Panca melongo, bibirnya menganga cukup lebar ketika melihat luasnya ladang yang akan ia tanami bibit kedelai. “Pak Kar ini berapa lama kita selesai menggarap ladang ini?” tanyanya.
“Kalau saya biasanya satu minggu paling cepat, ini kita kemarin tiga minggu yang lalu habis panen kemudian tanahnya digemburkan agar bisa subur.”
“Satu minggu?” tanya Panca tidak percaya, ini lahan tanah sawah ini ada enam petak dengan lebar yang hampir 100 meter persegi. Seberapa cepatia harus bekerja. “Kerja kayak gini ada targetnya nggak sih Pak, atau SOP gitu?”
“S.O.P itu sop? Kuah sop?”
Panca ingin tergelak. Ia lupa kalau orang yang di depannya ini adalah petani yang tentu saja tidak akan mengetahui apa itu SOP. “Bukan Pak Kar, maksud saya itu cara kerjanya menanam dan merawat kedelai biar cepat, panennya baik dan hasilnya bagus.”
“Oh, yang namanya petani ya nggak pernah ada bukunya, ilmunya cuma lihat dari orang-orang dulu gimana caranya bertanam dan bertani,” ujar Pak Kar.
“Ini cara nanamnya gimana Pak Kar?”
Pak Kar tersenyum menampilkan giginya yang rapi tapi agak berwarna kuning itu. “Nanam kedelai hampir sama kayak padi, tapi jauh lebih muda. Yuk, sini Mas Panca langsung masuk ke sawah aja,” ajak Pak Kar.
Panca menelan ludahnya kasar, harus masuk ke tanah yang becek dan lembek, tanpa memakai sepatu boot, ia membayangkan bila ada sesuatu yang bergerak di bawah telapak kakinya. Seketika Panca bergidik—antara geli dan ngeri.
Melihat keraguan dan ekspresi Panca yang ngeri melihat tanah becek itu, Pak Kar sontak tertawa. “Mas Panca nggak pernah kerja kasar?”
Panca hanya menggeleng dan nyengir—merasa tidak enak hati. Sangat ketahuan sekali kalau selama ini, dia hanya mengasah otaknya, sedangkan ototnya yang besar, badannya yang berbentuk kotak enam itu, hanya ia asah karena hasil olahraga dan gym. Jangankan pekerjaan kasar semacam bertani begini, untuk pekerjaan paku-memaku saja, ada asisten rumah tangga laki-laki yang bertugas untuk; angkat galon, paku dinding, genteng bocor, rumput, dan sebagainya.
Dari tempatnya berdiri, Teta bisa melihat si anak mama yang katanya calon pemimpin perusahaan besar itu tengah ragu hanya melihat tanah becek. Teta menghampiri Panca dan Pak Kar, membawa sebuah plastik warna hitam di tangannya.
“Pakai ini,” ucap Teta dengan nada terkesan dingin dan melempar pelan plastik itu ke arah Panca. Dengan sigap Panca menangkapnya, dan meremas-remas dari luar. Ia mengernyit, karena merasakan yang di dalam plastik itu tampak seperti terbuat dari bahan karet.
“Buka! Bukan diremas-remas,” titah Teta dengan nada cukup tinggi.
Lagi-lagi si calon CEO itu nyengir tanpa dosa lalu membuka plastik tersebut. Netra Panca sontak membelalak saat melihat isi plastik tersebut.
“Eh sepatu boot?” Panca tidak percaya bahwa Teta begitu pengertian padanya.
“Pakai dan segera lakukan tugasmu. Makin siang kerja, makin panas,” kata Teta lagi.
Sekali lagi, Panca memberikan cengirannya lebih lebar dari yang pertama. “Ini kamu perhatian? Takut saya kepanasan?” goda Panca dengan menggunkan bahasa yang baik dan benar sesuai KBBI.
Teta hanya menatapnya malas. “Perhatikan dengan baik setiap cara dan teknik yang diajarkan oleh Pak Kar, karena mulai lusa, kamu akan mengerjakan ladang ini sendirian.”
