Baldin menelan ludahnya sedangkan Velia menahan napas ketika melihat sosok Lian Pradja sedang duduk di sebuah sofa single berukiran mewah. Kedua orang itu benar-benar tidak menyangka bahwa mereka diajak bertemu secara pribadi oleh Lian Pradja. Namun, mereka bertanya-tanya, apa yang membuat seorang Lian Pradja yang terkenal bertangan dingin itu mengajak mereka berdua berbicara.
“Silakan duduk,” ucap sekretaris Lian Pradja. Hanya anggukan dengan gerakan kaku dan senyum tipis yang ditunjukkan Baldin dan Velia, sembari mereka duduk di satu sofa yang sama—yang berada di depan Lian Pradja.
“Saya tahu kalian pasti bertanya-tanya, mengapa saya meminta kalian datang ke sini. Karena saya tidak suka dengan basa-basi maka akan saya langsung jelaskan.” Ucapan yang keluar dari bibir Lian Pradja terkesan datar tanpa penekanan apa pun. Raut wajahnya pun sama sekali tidak ada ekspresi yang bisa ditebak.
Baldin dan Velia hanya bisa mendengar dan memperhatikan setiap rangkaian kata yang diucapkan oleh Lian Pradja.
“Ini berkenaan dengan Panca—“ Lian Pradja mengembuskan napasnya berat, seakan ingin melepas sebuah beban tak kasat mata yang sedang di hadapinya, “—kami sedang menyelidiki keberadaan Panca yang sesungguhnya, dan berharap menghilangnya Panca tidak sampai tercium publik, karena saat ini, perusahaan sedang dalam keadaan genting mengenai penguasaan saham mayoritas dan pemimpin ke depannya. Ada upaya merongrong dari dalam dengan memperbesar kepemilikian sahamnya dan pelan-pelan akan menguasai dan mengubah perusahaan yang merupakan perusahaan milik keluarga Pradja ini. Karena itu, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk melindungi perusahaan dan sengaja menunjuk diri saya sendiri untuk kembali memegang jabaran sebagai CEO sebelum Panca ditemukan.”
Baldin menyimak dengan baik, tapi Velia justru bertanya-tanya mengapa Lian Pradja menyampaikan ini padanya dan pada Baldin.
“Saya meminta kalian bekerja sama dengan saya untuk menyimpan rapat semua ini dan tidak melakukan upaya apa pun termasuk mencari Panca, karena akan bisa menimbulkan kecurigaan publik.”
Baldin mengangguk tapi Velia masih diam—tidak merespons apa pun.
“Adakah yang ingin ditanyakan?”
Velia membuka suaranya. “Maaf Opa Lian, apakah justru tidak semakin riskan kita terus menanti dan mencari keberadaan Panca tapi justru kita menyimbunyikan fakta tersebut. Bagaimana … bagaimana bila Panca tidak bisa ditemukan atau bahkan kemungkinan terburuknya—“ Velia tidak sanggup melanjutkan, bulir bening sudah jatuh di pipinya.
Baldin hanya menoleh dan sedikit mengangkat alis kirinya ketika mendapati Velia tengah terisak. Baldin merasa tidak nyaman saja. Lian Pradja sendiri hanya diam, menanti segala luapan emosional yang tengah dirasakan oleh Velia untuk cucunya.
“Tim yang sudah saya siapkan sangat profesional dan mereka memiliki kemampuan yang tidak perlu diragukan lagi, mereka pasti akan segera menemukan keberadaan Panca. Percayakan saja pada kami.”
Baldin tidak meragukan ucapan Lian Pradja, berbeda dengan Velia yang masih belum mengerti dan seolah merasa ganjal dengan hilangnya sang kekasih. Namun, Velia memilih diam, dia akan bergerak sendiri dengan kemampuannya untuk menemukan sang kekasih, tidak peduli dengan apa yang akan dihadapinya.
Ia mencintai Panca dan akan melakukan hal apa pun agar bisa menguak fakta di balik semua ini.
***
Sarapan dengan singkong atau ubi rebus sekarang ini sudah biasa bagi Panca. Ia tidak lagi protes, justru jauh lebih menikmati. Hari ini adalah hari minggu dan kegiatan bertani pun juga ikut libur. Panca sendiri bosan. Dari sejak usai sarapan hingga sekarang selang waktu dua jam, Panca hanya bergelung di atas kasur. Berguling ke sana dan ke mari. Menghentakkan kakinya dan tangan. Intinya dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
Teta ada di ruang depan, berkutat entah dengan apa karena sejak tadi hanya sibuk dengan kertas-kertasnya. Memikirkan banyak hal membuat Panca jadi ngantuk, hingga ia kini sudah memejamkan matanya. Teta berdiri, dan merapikan kertas-kertasnya, mendekat ke kamar. Ia mendesah … ketika melihat Panca tengah berbaring dengan napas teratur.
Ia mendekat ke arah Panca dan berjongkok persisi di hadapan wajah Panca. Teta hanya diam mengamati wajah Panca yang tengah tidur dengan posisi menyamping. Tampan memang, sayang laki-laki di depannya ini bernasib malang. Ia sengaja disingkirkan. Namun, kasihan bukanlah tugas dan waktu yang tepat bagi Teta saat ini, karena ia harus menunaikan tugasnya tepat waktu dan mengakhiri semua ini.
Teta mendelik tajam dan menahan napasnya ketika mendadak Panca membuka matanya—yang juga sama-sama terkejut. Mereka saling tatap sejenak, hingga Teta lebih dulu memutuskan kontak mata tersebut dengan segera berdiri. Teta berdeham pelan lalu berkata, “segera cuci muka, kita akan pergi.” Secepat kilat Teta benar-benar sudah melangkah pergi ke luar kamar.
Panca masih dengan posisinya yang tidur menyamping, benar-benar terkejut dengan aksi tatap mata tadi. Ia nyengir tipis, merasa lucu sekali dengan apa yang barusan terjadi. Rasanya benar-benar aneh hingga ia merasakan sebuah desiran halus yang membuat dadanya sedikit bergetar.
***
Panca tidak menyangka bahwa ia benar-benar tengah dibonceng oleh seorang perempuan. Padahal ia sudah bilang, bahwa bisa menggunakan motor, tapi Teta tetap tidak mau mendengarkannya. Melewati beberapa jalanan yang memilki banyak kerikil dan batu-batu itu, membuat Panca sontak memegang pinggang Teta dengan erat.
Teta terkesiap, merasakan sebuah tangan yang tiba-tiba mendekap pinggangnya itu. Ia hanya melirik sekilas dengan membuang napasnya kasar. “Tangan,” ucap Teta terkesan dingin.
“Jalannya jelek, aku takut jatuh Tet!” seru Panca dari balik punggungnya.
“Nggak akan, singkirkan tangan kamu,” ucap Teta sekali lagi memperingatkan Panca. Namun, bukannya melepaskan, Panca justru mendekap pinggang Teta kian erat hingga membuat Teta tiba-tiba mengerem mendadak. Panca pun menubruk punggung Teta hingga wajahnya terantuk ke helm yang dikenakan Teta.
“Kenapa tiba-tiba ngerem sih, sini aku aja yang bawa motor!”
Teta menoleh dan menatapnya tajam. “Ta-ngan!” desis Teta.
Panca hanya menggeleng, malah menunjukkan ekspresi layaknya bocah. Teta yang gemas, akhirnya memukul agak keras telapang tangan Panca hingga laki-laki itu mengaduh kesakitan dan pegangannya pada pinggang Teta pun sontak lepas.
“Teta!”
Kini gantian Teta yang menampilkan seulas senyumnya yang mahal dan jarang itu. Lagi-lagi desiran halus itu Panca rasakan. Entah apa itu, Panca masih belum mengerti. Hanya saja … sesuatu yang asing itu, tampaknya tidak baik bagi Panca.
***
Panca sedikit terkesima dengan tempat yang datangi ini. Ternyata Teta mengajaknya ke pasar kaget di hari minggu pagi yang ada di dekat kantor kecamatan. Orang-orang yang berkerumun dan banyaknya pengunjung yang datang. Panca awalnya sedikit risih, seumur-umur Panca baru kali ini benar-benar datang ke pasar kaget. Anggap saja ia norak, tapi kenyataannya begitu. Mal adalah tempat yang paling sering ia kunjungi dan lebih nyaman dari pada harus berdesakan dan panas-panasan begini.
“Kita harus membeli beberapa pasang pakaian untuk kamu.” Panca terkejut dan tidak menyangka akan ide si Suketi ini.
“Hah?! Beneran nih?” tanya Panca seolah meyakinkan bahwa yang didengarnya amat sangat tidak salah. Teta hanya mengangguk. Kemudian mereka pun berjalan. Teta berjalan di belakang Panca. tapi karena tempat yang benar-benar cukup padat itu hingga membuat banyak orang yang saling senggol. Akhirnya Panca berdiri menyamping dan menggenggam tangan Teta yang tentu saja membuat Teta ingin melepaskan genggaman ini.
Panca menatap Teta begitu dalam dengan nada suara yang tidak biasa. “Jangan dilepas biar aman.” Akhirnya Teta pun membiarkan genggamannya. Teta tahu, bahwa laki-laki tipikal Panca ini hanya menebar pesona saja. Mereka pun mendatangi beberapa pedagang yang dilindungi oleh tenda dari sengat panas dan hujan. Panca memilih beberapa pasang pakaian dan juga celana beserta dalamannya.
Seumur-umur, baru kali ini Panca menggunakan pakaian non merek, bahkan palsu. Seperi brief yang dibelinya ini. Rasanya Panca ingin menangis. Mereknya Calvin Klein—CK—tapi karetnya begitu gampang melar dan dengan bahan yang tipis tidak terlalu menyerap keringat, terlebih lagi coraknya sangat norak. Lalu bagian dalaman yang lain berbentuk segitiga itu, bertuliskan merek—Fazio—kali Panca ingin tertawa. Kain berbentuk segitiga dari bahan spandex itu sedikit lebih nyaman sepertinya. Tapi Fazio? Panca baru pertama kali ini mendengar dan melihat merek yang lebih mirip dengan sebuah nama klub sepak bola dari Italia—Lazio.
Jangan ditanya lagi bagaimana dengan kaus-kaus dan celana pendek yang dibeli Teta. Merek Puma, Adidas, Nike, semuanya KW level kerak telor! Mana ada kaus merek asli seharga tiga puluh lima ribu! Tapi lagi-lagi Panca tentunya tidak bisa menolak kan.
Hingga saat Panca yang sedang membawa-bawa kesrek hitam berisi pakaian kebutuhannya itu, netra Panca menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya. Ia segera meninggalkan Teta dengan mengendap-endap dan berhasil mengecoh Teta. Sesekali Panca menoleh ke arah belakang, dan melihat Teta masih asyik dengan kegiatannya. Panca menarik lebar bibirnya ke atas, seakan mendapatkan sebuah kemenangan dan kebebasan.
Namun, sayangnya, begitu Panca berbelok ke sebuah gang, Teta sudah berdiri di hadapannya dan siap menarik pelatuk senjatanya. Tatapan kilatnya yang merah menyala tajam itu, benar-benar membuat Panca tidak berkutik dan terpaku di tempatnya berdiri. Sontak ia mengangkat kedua tanganya.
Teta berbircara dengan nada suara yang kali ini lebih mengerikan, “sudah kubilang bukan, hati-hati agar tidak berusaja melarikan diri.” Netra Panca semakin membulat. Ia tidak tahu harus apa dan bagaimana. Apa pun alasannya semuanya akan terasa sama, bahwa ia dianggap kabur melarikan diri.
***