Ready For Living With The Devil

811 Kata
"Berikan surat perjanjian itu pada dia," titah Kendrick pada Steve dengan sekilas menatap tajam Lily. Steve memberikan surat perjanjian tersebut pada Lily. "Ini kau baca dan pahami," perintah Steve. Lily membaca dan mengamati dengan teliti seketika wajahnya pucat dan berkeringat dingin. Hal yang paling menyedihkan ialah mengabdikan sisa hidupnya untuk laki-laki keji seperti itu. Yang seharusnya seusia seperti Lily menikmati masa muda, mengejar cita-cita, memiliki laki-laki yang mencintai dirinya, menikah berumah tangga indah, memiliki anak dan melakukan hal-hal menarik masa mudanya. Namun, itu hanya ada dibayangan Lily saja, bahkan dirinya untuk bernapas saja tidak mempunyai kesempatan. "Apakah aku ini b***k?" gumamnya dalam hati. Kau memang b***k Lily untuk apa dirimu dibawa kesana oleh pamanmu itu. Pada inti poin perjanjian tersebut ialah tidak boleh berkata TIDAK! "Maaf, bolehkah aku meminta persyaratan ? " tanya Lily dengan gugup ingin meminta toleransi pada kuliahnya. Lily pun juga memikirkan kuliahnya bagaimanapun juga ia tidak mau kuliahnya tidak selesai karena pendidikan baginya sangat penting. Ya, meskipun ia harus mendekam di penjara di bawah genggaman Kendrick. Apa salahnya berharap? Setidaknya dengan beraktivitas kuliah, Lily masih memiliki hidup normal layaknya orang lain "Maaf Nona, apakah di dalam perjanjian tersebut ada banding?" tanya Jackson yang langsung tahu melihat ekspresi dingin tuannya itu pada Lily. Mendengar negoisasi Lily, Kendrick menjadi geram dan murka pada gadis di hadapannya ini. Beraninya meminta negosiasi. "Kau ini apa-apaan Lily. Tidak tahu malu," sergah Steve emosi memaki ponakannya itu. "Maafkan aku paman tapi aku hanya ingin menanyakan tentang kuliahku bila sedang melayani Tuan Kendrick," sahut Lily dengan memberikan senyum tipis terpaksa. "Hahahaha..." Kendrick hanya tertawa melihat ekspresi bodoh Lily yang meminta belas kasihan padanya. Jackson melihat Lily seperti itu sebenarnya kasihan. Gadis itu hanya korban keserakahan keluarganya saja ditambah hidup dan mati berada di tangan si penguasa habislah sudah. "Aku tidak peduli dengan kuliahmu itu," ucap datar Kendrick. Jackson mendengar jawaban tuannya itu tahu Jackson harus berkata apa. "Maaf Nona, kau boleh saja keluar dari rumah dengan aktivitas Nona. Namun, Nona sudah berada di rumah di jam 5 sore. Itu Peraturan dari tuan besar, jika nona melanggar dari itu maka tahu sendiri konsekuensi nya," tutur Jackson mengingatkan. Lily mendengar peringatan Jackson lagi-lagi menelan salivanya, tidak masalah bagi dirinya. Karena kuliah 1 Minggu hanya 4 kali dan selesai kuliah hanya sampai jam 4 sore. "Baiklah," jawab Lily dengan senyum tipis terpaksa. "Apa kalian sudah paham dengan surat ini?" tanya Jackson kepada Steve dan Lily. "Iya, Tuan, " jawab Steve, dan Lily hanya mengeluarkan senyum manis paksanya itu. "Baiklah, silahkan ditanda tangani surat perjanjian ini," kata Jackson menyuruh mereka menandatangani surat perjanjian tersebut. Jackson menaruh bolpoint merah mengkilap punyanya itu di atas meja. Steve mengambil bolpoint di atas meja dan menandatangani diikuti Lily yang bergantian menandatangani. "Maaf Tuan Kendrick, lalu bagaimana dengan uangnya?" timpal Steve menanyakan kelanjutan uang untuk perusahaannya itu. "Kau urus semuanya Jack," perintah Kendrick pada sang sekretaris. "Baik, Tuan Kendrick," jawab Jackson. "Hari ini, hari pertama mu mengabdikan jasamu padaku. Urus barang-barang pindahan mu itu!" ucap Kendrick dengan jari telunjuknya yang menunjuk ke arah wajah Lily "Apa? Hari ini?" tanya Lily terkejut dengan suaranya yang keras. Steve melihat Lily berbicara seperti itu langsung melototi Lily. "Lily kaaauuuu!" bentak Steve. "Baiklah, sobek surat itu sekarang Jack!" titah Kendrick pada Jackson. Kendrick tidak suka dengan bantahan Lily. Belum melakukan pengabdian saja gadis itu sudah berani membantah dan melawannya. "Berani juga gadis ini membantahku, belum melakukan apa-apa sudah berani membantah. Tunggulah siksaan ku gadis bodoh. Akan aku siksa selama masa hidupmu itu," geram Kendrick dalam hati. Lily yang menyadari kesalahan ucapannya itu langsung meminta maaf. "Jangan-jangan, Tuan besar. Maafkan aku, aku hanya kaget saja karena masih ada beberapa tugas kuliah yang harus aku kerjakan," kelit Lily memberi penjelasan terbaik agar tidak dibatalkan surat perjanjian tersebut. Lily yang polos dan malang itu masih memikirkan hidup kedua orangtua sambungnya jika benar dibatalkan. "Lily kau jika berbicara hati-hati, kau tahu sedang berhadapan dengan siapa?" pekik Steve mengingatkan Lily. "Maafkan aku, Paman," ucap lirih Lily. "Jack kau awasi dia di rumahnya dengan 3 bodyguard untuk memindahkan barang-barangnya itu," titah Kendrick. "Baik, Tuan Kendrick," jawab Jackson. "Kau urus semuanya. No mistake!" Kendrick mengingatkan Jackson agar tidak ada kesalahan apapun dan semua harus beres. Kendrick pun berlalu dari hotel tersebut dengan 7 bodyguard yang mengawal. Sementara Jackson dan 3 bodyguard yang tersiksa melakukan perintah Kendrick untuk mengawasi Steve dan Lily sampai rumah. Setelah Kendrick berlalu, kerongkongan Lily merasa kering dan haus. Lily langsungmengambil minuman yang berada di atas meja dan menenggak gelas yang berisi orange juice. Glek... Glek.. Glek... "Aku haus sekali, apa aku harus bersikap kaku seperti ini selama hidupku?" gumam Lily dalam hati yang meratapi kelanjutan hidupnya itu bagaimana. "Gadis malang," ucap pelan Jackson, yang kasian melihat Lily meminum air sampai seperti itu. Sedangkan Steve sudah pasti sangat senang dan puas. Senyum lebarnya mengembang terpampang di wajah tua jahatnya. "Akhirnya perusahaanku terselamatkan." Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN