Di gang sempit ini, keadaan Panca kian terdesak. Ia bingung harus menyampaikan apa. Meski takut dengan tatapan tajam Teta yang begitu nyalang dan mengilat merah, Panca tetap berusaha terlihat tenang. "Aku sama sekali nggak ada niat untuk kabur." Teta hanya diam, menatapnya seolah ingin berteriak 'bullshit'. "Aku tadi liat orang jual gelang dan pengen lihat--" Panca mendelik dan dahi dikeringatnya mengucur deras. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanya karena terik matahari bukan karena ketakutan pada Teta. Mengarahkan tangannya ke depan, memberi kode pada Teta agar menahan diri, untuk tidak mengokang senjata laras pendeknya itu. "Oke, aku berusaha kabur!" akunya. “Kak Sekar?” suara lembut itu memanggil nama Teta, dan segera Teta menurunkan senjatanya. Teta melongok dari balik