Panca benar-benar memelotot sangat lebar. Gila! Yang benar saja! Sawah seluas ini gue garap sendirian!
Panca hendak protes dan mengejar Teta yang sudah berjalan melewatinya, tapi sebuah suara pelatuk senjata terdengar, dan Teta berbalik. Panca segera menahan napasnya.
“Kenapa? Mau protes?” tanya Teta sembari mempermainkan senjatanya.
Panca pun mengeluarkan jurus andalannya sejak mulai jadi ‘korban’ penculikan yaitu menyengir. Panca memberikan senyuman kakunya dan menggeleng. “Enggak kok. Titah Teta akan hamba laksanakan,” ucapnya sembari membungkuk ala butler-butler di Eropa.
“Oke.” Teta menanggapinya dengan mengangguk lalu kembali berbalik dan segera melenggang pergi. Melihat punggung Teta yang sudah menjauh, Panca segera melakukan gerakan-gerakan meninju di udara yang diarahkan ke punggung Teta dengan tatapan kilat mata yang menyalang dan tajam. Namun, begitu Teta menghentikan langkahnya dan berbalik ke hadapan Panca, laki-laki itu segera menggerakan tangannya ala senam SKJ 2000.
“Lagi pemasanan dulu, boleh kan,” ucap Panca dengan merenggangkan kedua tangannya berpura-pura sedang senam sembari berhitung. Panca segera berbalik ke arah Pak Kar yang sudah menunggunya cukup lama untuk siap menanam kedelai. “Ayo Pak Kar! Mari kita bekerja! Garap sawah mereka!” Panca berseru dengan teriakan yel-yel bernada mirip dengan salah satu program TV yang melakukan aksi bongkar pasang rumah.
Teta tersenyum tipis dan menghela napasnya pelan. Si calon CEO itu setidaknya tidak susah untuk diancam.
***
“Bukan gitu Mas Panca—“ ucap Pak Kar sudah yang entah ke berapa kali. Sudah hampir satu jam, tapi Panca masih kesusahan untuk menaburkan benih. Menggali tanahnya saja kurang pas secara perhitungan, padahal Pak Kar sudah menjelaskan dan mempraktikkannya dengan detail dan pelan, bahwa pada kondisi tanah yang ada di ladang ini, kedalaman tanahnya harus ga boleh lebih dari 5 cm, dan minimal hanya tiga-lima biji saja yang ditanam, kemudian ditutup dengan benar menggunakan tanah kembali. Namun, Panca memang kesulitan terutama memegang sekop, memegang tanah yang harus ia sentuh langsung dengan kulit tangannya.
Panca sedikit—yang benar adalah ia cukup jijik.
Panca mengelap keringatnya di sekitaran wajah. Kini ia paham betul manfaat kain ini. “Pak ini kok susah sih Pak ngukur kedalamannya tanah, harus lima senti ini, gimana ngukurnya kalau nggak ada penggaris?” keluh Panca.
“Waduh Mas Panca, ya nggak mungkin pakai penggaris, harus pakai perasaan, Mas. Harus sering praktik Mas, biar akhirnya perasaannya terasah dan bisa nentuin yang pas ini sudah dalam atau belum.”
Panca menggaruk lehernya sebelah kanan yang tentu saja tidak gatal. Ia hanya bingung, pusing juga haus dan lapar! Padahal ia baru bekerja belum juga satu jam! Kali ini Panca mulai mengkhawatirkan perutnya akan membuncit bila seperti ini. Tapi dia ingat si Suketi itu kan pellit, mana mungkin akan memberikan Panca makanan enak seperti kemarin.
“Gini aja Mas Panca, coba pakai jari telunjuk aja, masukan ke tanah sambil diukur dalamnya, kalau kira-kira udah pas, kasih tanda buat digali baru masukin bijinya,” jelas Pak Kar. Sayangnya, muridnya yang ganteng tapi manja itu malah cengo karena justru membayangkan hal yang lain.
“Dicoba pakai jari Mas Panca, biar sensitip,” ucap Pak Kar dengan logatnya yang campuran ngapak dan Sunda.
