BAB 9 - Adu Tatap

1270 Kata
“Ini untuk Pak Kar dan rekannya makan siang nanti,” ucap Teta sembari menyodorkan dua rantang besi. “Oh iya, makasih Neng Sekar. Ini saya taruh dulu ya di sini, mau cuci tangan dulu Neng.” Pak Kar permisi melewati dua orang yang tengah saling menatap tajam. “Apa yang kamu pikirkan?” Panca menggeleng, “nggak ada.” “Masih ingat tugas kamu kan?” “Oh … tentu ingat dong, saya yang akan bertanggung jawab semua lahan di sini, empat bulan kan? Nggak kurang nggak lebih.” Teta menipisikan bibirnya, “tergantung—“ “Bentar! Kok tergantung sih! Kesepakatannya cuma empat bulan!” seru Panca tidak terima. Namun, Teta hanya diam saja sama sekali tidak merespons apa pun dan hanya menggaruk daun telinganya. Dalam diri Panca seakan bergemuruh, merasa dipermainkan oleh seorang wanita. “Gue bisa laporin lo atas dasar penculikan dan ancaman, bisa jadi lo ngincer harta gue yang lebih besar,” ucap Panca dengan nada retoris yang memprovokasi. Namun, Teta tetap bergeming. “Jangan-jangan laporan yang lo kasih lihat semuanya itu palsu, dan lo manfaatin itu semua dengan nahan gue di sini.” Teta hanya melirik sekilas ke arah Panca, lalu megeluarkan ponsel Samsung jadulnya. Mengutak-atik ponselnya sebentar dan menunjukkan sebuah laman berita pada Panca. Headline laman berita itu terpampang jelas di sebuah portal berita harian terkenal. KPK TENGAH MENGUSUT DUGAAN KORUPSI IMPOR BAHAN BAKU KEDELAI YANG MELIBATKAN BULOG DAN TAIPAN TERNAMA PARA PETANI KEDELAI LOKAL MELAKUKAN PROTES TERHADAP KEBIJAKAN IMPOR KEDELAI YANG MELEMAHKAN HARGA KEDELAI LOKAL PERMAINAN HARGA KEDELAI, TEMPE DAN TAHU TAK LAGI TERJANGKAU! Panca menahan napas selama membaca portal berita tersebut. Memang nama kakeknya dan perusahaan PT Boga Rasa sama sekali tidak disebutkan, tapi dugaan-dugaan yang ditunjukkan dalam berita tersebut mengarah pada perusahaan keluarganya. “Kamu tahu berapa upah para petani kedelai itu? Dan berapa keuntungan mereka? Permainan impor kedelai sudah sejak lama terjadi, para perusahaan dengan bahan baku utama kedelai lebih banyak menggunakan kedelai impor hampir tujuh puluh persen untuk proses produksi dengan dalih menekan harga, padahal banyak petani lokal yang semakin menjerit, dan panen yang akhirnya sia-sia karena permainan harga pasar.” Ucapan Teta terkesan dingin, netranya memandang hamparan tanah yang siap akan ditanam. “Maka, bukankah dengan merasakan sendiri bagaimana menanam dan menghasilkan biji kedelai yang berkualitas, sebagai calon pemimpin akan membuat kamu benar-benar paham dan bisa berlaku adil ke depannya? Tenggat waktu kamu empat bulan, dan semua tergantung kamu. Sebelum empat bulan dan kamu berusaha melarikan diri, maka akan dengan mudah dan cepat, semua bukti-bukti ini akan sampai ke media.” Teta berlalu begitu saja, meninggalkan Panca yang termenung atas perkataan gadis itu. Dia tidak pernah sedikit pun tahu akan proses dari hulu ke hilir. Lebih banyak yang ia tahu adalah hanya seputar manajemen perusahaan. Ucapan Teta seakan memukul telak hati dan pikirannya. *** Velia menggingit-gigit kukunya. Sudah dua hari ini, dan Panca sang kekasih masih belum ada kabar berita sama sekali. Ia melangkah ke sana ke mari di dalam kamarnya. Temannya Siska sampai menatapnya malas karena terus-terusan harus menunggu Velia tenang. “Panca nggak mungkin gini, ini aneh!” gumam Velia. Siska mendengkus, “nggak mungkin gimana sih Vel, udah jelas Panca sampai sekarang nggak ada kabar, malah besok kan yang gue denger bakal ada penentuan untuk pimpinan CEO Boga Rasa. Udah jelas berarti Panca menghilang atau ya kabur.” Velia melotot tajam, “lo nggak lihat apa dia di pesta malam itu gimana? Dia benar-benar semangat Sis, bahkan Panca udah banyak mulai merancang bagaimana dia akan menjalankan Boga Rasa. Ini tuh impian Tante Sufi yang sangat diharapkan Panca, jadi nggak mungkin dia tiba-tiba menghilang gini aja.” “Ya terus lho mau apa? Lo juga kan kudu kerja, endorse dan pemotretan produk aja tiga hari ini lo anggurin, lo mau jadi miskin dan dibuang sama keluarga lo, kayak saudara tiri lo itu,” sindir Siska. “Jangan bawa-bawa dia, kita enggak punya hubungan apa-apa, selamanya gue nggak sudi dia jadi kakak tiri gue!” “Tapi lo kepikiran nggak sih, dia di mana sekarang? Sampai sekarang nggak ada yang tahu dia di mana kan? Malah itu si—“ “Stop Siska! Kita lagi ngomongin cowok gue, Panca! Bukan dia! Gue enggak mau denger lagi!” Siska berdecak dan berdiri, ia melangkah ke arah Velia dan berbisik. “Lo jangan lupa, apa yang udah lo lakuin waktu itu.” Velia menegang. Tanganya terlipat di depan d**a. Andai saja ia tidak butuh Siska, sudah pasti Velia akan menendang parasit itu jauh-jauh. Velia mengembuskan napasnya perlahan, inhale-exhale, ia berusaha menenangkan pikiran dan tidak perlu mengambil hati ucapan Siska. Yang harus Velia fokuskan sekarang adalah pencarian Panca. *** Setelah melewati tengah hari dan istirahat makan dan ibadah, akhirnya Panca mulai berhasil menanam bibit biji kedelai. Ia semringah, bibirnya bahkan tersungging begitu lebar, dadanya seakan semakin tegap akan perasaannya yang membuncah. Sungguh! Bagaikan memenangkan piala pertamanya, Panca sampai memekik girang ke arah Pak Kar dan berlari memeluk pria itu. “Pak Kar! Saya berhasil kan! Ini saya sudah betul kan cara nanamnya!” seru Panca sembari memeluk lalu menunjuk-nunjuk ke arah tanah yang sudah ia tutup sempurna itu. Pak Kar ikut tersenyum haru hingga matanya berkaca-kaca. “Mas Panca cepat belajar, saya salut sekali,” puji Pak Kar. Wajah Panca memerah, senyumnya kini tampak malu-malu atas pujian dari Pak Kar yang tampak tulus. “Ah, jangan begitu Pak Kar, ini juga berkat Pak Kar yang sabar mau ngajarin saya,” ujar Panca merendah diri. “Anak-anak di kampung sini banyak yang pergi ke kota, mencari pekerjaan. Banyak yang beranggapan malu jadi petani, katanya nggak ngikutin jaman. Kalau pun ada pemuda, mereka malah banyak yang jadi beban orang tuanya, kerjaannya juga cuma nongkrong dan malah suka main sana-sini, pacaran di area waduk.” “Upah dari bertani ini berapa Pak Kar?” tanya Panca yang sudah penasaran sejak Teta mem-brain stormingnya. “Dulu, beberapa tahun lalu cuma tiga puluh ribu Mas Panca, tapi sejak juragan yang ambil alih dan membeli semua lahan di sini, upah jadi naik sekarang enam puluh lima ribu, dan mendapatkan jatah sembako juga makan siang. Sistem makan siang, istri-istri kami mendapatkan giliran pesanan membuat bekal makan siang untuk para petani yang menggarap sawah-sawah juragan, jadi kami setidaknya benar-benar di berikan hidup layak dan diayomi.” Panca merasa terheran. Dari penjelasan dan perkataan Pak Kar, si juragan ini adalah orang yang baik, dan seperti dielu-elukan oleh para petani di sini, termasuk Pak Kar yang selalu tampak takjub dan kagum setiap bercerita mengenai juragan ini.   “Juragan ini hanya punya ladang kedelai?” tanya Panca lagi. “Oh banyak Mas, tapi yang jadi fokusnya juragan kedelai dan padi, dan untuk pengolahan hasil biji kedelainya ada di balik sawah ini mas,” jelas Pak Kar. Panca mengangguk, kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya. Meski peluh menetes, kaki dan tangannya cenderung kotor bahkan Panca pun bisa menghirup aroma keringatnya sendiri, ada rasa bangga terselip dalam diri Panca. Seumur-umur dia baru kali ini benar-benar bekerja keras dan benar-benar memahami arti membanting tulang yang sebenarnya. Sesaat Panca merasakan punggungnya pegal serasa akan encok, maka ia menegapkan punggungnya, dan melalukan perenggangan otot-ototnya, melemaskan leher dengan menggerak-gerakkan ke kanan dan ke kiri. Pun sama dengan kedua tangannya yang ditarik ke belajang dan ke depan, juga ke samping. Saat Panca merenggangkan tangannya ke arah kiri, netra Panca bertemu dengan netra Teta. Mereka terdiam sejenak—saling bersitatap. Kali ini pandangan Teta pun tampak beda, tidak tajam atau berusaha mengintimidasi seperti biasanya, tapi juga tidak lembut, cenderung datar tapi membuat perutnya melilit perlahan. Panca berdeham menetralkan dirinya yang sedikit salah tingkah karena adu tatap dengan Teta. Panca terus merapal mantranya dalam hati. Cuma adu tatap jangan baper!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN