinya kembali di hargai oleh warga di sana.
Sedangkan di sisi lain, fajar sudah menunjukkan tajinya, matahari perlahan mulai naik dan menyinari seluruh daratan dan menghangatkan semua pepohonan, warga pun kembali beraktivitas, ada sebagian yang kembali mencoba meladang hingga ada yang terus membuat gerabah, warga yang melintas ke rumah Pak Sugeng , melihat pak Sugeng yang sedang tertidur di teras rumahnya, dan menganggap jika pak Sugeng tadi malam telah mengadakan pesta hingga mabuk dan membuat Pak Sugeng tertidur di luar.
Tidak ada yang berani membangunkan , bahkan mereka berusaha acuh dan menganggap tidak terjadi apa – apa, hanya anak buahnya saja lah yang berani membangunkan Pak Sugeng.
Di posisi Ijam dan Pak Dadang, kini tengah bersiap untuk berangkat menuju kampung halaman mereka , berita dari Ayu dan Siti yang sempat tidak terkabarkan kepada mereka, hanya menjadi hadiah hiburan saat mereka sampai di kampung itu.
“ Pak, apa Bapak Yakin akan berangkat berdua saja dengan Ijam?” Tanya Krisna.
“ Kris, Kita harus membagi tugas di sini, kasihan Ibumu jika kita semua berangkat ke kampung, jangan merepotkan terus Pak Yaya, bayangkan jika Kamu ikut dengan Kami, bayangkan repotnya ibu Mu dan Pak Yaya yang sebenarnya tidak usah ikut repot akibat persoalan yang tengah kita hadapi.” Ujar Pak Dadang.
“ Ia Pak, Tapi jika Bapak butuh bantuan , segera mungkin kabari Krisna di sini.” Ujar Krisna.
“ Kamu juga lakukan tugasmu di sini, jaga Ibumu, Kakekmu dan juga Pak Yaya yang sudah menjadi pahlawan untuk kita.” Ujar Pak Dadang.
“ Ia Pak, Kalian juga hati – hati , selalu fokus dan jauhi Pak Sugeng sesampainya di kampung.” Ujar Krisna.
“ tenang saja Kris, Aku akan menjaga Bapak.” Ujar Ijam.
“ Ia Jam, tapi Aku bisa titip pesan untuk Ayu?” Tanya Krisna.
“ Boleh saja Kris, tapi kan bisa lewat pesan atau telepon secara langsung.” Ujar Ijam.
“ Ia memang Jam, tapi Aku malu untuk menyampaikannya.” Ujar Krisna.
“ ya sudah, Aku tidak akan banyak bertanya tentang hubungan kalian, lalu apa yang ingin kau ucapkan untuk Ayu.” Ujar Ijam.
“ Sampaikan maafku untuk Ayu, jika Ayu bertanya kenapa meminta maaf, jawab saja Aku merasa bersalah.” Ujar Krisna.
“ ya Sudah nanti Aku sampaikan, tapi sebaik – baiknya maaf lebih baik jika di ucapkan secara langsung dari lubuk hati terdalam, karena Kamu meminta, aku tidak akan menolak, tapi jika hubungan kalian membaik, tolong katakan itu secara langsung kepada Ayu.” Ujar Ijam.
Krisna hanya mengangguk dan mengiakan.
" ya Sudah, hati - hati di jalannya, cepat kembali.” Ujar Krisna.
Pak Dadang dan Ijam akhirnya pergi, Mereka sudah terbiasa dengan perjalanan pulang pergi kota dan kampung, Dalam hati Ijam dan Pak Dadang ada rasa khawatir yang sangat besar, bukan hal tentang Pak Sugeng, tapi tentang keadaan Krisna, ketika di tinggal Pergi Pak Dadang dan Ki Amin.
“ Pak Ijam Khawatir ketika melihat raut wajah Krisna, Ijam Takut kepergian kita membuat Krisna kembali sakit.” Ujar ijam.
“ Bapak pun memikirkan hal yang sama Jam, tapi Bapak berharap hal itu tidak akan terjadi, dan Kita sebaiknya terus menghubungi Krisna ketika di sana demi kebaikan kita juga.” Ujar pak Dadang.
Pak Dadang dan Ijam dalam perjalanannya di sertai dengan rasa khawatir terus menerus, Kondisi Krisna dan Ki Amin yang sebenarnya belum bisa di tinggal, hanya saja keadaan yang mendesak membuat mereka harus melakukan hal itu, dan mencoba semua cara demi kesehatan Ki Amin dan juga menyelesaikan semua persoalan yang tengah mereka hadapi.