Panca terbangun pada pukul dua belas malam, dan mengira bahwa sudah mulai subuh, tapi ternyata malah masih tengah malam. Mungkin karena hidup di desa, membuat pergerakan waktu sangat lama. Dia dan Teta benar-benar tidur dalam satu kamar. Hanya saja, Panca tidur di kasur atas dan Teta tidur di kasur bawah yang busanya lebih tipis.
Panca melirik ke arah bawah, di mana Teta berada.
Lagi tidur aja jutek gitu.
Ia kembali menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dan menutup wajahnya dengan tangan kanannya. Sialnya, Panca susah tertidur. Hatinya seakan terusik, ketika melihat Teta yang tidur di kasur busa yang tampak usang dan tipis. Ingin memindahkan ke kasur atas, tentu saja Panca tidak berani. Selain akan membuat Teta bangun, pasti nantinya Teta akan menduga bahwa Panca sedang mencari kesempatan.
Panca mendengkus kasar, mencoba kembali memejamkan matanya. Sembari terus menggumam berhitung dalam hati.
Seratus sembilan belas hari lagi.
***
Rendi tengah berdiri di balkon apartemennya. Syarat dari sang kakek membuatnya tidak berhenti berpikir. Sudah dua tahun, tapi ia belum juga mendapatkan apa yang ia inginkan. Mereka menganggapnya sebagai kesalahan atas pilihannya, tapi tidak bagi Rendi.
Sampai sekarang, Rendi masih terus mencarinya, dan kesempatan dari penawaran sang kakek adalah sesautu yang jarang ia dapatkan. Selama ini selalu Panca yang dibanggakan, padahal mereka sama-sama memiliki pretasi, tapi selalu Panca yang dielu-elukan.
Kehidupan Panca bahkan bak selebritis terutama sejak hubungannya dengan Velia—yang seorang influencer—terendus publik. Nama Panca yang memang selalu menempel dibalik bayang-bayang digdaya sang kakek, semakin bersinar sejak kasus demo buruh dan kisruh imbas dari opini mengenai perubahan kebijakan perusahaan.
Pria dengan kulit kuning kecoklatan dengan rambut model ponytail itu meneguk hingga tandas bir kalengnya untuk menghangatkan tubuhnya dari dinginnya malam. Ia meyakinkan diri untuk mengiakan permintaan sang kakek. Demi menebus kesalahannya juga untuk menemukan miliknya yang hilang.
***
Pukul lima pagi, Panca sudah dibangunkan paksa oleh Teta. Padahal ia baru terlelap pukul dua pagi. Matanya masih berat, hanya membuka tipis. Ia menggaruk rahangnya, sembari menyunggingkan bibirnya ke bawah, dan menguap berkali-kali. Kepalanya masih terantuk-antuk.
Bodo amat!
Alih-alih bangun dan segera ke kamar mandi, Panca justru kembali merebahkan dirinya. Teta yang kembali ke kamar, dengan badan yang sudah segar karena mandi subuh dengan kaus putih yang ukurannya XL dan celana training panjang lengkap memakai manset yang menutup lengannya hingga telapak tangan.
“Panca, bangun.” Teta membangunkan dengan nada malas.
Teta memutar bola matanya, “Panca … bangun.” Sekali lagi Teta berusaha, tapi dengan nada yang masih sama. Tanpa pikir panjang, Teta mengokang senjata laras pendeknya tepat di dekat telinga Panca.
Mendengar suara pelatuk senjata, Panca segera membuka matanya, dan langsung melotot kaget, ketika moncong senjata Teta tepat berada di dahinya. Untuk sepersekian detik Panca seolah ditarik nyawanya.
Teta menyeringai tipis, begitu melihat Panca terbangun dengan wajah pias. “Segera mandi dan kita akan segera berangkat ke ladang.”
Panca masih bergeming. Ia merasa kesal, tapi posisinya saat ini masih lemah dan mengikuti alur para penculik ini. Ia berjanji suatu saat akan membalas si Suketi ini.
Jangan sampai punya istri kayak dia, bisa jantungan terus tiap hari.
***
“Pakai kain ini di atas kepala lalu tutup dengan topi anyam ini,” titah Teta pada Panca.
Oh … jadi kemarin dia itu motong-motong kain ini buat kain pelindung wajah.
Panca mengikuti instruksi dari Teta. Mengenakan kain yang panjangnya hingga ke bahu kanan dan kirinya—sehingga bisa menutupi wajahnya dari samping. Kain itu lembut terbuat dari bahan kaus, yang mudah menyerap keringat. Lalu mengenakan topi anyam khas yang biasanya digunakan oleh para petani.
“Mau pakai bedak dingin?” tawar Teta pada Panca.
“Lo kira gue mau jadi dakocan apa pakai bedak dingin segala,” tolaknya.
“Barangkali kamu nanti kepanasan.”
“Punya suncreen enggak? Gue pakai suncreen aja deh.” Panca tambah melunjak dan mendapatkan kembali sorot mata Suketi milik Teta.
Panca nyengir terpaksa. “Iya-iya, nggak usah.” Lalu Panca berjalan melewati Teta.
Selain Suketi dia juga pelit!
Teta mengejar langkah Panca hingga bisa berjalan di samping Panca. Melihat Teta yang di sampingnya, Panca hanya melirik dari ekor matanya.
“Saya minta tolong, karena ini di desa, gunakan saja bahasa yang sopan jangan bahasa ibukota.”
Panca mengerut tidak suka. “Katanya gue cuma jadi petani, sekarang juga nyuruh gue pakai bahasa yang baik dan benar. Sekalian aja … kamu menyuruhku untuk berbicara sesuai KBBI.”
“Kamu boleh menggunakan bahasa ibukota hanya dengan saya atau Abas dan Rois, tapi tidak dengan warga sekitar.”
“Kenapa? Lo takut kalau bakal ketahuan kalau gue ini korban.”
Teta melirik Panca sekilas. “Mana ada korban yang dikasih tidur dan makan dengan enak.”
Kali ini Panca merasa tidak terima. “Mana ada makan enak! Tadi pagi aja cuma sarapan singkong rebus sama teh pahit, kasih keju atau meses kek singkongnya, tehnya kasih gula, lha tadi aja hambar!”
“Hambar tapi habis ya,” cibir Teta.
Panca mengerutkan dahi. Sebenarnya ini cewek agak cerewet tapi kenapa sok jutek! Gerutu Panca, tentunya ya dalam hati.
Sisa perjalanan hanya mereka lalui dengan diam. Panca hanya memperhatikan tempatnya tinggal sementara ini. Desa yang masih asri dengan sawah yang membentang dan di sisi sebelah barat terdapat sebuah pemandangan bukit. Persis potret gambar anak-anak SD.
Yang tampak berbeda adalah, Teta lebih terlihat manusiawi. Ia menyapa ramah para orang-orang yang lewat, dan sering kali orang-orang pun memanggil nama Teta dengan Mbak Sekar. Panca jadi heran, sebenarnya siapa nama aslinya si Teta ini.
Teta tiba-tiba berhenti dan Panca yang masih asyik melamun menjadi tidak sadar hingga ia menabrak punggung Teta. Panca hanya mengangkat tangan sembari nyengir tanpa dosa.
“Neng Sekar udah datang,” ucap bapak tua dengan kulit cokelat kehitam-hitaman yang tampak mengilat dan bersinar. Tonjolan otot-otot tangannya tampak terlihat begitu liat, Panca jadi bergidik ngeri membayangkan selepas empat bulan dari drama ‘home alone ala Panca’ ini akan membuatnya berubah wajah dan kulit. Tampak bapak itu menoleh ke arah Panca dan mengangguk sopan. “Ini Neng pegawai baru yang akan bantu di ladang kedelai?”
“Iya Pak, mohon dibimbing ya, dia masih baru jadi butuh belajar.” Sekali lagi Panca merasa pendengarannya bermasalah. Nada bicara Teta sama sekali tidak ketus cenderung ramah malahan, bahkan segaris senyum terbit di bibir mungil yang sempat dikecupnya itu.
“Nggak salah Neng?” tanya bapak tersebut dengan nada khawatir.
“Kenapa Pak Kar?” tanya Teta.
“Ini masnya lho kulitnya putih licin, kayak wajah yang di dinding kamar anak saya?”
Wajah yang di dinding? Dikira gue cicak apa?! Panca menggerutu, sekali lagi hanya berani dalam hati, karena bila sekali ia melawan, si Suketi akan siap mengokang senjatanya.
“Namanya Panca Pak Kar, mohon dibantu agar bisa baik kerja nanam kedelai di ladang.”
“Iya Neng, iya, ayo Panca sini.”
Panca menunggu instruksi dari Teta.
“Kamu ikuti Pak Kar,” ucap Teta dengan nada memerintah.
Panca hanya mengembuskan napasnya saja. Kemudian memberikan kode dengan tangannya yang memberikan tanda hormat, lalu mengikuti Pak Kar.
“Sini Mas Panca, udah pernah nanam kedelai?” tanya Pak Kar.
Panca menggeleng.
“Nanam Padi?”
Menggeleng lagi.
“Oh, berarti nanam jagung?” tanya Pak Kar lagi dengan nada meyakinkan, sayangnya Panca lagi-lagi menggeleng.
“Oh, Mas Panca biasanya nanam buah-buahan ya?” Pak Kar masih semangat bertanya dengan antusias.
Saya cuma pernah nanam benih Pak! Benih zigot! teriak Panca dalam hati.
Kini raut wajah Pak Kar serius memperhatikan wajah Panca lamat-lamat. Hidung mancung lancip, mata agak sipit, bibirnya tipis kemerah-merahan, kulitnya yang putih bersih, entah mengapa kalau dilihat secara baik-baik, Pak Kar seperti mengenal wajah Panca, mirip seperti seseorang yang sangat dikenalnya. Hanya warna kulit saja yang membedakan Panca dengan orang itu.
Pak Kar semakin menilai Panca dari atas dan bawah, tampak pemuda di depannya ini belum pernah kerja kasar. Panca yang awalnya risih dengan tatapan menyelidik Pak Kar, sontak berjengit kaget, ketika tangan kanannya tiba-tiba dipegang oleh Pak Kar, bahkan telapak tangannya diusap-usap oleh tangan kekar dan kasar pria paruh baya itu. Panca ingin menarik tangannya, sayangnya ia masih belum benar-benar berani bertindak apa pun saat ini. Ia masih menyayangi nyawanya.
“Mas Panca ini kayak mirip seseorang yang saya kenal ya,” gumam Pak Kar.
“Hah?!” Panca kaget. Mana mungkin wajahnya yang limited edition ini ada yang mirip. Yang boleh mirip dengannya hanya Kim Jae Joong dan Jackson Wang!
“Iya, kalau dilihat-lihat mirip, kayak Ju—“
“Pak Kar!” suara Teta tiba-tiba menggelegar, menyela ucapan Pak Kar.
Entah mengapa Panca bisa melihat ada kilat tertahan di sorotan mata Teta ke arah Pak Kar. Panca mengerutkan dahi dan mencoba berpikir, Pak Kar tahu sesuatu dan itu membuat Teta cemas. Satu clue ia temukan. Sembari menghitung hari berapa lama ia harus bertahan di tempat asing ini, Panca mulai berpikir tidak hanya mengikuti alur para penculliknya, tapi juga memetakan dan peka pada keadaan sekitarnya.
***