Panca melirik sedikit tajam ke arah Pak Kar, mendecakkan bibirnya pelan. Dengan berat hati, Panca mencoba memasukkan jari telunjuknya. Baru masuk setengahnya, Panca berteriak karena sesuatu yang basah dan agak kenyal tapi tipis menyentuh jarinya, hingga ia mengedikkan bahunya—geli.
Pak Kar lagi-lagi hanya tertawa, kali ini bahkan lebih kencang seakan puas menertawakan sang putera mahkota Panca Arjo Mahawira yang tampak lucu menggelikan. “Kita istirahat dulu aja Mas, minum-minum dulu, tadi istri saya sudah bawakan bekal kopi dan gorengan ubi sama bakwan.”
Mereka duduk di gubuk pinggir ladang, menikmati hangatnya kopi yang tersedia di sebuah termos satu liter. Pak Kar dengan ramah menyuguhkan makanan dan minuman bekalnya—yang sudah disiapkan oleh istrinya untuk dibagi bersama Panca.
“Mari Mas Panca diminum dan dimakan jangan sungkan,” ucap Pak Kar. Panca mengangguk dan menerima kopi hitam pemberian Pak Kar di gelas plastik. Setelah tadi sarapan singkong rebus dan teh pahit, kini ia makan snack pagi dengan ubi goreng tepung, bakwan dan juga kopi pahit. Seumur-umur Panca baru kali ini makan ubi goreng tepung, kalau bakwan atau bala-bala, sudah sering asisten rumah tangganya membuatkan camilan itu.
Panca menghidu aroma kopi hitam yang berbeda dari kopi biasanya ia beli di kafe-kafe bahkan yang bermerek sekalipun. Warna hitamnya pekat, aroma kopinya berbeda, terasa benar-benar original, pahitnya justru membuat rasa kopi yang diteguknya ini menjadi lebih nikmat. Panca bahkan sangat betah menghidu aroma kopi dari asapnya yang mengepul itu, kemudian menyesapnya perlahan.
“Rasa kopinya beda ya Mas Panca?” tanya Pak Kar dengan raut wajah yang puas.
Panca mengangguk, “ini kopinya ditambahin apa Pak?”
“Cara mengolahnya aja yang beda Mas. Istri saya beli biji kopi langsung dari petani kopi, yang ada di desa sebelah ada tokonya di ujung gang desa, lalu disangrai sendiri dengan jagung baru dipisahkan, terakhir ditumbuk. Prosesnya murni, pakai tangan dan cinta dari istri, makanya rasanya beda dari yang lain. Saya pernah diajak ke kedai kopi yang tempatnya bagus-bagus itu, masih kalah jauh dengan kopi buatan istri saya,” ucap Pak Kar bangga.
Panca bisa melihat ada binar cinta dan juga bangga dari seorang laki-laki paruh baya, yang mungkin berusia sama dengan seseorang yang sudah menghilang dari hidupnya dan sang mama.
“Besok Mas Panca akan mulai mengurus ladang ini sendirian, karena saya mendapatkan amanat dari juragan untuk benar-benar hanya melatih Mas Panca dalam satu hari agar bisa dan terbiasa menanam kedelai.”
“Juragan? Sebenarnya yang punya ladang ini siapa Pak? Orangnya tinggal di sini?” tanya Panca dengan rasa penasaran yang sudah diubun-ubun.
“Tinggal di desa sebelah. Orangnya baik dan berkat beliau akhirnya desa ini bisa memiliki ladang persawahan untuk digarap dengan upah yang berbeda dari tempat lain.”
“Berarti ini saya juga kerja di juragan yang punya lahan ini?”
“Ya jelas Mas Panca kan nanti dibayar sama juragan. Cuma katanya sekarang ini semuanya diurus sama Neng Sekar, jadi kalau ada apa-apa harus laporan ke Neng Sekar.”
“Sebenarnya namanya cewek judes itu siapa Pak? Atau Teta?”
“Kenapa dengan namaku?!” suara Teta terdengar membuat Panca dan Pak Kar menoleh ke arah sumber suara itu.
Dalam hati Panca menjerit. Mati gue! Kena kokang lagi!
***