LANJUTAN 57

1631 Kata
Sesampainya Pak Dadang dan Ijam di kampung, Mereka tidak langsung menuju rumah yang sudah sekian lama mereka tinggalkan, melainkan melihat keadaan sekeliling termasuk ladang yang sudah lama mereka abaikan, dan rumput – rumput sekitar ladang yang mulai meninggi membuat Pak Dadang bersedih dengan keadaan ladang miliknya. “ sekian lama Bapak meninggalkan kampung ini, dulu ladang ini sangat rapi, bahkan tidak ada satu rumput pun yang berani tumbuh dan membuat ladang Bapak seperti ini, tapi semuanya sudah berbalik.” Ujar Pak Dadang. “ Sabar pak, Ambil hikmahnya saja, mungkin nanti kita bisa mendapat ladang yang lebih bagus, atau mungkin bahkan lebih luas.” Ujar Ijam. “ Ia Jam , tapi banyak kenangan manis yang sudah Bapak ciptakan di sini, kenangan saat bertemu dengan Ibu, bahkan dulu saat kamu dan Krisna masih kecil , kalian sangat senang bermain di ladang ini, meskipun ujungnya Bapak marah – marah kepada kalian, tapi itu menurut Bapak adalah kenangan manis saat bersama kalian.” Ujar pak Dadang sambil memandang ladangnya. “ Ia Pak, Ijam juga mengingat hal itu, bekas pembakaran ladang Ijam pun kini sudah tidak terurus, tapi ya sudah pak, itu jadikan kenangan indah saja untuk kita.” Ujar Ijam. “ Ia Jam mungkin jalan cerita kita sudah harus seperti ini, kita jalani saja.” Ujar Pak Dadang. “ Ia Pak, kita kembali fokus pada tujuan kita datang ke kampung ini, Bapak juga Harus kuat ya Pak, jangan di jadikan beban dengan kenangan yang sudah kita alami di kampung ini, harapan Ijam kita bisa lebih baik lagi ke depannya.” Ujar Ijam. “ Ia Jam, sekarang kita langsung ke rumah saja.” Ujar Pak Dadang. “ Ia Pak, tapi janji dulu pada Ijam.” Ujar Ijam. “ Janji apa Jam?” Tanya  Pak Dadang. “ Berjanji jika kita sampai di rumah, Bapak jangan sedih lagi ya, Ijam paham rasa sedih yang Bapak rasakan , tapi itu harus kita sudahi.” Ujar Ijam. “ Ia Jam , Bapak mencoba merelakan semuanya.” Ujar Pak Dadang. “ Ya Sudah , Kita berangkat pak.” Ujar Ijam. Kedatangan Ijam dan Pak Dadang banyak mendapatkan sambutan dari sebagian warga, banyak warga yang senang dan menyambut baik kedatangan Pak Dadang dan Ijam, rencana mereka pun semakin berjalan lancar dengan banyaknya relawan yang ingin membantu mereka. Pak Dadang dan Ijam membeberkan semua persoalan yang tengah terjadi di kehidupan keluarganya, termasuk persoalan tentang Ki Amin, warga yang mendengar curahan Hati Pak Dadang banyak yang menyayangkan keputusan Pak Dadang untuk pergi meninggalkan kampung kelahiran Pak Dadang. Pembicaraan antara warga dan Pak Dadang semakin hangat, hingga Pak Dadang dan Ijam pun tahu persoalan yang tengah melanda kampung mereka, termasuk gangguan sosok yang hampir setiap malam terjadi dan di rasakan oleh seluruh warga Kampung. “ Ternyata kepergian kita di kampung ini, membuat kita tidak mengetahui setiap kejadian yang terjadi.” Ujar pak Dadang. “ Ia Pak, Tapi ada baiknya juga, bayangkan saja jika kita masih di sini dengan kejadian yang sekarang terjadi, pasti Krisna akan kembali mengalami ketakutan yang luar biasa dan akhirnya membuat dia tertekan dan kembali sakit.” Ujar Ijam. Waktu kini tepat menujukan sore hari menjelang malam, rencana Pak Dadang untuk memindahkan benda yang dulu tertanam di rumahnya , harus tertunda, banyak warga yang mengusulkan agar Pak Dadang dan Ijam mengambil benda itu pada pagi hari, sebab jika waktu sudah memasuki malam hari, di takutkan banyak kejadian aneh dan hal – hal yang tidak di inginkan. Setelah sepakat, pak Dadang dan Ijam yang menginap di rumah salah satu warga, ingin membuktikan perkataan kebanyakan warga tentang gangguan sosok – sosok makhluk astral. “ Pak Apa betul kampung kita ini menjadi banyak gangguan sosok – sosok Astral, padahal Ijam sedari dulu tidak pernah mendengar tentang hal ini sebelumnya?” Tanya Ijam. “ Jangankan Kamu Jam, anak kemarin sore. Bapak saja yang lahir dari dulu juga belum pernah mendengar kejadian seperti ini.” Ujar Pak Dadang. “ Lalu kita harus bagaimana sekarang?” Tanya Ijam. “ ya kita harus membuktikannya, lalu mencari sumber, dan akhirnya menyelesaikan masalah ini.” Ujar pak Dadang. “ Jadi sekarang kita Tidak akan tidur pak?” tanya Ijam. “ sebaiknya Kamu tidur, biarkan Bapak saja yang terjaga, lagi pula mata batin Bapak sudah terbuka, jadi rasanya percuma jika kamu ikut menunggu dan berjaga dengan Bapak.” Ujar pak Dadang. “ Ya Sudah, nanti jika benar memang banyak sekali gangguan sosok astral, Bapak bisa bangunkan Ijam, Ijam memang tidak di buka mata batinnya, tapi Ijam tahu dan dapat merasakan kehadiran mereka.” Ujar Ijam. Waktu pun kini memasuki tengah malam, Pak Dadang masih tetap terjaga untuk membuktikan kecemasan warga, perlahan tapi pasti, waktu terus berjalan, hingga lelah dan kantuknya mulai membuat Pak Dadang tertidur lelap hingga menimbulkan bunga tidur. Dalam mimpinya Pak Dadang tengah di kejar oleh banyak sekali sosok yang menyeramkan, namun Pak Dadang terbangunkan oleh sebuah ketukan pintu. “ Siapa yang mengetuk pintu malam – malam seperti ini?” Tanya Pak Dadang terkejut. Pak Dadang teringat dengan cerita warga dengan gangguan – gangguan yang mereka alami, Pak Dadang mengintip dari balik jendela rumah, dan memang benar banyak sekali sosok yang tengah terdiam di hadapan rumahnya, Pak Dadang terus memperhatikan sosok itu hingga akhirnya Pak Dadang memberanikan dirinya untuk keluar rumah. “ kalian ini siapa berani – beraninya membuat onar di kampung halamanku.” Ujar Pak Dadang berteriak.   Mendengar Pak Dadang yang berteriak Ijam pun terbangun dan mengintip perlahan dari balik pintu, Ijam melihat Pak Dadang seperti berbicara sendiri, hanya saja Pak Dadang berteriak secara terus menerus dan akhirnya membuat hampir semua tetangga yang berdekatan dengannya keluar dari rumahnya masing – masing.  “ kita jangan takut pada mereka, jika kita takut mereka akan sangat senang, tapi sebaliknya jika kita berani, mereka yang akan takut dan menjauhi kita.” Ujar Pak Dadang berteriak dan di saksikan oleh warga. Hampir semua sosok yang saat itu ada di sana melihat ke arah Pak Dadang, tampak raut wajah tidak senang dari semua sosok itu, Pak Dadang terus saja berteriak, hingga akhirnya sosok itu seperti ketakutan dan pergi meninggalkan warga dan Pak Dadang. “ Pak Kenapa Bapak terus berteriak?” Tanya Ijam. “ Sosok itu tidak mau menunjukkan dirinya ke sembarangan orang, mereka yang Bapak lihat sepertinya berasal dari rumah Pak Sugeng, tapi itu hanya perkiraan saja.” Ujar Pak Dadang. “ Tapi apa mereka besok akan melakukan hal yang sama?” Tanya Ijam. “ tentu saja Jam, sebelum mereka mendapat apa yang mereka inginkan, maka mereka akan melakukannya setiap saat.” Ujar Pak Dadang. “ Tapi Apa yang mereka inginkan?’ Tanya Ijam. “ Bapak tidak tahu Jam, tapi sepertinya kita akan tinggal sedikit lebih lama di sini.” Ujar Pak Dadang. “ Ijam Ikut saja Pak, tapi ingat kita di tunggu Ki Amin dan Krisna.” Ujar Ijam. “ Ia Jam, ya Sudah Kamu tidur lagi sana, besok Pagi kita ke rumah.” Ujar Pak Dadang. Pak Dadang pun menggelengkan kepalanya, dirinya merasa heran dengan kejadian yang kini tengah dia alami di kampung halamannya. Fajar pun tiba, Ijam dan Pak Dadang langsung bergegas menuju rumahnya, mereka sudah tidak heran dengan keadaan rumah Pak Dadang yang semakin berdebu dan di penuhi hewan – hewan luar, mereka langsung mencoba mencari keberadaan kotak yang di kubur di salah satu Kamar, Pak Dadang tiba – tiba merasa ingin langsung menggali di salah satu kamar tempat penyimpanan gabah. “ Sepertinya kita gali di sini.” Ujar Pak Dadang. “ Ia Pak, mudah – mudahan kita menemukan benda itu sesegera mungkin dan mengembalikannya kepada Pak Sugeng.” Ujar Ijam.  Setiap sudut di ruangan itu terus Ijam cari dan gali, tapi setelah berjam – jam mencari dan menggali hasil yang mereka dapatkan masihlah sama dan nihil, hingga akhirnya Ijam sudah sangat kelelahan dan menyerah untuk terus mencari dan menggali. “ Pak Ijam sudah sangat lelah, Apa Bapak yakin kotak itu ada di kamar yang ini.” Ujar Ijam. “ Bapak sangat yakin Jam, Bapak pun merasa aneh, tidak mungkin salah.” Ujar pak Dadang. “ Pak, Apa sebiknya kita melanjutkan nya besok saja, Ijam sudah sangat lelah.” Ujar Ijam. “ ya sudah , Kamu pulanglah duluan, Bapak masih ingin mencarinya.” Ujar Pak Dadang. Ijam pun merasa tidak enak hati jika harus meninggalkan pak Dadang sendirian, Ijam pun terus memaksakan tubuhnya untuk terus membantu Pak Dadang, tapi sayangnya hasilnya masih tetap nihil. “ Jam , sepertinya memang bukan di ruangan ini, tapi Bapak yakin , jika Dulu Ki Amin menanam benda itu di sini.” Ujar Pak Dadang. “ Ya Sudah Pak sebaiknya kita lanjutkan besok saja, lagi pula ini sudah mulai gelap.” Ujar ijam. “ ya Sudah Jam, kita besok berpindah ruangan , jika perlu kita gali semua sudut ruangan di rumah ini.” Ujar Pak Dadang. “ Apa sebaiknya kita menanyakan hal ini kepada Ki Amin?” Tanya Ijam. “ Sebaiknya jangan Jam, Kasihan Ki Amin, Bapak takut dia malah kembali memikirkan hal ini.” Ujar Pak Dadang. “ ya Sudah. Ijam nanti malam mau bertemu dengan Ayu, untuk menyampaikan pesan dari Krisna.” Ujar Ijam. “ Maaf Jam, sebaiknya besok saja, tidak baik berkunjung ke rumah perempuan malam hari .” Ujar Pak Dadang. “ Ia Pak, Maafkan Ijam, Ijam hanya tidak mau mengganggu waktu kita besok dalam pencarian.” Ujar ijam. “ tapi jika memaksakan malam – malam berkunjung ke rumah perempuan itu tidak baik, lebih baik waktu kita terganggu dari pada hal itu menjadi kebiasaan untukmu.” Ujar Pak Dadang. “ Ia Pak MaafKan Ijam.” Ujar Ijam. “ Ya Sudah sekarang kita kembali ke rumah warga dulu, besok kita kembali lanjutkan.” Ujar Pak Dadang. Pak Dadang penuh dengan kekecewaan, Usahanya saat itu tidak membuahkan hasil , pak Adang pun mulai merasakan keanehan dalam rumahnya itu, sebab dia yakin jika benda itu terkubur di sana, hanya saja Pak Dadang lupa tentang perjanjian antara Ki Amin dengan Pak Sugeng yang berhubungan dengan benda itu sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN