MC 6 - Rendi

1629 Kata
“Lo gila! Gue jadi petani?! Lo nggak tahu gue ini lulusan apa? Kenapa gue harus jadi petani?” Panca sontak berdiri dengan berkacak pinggang. Ia merasa ini adalah pemaksaan dan ancaman. Teta hanya mengangguk tipis. “Silakan pikirkan,” ucap Teta sembari tangannya menggenggam senjata laras pendeknya, tapi jari-jarinya seakan siap menarik pelatuk. Panca yang mellihatnya langsung melotot dengan ngeri. Si Suketi memang bahaya. Jerit Panca dalam hati. “Memangnya kalian nggak ngasih gue waktu dulu gitu? Masa gue nggak dikasih kesempatan waktu berpikir atau setidaknya phone a friend gitu,” cetus Panca. “Ini bukan kuis,” sanggah Teta. “Tapi ini pemaksaan dan ancaman, nyawa gue terancam bahaya.” “Bertani tidak akan membuatmu bahaya.” “Tapi itu nggak mudah bagi gue yang nggak pernah melakukan pekerjaan kasar!” Panca tidak mau kalah berdebat dengan Teta. “Hanya empat bulan, dan kamu bisa menyelematkan nyawa banyak orang.” “Dan, kenapa harus gue yang berkorban?!” Teta berdiri dan melangkah mendekat ke arah Panca. Ia menodongkan senjata laras pendeknya itu tepat di d**a Panca. “Kalau begitu kita buat mudah saja, malam ini namamu hanya tinggal nama, bagaimana?” Panca meneguk ludahnya kasar. Gadis di hadapannya ini tampak tidak main-main dalam mengancamnya. Panca pun mengangkat kedua tangannya dengan ragu-ragu, “oke-oke—“ ucapnya tergagap. “—gue mau ngikutin mau kalian tapi ada syaratnya.” “Boleh, asal kamu siap dengan ini,” ucap Teta dengan semakin menekan senjatanya ke d**a Panca. “Gue manusia dan gue punya hak asasi.” “Kamu bukan berada di waktu yang tepat untuk menuntut keadilan.” Sepertinya mau dia bicara sampai berbusa pun, si Suketi jadi-jadian di depannya ini, tetap akan pada prinsipnya. “Oke! Hanya empat bulan kan?” Teta mengangguk. “Lalu gue tinggal di mana selama empat bulan?” “Di sini dengan saya.” Kali ini Panca benar-benar memelotot tajam seakan bola matanya bisa loncat saking begitu lebarnya. “Berdua? Lo nggak takut gue apa-apain?” Teta hanya menatapnya jengah. Ia lebih memilih tidak menjawab. Respons diamnya Teta malah membuat Panca tergelitik. Jika dia tinggal berdua saja dengan Velia, sudah pasti pernah ia lakukan karena mereka sepasang kekasih. Namun, kali ini mereka sama-sama orang asing, Panca bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana membosankannya hidup selama empat bulan bersama si Suketi ini. *** Rendi membuka pintu ruang kerja Lian Pradja, tampak sang kakek tengah berbincang-bincang dengan beberapa orang juga Baldin. Sahabat sepupunya itu—entah mengapa tidak pernah menatap ramah padanya. Namun, Rendi memilih untuk menghirauhkan saja. “Opa—“ sapa Rendi. Kakeknya itu hanya mengangguk dan memberi kode pada Rendi untuk duduk dan menunggu. “Pak Lian, kalau kita membiarkan kursi CEO kosong begitu saja, akan terjadi chaos terutama kepercayaan para pemegang saham akan menurun pada perusahaan kita.” Lian Praja khidmat mendengarkan. “Benar Pak Lian, sebaiknya menurut saya sebelum hilangnya mendadak Panca akan terendus oleh media dan akan dikupas habis perusahaan kita, sebaiknya kita segera mengambil langkah dan keputusan.” Kemudian salah satu dari kepala direksi perusahaan yang dipanggilnya kembali mengemukakan pendapat. “Kita bisa mengadakan voting untuk pemilihan CEO sementara atau malah resmi menggantikan Panca, kita ambil tiga kandidat, dari kalangan penerus Pak Lian, internal perusahaan, dan yang ditunjuk dan disepakati oleh para pemegang saham, kemudian kita lakukan vote untuk memilih satu dari tiga orang tersebut.” Rendi memperhatikan dan mendengarkan percakapan mereka dengan baik. Namun, karena merasa diperhatikan oleh Baldin, Rendi pun berganti menatap Baldin dan mengulas senyumnya, tapi lagi-lagi hanya senyum pahit dari Baldin yang ia terima. Rendi pun mengedikkan bahunya. Masa bodoh! Toh dirinya tidak pernah terlibat urusan apa pun dengan laki-laki konyol macam itu. Suara embusan napas panjang dari Lian Pradja terdengar, hingga membuat Rendi menoleh ke arah kakeknya. “Dua hari lagi kita akan mengadakan rapat urgent, karena kita tidak bisa memaksa semua harus hadir, maka kita akan melakukan rapat secara offline dan online. Segala keputusan akan saya sampaikan dalam rapat tersebut.” Lalu Lian Pradja memberikan titah pada sekretaris pribadinya untuk membuat surat resmi berupa undangan rapat dan juga segala persiapannya. Pernyataan Lian Pradja tersebut, membuat beberapa kepala direksi yang datang di ruangan tersebut saling bersitatap dan memberikan pandangan yang sebernarnya menolak. Akan tetapi mereka sendiri tidak punya kuasa untuk menyanggahnya, karena bagaimanapun Lian Pradja adalah pemilik sekaligus pendiri PT Boga Rasa—yang tentu saja menggahi mereka setiap bulannya. Beberapa saat kemudian, ruang kantor Lian Pradja sudah lengang dan tenang. Hanya Lian Pradja dan cucunya—Rendi. Rendi sendiri tidak mengerti mengapa kakeknya itu memintanya untuk segera pulang dari Singapura. “Opa tahu kamu pasti sudah mengetahui berita mengenai hilangnya Panca,” ujar Lian Pradja. “Dari papa yang langsung menelpon dan mengabari bahwa Opa memintaku untuk segera pulang,” sahut Rendi. “Kursi CEO sekarang sedang kosong—“ “Lalu maksud Opa memanggilku untuk apa?” “Apa kamu ingin menebus kesalahanmu?” Rendi terdiam tapi tangannya mengepal erat. Kesalahan? Rasa-rasanya Rendi ingin tertawa. Keluarganya menganggap apa yang telah terjadi padanya adalah sebuah kesalahan, tapi justru kini ia harus merasakan penderitaan. “Aku sudah menebus kesalahanku, dan itu juga karena campur tangan kalian,” ucap Rendi tak gentar. “Kamu terlalu cetek berpikir. Kamu tahu bagaimana ambisinya ayahmu dan Opa merasa kamu juga memiliki karakter yang serupa, tapi … Opa punya tugas untukmu, yang tentunya akan bisa membuatmu kembali seperti dulu, atau bahkan menduduki jabatan yang harusnya saat ini dimiliki oleh Panca.” Rendi masih bergeming dan mencerna semua perkataan kakeknya yang cenderung sarkas. Ia tidak tahu, mengapa orang-orang selalu menganggapnya terlalu gila harta dan jabatan. Namun, Rendi tahu bahwa tawaran kakeknya akan membuatnya bisa menunjukkan pada seseorang yang telah menghancurkan hidupnya. *** Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam, suara jangkrik bersahut-sahutan dengan suara kodok. Hanya suara-suara malam begini saja, sudah membuat bulu kuduk Panca merinding. Maklum anak crazy rich yang selama ini selalu tinggal di kompleks perumahan dengan lebar dan tinggi rumah bisa disamakan dengan rumah milik si Tuan Sultan Andara tersohor itu. Panca sudah bingung harus melakukan apa, baru beberapa jam saat ia sudah sadar dari obat bius, bertemu dua penculik yang aneh juga si Suketi yang sekarang sedang bergelut dengan kain-kain, entah melakukan apa. Sejak kepergian Abas dan Rois, suasana kian canggung dan dingin. Pikiran Panca sudah melayang-layang, empat bulan dia bakal ngapain saja di rumah ini bersama Teta jelmaan Suketi itu. Tatapannya yang tajam, rambut sebahunya yang agak berantakan tampak jarang di sisir, pipinya yang sedikit chubby tapi bibirnya mungil itu, membuat Panca agak-agak merasa gimana gitu. Bukan … Panca bukan tertarik, hanya saja menurutnya si Teta ini aneh. Seperti manusia yang tidak tersentuh oleh peradaban dan sama sekali tidak terganggu. Sejak tadi gadis itu berkutat dengan kesibukannya sendiri, dan tak mengucapkan sepatah kata apa pun pada Panca kecuali mempersilakan Panca untuk makan malam dari nasi kotak. Ah … peduli teuing! Kini Panca ingin ke kamar mandi dan segera melangkahkan kakinya ke arah belakang rumah. Baru membuka tirai penghubung antara ruang tamu, kamar dan ruang belakang yang berisi dapur dan kamar mandi itu, Panca dibuat kaku oleh suara burung hantu. Sabar … sabar … sabar! Rapalnya terus dalam hati bagai mantra penguat diri. Buru-buru Panca melaksanakan hajat buang air kecilnya, saat Panca menutup pintu kamar mandi dan tak sadar ia menengok ke atas genteng yang terbuat dari kaca sehingga menampakkan sinar bulan. Sialnya … Panca justru melihat sekelebat bayangan hitam melintas di atas genteng kaca itu. Sontak ia berlari dan meneriakkan nama Teta. “Suketi! Ada Suketi! Di atas genteng ada Suketi lewat!” ucapnya masih histeris dengan wajah putihnya itu memerah dan alisnya terus berkerut-kerut. Sedangkan Teta hanya meresponsnya dingin dengan alis kanannya yang terangkat.   Napas Panca yang masih terdengar begitu cepat dan pendek-pendek, bahkan keringatnya pun keluar dari dahinya. Teta sebenarnya merasa lucu dengan laki-laki dewasa di depannya ini. Ia menggeleng singkat, tidak mengerti, mengapa laki-laki seperti ini dipercaya untuk menjadi CEO sebuah perusahaan besar. “Lo ngetawain gue ya? Nggak percaya kalau tadi gue lihat kawan lo sekilas lewat terbang di atas genteng, mana item-item lagi, kenapa sih itu genteng harus transparan, kan pikiran gue jadi overthinking terus, diganti aja deh, gue sering haus kalau malam-malam butuh minum.” “Oh, iya kadang dia emang nyapa,” ucap Teta datar. “Suketi!” intonasi Panca meninggi, jujurly deh dia benar-benar ketakutan, tapi malah dianggap biasa saja. “Diganti nggak itu genteng!” Panca merajuk bagai anak kecil. Teta mengangguk, “boleh kalau kamu yang gantiin besok pagi.” Panca mendelik kemudian mendengkus, berdebat dengan ratu ghoib tanpa empati macam Teta tampaknya tidak akan membuahkan hasil. “Besok gue suruh Abas atau Rois aja deh buat gantiin.” “Jangan ngelunjak,” ucap Teta memperingatkam. “Dari pada gue kenapa-napa!” “Hantu nggak bisa mencekik manusia, setidaknya begitu.” Panca mendecakkan lidahnya, si Suketi ini selalu saja bisa balik roasting, jangan-jangan selain dia merupakan jelmaan Suketi dan ratu ghoib tanpa perasaan dan ekspresi, perempuan itu juga jago open mic layaknya para stand up komedian. Begitulah pikir Panca yang memang sudah agak-agak tidak waras sejak dirinya diculik. “Gue nggak mau ya disuruh tidur di ruang tamu, pokoknya gue yang tidur di kamar, lo yang tidur di depan,” cetus Panca. Teta mengerutkan dahinya, “kita tidur sekamar.” Panca melongo. Ia mengerjapkan matanya, kemudian nyengir. “Yang bener? Sekamar? Sekasur? Lo jangan pukul gue kalau ntar tangan dan kaki gue—“ Ucapan Panca tersela oleh gerakan tangan Teta yang mengambil sesuatu dari balik celana piyama. Ternyata sebuah pisau lipat. “Kenapa sih lo tuh mainnya kalau nggak pistol ya pisau lipat? Mana ada cowok yang bakal suka sama cewek modelan kayak lo gini,” sindir Panca dan membuat Teta semakin menyorotnya tajam. “Iya … iya gue kicep!” Panca mengunci bibirnya, tapi terus merutuk dalam hati. Sabar! Cuma empat bulan!  *** 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN