Pak Dadang dan Ijam akhirnya bisa beristirahat, Ijam melihat Pak Dadang sangat menyesal dengan semua kejadian yang sempat Dia Alami, Rasa syukur pun di lakukan Ijam, Pak Dadang mulai mencoba untuk kembali dekat dengan sang pencipta, Badannya yang penuh dengan tanah dan kotoran – kotoran perlahan mulai di bersihkan.
“ Pak, Ijam sangat bersyukur Bapak Kembali ke jalan yang benar.” Ujar Ijam.
“ Bapak ingin berubah Jam, mencoba mengingat semua yang dulu sempat hilang dalam diri Bapak.” Ujar Pak Dadang.
“ Perlahan saja Pak, mudah – mudahan ini menjadi titik balik perubahan untuk kita semua.” Ujar Ijam.
“ Meskipun dosa Bapak Sudah sangat besar, Tapi Bapak tidak mau terlambat berubah.” Ujar Pak Dadang.
“ Ijam Dukung kemauan Bapak, sebab tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik.” Ujar Ijam.
“ Terima kasih Jam, Bapak juga sangat bersyukur mempunyai anak – anak seperti Kamu Dan Krisna.” Ujar Pak Dadang.
“ Ia Pak, Ijam Juga berterima Kasih sudah menganggap Ijam layaknya keluarga, bahkan anak sendiri.” Ujar Ijam.
Pak Dadang akhirnya berubah, ego di dalam hatinya perlahan – lahan menurun dengan sendirinya, mata batin yang terbuka memang membuat pak Dadang ketakutan, semua kejadian yang sempat di alami Pak Dadang menjadi pelajaran untuk dirinya sendiri, telah menjauh dari sang pencipta.
Hari saat itu sangat cerah, tepat jam 8 pagi, Ijam pun mencari beberapa potong makanan untuk Pak Dadang dan dirinya, sedikit bekal yang Ijam Bawa, Ijam pun mencoba mengirit pengeluaran, Gerabah – gerabah yang sempat di produksi pun, tidak dapat terjual, karena terhalang oleh ijin dari Pak Sugeng yang kini menguasai kampung itu.
“ Pak, Ijam beli sarapan dulu, Bapak istirahat dulu di sini, sepertinya sehari lagi kita tinggal di sini, sampai situasi normal di sana.” Ujar Ijam.
“ Ia Jam, Tapi kita tidak apa – apa jika tinggal di surau milik warga sini, takutnya kita mengganggu.” Ujar Pak Dadang.
“ Nanti Ijam coba ijin ke warga daerah sini, mudah – mudahan di Ijinkan.” Ujar Ijam.
Di sisi lain Krisna sangat cemas dengan kondisi Ijam dan Pak Dadang, Kabar dari Ijam sangat di tunggu Krisna, Krisna mencoba menghubungi sebisa mungkin, Baik lewat telepon genggam atau bertanya kepada Ayu yang berada di kampung, Bahkan Bu Eni pun sudah mulai curiga dengan kepergian Pak Dadang.
“ Kamu ke mana Jam, tidak ada kabar sama sekali, tahu kalau begini, Aku juga Ikut ke sana, apa Aku coba tanya Ayu.” Ujar Krisna kebingungan.
“ Halo Yu, Kamu lagi di mana sekarang?” Tanya Krisna.
“ Kamu yang ke mana, Di sini semua orang mencari Kamu dan Pak Dadang, pergi secara tiba – tiba.” Ujar Ayu kesal.
“ Maaf Yu, Aku terpaksa membawa Semua ke kota, demi keselamatan mereka dari Pak Sugeng.” Ujar Krisna.
“ lalu sekarang ada apa?” Tanya Ayu kesal.
“ Aku justru ingin menanyakan Pak Dadang Yu, Dia pulang sendiri, Iajm menyusul tapi sekarang tidak ada kabar sama sekali, aku khawatir .” Ujar Krisna.
“ kalau Ada perlu baru minta tolong, Aku tidak tahu sekarang Pak Dadang di mana, hanya saja Pak Sugeng kini tengah mencari Pak Dadang.” Ujar Ayu ketus.
“ Tolong Yu, jangan seperti ini, Aku sadar salah, tapi ini darurat.” Ujar Krisna.
“ Ya Sudah , nanti saja Jika ada kabar, Aku hubungi Kamu, Aku sekarang mau mengantar Siti ke kampung sebrang hutan.” Ujar Ayu.
“ Ada apa Siti ke sana?” Tanya Krisna.
“ tanya saja sama siti.” Ujar Ayu marah dan langsung menutup teleponnya.
Krisna saat itu dalam posisi serba salah, di tambah dengan Ayu yang seperti menambah beban pikiran Krisna, Krisna pun memutuskan untuk bersabar dan menunggu kabar dari Ijam dan siti.
Ayu pun merasa perjuangannya selama ini dalam membantu Pak Dadang dan keluarga Krisna tidak di hargai, Ayu merasa dirinya di butuhkan saat sedang terdesak saja.
Ayu dan Siti berangkat ke kampung sebrang hutan , tepat di aman Ijam dan Pak Dadang bersembunyi, Siti mengunjungi keluarganya yang dulu sudah lama tidak bertemu, layaknya Kakak dan adik , Ayu dan Siti selalu bersama entah itu urusan penting atau sekedar bermain, mereka tidak pernah terpisahkan.
“ Yu, kenapa Kamu, muka di tekuk gitu, kusut pula, sini Aku rapikan.” Ujar Ayu sambil memegang muka Ayu yang cemberut.
“ Gak Papa Sit, Lagi marah saja sama Krisna.” Ujar Ayu.
“ Jarak jauh, memangg jadi penyebab perdebatan yu, Saling paham satu sama lain saja.” Ujar Siti.
“ Ia Sit, Oh Ia kita ke mana sekarang, memangnya jauh ya saudara Kamu itu?” Tanya Ayu.
“ Ia Yu, Kita ke kampung di seberang hutan sana, Aku Ada saudara sepupu di sana, ya sekalian kita menenangkan pikiran , suasana di sana lebih dingin, berbeda dengan kampung kita sekarang." Ujar Siti.
Ayu dan Siti akhirnya menaiki bis untuk sampai di sana, jaraknya kurang lebih satu jam perjalanan, pemandangan yang di suguhkan pun begitu berbeda, di kampung lain tanaman dan ladang tumbuh subur, berbeda dengan kampung Krisna yang menjadi gersang dan tandus layaknya gurun.
Sesampainya di sana Ayu dan Siti benar – benar di suguhkan pemandangan yang memanjakan mata, hamparan ladang yang tidak terlihat ujungnya, air jernih dan suara petani yang saling bersahutan satu sama lain di ladang, menjadi lagu penyambut Ayu dan Siti di sana.
Ayu dan Siti terus menyusuri jalan dengan penuh batu kerikil, dengan di kelilingi pepohonan rimbun, jarak yang jauh pun seperti tidak terasa melelahkan.
“ Sit , Masih jauhkan?” Tanya Ayu.
“ Sebentar lagi Yu, Di depan jalan Ini.” Ujar Siti.
Dari kejauhan Ayu pun melihat Pria dengan perawakan mirip dengan Ijam, hanya saja Ayu tidak terlalu memperhatikan dan menganggap Jika orang itu hanya mirip dengan Ijam, padahal sesungguhnya Orang itu adalah Ijam yang sedang berjalan kembali menuju surau tempat istirahat mereka.
“ Yu, Lihat siapa?, Ingat ada Krisna, jangan curi – curi pandang dengan pria lain, meskipun kalian sedang bertengkar tidak baik Kamu berusaha mencari pengganti Krisna.” Ujar Siti.
“ Kamu Ini Sit, kemana saja kalau bicara Itu, Aku hanya memperhatikan pria itu, sebab perawakannya mirip Ijam.” Ujar Ayu.
“ Memangnya Ijam Punya saudara di sini?” Tanya Siti.
“ Tidak tahu juga Sit, Sudah jangan di bahas.” Ujar Ayu.
Mereka pun masuk ke sebuah rumah sederhana, halamannya sangat bersih tidak ada satu pun s****h yang berserakan, Siti dan saudaranya sangat bahagia bertemu, sedangkan ayu masih memikirkan Krisna dan orang yang berjalan di depannya tadi, tapi Ayu tidak mau mengganggu kebahagiaan Siti dengan masalah yang tengah Keluarga Krisna hadapi.
Sedangkan Ijam dan Pak Dadang hanya menunggu dan beristirahat di surau, Ijam pun sempat meminta Ijin kepada pembuka agama di sana, dengan ijin darinya Pak Dadang dan Ijam pun bisa tenang beristirahat.
“ Selanjutnya Apa Yang akan kita lakukan Pak?” Tanya Ijam.
“ Bapak belum tahu Jam, entah Apa yang selanjutnya harus kita lakukan, Bapak takut kita salah rencana.” Ujar Pak Dadang.
“ Ya sudah Pak, sembari kita di sini, kita meminta kepada sang pencipta agar di berikan jalan yang terbaik untuk kita dan keluarga Pak.” Ujar Ijam.
“ Ia Jam, Semoga Bapak bisa mendapat pencerahan, dan hati Bapak bisa terbebas dari rasa – rasa yang buruk lagi.” Ujar Pak Dadang.
Mereka pun memilih tetap tinggal untuk beberapa saat, bukan hanya untuk menghindari kejaran Pak Sugeng, tapi juga untuk mencari ketenangan hati dan memperdalam ilmu dan lebih mendekatkan diri dengan sang pencipta.