Mendengar keadaan yang di alami Ayu dan Siti di kampung membuat Ijam kembali berpikir keras, Pak Dadang dan Krisna pun di panggil untuk di ajak bertukar pikiran.
“ Krisna, di mana Pak Dadang?” Tanya Ijam.
“ Sepertinya pergi ke toko Pak Yaya, ada apa Jm, sepertinya ada hal penting?” Tanya Krisna.
“ Ada hal yang harus Kamu dan Pak Dadang ketahui, soal keadaan di kampung sekarang.” Ujar Ijam.
Krisna yang saat itu sedang membantu Ki Amin membersihkan badan, langsung terkejut , dan meminta Ijam untuk menerangkannya secara rinci.
“ Maksudmu apa Jam?, coba duduk dan jelaskan.” Ujar Krisna.
“ Ada apa lagi Jam?” Tanya Ki Amin.
“ Ini Ki, Pak Sugeng di kampung sudah berani melakukan hal yang buruk kepada warga, terutama kepada Ayu dan Siti, Ijam pikir jika Pak Sugeng merencanakan sesuatu dan masih merasa dendam terhadap Kita.” Ujar Ijam.
“ Ayu dan Siti ikut terbawa juga?, kenapa bisa Jam?” Tanya Krisna.
“ Aku kira Pak Sugeng ingin merencanakan sesuatu menggunakan Ayu, Ayu memiliki kedekatan dengan mu Kris, jadi mungkin saja Ayu akan di jadikan alat untuk balas dendam.” Ujar Ijam.
Krisna yang mendengar hal itu langsung merasa cemas dengan keadaan Ayu, Krisna langsung meninggalkan Ijam dan ki Amin untuk mengambil telepon genggam di kamar atas.
Ijam saat itu melihat ki Amin mulai menunjukkan perkembangan yang sangat baik, Dia sekarang bisa duduk dan makan dengan lahap, meskipun beberapa aktivitas masih harus di bantu, tapi dengan melihat keadaan saat itu Ijam merasa senang.
“ Jam, Sepertinya Ki Amin ingin pulang saja.” Ujar Ki Amin.
“ Pulang kemana Ki, Kita nanti mencari rumah baru dulu." Ujar Ijam.
“ Entah Jam, Aki ingin pulang dengan keadaan baik.” Ujar ki Amin.
“ Maksud Ki Amin?” Tanya Ijam.
“ Aki ingin berpulang dengan keadaan baik Jam, sudah banyak kesalahan yang Aki lakukan selama hidup di dunia ini. Aki takut jika ki Amin nanti meninggal dalam keadaan masih seperti ini, Aki ingin membuang semua yang Aki punya dan ingin berubah dengan sungguh – sungguh sebelum ajal menjemput.” Ujar Ki Amin tertunduk.
“ Aki sudah berubah sekarang, mudah – mudahan, dengan berubahnya Ki Amin menjadi lebih baik, semua harapan Aki juga tercapai, tapi Ijam berharap Aki jangan seperti ini, Aki harus bersyukur di berikan kesempatan umur lebih panjang dan bisa segera bertobat.” Ujar Ijam.
Perbincangan antara Ijam dan Ki Amin , membuat Ki Amin semakin sadar dan penuh rasa syukur, perlahan namun pasti ki Amin lebih memperdalam ilmu agama, kejadian – kejadian aneh pun perlahan menghilang, namun sosok yang sering mengikuti Krisna masih ada di rumah Pak Yaya, sebab belum ada orang baru yang akan menjadi tuannya.
Di sisi lain Bram dan Yuda, kini bekerja dalam satu kantor kembali, Bram dan Yuda ternyata terus memantau aktivitas Krisna, bukan tanpa sebab mereka melakukan hal itu, Ijam ada di balik semuanya, Ijam menjelaskan secara rinci kepada mereka, tentang keadaan saat itu, mereka pun akhirnya paham dan mengerti akan situasi Krisna saat itu.
Tepat saat itu ketika jam kantor, Bram yang kini berposisi sebagai marketing di perusahaan tempat di mana Yuda bekerja, berbincang membahas tentang keadaan Krisna.
“ Bram, ternyata Krisna tidak bermaksud untuk mengorbankan kita, dia saat itu sangat tertekan.” Ujar Yuda.
“ Ia Pak, Ijam pun mengatakan hal yang sama, Aku kasihan sama anak itu, Dia anak baik , rajin , dan jujur, tapi kondisi keluarganya yang Aku lihat membuat dia menjadi seperti itu.” Ujar Bram.
“ Kebetulan di kantor ini sedang membutuhkan tambahan marketing untuk membantu meningkatkan penjualan dan memenuhi target, apa Aku coba tarik Krisna ke kantor ini.” Ujar Yuda.
“ Jika memang Dia bersedia, kenapa tidak Pak.” Ujar Bram.
“ Ia juga ya, dari latar belakang pendidikan pun dia memadai dan cocok untuk di posisi itu.” Ujar Yuda.
“ Apa kita ke rumah Pak Yaya saja, Aku pun setelah mendengar penjelasan dari Ijam, Aku merasa kasihan sama anak itu, biasanya kita lempar candaan, bertukar pikiran, sekarang Dia hanya sendiri atau mungkin hanya dengan Ijam saja.” Ujar Bram.
“ Tidak ada salahnya, pulang kantor kita ke rumah Pak Yaya langsung, sekalian kita main, sekalian kita minta maaf juga sudah berburuk sangka terhadapnya.” Ujar Yuda.
Sore pun tiba, Bram dan Yuda tiba di rumah Pak Yaya dengan membawa makanan ke sukaan Krisna, mereka di sambut hangat oleh Ijam dan Pak Yaya yang memang kebetulan sedang berada di teras luar, Pak Dadang dan seluruh keluarga Krisna pun di kenalkan, Krisna yang belum mengetahui kedatangan Yuda Dan Bram, masih sibuk mencari telepon genggam miliknya yang hilang entah ke mana.
“ Ke mana Hp itu, semalam Aku tinggalkan di atas tempat tidur.” Ujar Krisna kesal.
Krisna terus mencari dan mencari, semua benda yang ada di kamarnya di bongkar, hingga akhirnya Krisna pun menemukan benda bungkusan putih dan Hp miliknya.
“ Benda ini lagi, apa harus Aku bakar lagi benda ini, tapi jika Aku bakar sosok itu tidak akan pergi dari hidupku selamanya.” Ujar Krisna.
Krisna menyimpan benda itu di saku celana miliknya, dengan Hp yang sudah di temukan di genggamannya, Krisna lantas turun ke bawah, sebab terdengar suara ramai dan riuh dari bawah, melihat Bram dan Yuda sedang berbincang Krisna dengan wajah tertunduk , langsung keluar dan ikut bergabung.
“ Kris.” Ujar Bram.
“ Ia Bang.” Ujar Krisna bergabung dengan mereka semua.
“ Kris, Ini Ada sedikit makanan untukmu, Kami ke sini untuk meminta maaf terhadapmu dan sekalian Aku ingin bertemu dengan keluargamu Kris.” Ujar Yuda.
“ Krisna yang harusnya minta maaf.” Ujar Krisna.
“ Mendengar penjelasan dari Ijam, Kini Kami tahu apa yang sedang kamu dan keluarga hadapi, apalagi berhubungan dengan pak Sugeng.” Ujar Yuda.
Krisna hanya terdiam dan mendengarkan semua penjelasan dari Yuda dan Bram, hingga akhirnya Ijam menjelaskan tentang kejadian yang menimpa Ayu dan Siti, hingga akhirnya mereka menyusun rencana dan memutuskan untuk kembali ke kampung.
“ Kita harus secepatnya pulang ke kampung lagi.” Ujar Pak Dadang.
“ Jangan Pak, sebaiknya bapak jangan Ikut, biarkan Ijam dan Krisna yang pergi.” Ujar Ijam.
“ Ia Pak, biar Ijam dan Krisna saja, apalagi ini berhubungan dengan Ayu, Krisna tidak bisa diam saja Pak, meskipun tangan Krisna masih berbalut perban, tapi Krisna akan berusaha.” Ujar Krisna.
“ terlalu berbahaya jika hanya kalian berdua, Aku pun ingin tahu wajah asli Pak Sugeng, lebih baik Aku Ikut.” Ujar Bram.
“ aku juga akan ikut dengan kalian, Pak Sugeng dulu sudah hampir mencelakaiku, Aku juga ingin membantu kalian.” Ujar Yuda.
Krisna pun terharu dengan keputusan Bram dan Yuda yang sangat ingin membantu dirinya, persahabatan mereka pun kembali terjalin, setiap rencana dengan rinci mereka persiapkan, pekerjaan Yuda dan Bram Pun ikut di korbankan demi Krisna, sahabat tidak hanya ada saat senang , namun ketika saat mendesak mereka akan selalu setia dan hadir untuk membantu.