Entah apa yang di pikirkan Krisna, di kelilingi oleh orang yang amat sangat peduli, tidak menjadikannya kuat dalam menjalani setiap ujian hidup, titik balik kehidupan yang lebih indah sepertinya ingin segera di raih oleh Krisna, untuk ke sekian kalinya Krisna salah memilih jalan, dengan pengetahuan yang dangkal, malah membuat semuanya semakin runyam dan hampir berujung petaka untuk Krisna sendiri.
Tepat saat itu cuaca sangat mendung, angin berhembus cukup kencang, jam pun masih menunjukkan 6.30 pagi, Krisna masih menyimpan rasa penasaran besar terhadap teman pak Yaya yang selalu memberi barang antik. Bahkan benda yang mirip dengan pemberian Pak Sugeng pun pernah di belinya, rasa penasaran itu belum tuntas, hingga Krisna pun akhirnya memberanikan diri untuk lebih sering bertanya terhadap Pak Yaya.
“ Pak, maaf saya jika lancang, terus menerus menanyakan hal ini ke Bapak." Ujar Krisna.
“ Kenapa Lagi Mas, jangan sungkan.” Ujar Pak Yaya.
“ Soal pertanyaan saya terhadap teman Bapak di toko.” Ujar Krisna.
“ Ia Mas, kebetulan sekali Tadinya Bapak ingin membahas soal ini kemarin itu, hanya saja Bapak melihat Mas Krisna seperti sedang banyak pikiran, Bapak Takut Akan membuat Pikiran Mas tambah beban.” Ujar Pak Yaya.
“ Tidak Pak, Saya hanya sedang ingat Pak Dadang saja. Memangnya Apa kata teman Bapak Itu?” Tanya Krisna.
“ Dia bercerita jika benda itu ingin Di musnahkan, Dia tidak mau banyak orang yang tersesat dan terganggu dengan adanya benda itu.” Ujar Pak Yaya.
“ Lalu apa saran dari Dia , agar bisa terbebas dari hal itu?” Tanya Krisna.
“ Dia menyarankan agar Mas Kris, mencari tempat pengganti untuk makhluk yang selalu mengikuti Mas dan keluarga, dan juga mencarikan majikan baru untuknya.” Ujar Pak Yaya.
“ Majikan Baru?” Tanya Krisna.
“ Dia menyarankan agar di kembalikan ke sang pemilik awal.” Ujar Pak Yaya.
“ Caranya bagai mana Pak?” Tanya Krisna.
“ Teman Bapak bilang, caranya ada dua, Mas Kris mengembalikannya secara Paksa, atau mencarikan majikan Baru untuknya.” Ujar Pak Yaya.
“ Jika harus mencarikan majikan Baru, Bagaimana Pak?” Tanya Krisna.
“ Teman Bapak menyarankan mengembalikannya kepada pemilik sebelumnya Mas, Kata beliau terlalu berisiko jika mencarikannya majikan baru, tapi jika mas Mau, Mas harus mencari benda yang sama untuk makhluk itu, dan memberikannya kepada orang yang Mau menerimanya.” Ujar Pak Yaya.
Pak Yaya pun memberikan benda yang mirip dengan milik Krisna sebelumnya.
“ Ini Mas, teman Bapak memberikannya, Takutnya Mas Kris perlu.” Ujar Pak Yaya.
Krisna tidak berkata dan langsung menerima benda itu, dirinya tidak dapat berpikir secara jernih dan hanya memikirkan cara pintas agar segera terhindar dari belenggu makhluk itu.
Keputusan yang di ambil sangat salah, tanpa berpikir panjang dan tanpa menunggu kabar dari Ijam membuatnya semakin berada dalam tekanan.
“ Hey makhluk , entah apa Kamu ini sebenarnya, jauhi Aku dan keluargaku.” Ujar Krisna di dalam kamarnya.
Sambil mengangkat benda pemberian Pak Yaya.” Ini Aku temukan rumah untukmu, Aku akan carikan majikan baru untuk mu, untuk sekarang dan seterusnya, pergi dari kehidupan Kami." Ujar Krisna penuh emosi.
Setelah berteriak secara lantang, sosok itu tidak hadir seperti apa kebiasaan sebelumnya, hal itu membuat Krisna sangat marah dan membanting benda itu ke arah tempat tidur, dan langsung keluar dari kamarnya.
Dalam benaknya kini hanya memikirkan siapa orang yang akan di berikan benda itu, dengan pemikiran yang pendek, Krisna akhirnya memutuskan untuk memberikan benda itu kepada Bram dan Yuda , dengan harapan mereka mau menerimanya.
Tapi hal itu malah membuat Bram Dan Yuda sangat marah, mereka merasa jika Krisna ternyata sahabat yang berperilaku buruk, dengan bersekutu bersama makhluk lain.
“ Kau Ini apa – apaan Kris, ternyata selama ini Kau bersekutu dengan hal seperti itu, Aku kecewa sama Kau Kris, beruntung Aku sekarang tidak satu pekerjaan denganmu.” Ujar Bram sangat marah ketika Krisna memberikan benda itu.
Sama halnya dengan Yuda, yang menolak mentah – mentah tawaran Krisna, Dan menganggap jika Krisna selama ini hanya baik di depan dan menganggap mempunyai tujuan lain.
Krisna saat itu sangat tertekan, cara yang Ia pilih sangat salah dan malah membuat Krisna di jauhi oleh sahabat yang selama ini banyak membantunya, tekanan dan rasa ingin cepat terbebas dari belenggu itu membuat Krisna kalap dan menjadikan sahabatnya sebagai jalan pintas.
Krisna mengurung dirinya di kamar, sambil memegang benda itu, Dia menggenggam penuh amarah terhadap benda itu.
“ Gara – gara Kamu, Aku jadi seperti ini, Aku tidak sanggup lagi.” Ujar Krisna.
Sosok itu terlihat hanya berdiri dan menatap Krisna, Krisna pun seperti sudah terbiasa, Dia melemparkan benda itu ke arah sosok yang sedang memperhatikannya.
“ Pergi Kau, Semuanya gara – gara Kau.” Ujar Krisna berteriak.
Mendengar teriakan itu, Pak Yaya menghampiri Kamar Krisna.
“ Mas , Ada Apa?” Tanya Pak Yaya di balik pintu kamar Krisna.
Mendengar tidak ada jawaban dari dalam kamar, Pak Yaya langsung bergegas menuju kamar Bu Eni yang saat itu sedang mengurusi Ki Amin.
“ Bu Mas Krisna berteriak di dalam kamar, sebaiknya Ibu lihat dulu ke atas, Biar Ki Amin sama Bapak Dulu di sini.” Ujar Pak Yaya.
“ Krisna kenapa Pak?” Tanya Bu Eni.
“ Kurang tahu Pak, Makannya sebaiknya Ibu lihat saja ke kamarnya.” Ujar Pak Yaya.
Bu Eni langsung naik ke lantai dua, dan memang teriakan Krisna seketika membuat Bu Eni Panik dan menggedor kamar Krisna.
“ Kris, Kamu kenapa?, Jika ada masalah ayo bicarakan sama Ibu.” Ujar Bu Eni sambil mengetuk pintu Kamar Krisna.
“ Krisna tidak apa – apa Bu, Hanya sedang kesal, Ibu Jangan Khawatir.” Ujar Krisna dari balik pintu.
“ Bagaimana Ibu bisa tenang, kamu berteriak sampai seisi rumah terganggu.” Ujar Bu Eni.
“ Maaf Bu, Tapi tolong tinggalkan Krisna sendiri, Krisna sedang ingin sendiri saat ini.” Ujar Krisna.
Bu Eni pun mengalah dan memilih meninggalkan Krisna, Bu Eni tidak bisa berbuat Banyak dan hanya berharap Krisna segera keluar dari kamar.
Hingga akhirnya suara pecahan kaca pun terdengar, mendengar hal itu, Bu Eni berteriak dan memanggil Pak Yaya, agar membawa kunci cadangan untuk membuka kamar Krisna.
Ki Main di tinggalkan sendirian, Pak Yaya pun sangat panik, dan benar, ketika Pintu kamar terbuka, Krisna sudah ingin mengakhiri hidupnya, dengan pecahan kaca.
“ Krisna.” Teriak Bu Eni sambil berlari dan memeluk Krisna dari belakang.
“ Jangan seperti ini Mas.” Ujar Pak Yaya sambil mengambil pecahan kaca di tangannya.
“ Maafkan Krisna Bu, Krisna tidak tahu harus berbuat apa lagi, Krisna tidak sanggup.” Ujar Krisna.
“ Kris, segala sesuatu itu ada jalan keluarnya, jangan sampai berbuat seperti ini.” Ujar Bu Eni.
“ Mas, Jika Terus seperti ini hanya akan menambah masalah baru, Mas harus kuat dan bersabar.” Ujar Pak Yaya.
Krisna pun melihat dengan penuh dendam ke arah sosok yang melihatnya, hanya Krisna yang mengetahui sosok itu, Krisna yang awalnya ingin mengakhiri hidup , akhirnya tenang dengan adanya Bu Eni, yang selama ini selalu jadi penyejuk untuk dirinya.
Di sisi lain, yuda pun yang sudah menganggap Krisna bersekutu dengan makhluk lain, meninggalkan rumah Pak Yaya, dan memilih mencari tempat yang baru, Yuda takut jika terus dekat Krisna, dirinya akan celaka.
Pak Yaya tidak bisa menahan kepergian yuda, Pak Yaya hanya menarik nafas sangat panjang, dan ikut mencoba bersabar dengan semua kejadian di rumahnya.
Krisna pun bisa di tenangkan sesaat, tapi terlihat Krisna sangat depresi dan tertekan, Bu Eni akhirnya memutuskan untuk membawa Krisna untuk berada satu ruangan dengan Ki Amin, Bu Eni takut Jika Krisna kembali melakukan hal yang mencelakai dirinya sendiri.
" Kenapa semua jadi seperti ini, Kamu di mana Pak?, kasihan anakmu.” Ujar Bu Eni sambil meneteskan air mata.
Semua kejadian berlalu sangat cepat, Bu Eni kini menjadi tumpuan dan penjaga untuk Krisna dan Ki Amin, Krisna kondisinya kembali menurun seperti awal, tekanan yang di rasakan Krisna membuatnya kembali dalam tekanan mental, Ki Amin pun ikut menangis melihat cucu satu – satunya sedang sakit, dan tertekan.
“ Maafkan Kakek Kris, Akibat perilaku dan perbuatan Kakek semasa dulu, sekarang Kamu yang harus menanggungnya.” Ujar Ki Amin dalam hatinya sambil meneteskan air mata.
Krisna yang awalnya sangat ceria dan humoris, kini hanya bisa termenung dan terdiam, layaknya kejadian masa lalu yang sempat Ia rasakan, gejolak dalam dadanya, dan rasa dendam yang sangat besar serta tidak adanya orang mampu untuk di ajak bertukar pikiran membuat Krisna merasa sendiri dan menganggap beban itu hanya di pikul sendiri.