Lanjutan....
Setiba di kediaman Steve. Jackson dan 3 bodyguard yang bersamanya memasuki kediaman tersebut. Steve dan Lily berjalan mengikuti dari belakang.
"15 menit untuk mengemasi barang-barang anda nona," tegas Jackson yang mendudukan tubuhnya di sofa ruang tamu. Sementara 3 bodyguard berdiri di samping Jackson menunggu.
"15 menit? mana cukup!" gerutu Lily dalam hati.
Jackson melihat gelagat Lily seperti itu langsung tahu, jika gadis itu keberatan dengan perintahnya yang mengemasi pakai hanya 15 menit.
"Jangan membuat saya menunggu, Nona," sambung Jackson. Jackson ini hampir sama memiliki kepribadian dengan tuannya itu. Sama-sama bersikap dingin, sorotan matanya pun juga tajam, namun Jackson masih sedikit ada rasa belas kasihan.
Maksudnya bagaimana ?
Masih bisa tersenyum. Iya tetapi hanya sedikit saja, tetap saja senyumannya itu dengan mimik wajah dingin dan kaku, itupun ia lakukan dengan paksaan.
"Baik, Tuan." Lily melangkah cepat pergi ke kamarnya untuk bergegas.
Belen melihat 4 laki-laki dengan tatapan was-was berada di rumahnya itu heran dan penasaran. Bellen langsung menghampiri Steve untuk bertanya.
"Mereka siapa, Steve?" tanua Bellen berbisik di telingan Steve.
"Laki-laki berkemeja biru adalah sekretaris Jackson kepercayaan Kendrick Hector. Sedangkan sisanya para bodyguarnya," jelas Steve memberitahu.
"Lalu untuk apa mereka di sini?" tanya Bellen bingung.
Steve menarik lengan Bellen untuk waspada dengan ucapannya. "Pelankan suaramu bodoh, kau ini bodoh sekali Bellen. Mereka di sini sedang mengawasi Lily mengemasi barang-barangnya. Hari ini Lily diminta langsung mengabdikan dirinya pada Tuan Kendrick."
"Hahaha... Baguslah, lebih cepat lebih baik dirinya keluar dari sini," sela Bellen dengan senyuman lebar mengembang.
Sementara di kamar, Lily sedang mengemasi pakaiannya dengan buru-buru, koper terbuka tergeletak di ranjang tidur. Satu-persatu pakaian yang tergantung di lemari ia ambil dan dimasukan ke koper. Lily mengemasi pakaian dengan wajah sedih dan menangis. Liky hanya diberikan waktu 15 menit pada Jackson, si sekretaris dingin dan kaku itu.
Mengemasi pakaian dengan waktu 15 menit astaga, mana cukup hanya 15 menit mengemasi barang-barang untuk tinggal hidup dengan Kendrick selama hidupnya.
Dirasa Lily sudah selesai mengemasi pakaian dan barang-barangnya, Lily tidak lupa memasukkan figura putih foto mendiang orangtuanya ke koper. Karena hanya itu peninggalan orangtuanya yang ia punya. Lily menutup resleting koper dan menarik tongkat kopernya melangkahkan kaki meninggalkan kamar tercintanya itu.
"Selamat tinggal kamar tercintaku," ucap Lily dengan wajah berkaca-kaca yang memegangi gagang pintu kamar.
Lalu Lily menyeret kopernya berjalan menemui kaki tangan Kendrick kembali. Dengan langkah berat Lily menghampiri sekretaris kaku itu
"Paman bibi aku pamit," ucap lirih Lily dengan wajah berkaca-kaca berpamitan kepada Steve dan Bellen.
"Heii Lily! kau harus memberikan pengabdian yang terbaik kepada Tuan Kendrick! Kau jangan memalukan kita!" ucap Bellen mengingatkan sambul melipat kedua tangannya. Harusnya sebagai orangtua sambung sedih, ini kebalikannya, mengingatkankan untuk menjaga nama baik keluarga.
"Jangan mengecewakan Paman Lily," tegas Steve yang juga mengingatkan. Lily mendengar ucapan paman dan bibinya hanya tersenyum tipis.
Kemudian Lily masuk ke dalam mobil Range Rover putih bersama Jackson. Smentara para bodyguard itu mengemudikan mobil masing-masing dan mengikuti dari belakang. Lily duduk di jok mobil belakang sementara Jackson yang mengemudi.
Lily terus menatapi kaca mobil dan melamun melihat setiap sudut jalan yang dilewati. Jackson melirik lily dari kaca spion, tampak sekilas ia menangis dan sesekali mengelap wajah cantiknya. Perjalan 15 menit menuju kediaman Tuannya akhirnya pun sampai.
Jackson memberhentikan mobil Range Rover putih yang ia kemudikan di sebuah rumah besar dan megah. 4 Mobil memasuki gerbang tinggi berwarna hitam terbuka begitu saja, tahu bahwa yang datang itu siapa. Mobil masuk dan menyusuri rumah megah itu, taman yang luas di tengahnya ada air mancur dengan patung putih malaikat kecil dan air keluar dari bibir mungil patung itu. Rumah putih dengan gaya eropa dengan 2 lantai, bak seperti istana di dongeng-dongeng.
Lily terkesima takjub melihat rumah yang akan ia tinggali. Rumah Steve yang ia tinggali memang besar namun tidak sebesar dan semegah rumah Kendrick Leon Hector. 4 mobil sudah berhenti di depan rumah, Lily membuka pintu mobil dan melangkah keluar .
"Wah rumahnya megah sekali seperti istana," ucap Lily terkesima.
Lily terus mendongak kepalanya ke kiri dan kanan, matanya terbelalak melihat Kanan kiri begitu terkesima melihat bangunan rumah itu. Lily membayangkan seperti di dongeng-dongeng menempati rumah istana nan megah bersama seorang pangeran dan hidup bahagia.
Namun itu hanya dikhayalan Lily saja.
Lily menepis pikiran khalayan bodohnya itu untuk sadar bahwa yang akan ia tempati sebagai b***k bersama sang lucifer.
"Tuan besar belum datang. Nona Ikuti saya, saya akan menunjukkan apa yang harus nona kerjakan selama mengabdikan dan melayani Tuan Kendrick," ucap Jackson memerintah masuk. Lily menganggukan kepala dan mengikuti Jackson dari belakang.
Saat masuk terlihat ada 25 pelayan laki-laki dan perempuan menggunakan pakaian seragam yang mereka kenakan. Para pelayan tersebut memberikan hormat dan menyapa sang sekretaris.
"Selamat malam.. Tuan Jackson," sapa mereka menundukkan tubuh memberi hormat.
"Hmm.. padahal sekretaris Jackson hanya sekretaris saja tetapi mereka sangat menghormati nya. Bagaimana dengan si Tuannya langsung," batin Lily bergidik ngeri.
"Nona ini adalah Lily ia yang akan menjadi asisten pribadi khusus Tuan Kendrick," ucap Jackson memberitahu kepada semua para pelayan.
"Apa? Asisten pribadi? untuk apa ada 25 pekerja pelayan? Apa pria itu kekurangan pelayan sampai memintaku untuk ditukar? huh bukan Tuan Kendrick tetapi Hades sang Lucifer." Lily terus menggerutu dalam hati.
"Selamat datang, Nona Lily," sapa 25 para pelayan dengan menundukkan tubuhnya memberi hormat.
"Terimakasih, mohon bantuannya semua ya," ucap Lily seraya tersenyum tipis.
"Di rumah ini ada 4 kepala pelayan, Gaelan adalah ketua pelayan dan penanggung jawab semua, Julio kepala pelayan memasak, Chalisa kepala kebersihan dan yang terakhir adalah Andi kepala pelayan taman dan kebun." Jackson memperkenalkan satu-persatu kepala pelayan dan 20 pelayan sisanya memperkenalkan diri masing-masing. Lily cukup pusing terlalu banyak pelayan di rumah itu dan tidak mengingat nama-nama mereka, Lily hanya memberikan senyuman saja.
Setelah selesai memperkenalkan para pelayan, Jackson memberi tahu kamar Kendrick dan diikuti Gaelan yang berjalan di belakang Jackson. Lily mengikuti Jackson masih dengan tentengan koper yang ia bawa.
"Ini kamar Tuan Kendrick," ucap Jackson memberi tahu letak kamar yang berada di ujung diantara gazebo dan kolam renang.
"Jangan coba-coba Nona masuk kamar Tuan tanpa perintah darinya," tegas Jackson mengingatkan.
"Huh siapa juga yang mau masuk ke kamarnya" gumam Lily mengumpat dalam hati.
Saat melihat kamar Kendrick yang berada diantara kolam renang dan gazebo, Lily tercengang melihat pemandangan yang indah dan sejuk. Kolam renang yang berada di tengah gazebo, gazebo dengan desain rotundas putih dan atap yang berbentuk melingkar kubah berwarna emas. Di samping Gazebo ditumbuhi tanaman-tanaman dan bunga yang menjuntai indah ada air mancurnya juga, sangat lengkap.
"Pemandangan yang indah."
Setelah memberitahu kamar Kendrick, Jackson kemudian memberitahu kamar Lily yang akan ditempati.
"Ini kamar anda, Nona Lily." Kamar Lily berada di lantai 2 dan letaknya dekat tangga.
"Saya sengaja menempatkan kamar Nona Lily di dekat tangga agar lebih nyaman saat tuan besar nanti membutuhkan anda," ujar Jackson, rupanya Jackson ada rasa sedikit kasihan pada Lily jika gadis itu nanti kewalahan naik-turun melayani tugas tuannya.
"Terimakasih , Tuan Jackson," ucap Lily tersenyum tipis.
"Nona Lily cukup panggil saya Jackson saja , karena hanya Tuan Kendrick lah tuan di sini," sahut Jackson mengingatkan.
Lily hanya menghela napasnya pelan mendengar Jackson berkata itu. "Baiklah, Jackson," balas Lily tersenyum tipis.
"Gaelan kau bawa masuk koper nona Lily ke kamarnya," perintah Jackson pada Gaelan ketua pelayan rumah.
"Baik, Tuan Jackson." Gaelan membawa koper Lily dan membawa masuk.
"Hari ini anda silahkan istirahat dan besok jam 6 pagi anda sudah harus siap saya jemput," tukas Jackson.
"Jemput? Memangnya kita mau ke mana?" tanya Lily bingung.
"Ikuti saja perintah saya, Nona," tegas Jackson, "selamat beristirahat, Nona Lily."
Kemudian Jackson meninggal Lily begitu saja di kamarnya dengan Gaelan yang mengekor di belakang Jackson.
"Besok ada apa lagi? Kenapa hidupku jadi diatur-atur manusia Hades itu?" keluh Lily. Lily sudah tidak bisa membayangkan hidupnya lagi seperti apa. Karena sangat jelas bagaimana dengan hidupnya.
Lily langsung masuk ke kamarnya dan menutup pintu. Lily melihat kamarnya yang cukup nyaman. Kamarnya cukup luas, namun desain kamarnya klasik dan unik. Dinding berwarna putih keabuan dengan corak bunga, ranjang tidur single bed dengan warna putih dan merah jambu. Tetapi ranjang tidur itu hanya cukup 1 orang, memang siapa lagi selain Lily yang akan tidur di ranjang itu?. Di bawah ranjang tidur ada karpet bulu berbentuk bulat berwarna putih. Rak buku yang berdesain menempel pada dinding dan di samping rak buku adalah meja belajar. Unik dan klasik seperti memang sudah dipersiapkan untuknya.
Setelah selesai dengan Jackson dan berkeliling sebentar, Lily mengambil kopernya di lantai dan merapikan barang-barang. Lalu Lily menghempaskan tubuhnya di ranjang tidur karena sangat lelah dan keesokannya Lily harus bangun pagi sesuai perintah sekretaris kaku tadi
Lily mengambil pigura putih foto mendiang orangtuanya di atas meja. "Daddy dan mommy doain Lily ya di sini, Lily sayang kalian" tidak lama, Lily memejamkan matanya dan tertidur.