LANJUTAN 60

1365 Kata
Entah apa yang membuat Siti semakin gugup jika berdekatan dengan Ijam, hal itu sangat membuat Ayu merasa kebingungan dengan sikap Siti yang tidak seperti Biasanya, namun Ayu juga memaklumi hal yang Di Rasakan Siti, Siti tidak pernah merasa jatuh cinta sebelumnya, dan tidak pernah dekat dengan pria sebelumnya, hanya teman dan saudara laki – laki saja yang dekat dengan dirinya.   “ Siti, sebaiknya Kamu jangan seperti ini terus, Kasihani dirimu sendiri, tunjukan perhatianmu terhadap Ijam, jika memang Kamu menyukainya.” Ujar Ayu berdiri di balik pintu Kamar Siti. Tidak ada jawaban dari dalam kamar, membuat Ayu kembali ke depan rumah dan melihat ke arah Ijam dan Pak Dadang pergi, Ayu pun teringat dengan Kata – kata maaf yang di sampaikan Krisna melalui Ijam, Ayu melihat telepon genggam miliknya , namun pesan dalam telepon miliknya kosong, Ayu menarik nafas panjang, dan kebingungan dengan apa yang harus Dia lakukan, ego yang Dia miliki membuat tujuan baiknya harus di kubur dalam – dalam dan menunggu Krisna memulai terlebih dahulu untuk mengabarinya. Di sisi lain Pak Dadang dan Ijam yang akan pulang dan meninggalkan kampung halaman untuk waktu yang sangat lama, terpaksa bertemu dengan Pak Sugeng yang tengah ingin mengembalikan kotak pemberiannya ke rumah Pak Dadang. Mereka berpapasan dan saling menatap satu sama lain, Pak Sugeng yang biasanya di ikuti anak buahnya, kini Dia hanya sendiri dengan menenteng kotak, Pak Dadang dan Ijam pun seperti sudah siap dengan segala risiko yang akan Dia hadapi. “ Selamat datang kembali Dadang dan Anakmu di kampung ini, sepertinya kalian akan pergi?” Tanya Pak Sugeng. “ Bukan urusanmu.” Ujar Ijam. “ Tidak Baik bicara sepeti itu terhadap orang tua, dan tentu saja ini adalah urusanku." ”Ujar Pak Sugeng. “ Mau di kemanakan Kotak Itu, Kami sudah kembalikan kepada pemiliknya, yaitu dirimu, jadi Kami harap sudahi sampai di sini, Kami ingin berubah lebih baik lagi.” Ujar Pak Dadang. “ Ringan sekali Kalian berbicara itu kepadaku, dan bukannya kotak ini Kamu yang minta Dang, sebagai perlindungan rumah dan keluargamu, sekarang Tiba – tiba Kamu ini mengembalikannya, tidak semudah Itu Dang.” Ujar Pak Sugeng. “ Apa yang Kamu inginkan dari Kami sekarang?” Tanya Ijam. “ Banyak hal yang Aku inginkan di dunia Ini, termasuk melihat kalian menderita.” Ujar Pak Sugeng. “ Maaf, hal itu tidak akan pernah terjadi, Kami sekarang sangat bahagia, dan hati Kami menjadi lebih tenang setelah menjauh dari orang – orang seperti Anda.” Ujar Pak Dadang. “ Bagus sekali perkataanmu, Sudah banyak berubah ternyata Kamu Dang, dan Aku hanya mengingatkan satu hal terhadapmu, perjanjian tetaplah perjanjian, dan Kamu akan menerima akibat dari perbuatanmu Dang, Ki Amin pun sebenarnya Dia sebentar lag akan pulang, dan otomatis, semua miliknya akan turun terhadapmu, termasuk sosok – sosok yang ada di rumahmu.” Ujar Pak Sugeng. “ Dia hanya ingin memancing amarah Bapak, jangan terpancing Pak.” Ujar Ijam. “ Ia Jam, Bapak juga sudah tahu tabiat orang seperti ini, jika Bapak terpancing Dia akan memanfaatkan hal itu.” Ujar Pak Dadang. “ terharu sekali Aku melihat Kamu dengan Anak angkatmu sangat akrab, coba ingat dulu saranku, Kamu haus keras terhadap Krisna anakmu, agar Dia sega terhadapmu, bukan seperti anak angkatmu ini , yang sekarang sudah berlaga layaknya pahlawan.” Ujar Pak Sugeng. “ terserah saja Anda mau berbicara terhadap Saya, tapi yang perlu Anda tahu, Anda akan menerima akibat dari semua perbuatan yang telah Anda lakukan, Apalagi di tambah dengan perlakuan Anda terhadap orang lain yang sering membuat luka.” Ujar Ijam. “ pintar sekali Kamu berbicara, pantas saja sekolahmu sampai ke luar, dan memang terlihat hasilnya, selain pintar berbicara Kamu pun pintar sekali menghasut warga agar mengikuti saranmu.” Ujar Pak Sugeng. “ sudah Sugeng, Aku sudah muak terhadapmu, sekarang jika Kamu berani mengembalikan benda itu ke dalam rumahku, Aku tidak akan segan – segan melawanmu.” Ujar Pak Dadang. “ Ada pemberani rupanya di sini, baiklah kita lakukan hal ini secara jantan." Ujar Pak Sugeng termakan emosi. “ Baiklah, simpan benda itu, kita bermain dengan tangan kosong jika kamu berani.” Ujar Pak Dadang tersenyum. Ijam ketika melihat hal itu sempat berpikir jika Pak Dadang termakan omongan Pak Sugeng dan tersulut emosi, namun Ijam berpikir tenang dan akhirnya menyadari jika hal itu hanya pancingan agar Pak Sugeng meletakan kotak itu, Pak Sugeng pun dan Pak Dadang salig mendekat satu sama lain, Ijam yang melihat kotak Yang di simpannya bergegas berlari mengambil benda itu dan menjauhi Pak Dadang dan Pak Sugeng yang akan berduel. “ Lari Jam, Bakar benda itu sampai habis.” Sahut Pak Dadang kepada Ijam yang tengah berlari. Pak Dadang dan Pak Sugeng pun saling menatap dengan tajam, hingga akhirnya banyak warga yang melihat mereka, namun tidak berani memisahkan pertengkaran antara Pak Dadang dan Pak Sugeng, “ Pintar sekali Kamu Dang, setelah sekian lama tinggal di kota besar , membuat otakmu ikut berkembang juga.” Ujar Pak Sugeng menatap tajam mata Pak Dadang. “ Sekarang jangan banyak berbicara, tunjukan kekuatanmu di hadapan semua warga.” Ujar Pak Dadang. “ kekuatan Apa , dari dulu Aku sudah kuat, dan semua warga tahu hal itu.” Ujar Pak Sugeng. “ Warga sekalian, di sini ada seseorang yang kalian takuti dan segani d kampung ini, Dia menganggap dirinya sebagai orang pintar di kampung ini, apa kalian percaya jika dia memiliki kemampuan Itu.” Ujar Pak Dadang kepada warga yang berkerumun.  Warga tidak menjawab dan hanya terdiam. “ Lihat Dang, percuma Kamu berbicara terhadap mereka, mereka sudah termakan buaianku, dengan hartaku mereka mau melakukan apa pun.” Ujar Pak Sugeng. “ Tidak Sugeng, justru kini Kamu akan menerima akibat dari perbuatanmu.” Ujar Pak Dadang. Di sisi lain Ijam yang membawa lari kotak itu bergegas mencari sumber api, di lihatnya warga yang sedang membakar gerabah, benda itu dia lemparkan ke dalam kobaran Api hingga menjadi abu. “ Sekarang sepertinya sudah musnah, Aku Harus kembali melihat Bapak, takut terjadi hal – hal yang tidak di inginkan.” Ujar Ijam berlari kembali. Ijam sambil berlari kembali ke arah Pak Dadang Dia langsung berteriak dari kejauhan. “ Pak Benda itu sudah Ijam musnahkan.” Ujar Ijam berteriak. “ Kamu dengar sendiri Sugeng, benda itu sudah Kami musnahkan, Jadi ingat sekali lagi, jangan pernah mengganggu kehidupan Kami lagi.” Ujar Pak Dadang. “ Dan Kamu pun harus ingat, Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.” Ujar Pak Sugeng mendekati Pak Dadang dan memberikan pukulan ke arah perut dan membuat Pak Dadang tersungkur ke tanah. Ijam melihat hal itu dan warga langsung mengangkat Pak Dadang, Pak Sugeng dengan rasa kesal meninggalkan kerumunan warga dan berjanji Akan terus mencari cara untuk mengusik kehidupan Pak Dadang dan keluarga. “ Pak, Kenapa Bapak Diam saja, Bapak bisa membalas dan menangkis pukulan itu.” Ujar Ijam. “ Rasa sakit yang sekarang Bapak rasakan tidak seberapa Jam, di bandingkan perbuatan Bapak yang sudah sangat merusak, biarkan saja Pak Sugeng pergi, karena bukan kita yang akan membalas semua perbuatannya.” Ujar Pak Dadang memegangi perutnya. “ Ia Pak Ijam tahu tentang hal itu, hanya saja Ijam takut jika Pak Sugeng semakin nekat dan berbuat lebih buruk lagi.” Ujar Ijam. “ Tenang saja Jam, Pak Sugeng kini sudah tidak memiliki anak buah, bahkan dirinya kini sudah seperti orang dalam gangguan jiwa di pandangan kami, Banyak warga telah mengetahui tentang hal itu dan cepat atau lambat Pak Sugeng pasti mendapatkan balasan untuk perbuatannya.” Ujar Ayu menghampiri. “ Ayu, maafkan Bapak, Kamu jadi melihat kejadian ini.” Ujar Pak Dadang. “ jangan di pikirkan Pak, sebaiknya Bapak tinggal dulu untuk beristirahat, Di Rumah Ayu tidak ada orang, Ayu sendiri menginap di rumah Siti, Bapak bisa tinggal sementara dengan Ijam di rumah Ayu.” Ujar Ayu. “ Tidak usah Yu, Bapak Dan Ijam akan kembali ke kota.” Ujar Pak Dadang. “ Jam bantu Bapak berjalan.” Ujar Pak Dadang. Pak Dadang dan Ijam menolak tawaran dari Ayu, dan memutuskan untuk kembali pulang menuju kota, Ayu dan warga yang lain hanya melihat dan terdiam, namun rencana Pak Sugeng sungguh licik, setelah kepergian Pak Dadang dan Ijam ke kota, Ayu yang memiliki kedekatan dengan Krisna menjadi sasaran empuk untuk di jadikan bahan oleh Pak Sugeng agar bisa memancing Pak Dadang kembali ke kampung itu dan memberikan pelajaran untuk Pak Dadang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN