LANJUTAN 46

1033 Kata
Suasana semakin mencekam ketika hari semakin larut, Pak Dadang yang kembali sadar melihat Ijam tertidur berada di sampingnya, kepalanya sangat sakit layaknya terbentur benda tumpul, Pak Dadang melihat sekeliling, dan melihat berbagai Sosok sedang melihat ke arahnya, tidak adanya sumber cahaya membuat pak Dadang tidak menyadari dengan jelas sosok itu.   Pak Dadang pun berusaha membangunkan Ijam sambil memegang kepala bagian belakang.   “ Jam , Bangun.” Ujar Pak Dadang sambil menepuk – nepuk pipi Ijam.   Perlahan Ijam sadar, badannya sangat lemas, tenaganya pun habis terkuras, Pak Dadang tidak tega melihat kondisi Ijam, Pak Dadang mengambil beberapa ranting pohon untuk menyalakan api dan sebagai penerangan serta penghangat badan mereka.   Pak Dadang meminta korek api yang di bawa ijam, perlahan mulai di bakarnya ranting itu. “ Jam, sekali lagi Bapak minta maaf, Bapak sungguh – sungguh tidak bermaksud untuk membuatmu tersesat di hutan, pilihan Sangat sulit waktu itu yang membuat Bapak terpaksa melakukannya.” Ujar Pak Dadang.   “ Sudah Pak, jangan di pikirkan, Ijam juga tidak apa – apa, memangnya apa yang membuat Bapak bisa melakukan itu terhadap Ijam?” Tanya Ijam.   “ Bapak dulu di janjikan obat untuk kesembuhan Ki Amin, tapi syaratnya harus mematuhi perintah Pak Sugeng, tapi jika Bapak tidak mau menuruti bukan hanya obat yang tidak Bapak dapatkan, tapi  Pak Sugeng mengancam akan mencelakai keluarga kita, pilihan itu sangat sulit untuk Bapak, sehingga Bapak pun menurutinya tapi Bapak juga tidak membawamu terlalu dalam di hutan ini, agar Kamu bisa keluar sendiri.” Ujar Pak Dadang.   “ Ia Pak Tidak apa – apa, Ijam juga tidak merasa marah atau dendam sama sekali.” Ujar Ijam.   “ Ia Jam , jika kamu dendam pun tidak ada masalah sama sekali, Kita jangan ke kota lagi Jam, kita harus bersembunyi dulu di suatu tempat, sebab jika kita pulang ke kota, besar kemungkinan Pak Sugeng akan mencari.” Ujar Pak Dadang.   “ Lalu bagaimana Krisna dan yang lain di sana Pak?” Tanya Ijam.   “ yang Pak Sugeng cari itu Bapak Jam, Pak Sugeng tidak akan berani berbuat yang bukan – bukan Pada mereka.” Ujar Pak Dadang.   “ Dan sebaiknya Bapak saja yang pergi sendiri, bersembunyi hingga semuanya baik.” Ujar Pak Dadang.   “ Jangan Pak, bahaya jika Bapak sendirian tanpa tujuan yang jelas, di ujung hutan ini ada perkampungan Pak, di sana suasananya sangat bersahaja, Kita bisa ikut tinggal di surau untuk beberapa waktu.” Ujar Ijam.   “ Tahu dari mana Kamu Jam?” Tanya Pak Dadang.     “ Ijam tahu saat terus masuk hutan, hingga akhirnya sampai ke ujung hutan, dan menemukan pemukiman itu, hanya saja Ijam lupa – lupa ingat jalan menuju sana.” Ujar Ijam   “ Tidak apa – apa Jam, yang penting kita coba dulu, dan tentu saja ada tujuan yang jelas untuk kita bersembunyi sementara.” Ujar Pak Dadang.     Pembicaraan mereka pun sangar serius, hingga akhirnya Pak Dadang pun merasa perasaan nya mulai tidak nyaman, Bau amis mulai tercium, dan sesekali terdengar suara tangisan, yang membuat Pak Dadang dan Ijam saling memandang satu sama lain.   “ Suara siapa itu Pak?” Tanya Ijam.   Pak Dadang tidak menjawab, sebab Pak Dadang pun tidak mengetahui hal seperti ini, Hutan itu memang jarang sekali terjamah oleh manusia, orang – orang warga sekitar pun hanya berani masuk sampai Kaki gunungnya saja, bulan hanya hewan buas yang ditakuti tapi juga sosok – sosok penunggu – penunggu yang sering jahil mengganggu.   “ Sudah abaikan saja, jangan sampai kita terganggu dan panik.” Ujar Ijam.   Pak Dadang hanya mengangguk dan menuruti perkataan Ijam. Pak Dadang baru pertama kali merasakan rasa takut seperti ini, selama hidupnya Pak Dadang tidak pernah diganggu atau pun melihat sosok seperti sebelumnya, Tidak terbayangkan oleh Pak Dadang jalan kehidupannya akan seperti ini, setiap kejadian secara beruntun datang dan membuat Pak Dadang hanya bisa meratapi nasibnya.   Waktu seperti berlalu dengan cepat, Pak Dadang dan Ijam pun melanjutkan perjalanannya, meskipun dengan sisa tenaga yang tersisa, mereka bertahan hanya dengan memanfaatkan air yang ada di sungai atau pun dari embun yang berada di tanaman berdaun lebar, layaknya penjelajah hutan mereka membuka jalan baru, untuk sampai di ujung hutan.   “ Jam, masih jauh atau tidak?” Tanya Pak Dadang.   “ waktu Ijam dulu hanya sebentar, tapi ini kenapa sangat jauh, Apa kita malah tersesat Pak?’ Tanya Ijam.   “ Mudah – mudahan jangan tersesat Jam, Bapak sudah sangat cape.” Ujar Pak Dadang.   Mereka untuk ke tiga kalinya terhenti, Ijam hanya memandang ke sekitar, sedangkan Pak Dadang sedikit sungkan untuk memandang ke arah lainnya, tiba – tiba suara adzan pun menjadi penanda jika pemukiman sudah dekat.   “ ternyata sudah dekat Pak, ada suara adzan.” Ujar Ijam.   Mereka bergegas mendekati sumber suara, mereka terus berjalan hingga akhirnya suara adzan selesai berkumandang, tapi sayangnya tidak seperti yang mereka harapkan, tampaknya pemukiman itu masih jauh, hanya saja mereka bersyukur jika waktu sudah menunjukkan fajar.   Di kota pun Pak Sugeng telah sadar jika sepucuk surat itu hanya lah rekayasa, dan begitu murkanya Pak Sugeng, dan sontak teringat tentang Pak Dadang, Dia langsung kembali ke kampung dan mendapati Pak Dadang sudah tidak ada di ruangan itu.   “ tidak becus kalian, menjaga satu orang saja harus Aku yang selalu turun.” Ujar Pak Sugeng sangat marah.   Pak Sugeng langsung menyuruh seluruh anak buahnya mencari Pak Dadang ke semua sudut kampung, sampai ke kota, rasa marah nya pun amat sangat tak tertahankan, sebab Pak Sugeng sadar Pak Dadang memiliki anak yang kontra dengan pemikirannya, dan membuat Pak Dadang bisa saja sewaktu – waktu berubah pikiran dan berbalik pikiran.   Pak Dadang pun tidak henti – hentinya memaksakan Kakinya, penantian pun akhirnya tiba, sebuah pemukiman di ujung hutan terlihat sangat asri dan indah, terlihat warganya pun memiliki taraf bahagia yang sangat tinggi, tanaman – tanaman begitu subur dan mudah sekali tumbuh, hal itu membuat Pak Dadang terkesima melihat situasi di kampung itu.   “ berbeda sekali Jam di sini, di bandingkan dengan di kampung kita kini carut marut.” Ujar Pak Dadang.   “ ia pak memang, di sini Ijam dulu di terima sangat baik, orang – orang di sini sangat bersahaja.” Ujar Ijam.   Mereka berdua langsung mencari surau untuk membersihkan diri dan bersembahyang, Pak Dadang pun hatinya terasa berat dan akhirnya meneteskan air mata tanda penuh penyesalan di dalam diri serta telah menjauh dari sang pencipta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN