LANJUTAN 58

1307 Kata
Hari ke hari Ijam dan Pak Dadang menggali dan terus mencari benda yang di sebutkan ki Amin, Namun hasilnya masih saja tetap sama , nihil dan nihil itulah yang selalu mereka dapatkan, waktu semakin berjalan, hingga mereka pun merasa putus asa. “ Jam bagaimana ini, kita sudah mencari ke setiap sudut rumah, hingga rumah ini hancur bekas galian tanah.” Ujar pak Dadang. “ Kita harus tetap berusaha Pak, kecuali memang ada jalan lain.” Ujar Ijam. “ Jalan lain seperti Apa Jam?” Tanya Pak Dadang. “ mungkin cara lain selain mengembalikan benda itu kepada Pak Sugeng.” Ujar Ijam “ Tapi Apa Jam, Bapak Takut terlambat menyelamatkan Ki Amin, meskipun Ki Amin harus berpulang tapi setidaknya Ki Amin sudah dalam keadaan kosong , tidak memiliki benda – benda apa pun dalam hidupnya, menurut Bapak itu akan lebih baik untuk Ki Amin, agar Dia jjuga tidak mempunyai eban lagi.” Ujar Pak Dadang. “ Ia Pak, tapi sampai Kapan kita harus seperti ini?’ Tanya Ijam. “ IA Jam, Bapak pun sama tidak tahu sampai kapan kita harus mencari.” Ujar Pak Dadang. “ Coba Bapak ingat – ingat kembali, apa Bapak Dulu pernah melihat Ki Amin sendirian mengubur benda itu?” Tanya Ijam. “ Memang Bapak dulu pernah mengintip Jam, Dulu Ki Amin mengendap- endap saat Bapak masih kecil dulu, lalu Dia mengubur sebuah benda di dalam Kamar penyimpanan Gabah.” Ujar Pak Dadang. “ Bapak Ingat tidak , Ki Amin kira – kira jam berapa mengubur benda itu?” Tanya Ijam. “ Bapak lupa, tapi yang jelas Ki Amin dulu menguburnya malam hari, entah jam berapa, sebab saat itu Bapak tidak sempat melihat jam.” Ujar Pak Dadang. “ apa kita tunggu sampai malam di sini Pak?” Tanya Ijam. “ Kenapa harus malam jam, siang hari saja yang terang kita tidak menemukan benda itu, apa lagi malam hari, listrik di sini sudah di putus, kita perlu penerangan Jam.” Ujar Pak Dadang. “ Telepon Ija masih menyala, nanti jika kurang terang , Ijam bisa beli lilin, setidaknya kita jangan terus berhenti berharap dan terus mencoba.” Ujar Ijam. “ Ya Sudah kita tunggu sampai waktu malam datang.” Ujar Pak Dadang menerima saran Ijam. Saat itu Ijam dan Pak Dadang menunggu hingga malam tiba, waktu terus berjalan, hingga akhirnya hujan turun dan langit mulai gelap. “ Jam, Maafkan Bapak ya, Kamu menjadi ikut repot dan ikut mengeluarkan tenaga serta pikiran untuk membantu Bapak.” Ujar Paak Dadang. “ Pak, harus berapa kali Ijam katakan kepada Bapak, Ijam tidak mau membahasnya lagi, itu sudah jadi kewajiban Ijam, dan Bapak pun jangan seperti ini lagi.” Ujar Ijam. “ Ia Jam, Bapak hanya merasa bersalah saja.” Ujar Pak Dadang. “ Jika setiap persoalan bisa selesai dengan rasa bersalah, sudah sedari dulu harusnya kita terbebas dari persoalan ini, Ingat tujuan kita Pak, Bapak jangan menyerah seperti ini.” Ujar Ijam. “ Ia Jam, kalau begitu mari kita mulai menggali lagi.” Ujar Pak Dadang. “ Ia Pak, lagi pula ini sepertinya sudah cukup malam.” Ujar Ijam. Saat itu waktu tepat menunjukkan pukul 10 malam, Ijam dan Pak Dadang terus menggali dan membongkar setiap ubin yang di rasa dulu pernah di simpan benda itu oleh Ki Amin, di sertai hujan gemericik menjadikan udara menjadi semakin dingin, bocor yang mulai muncul di setiap ruangan membuat keadaan di rumah itu semakin sunyi dan mencekam. Semakin lama menggali , semakin banyak tenaga yang di keluaran oleh Pak Dadang dan Ijam, mereka terus menggali hingga dalam, di kamar tempat penyimpanan gabah, namun Pak Dadang dan Ijam malah mendapatkan gangguan dari Kamar Ki Amin. “ Pak, mendengar suara sesuatu tidak?’ Tanya Ijam. “ Ia Jam, sebenarnya bukan hanya mendengar, Bapak juga melihat sosok yang sedang memperhatikan kita, dan sekarang sosok itu masih memperhatikan Kita Jam.” Ujar Pak Dadang. “ Yang benar Pak, Lalu kita harus bagaimana?” Tanya Ijam. “ Kita diam saja, dan membaca doa.” Ujar Pak Dadang. Ijam dan Pak Dadang terus membaca doa, hingga sosok itu pergi menjauh dari mereka, Ijam pun terus membaca doa sambil menggali hingga akhirnya cangkul yang Ijam gunakan, membentur sesuatu yang terbuat dari Kayu. “ Pak, ini apa Pak?” Tanya Ijam. “ Mana Jam, telepon milikmu juga sudah mati, penerangan dari lilin, tidak terlalu terang, di tambah angin yang masuk membuat api dalam lilinnya tidak stabil.” Ujar Pak Dadang. “ seperti kayu Pak.” Ujar Ijam, sambil mengetuk ketuk benda itu. Pak Dadang langsung saja menggali semakin dalam, ternyata memang kotak yang selama ini mereka cari berada di kamar itu namun entah apa yang membuat benda itu terlihat dan di temukan, sebab sebelumnya pun mereka menggali dengan tahapan kedalaman yang hampir sama, namun benda itu seperti di sembunyikan oleh sesuatu. “ Akhirnya Jam, kita menemukan benda ini, kita harus mengembalikannya ke rumah pak Sugeng.” Ujar Pak Dadang. “ kalau begitu cepat angkat pak, kita langsung segera ke rumah Pak Sugeng.” Ujar Ijam. Pak Dadang dan Ijam langsung mengangkat benda itu, tanpa berpikir panjang Pak Dadang langsung berlari sambil membawa benda itu di pelukannya, Di dalam derasnya hujan Pak Dadang terus berlari , suasana sunyi dan mencekam kerap Dia rasakan sepanjang perjalanan menuju rumah Pak Sugeng. Banyak sosok yang memperhatikan Pak Dadang dan Ijam, di setiap sudut jalan terlihat sosok yang memang seperti sedang menunggu Pak Dadang dan Ijam, di tambah Pak Dadang melihat sosok yang sama seperti di rumahnya, Banyak anggapan dalam benak Pak Dadang sendiri, namun dirinya terus melangkah dan mengabaikan sosok – sosok itu hingga mereka pun sampai di rumah Pak Sugeng. Keadaan rumah itu tampak sepi, mereka masuk perlahan ke dalam gerbang yang sangat tinggi. “ Lalu kita harus bagaimana Pak?’ Tanya Ijam. “ Kita simpan saja di depan pintu rumahnya.” Ujar Pak Dadang sambil mengendap masuk. “ Kenapa sangat sepi, tidak seperti biasanya, ke mana anak buah Pak Sugeng?” Tanya Ijam. “ Bapak juga tidak tahu jam, memang sedikit aneh, maka dari itu kita harus bergerak dengan cepat.” Ujar Pak Dadang. Pak Dadang melihat keanehan di rumah Pak Sugeng yang sangat sepi, hanya saja banyak sekali sosok – sosok yang sedang bertengger di atap rumah Pak Sugeng, Pak Dadang tidak memberitahukan hal itu kepada Ijam, Pak Dadang tidak mau membuat Ijam takut. “ Pak Siapa yang melempar.” Ujar Ijam melihat sekeliling. “ Tidak ada Jam, sudah jangan di hiraukan.” Ujar Pak Dadang. “ Rasanya banyak sekali yang melempari sesuatu kepada Kita.” Ujar Ijam. “ Memang ada Jam, Kamu jangan melihat Ke atap ya.” Ujar Pak Dadang. “ Memang kenapa Pak.” Ujar ijam. “ Sebaiknya jangan, demi kebaikanmu juga.” Ujar Pak Dadang. “ IA Pak.” Ujar Ijam. Pak Dadang langsung menyimpan kotak itu di depan rumah Pak Sugeng. “ Aku kembalikan semua yang telah Kamu berikan kepada Ki Amin dan seisinya.” Ujar Pak Dadang berteriak sambil berlari menjauh meninggalkan rumah Pak Sugeng. Ijam sedikit penasaran dengan perkataan Pak Dadang yang melarang nya untuk melihat ke arah atap, namun Ijam pun sudah menduga jika rumah Pak Sugeng sudah di penuhi dengan sosok – sosok yang menyeramkan. “ Pak apa ini akan berhasil?” Tanya Ijam. “ Kita lihat nanti keadaan Ki Amin.” Ujar Pak Dadang. “ IA Pak, mudah – mudahan dengan di kembalikannya kotak itu kepada Pak Sugeng, Ki Amin juga bisa terbebas dari ikatan – ikatan dengan makhluk – makhluk itu.” Ujar Ijam. “ IA Jam, mudah – mudahan, apa pun nanti yang akan terjadi dengan ki Amin, bapak sudah siap menerimanya.” Ujar Pak Dadang. Namun di sisi lain Pak Sugeng kini seperti orang yang sudah tidak memiliki akal sehat, Dia sering tertawa tanpa sebab, bahkan dirinya merasa sosok – sosok yang ada di dalam rumahnya adalah teman baginya, namun hal itu terjadi hanya sesekali saja, ketika dia sadar, yang dia rasakan hanya rasa dendam dan emosi yang membara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN