Setelah kejadian itu, Kini Ayu sadar, jika orang baik belum tentu mau menerima kebaikan orang lain, dan begitu pun sebaliknya, orang jahat belum tentu suka jika dirinya menerima kejahatan, Ayu pun kembali ke rumah Siti dengan wajah tertunduk dan warga yang lain membubarkan diri, Ayu hanya terdiam , dalam hati kecilnya dia ingin memberikan kabar kepada Krisna jka Bapak dan sahabatnya akan segera kembali, namun hatinya belum memberikan jalan untuk hal itu.
Di Sisi Pak Sugeng sendiri tidak di duga, sedang merencanakan hal yang buruk untuk Ayu.
“ Ayu, kenapa Aku tidak memikirkan nama Itu sejak dulu.” Ujar Pak Sugeng.
Dia langsung menghampiri kediaman Ayu , namun Ayu yang tengah terdiam merenung di kediaman Siti, melihat Pak Sugeng yang sedang menggedor rumah kosong miliknya.
“ Ada apa Pak Sugeng menghampiri rumahku, Aneh sekali, tidak seperti biasanya." Ujar Ayu.
“ Apa Sebaiknya Aku mendatanginya?” Tanya Ayu kepada dirinya sendiri.
Siti melihat Ayu yang sedang melihat sesuatu dari jendela, langsung menghampiri dan menanyakan perihal kejadian yang terjadi.
“ Ada Apa Yu?” Tanya Siti menepuk dari belakang.
“ Ini Siti, Pak Sugeng sepertinya sedang mencariku.” Ujar Ayu.
“ Sebaiknya Kamu jangan keluar Rumah Dulu, Kamu Tahu sendiri Kan Pak Sugeng itu licik, Kamu sebaiknya diam.” Ujar Siti.
“ Kita harus bagaimana ?” Tanya Ayu.
“ Aku tidak tahu, tapi Aku rasa Pak Sugeng mencarimu ada hubungannya dengan Pak Dadang.” Ujar Siti.
Mendengar pernyataan Siti, Ayu mulai merasa cemas, Ayu tidak tahu harus berbuat Apa, Ayu kembali mengintip dan melihat Pak Sugeng sedang berbicara dengan tetangga Ayu, Pak Sugeng mendapat informasi dari tetangga Ayu, jika Ayu sedang berada di rumah Siti dan orang tuanya sedang di luar kota.
Pak Sugeng langsung menghampiri Rumah Siti, Ayu pun sangat panik , dan akhirnya Ayu bersembunyi di kamar, sedangkan Siti dengan berani menghadapi Pak Sugeng, yang sudah mengetuk pintu rumah miliknya.
“ Permisi.” Ujar Pak Sugeng.
“ Ayu, cepat pergi ke kamar, jangan keluar kamar!” Ujar Siti.
“ Sebentar .” sahut Siti membalas.
Siti membuka pintu rumahnya, dengan sedikit gugup dia menjawab pertanyaan Pak Sugeng.
“ Ada apa Pak?” Tanya Siti.
“ Ayu di mana?” Tanya Pak Sugeng.
“ Ayu di rumahnya mungkin, dia tidak ada di sini.” Ujar Siti.
“ Kamu jangan berbohong, tidak Baik perempuan itu berbohong , Bapak Tanya sekali lagi, di mana Ayu?” Tanya Pak Sugeng.
“ Tidak tahu Pak.” Ujar Siti langsung menutup pintu rumahnya.
Melihat perilaku Siti yang mencurigakan , Pak Sugeng tidak tinggal diam, Pak Sugeng langsung memaksa membuka pintu rumah Siti yang sudah sempat di kunci olehnya.
“ Buka Cepat, jika tidak Aku akan mendobrak pintu ini.” Ujar Pak Sugeng.
Ayu dan Siti pun bersembunyi di kamar, orang tua Siti yang memang kebetulan tengah bekerja di ladang, tidak mengetahui jika anaknya kini tengah dalam bahaya dari ancaman Pak Sugeng,.
Pak Sugeng memang seperti sudah kehilangan akal, dirinya tidak takut untuk mengancam dan mengintimidasi orang lain demi mendapatkan apa yang dia inginkan, pintu Rumah Siti pun sempat di pukul dan di dorong secara Paksa, namun ternyata warga tidak diam saja, mendengar teriakan Pak Sugeng dan melihat Pak Sugeng yang sedang merusak pintu Rumah Siti, warga langsung menghampiri Pak Sugeng dan mencoba menanyakan maksud dan tujuan Pak Sugeng merusak rumah milik Siti.
“ kalian tidak usah ikut campur dengan urusanku, pergi kalian semua.” Ujar Pak Sugeng kepada warga yang mulai banyak dan berkerumun.
Warga melihat jika Pak Sugeng sudah kehilangan akal sehat, di matanya terlihat dendam yang begitu membara, hingga akhirnya warga mengikat Pak Sugeng dan membawanya ke rumah miliknya di ujung hutan, di sepanjang perjalanan Pun pak Sugeng tidak henti – hentinya meracau, dan berbicara tidak jelas.
“ Aku tidak akan diam saja, Aku akan membuat kalian kembali susah.” Ujar Pak Sugeng meracau.
Warga tidak menghiraukan perkataan Pak Sugeng, dan akhirnya ketika sampai di rumah Pak Sugeng, warga langsung berbondong – bondong mengunci pintu gerbang rumah milik Pak Sugeng, menghindari hal – hal yang tidak di inginkan dan kenekatan Pak Sugeng yang tengah di rundung penuh emosi.
“ Kalian Akan menerima akibatnya.” Ujar Pak Sugeng berteriak di dalam rumahnya yang terkunci.
Mendengar jika Pak Sugeng sudah kembali ke rumahnya, Ayu dan Siti yang masih merasa ketakutan, hanya bisa terdiam dan saling menatap satu sama lain.
“ Siti, bagaimana ini , Aku Takut.” Ujar Ayu.
“ tenang saja Yu, Warga juga sepertinya tidak akan diam, apalagi melihat Pak Sugeng yang kelakuannya sudah keterlaluan.” Ujar Siti.
“ Bagaimana Aku bisa tenang, Apa tujuannya mencariku, dan melakukan perusakan terhadap rumahmu.” Ujar Ayu.
“ Sebaiknya Kamu memberitahu hal ini kepada Krisna.” Ujar Siti.
“ Aku tidak Tahu ssit, Aku masih belum bisa memaafkan Krisna.” Ujarr Ayu.
“ Yu , tolong ini sudah menyangkut keselamatanmu, sebaiknya Kamu menurunkan Egomu sendiri, dan bukannya Krisna sudah meminta maaf terhadapmu, pikirkan dengan pikiran dingin Ayu.” Ujar Siti.
“ ya Sudah, tolong Kamu yang berbicara dengan Krisna.” Ujar Ayu memberikan telepon genggamnya.
Siti hanya menggelengkan kepalanya dengan kesal, namun tetap melakukan permintaan Ayu.
Siti mencoba menelepon Krisna, namun hasilnya tetap sama, tidak ada jawaban , dan hal itu membuat Ayu semakin kesal dan marah, namun tidak bisa terlampiaskan dan akhirnya menangis.
“ Aku bingung dengan Krisna sekarang, Aku mencoba beberapa kali menghubunginya, tapi hasilnya sama saja.” Ujar Ayu.
“ Sudah , keluarkan saja apa yang Kamu rasakan, menangislah semau mu, jika itu bisa membuatmu lebih baik.” Ujar Siti.
“ Ia Sit, maafkan Aku.” Ujar Ayu.
“ Aku akan menelepon Ijam saja, demi Kamu Aku akan melakukannya, demi keselamatan Kita juga, siapa Tahu Ijam punya solusi.” Ujar Siti.
Ayu hanya mengangguk, Siti pun memberanikan dirinya dan menghiraukan rasa gugupnya untuk berbicara dengan Ijam, Ijam pun langsung mengangkat panggilan dari siti, Siti hanya terdiam sesaat ketika panggilan yang di lakukannya di terima, Ijam terus menanyakan dan berbicara namun Siti tetap terdiam, hingga akhirnya Ijam akan menutup panggilan Itu dan Siti langsung berbicara.
" JAm. ini Aku Siti." ujar Siti.
" ia Siti, ke mana tadi, Aku kira ini hanya panggilan yang tidak di sengaja, Ada apa Siti?” Tanya Ijam.
“ Ini Jam, kamu Sudah sampai di kota belum?” tanya Siti.
“ Sudah Sit, Malam tadi Aku dan Bapak baru sampai di sini, memangnya ada apa Sit?” Tanya Ijam.
“ Pak Sugeng sudah kehilangan akal sehatnya Jam, Dia tadi mencari Ayu, dan akhirnya merusak pintu Rumahku, Aku dan Siti merasa ketakutan sekarang Jam, Tadi Aku sempat mengabari hal ini kepada Krisna, hanya saja tidak ada jawaban, kami di sini tidak tahu harus berbuat apa, Kami takut Pak Sugeng akan semakin nekat.” Ujar Siti.
“ Sepertinya ini ada hubungannya dengan kejadian Kemarin, Aku akan membicarakan hal ini dengan Pak Dadang dan Krisna, kalian sabar dulu di rumah, jangan dulu keluar rumah, tetap waspada, Aku akan secepatnya memberikan Kabar terhadapmu.” Ujar Ijam.
“ Ia Jam, Secepatnya kabari Kam di sini, Kami sungguh takut jika Pak Sugeng semakin gila.” Ujar Siti.
“ Kamu Sabar ya, Aku akan mencari cara secepatnya, mungkin kita bertiga akan kembali ke kampung, hanya saja Aku akan mengabari hal ini kepada Pak Dadang, Kamu terus kabari situasi Kamu dan Ayu di sana, jujur Aku khawatir terhadapmu dan Ayu, maafkan Aku Dan Pak Dadang, hingga kalian menjadi ikut terbawa dan tertekan seperti ini.” Ujar Ijam.
Siti tersenyum dan tidak menjawab pembicaraan Ijam, Ijam yang tidak mendengar jawaban dari Siti langsung menutup dan berpamitan kepada Siti di dalam telepon, Ayu yang melihat Siti malah tersenyum malu, hanya mengerutkan dahinya dan mulai bertanya tentang percakapan mereka.
“ Siti bagaimana, Kamu malah senyum – senyum,.” Ujar Ayyu.
“ Aku merasa bahagia saja Yu, ternyata ini namanya suka, indah juga rasanya.” Ujar Siti.
“ Lalu Apa Kata Ijam.” Ujar Ayu.
“ Ijam akan segera mengabariku.” Ujar Siti tersenyum.
Ayu pun keheranan dengan sikap siti, dua hal yang berbeda terjadi dalam satu kejadian, antara rasa cemas dan rasa bahagia yang di rasakan Siti, membuat Ayu semakin kebingungan , namun tetap berharap di jauhkan dari semua hal – hal yang tidak baik, terutama Pak Sugeng.