Lanjutan...
Lily membayangkan baru hari pertama dan masih pagi sudah seperti ini, bagaimana hari-hari selanjutnya bahkan sampai dirinya nanti mengabdi hingga akhir hayatnya. Masih pagi saja sikapnya sudah seperti THOR, tahu THOR? dewa petir mitologi Yunani. Jika marah matanya langsung menyala bak ada listrik yang menyengat matanya.
Tidak jauh beda dengan Kendrick, mungkin jika sedang marah ia akan mengeluarkan jurus halilintarnya ke bumi, lalu meminta Zeuz untuk memporak-porandakan bumi dan isinya, taring Lucifer dan tanduknya langsung dipamerkan. Iya seperti itulah ia marah !
"Huh kenapa aku membuat kopi di persulit begini!" Lily membuatkan kopi baru lagi Kendrick. Lily mengambil cangkir gelas di atas meja, menaruh 2 sendok kopi dan menuangkan air panas dari teko elektrik. Lily mengaduk-aduk kopi dan meletakkannya di atas nampan.
Lily dengan segera membawa kopi tersebut ke kamar Kendrick kembali. Lily tidak ingin sampai Kendrick mengeluarkan taring dan tanduknya itu.
"Mengeringkan," ucapnya bergidik ngeri membayangkan.
"Ini kopinya, Tuan." Lily menaruh kopi di atas meja dari nampan yang ia bawa.
"Cepat persiapkan pakaian kerjaku dan air hangat, berikan aromaterapi!" perintah Kendrick sambil menyeruput kopinya.
"Baik, Tuan." Lily langsung melangkah masuk ke kamar mandi.
Lily memutar keran air dingin dan panas mengisi air di bathtub. Dirasa air yang ia sediakan cukup hangat, Lily mengambil aromaterapi di meja rias dan dituangkan ke bathub.
"Hmmm, harum," ucapnya yang menyium tangannya berisi air aromaterapi yang sudah dicampurkan dari bathub.
Lily sudah mempersiapkan air hangat untuk sang Tuan istana ini. Lalu Lily menghampiri Kendrick untuk memberitahu bahwa air hangat sudah siap dipakai mandi
"Air hangatnya sudah siap, Tuan." Lily memberitahu dengan senyum tipis paksa.
Kendrick tidak menjawab, ia hanya menatap dingin Lily dan langsung berjalan ke kamar mandi begitu saja. Lily juga tidak peduli ditatap seperti itu, Lalu Lily melangkah ke lemari Kendrick untuk mempersiapkan pakaiannya bekerja.
"Si Hades itu sepertinya menyukai warna hitam. Aku memilih setelan jas hitam saja," ucap Lily yang melihat-lihat banyak sekali pakaian Kendrick di lemari.
Lily bingung memilih pakaian yang mana. Karena memang Lily baru kali ini memilih pakaian untuk laki-laki, dan jika Kendrick tidak menyukai pilihan Lily pasti Kendrick akan marah dan wajahnya menjadi menyeramkan.
"Sepertinya jas ini bagus," Lily mengambil setelan jas hitam yang menurutnya cocok dan di letakkan di atas ranjang tidur.
"Jas sudah ketemu, tinggal kemeja dan dasi saja. Hmm yang mana ya?" Lily pun memilah-milah kemeja yang banyak tergantung di lemari, Lily memutuskan untuk mengambil kemeja biru muda.
"Kemejanya cocok dengan setelan jasnya"
"Hanya dasi yang belum."
Lily mencari yang terakhir, Lily membuka laci lemari tampak banyak pilihan dasi yang membuatnya bingung. Lily mengambil pilihannya dasi abu-abu bermotif garis putih dan meletakkan di atas ranjang.
"Nah sudah selesai cocok semua," ucapnya sambil menutup pintu lemari.
Justin tiba-tiba keluar dari kamar mandi dengan handuk yang hanya melilit di bagian kejantanannya itu. Rambutnya basah terlihat maskulin. Perut sobeknya terpampang kokoh, kulit yang kecokelatan membuatnya eksotis dan sangat seksi. Membuat para wanita tidak bisa berkedip menatapnya.
"Heh gadis bodoh, kenapa kau masih di sini?" pekik Kendrick.
Lily menelan salivanya melihat pemandangan tubuh Kendrick yang terpampang jelas di matanya itu. "A, a, a, akuu..." Lily tiba-tiba menjadi gagu menatap Kendrick.
"Kau tuli?" pekik Kendrick geram
Lily melongo bodoh tak berkedip menatap tubuh seksi itu.
Lily lagi-lagi menelan salivanya bagaimana bisa tahan dipamerkan tubuh seksi seperti itu. "Ma, maaf tuan besar. Aku baru selesai mempersiapkan pakaian anda," ucap Lily terbata-bata malu ketahuan melihat tubuh Kendrick.
"Sudah selesai pekerjaanmu, sekarang kau keluar!" perintah Kendrick dengan tatapan dingin.
"Baik, Tuan." Lily segera beranjak pergi dari kamar Kendrick.
"Kenapa bisa-bisanya aku terpesona melihatnya seperti itu!!" Lily menggerutu dan memukuli pelipis kepalanya pelan. "Bodoh sekali kau Lily."
Setelah Lily menyiapkan pakai untuk Kendrick. Lily menuju dapur menanyakan sarapan untuk tuannya itu. Lily ingin tahu cara bekerja 25 pelayan di rumah ini. Karena Lily juga di perintah untuk menyiapkan segalanya.
"Selamat pagi, Nona Lily," sapa Gaelan kepada Lily. Gaelan melihat Lily hanya mematung di dapur seperti orang bingung.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona Lily?" tanya Gaelan.
"Saya hanya ingin melihat sarapan pagi untuk Tuan Kendrick" jawab Lily.
"Bisakah saya membantu menyiapkan makanan Gael?"
"Tentu saja Noona, mari ikut saya." Gaelan pun mengajak Lily ke dapur untuk melihat para pelayan memasak.
Lily heran, hanya Kendrick di rumah ini yang makan, tapi kenapa para pelayan itu memasak makanan sangat banyak. Seperti ingin menggelar pesta saja. Padahal hanya makan pagi saja. Lily berinsiatif untuk memasak sendiri agar tidak mubazir membuang makanan, entah dari mana pikiran itu ingin memasak.
"Gaelan, saya rasa ini terlalu pembodohan memasak sebanyak ini," Lily mengerutkan dahinya yang tidak suka memandangi makanan tersebut.
"Ini sudah biasa kami hidangkan untuk Tuan Kendrick, Nona," ucap Gaelan membela.
"Saya saja yang memasak, kalian beristirahatlah dan cukup menunggu aku selesai," perinta Lily kepada 5 pelayan yang sedang sibuk menyiapkan bahan makanan memasak.
Gaelan pun menyerah, karena memang Lily ditugaskan menjadi asisten pribadi tuan besarnya.
Selena akan memasak sup ayam, ayam goreng mentega dan ikan goreng saja yang sederhana. Lily mengambil bahan makanan yang di perlukan, sisa bahan makanan lainnya Lily simpan di lemari pendingin. Lily mulai memotong wortel, kentang dan brokoli. Potongan sayuran tersebut ia masukan ke dalam panci dan memberikan bumbu penyedap rasa.
Setelah selesai memasak sup, Lily lalu memasak ayam goreng mentega dan ikan goreng. Semua masakan sudah Selesai, Selena menyiapkan semua makanan di meja makan.
"Semua sudah selesai Gaelan," ucap Lily tersenyum memberitahu Gaelan yang memerhatikan Lily masak sedari tadi.
Tidak beberapa lama, Kendrick datang. Para pelayan menyapa memberikan hormatnya seperti biasa. "Selamat pagi Tuuan besar," ucap mereka kompak. Kendrick hanya menatap mereka dan langsung menarik kursi untuk duduk.
"Kenapa makanannya berbeda, sedikit sekali." Kendrick heran dan menanyakan kepada Gaelan.
"Yang memasak Nona Lily, Tuan," jawab Gaelan.
"Apaaaaa!! kaauu?" pandangan Kendrick langsung tertuju pada Lily.
"Iya Tuan Kendrick, aku minta maaf. Saya hanya ingin memasak untuk anda saja." Lily yang mencoba mencari alasan, tidak mungkin memberitahu bila Lily sengaja memasak hanya karena pemborosan. Lagipula pemborosan juga tidak masalah untuknya. Tetapi entah kenapa Lily rasanya ingin memasak untuk Kendrick.
Kendrick mendengar ucapan Lily, tersenyum miring. "Kau tidak meracuniku kan?!" ucap Kendrick menurunkan alisnya yang melihat semua makanan di atas meja, dan menatap Lily dengan tatapan menyelidik.
"Tidak, Tuan Kendrick." Lily tersenyum tipis.
"Kau benar Hades, seharusnya aku memasukan saja makanan itu dengan racun,! Jadi aku bisa bebas darimu!" gumam Lily dalam hati.
"Baiklah, kenapa kau hanya mematung saja! karena kau yang memasak duduklah. Kau cicipi itu masakan!" perintah Kendrick masih tidak percaya dengan perkataan Lily.
"Baik , Tuan." Lily menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Kendrick. Lily mengambil piring dan mengisi piringnya dengan lauk dan sayur. Lily menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya.
"Sudah Tuan, masakannya dapat dimakan dan tentu saja enak," kata Lily membanggakan masakannya.
Kendrick masih menatap Lily dengan tatapan yang menyelidik. Kendrick mencoba untuk memakan dan mengambil semua makanan di dalam piringnya. Kendrick cukup terkesima dengan masakan Lily yang lezat. "Enak" gumamnya dalam hati.
"Bagaimana Tuan? apakah enak?" tanya Lily penasaran. Lagi-lagi Kendrick tidak menjawab dan tetap memakan makanannya. Lily tersenyum melihat Kendrick yang cukup menyukai masakannya.
Setelah Kendrick selesai dengan sarapan paginya, Lily mengantarkan Kendrick sampai depan pintu rumah memastikan ia sudah berangkat bekerja, sesuai dengan tugas di kertas tempo hari. 10 bodyguard sudah siap menunggu dan mengawal tuannya. Tidak lama pun 8 iringan mobil meninggalkan halaman rumah. Lily yang melihat iringan mobil tersebut terkesima, sudah seperti mengiringi Presiden Negara.