Panca dan Teta memiliki kemiripan yang sama—tim bubur campur bukan diaduk, bahkan mereka memesan menu bubur yang sama; bubur dengan toping ayam suwir, telur rebus, bawang goreng dan kerupuk. “Kenapa pesanan kamu sama kayak aku?” tanya Panca dengan nada sewot. Teta hanya menoleh sesaat dan menggumam ‘hm’ lalu kembali menyuapkan bubur ke dalam mulutnya. Ila justru merespons Panca. “Ih, iya, Aa Pan sama Kak Sekar kok bisa sama sih pesanannya, tapi nggak mungkin jodoh lah ya, soalnya kan jodohnya Aa Pan itu Say.” Kini gantian Panca yang dibikin kicep. Ia menyuap dirinya sendiri dengan lahapan kasar, sedangkan Teta meneguk minumnya sembari tersenyum tipis mendengar pernyataan berani dari putri Pak Kar itu. Teta berdiri dan Panca yang melihat dengan masih mengunyah bubur dan kerupuk—memper

