LANJUTAN 45

1197 Kata
Semakin keras Pak Dadang mencoba untuk keluar dari sekapan Pak Sugeng, semakin terkuras juga tenaga Pak Dadang, di sisi lain Pak Sugeng tidak memperdulikan kegaduhan di ruangan sekap Pak Dadang.   Di sisi lain Ijam terus menerus memikirkan cara untuk bisa mengeluarkan Pak Dadang, akhirnya terbesit suatu ide untuk mengeluarkan Pak Dadang dari sana, Ijam berencana untuk memancing Pak Sugeng ke luar dari kediamannya, agar Ijam bisa mencari Pak Dadang dan membantu membebaskannya.   “ Aku akan membuat pesan palsu, untuk membuat Pak Sugeng dan anak buahnya meninggalkan rumah.” Ujar Ijam.   Ijam pun bekerja sama dengan warga , warga memberikan sepucuk surat dari Ijam, dan mengaku jika surat itu di berikan oleh orang asing, yang mencarinya.   “ Surat dari siapa ini?” Tanya Pak Sugeng sambil membuka surat itu. Surat itu bertuliskan, “ saya dari kota, ingin mengundang Pak Sugeng sebagai tamu kehormatan di sini, karena telah mengobati keluarga saya, mohon jika Pak Sugeng telah menerima surat ini, jangan memberitahukan pesan ini kepada orang lain, sebab undangan ii hanya untuk Pak Sugeng.”   Pak Sugeng tidak menaruh curiga sedikit pun dengan pesan di surat itu, Pak Sugeng pun bergegas berangkat ke kota di temani beberapa anak buahnya, rencana Ijam besar kecilnya berhasil membuat Pak Sugeng pergi, hanya saja tidak bisa membuat semua anak buahnya meninggalkan rumah, hingga akhirnya Ijam pun memutuskan untuk masuk ke rumah Pak Sugeng secara diam – diam.   Anak buah yang ada di rumah Pak Sugeng, memang sangat ceroboh dan berleha – leha, sehingga membuat Ijam sangat mudah memasuki rumah Pak Sugeng, rumahnya yang sangat luas membuat Ijam mudah masuk dari sisi mana pun, tapi justru akan sangat sulit menemukan keberadaan Pak Dadang.   Ijam masuk ke Rumah itu dengan sangat takjub.   “ Luar Biasa orang ini, barang mewah dan antik di padu padankan jadi sesuatu yang apik, hanya saja cara mendapatkan uangnya yang salah.” Ujar Ijam sambil terus berjalan mencari Pak Dadang.   Ijam harus segera menemukan Pak Dadang sebelum Pak Sugeng curiga dan kembali pulang, Hingga akhirnya suara pukulan dan gaduh dari suatu ruangan menjadi penanda mereka bisa bertemu.   “  Suara Apa itu?, Apa mungkin itu Pak Dadang?, Suaranya ada di ujung kamar itu.” Ujar Ijam sambil berjalan menuju arah suara.   Dalam satu ruangan itu terdapat banyak pintu, dan sedikit membuat Ijam kebingungan di tambah suara pukulan itu menghilang, bukan tanpa sebab tenaga Pak Dadang sudah habis, hingga Pak Dadang tersujud dan menangis, tapi tangisnya tiba – tiba terhenti ketika mendengar suara geraman dari arah pinggir dirinya, perlahan Pak Dadang menoleh ke arah geraman itu, sontak saja Pak Dadang berteriak, melihat sepasang mata berwarna merah menyala menatapnya dengan tajam, ruangan yang sangat gelap membuat mata itu sangat jelas, dan membuat Pak Dadang sangat takut.   Mata Itu terus menerus melihat pak Dadang, entah apa bentuk nya, hanya sinaran mata berwarna merah yang terlihat dan geraman yang terus terdengar, suara teriakan Pak Dadang semakin lama semakin keras hingga akhirnya Pak Dadang pun tidak sadarkan diri, teriakan itu menjadi tanda yang sangat jelas untuk Ijam , menentukan posisi ruangan dengan puluhan pintu berjajar di area itu.   “ Itu Suara Pak Dadang!, Aku Yakin, sepertinya di ruangan itu.” Ujar Ijam langsung berlari ke arah pintu itu.   Ijam pun terpaksa memukul gagang pintu dengan sebuah palu yang ada di rumah pak Sugeng, semakin keras Ijam memukul semakin kencang suara dentingannya, tapi pintu itu tidak sedikit pun goyah, dan tidak rusak sedikit pun.   “ Di buat dari apa ini gagang pintu, sulit sekali rusak, beda sekali di rumahku, di buka pakai tangan saja sudah lepas dari pintunya.” Ujar Ijam berusaha menenangkan hatinya.   Semakin keras pukulan Ijam, hingga membuat tangannya terluka, terus menerus Ijam berusaha hingga akhirnya membuahkan hasil, gagang pintu itu langsung terlepas, dan terbuka, terlihat ruangan pengap penuh debu dan suasana yang gelap.   “ Pak, Ini Ijam.” Sahut Ijam memanggil Pak Dadang.   Ijam masuk ke dalam kamar Itu, dan melihat Pak Dadang yang terkapar dengan baju yang sangat kotor.   “ Pak, Pak, Bangun, ini Ijam.” Ujar Ijam panik.   Ijam langsung menggendong Pak Dadang dan mencari jalan keluar, Pintu yang di rusaknya di biarkan begitu saja dengan harapan pak Sugeng tidak langsung mencurigai kepergian Pak Dadang.   Ijam dengan badan kurusnya mau tidak mau harus menggendong Pak Dadang, dengan terengah engah Ijam keluar dari rumah Pak Sugeng, Ijam pun membawa Pak Dadang ke dalam hutan untuk menghilangkan jejak, dan terus mencoba menyadarkan Pak Dadang.   “ Pak, Bangun Pak, ini Ijam.” Ujar Ijam sambil terus berjalan.   Akhirnya tenaga Ijam pun habis, dan memutuskan untuk beristirahat,  tepat saat itu sudah memasuki waktu malam, tapi Pak Dadang belum sadar, Pak Dadang di senderkan dekat dengan pohon besar, badannya di tutupi dengan jaket yang Ijam kenakan agar tidak kedinginan.   “ Pak, sadar, ini Ijam.” Ujar Ijam meneteskan air mata melihat kondisi Pak Dadang.   Tangan Pak Dadang mulai bergerak dan mulut Pak Dadang mulai terbuka dan gemetar.   “ Dimana ini?” Tanya Pak Dadang.   Pak Dadang begitu terkejut melihat Ijam, dan menyangka jika Ijam itu adalah jelmaan makhluk halus yang di lihatnya tadi.   “ Pergi, Pergi Kamu, berani- beraninya Kamu menyerupai anakku.” Ujar Pak DAddang sangat panik.   “ Pak Ini Ijam, masa lupa.” Ujar Ijam.   “ Tidak mungkin, Ijam sudah pergi.” Ujar Pak Dadang.   “ Ini betul Ijam Pak, sahabat Krisna.” Ujar Pak Dadang.   “ Ini hanya halusinasi, ini hanya mimpi.” Ujar Pak Dadang tidak percaya dan menggelengkan kepalanya.   “ Betul Pak, Ijam dulu berhasil keluar dari hutan ini.” Ujar Ijam.   Pak Dadang terdiam dan memfokuskan pandangannya di tengah cahaya bulan yang saat itu menjadi penerangan satu – satunya.   “ tidak mungkin, Kamu jangan menipuku.” Ujar Pak Dadang.   “ Jika Bapak tidak percaya tidak apa – apa, yang penting ijam senang Bapak masih selamat.” Ujar Ijam.   Pak Dadang masih terdiam dan kebingungan, hingga akhirnya tanda di leher Ijam yang membuat Pak Dadang menangis menyesal.   “ Ijam, maafkan Bapak, Bapak banyak bersalah terhadapmu.” Ujar Pak Dadang menangis.   “ Jangan di pikirkan Pak, Ijam juga mengerti tujuan Bapak, yang penting sekarang kita harus kembali ke kota bagaimana pun caranya.” Ujar Ijam.   “ Tapi bagaimana kita bisa keluar dari sana?” Tanya Pak Dadang.   “ nanti Ijam ceritakan ya pak, yang penting sekarang kita istirahat dulu di sini, Ijam mau bikin dulu api untuk penerangan, biar kita tidak kedinginan juga.” Ujar Ijam.   Mereka pun tinggal sementara di sana untuk beristirahat, dan mengumpulkan kembali tenaga untuk kembali berjalan, agar memberikan renggang waktu sebelum Pak Sugeng sadar jika surat itu adalah bohong belaka.   Waktu tidak terasa menunjukkan jam 10 malam, Ijam pun mengajak Pak Dadang yang tertidur untuk masuk lebih dalam ke hutan demi menghindari Pak Sugeng, Pak Dadang dengan wajah lelahnya memaksakan kaki tuanya untuk berjalan, Pak Dadang pun sepertinya selama di rumah pak Sugeng mata batinya di buka, sehingga bisa melihat sosok astral, hal itu baru di sadari pak Dadang ketika masuk lebih dalam ke hutan.   Berbagai sosok di lihatnya di dalam hutan, Pak Dadang tidak sanggup melihat mereka, dan akhirnya kembali pingsan, hal itu membuat Ijam sedikit kerepotan membantu Pak Dadang, dan harus kembali menggendongnya, Ijam pun tidak kuat lagi berjalan dan mereka pun tertidur di tengah hutan dengan di penuhi sosok yang melihat dan memperhatikan mereka dari atas pohon
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN