LANJUTAN 59

1314 Kata
Tidak terpikirkan sebelumnya oleh Pak Dadang dan Ijam akan mengalami hal seperti ini, siang hingga malam melakukan dan mencari sesuatu yang tidak pasti dan belum jelas keberhasilannya, namun itu semua tidak ada salahnya untuk di lakukan. Sedangkan Pak Sugeng yang saat itu tengah terdiam di rumah, seperti mendengar kegaduhan di luar rumahnya, dirinya yang kini seperti sadar dan tidak sadar dengan keadaan sekeliling , mencoba berusaha untuk tetap fokus. “ Suara apa di luar?, kenapa ribut sekali.” Ujar Pak Sugeng. Pak Sugeng berjalan ke luar rumahnya. “ Kotak apa ini?, sepertinya Aku kenal.” Ujar Pak Sugeng. Pak Sugeng membuka kotak itu, dan teringat dengan kejadian puluhan tahun lalu. “ Ini Kan benda yang Aku berikan dulu pada ki Amin, kenapa sekarang ada di sini?” Tanya Pak Sugeng. “ Jika benda ini di kembalikan artinya , akan lebih banyak sosok yang datang ke rumah Ku.” Ujar Pak Sugeng sambil melihat ke sekeliling. Dan benar saja, banyak sekali sosok – sosok yang sudah diam dan berada di atap rumahnya Pak Sugeng, layaknya di undang, sosok – sosok itu seakan tertarik dengan Rumah Pak Sugeng, Pak Sugeng membawa kotak itu ke dalam rumahnya dan kembali duduk. “ Apa mungkin, Dadang kembali ke kampung ini?, Tapi kenapa berita itu tidak sampai kepada Ku?” Tanya Pak Sugeng. Pak Sugeng kini seperti terasingkan di kampung itu, Anak buahnya pun hanya memanfaatkan kekayaan yang dia miliki untuk menyambung hidup keluarga mereka, kini hanya tinggal sedikit Anak buah Pak Sugeng yang mau bekerja dengannya, bukan tanpa sebab meskipun mereka membutuhkan uang, tapi kondisi rumah Pak Sugeng yang kini di isi dengan banyaknya sosok – sosok, membuat mereka tidak tahan dan ketakutan. “ Aku akan melihat ke rumahnya Si Dadang, untuk memastikan itu adalah Dia.” Ujar Pak Sugeng. Tepat waktu saat itu menunjukkan jam 3 pagi, Pak Sugeng berjalan untuk mendatangi rumah Pak Dadang yang dulu sempat kosong, dengan di ikut beberapa sosok yang entah apa tujuannya, selalu mengikuti Pak Sugeng. “ Mau Apa Dia mengikutiku.” Ujar Pak Sugeng. “ Apa mungkin orang dengan gangguan jiwa itu yang menggali kotak tadi, jika benar Aku akan memukulnya.” Ujar Pak Sugeng. Sesampainya di sana Pak Sugeng melihat banyak sekali tumpukan tanah, di setiap sudut ruangan, Pak Sugeng pun melihat sekitar dan mencari orang yang telah menggali di sekitar rumah Pak Dadang itu, namun bukannya manusia yang Dia dapati, malah sosok yang sedari tadi mengikutinya dan membuatnya terkejut. “ Aku masih penasaran, mungkin kah sosok ini yang mengembalikannya kepadaku?” Tanya Pak Sugeng. Pak Sugeng sangat kesal dan marah dengan keadaan saat itu, Dirinya merasa di permainkan entah oleh siapa, Pak Sugeng langsung kembali ke rumahnya, dan ingin mengembalikan kotak itu ke kediaman Pak Dadang, hanya saja sesampainya di rumah, pak Sugeng mendapati banyak sosok yang sudah berada di rumahnya. “ Kalian ini sedang apa di sini, pergi kalian semua.” Ujar Pak Sugeng sambil masuk ke dalam rumahnya. Dia langsung mengambil kotak itu dan berencana mengembalikannya, hanya saja kotak itu terasa sangat berat, dan seperti sulit untuk di angkat. " Kenapa lagi dengan benda ini, kalian semua yang ada di sini semuanya pergi, jangan menghalangi ku untuk membawa kotak ini.” Ujar Pak Sugeng berusaha membawa kotak itu. Pak Sugeng langsung melemparkan benda itu ke lantai, rasa panas di bagian tangannya yang membuat Pak Sugeng melemparkan benda itu, hingga akhirnya Pak Sugeng pun menyerah dan menunda niatannya itu, dan memutuskan untuk beristirahat. Pak Sugeng tampaknya sudah terbiasa dengan keberadaan sosok – sosok yang mendiami rumahnya, dirinya acuh dan menganggap mereka tidak berbahaya dan bahkan menganggap mereka hanya ilusi semata. Di kubu Pak Dadang dan Ijam , mereka merasa lega dan memutuskan untuk segera kembal ke kota, pesan Krisna yang belum tersampaikan kepada Ayu, menjadi awal pertemuan kembali antara Pak Dadang dan Pak Sugeng. “ Pak Hari ini kita akan kembali ke kota, hanya saja Ijam meminta waktu sebentar, Ijam di berikan amanat untuk menyampaikan pesan kepada Ayu, dan kemarin – kemarin Ijam belum sempat ke rumah Ayu.” Ujar Ijam. “ Ya Sudah sekalian kita jalan pulang ke kota, kita singgah dulu di rumah Ayu untuk berpamitan, Bapak juga sudah lama tidak bertemu dengan Anak itu, sekalian kita untuk terakhir kalinya melihat rumah dan nanti Bapak akan bilang kepada Pak RT untuk menjual rumah itu, jadi semuanya sudah di lakukan di sini dan kita tidak akan kembali lagi ke kampung ini.” Ujar Pak Dadang. “ Ijam menurut saja bagusnya bagaimana, hanya saja Pak Sugeng bagaimana Pak, Dia tentunya tidak akan berdiam saja, Dia akan mencari kita Pak, cepat atau lambat.” Ujar ijam. “ Bapak tidak akan takut Jam, hanya saja dalam jangka waktu yang dekat sepertinya kita tidak akan dulu ke sini, kita fokus memperbaiki diri, sambil sedikit demi sedikit mengumpulkan uang dari hasil bekerja di sana.” Ujar Pak Dadang. “ IA Sudah Pak, Ijam akan ikut saja rencana Bapak." Ujar ijam. Mereka berjalan menuju ke arah rumah Ayu, hanya saja Ayu seperti tidak ada di rumah, tempatnya kosong dan tidak ada jawaban dari dalam rumah, Ayu yang masih tinggal di rumah Siti pun mendengar suara sahutan ke rumahnya. “ Sit, sepertinya aku mendengar suara memanggil namaku.” Ujar Ayu. “ Ia, mungkin ingin bertamu ke rumahmu Yu.” Ujar Siti. “ YA Sudah ku lihat dulu.” Ujar Ayu sambil melihat ke arah jendela. “ Sit, Ijam dan Pak Dadang ternyata yang bertamu.” Ujar Ayu. “ Kamu ini ingin menjebakku kan, ingin membuat Aku gugup lagi kan, Kamu jangan berbohong Ayu.” Ujar Siti. Ayu langsung bergegas membuka pintu dan berteriak ke arah Ijam dan Pak Dadang. “ Jam, Pak Dadang, Ayu di sini.” Ujar Ayu berteriak. “ Pak Itu Ayu, ternyata sedang berada di rumah Siti.” Ujar ijam. Ijam Dan Pak Dadang pun menghampiri Ayu di rumah Siti, Siti yang mendengar suara Ijam pun merasa gugup dan menjadi salah tingkah. “ Ijam , Pak, Ayo masuk ke rumah.” Ujar Ayu. “ Jangan Yu, Ijam dan Bapak akan berpamitan saja, kita di sini sudah hampir 5 hari, Aku hanya ingin menyampaikan pesan dari Krisna, jika Dia meminta maaf, entah apa maksudnya, hanya saja Aku juga tidak ingin mengetahui permasalahan Pribadi kalian, tapi Aku harap ini tidak berarti apa – apa.” Ujar Ijam. “ Yu, Bapak Juga ingin berpamitan , dan Bapak harap hubungan kamu dengan Krisna juga tetap berjalan hingga ke hubungan yang lebih serius, doakan Krisna di sana, jangan menjadikan jarak sebagai penghalang untuk kalian.” Ujar Pak Dadang. “ Sebentar Aku panggil dulu Siti.” Ujar Ayu. “ Siti, Ini Ijam ingin berpamitan.” Ujar Ayu memanggil Siti. Tidak ada tanggapan sedikit pun yang di tunjukan Siti, rasa gugupnya menjadikan dirinya serba salah, dan akhirnya memutuskan untuk mengunci dirinya di kamar, hal itu membuat Ayu kesal dan Akhirnya Ijam dan Pak Dadang pun langsung pergi meninggalkan Ayu. Ayu yang kesal menghampiri Kamar Siti. “ Siti, Kamu di dalamkan” Tanya Ayu. “ Ia, Aku Malu.” Ujar Siti. “ Kamu ini kenapa Sit, Jika Kamu seperti ini terus bagaimana Ijam bisa tahu kamu memiliki rasa terhadapnya.” Ujar Ayu. “ Aku tidak dapat menahan rasa serba salah ini Ayu.” Ujar Siti. “ Ya Sudah , Aku hanya ingin memberi tahu jika Ijam akan kembali pulang ke kota dan berita buruknya Dia tidak akan kembali dalam waktu dekat.” Ujar Ayu. Mendengar berita itu, Siti semakin tidak karuan, antara kesal terhadap dirinya sendiri dan bersedih mendengar Ijam Tidak akan kembali lagi dalam jangka waktu dekat, Siti hanya bisa menangis dan hal itu pun di rasakan Ayu, sebagai sahabat Ayu bisa merasakan apa yang Siti rasakan, saran dari Ayu belum bisa kembali membuat Siti percaya diri dan memantapkan dirinya pantas untuk Ijam. Lika liku kehidupan setiap manusia memiliki alur yang berbeda, setiap insan yang  menjalaninya harus bisa berdamai dengan masa lalu dan kembali menjalin kehidupan yang baru dan menjalani kehidupannya menjadi lebih baik di bandingkan hari kemarin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN