“Kita ingin ke mana?”
Harum khas Arcaviel Oakley menguar di udara begitu ia menapakkan alas kaki telanjangnya ke luar kamar kecil. Reeval terlihat masih menantinya di atas dipan sang Putri. Usai kedua orang itu kembali terjaga dan rupanya waktu sudah berjalan siang, Reeval meminta Arcaviel untuk membersihkan diri. Katanya, pria itu ingin mengantar Putri Aeradale menemui seseorang.
Melihat perawakan mungil dan semampai Putri Aeradale—tunik kelabu tanpa motif membebat tubuhnya, Reeval lantas beringsut dari dipan. Ia hanya mengulaskan senyum tanpa berminat memberi tahu Arcaviel destinasi mereka. Biarlah Arcaviel menerka lebih dulu, toh ia akan tahu sebentar lagi. Reeval menikmati gurat masam Putri Aeradale.
Satu dari sekian hal yang masih dan akan terus ia ingat tentang sang Putri; Arcaviel benci dibuat penasaran.
Pada akhirnya, Arcaviel berderap mengekor langkah kaki besar Reeval. Pria itu mengusungnya keluar dari kamar, kemudian menelusuri lorong tingkat dua kastel. Arcaviel terkadang dibuat teralih karena adanya lukisan-lukisan wajah gadis berdarah biru itu. Di sana, surai cokelat pirangnya jatuh lebih pendek. Mungkin lukisan tersebut dibuat saat ia masih berusia muda, yah, tidak seperti ia sudah tua saat ini.
“Siapa pelukisnya?” tanya Arcaviel, berhenti di salah satu lukisan dirinya—paling besar di antara yang lain.
“Pelukis kaki lima biasa.” Bisa ia rasakan Reeval berbalik untuk bersisian dengan Arcaviel, begitu dekat hingga bayangan pria itu berhasil menutupi refleksi sinar pada lapisan kaca lukisan. Reeval melirik profil kiri Arcaviel, sedikit lebih intens. “Apa kau ingin tahu latar belakang pembuatan lukisan ini?” Dan bagaimana frustrasinya aku saat itu, imbuhnya dalam hati.
“He-em, mau.” Arcaviel mengangguk mantap tanpa melepaskan atensi dari lukisan.
“Setelah malam itu, semua rakyat dan penghuni kastel melupakanmu—kita. Butuh hampir satu tahun untuk membangun kembali kepercayaan mereka denganku, sampai akhirnya penghuni Aeradale betul-betul mau mengakuiku.” Reeval tanpa sadar meremas kepalannya sendiri dan mengetatkan rahang, tetapi tidak berlangsung lama karena setelah itu netra mereka berserobok. “Tetapi, mereka hanya tahu aku dan tidak mengingatmu. Mereka sekadar tahu, Putri Aeradale, adikku, menghilang.”
“Reeve …,” lirih Arcaviel, menunduk dalam rasa bersalah detik itu juga.
Pria itu kemudian mengangkat dagu Arcaviel, seketika tersentuh saat melihat sepasang manik biru jernih sang Putri berlinang. Reeval menahan tatapan mereka selagi ia menurunkan tangan kanan ke sisi tubuh Arcaviel, menariknya dengan subtil ke dalam dekapan. Arcaviel meminta Reeval untuk meneruskan. Ia ingin mendengar kelanjutan kisah di balik pembuatan lukisan tersebut, tidak peduli dengan air mata membanjiri kemeja Reeval.
“Lalu, aku mendatangkan pelukis-pelukis eksper. Kusebutkan ciri-cirimu dengan sedetail mungkin, tetapi tidak semua hal berakhir sempurna. Para pelukis itu gagal melukiskan dirimu, Cavi.” Reeval mendesah keras, seakan-akan ingin menunjukkan betapa menggilanya pria itu karena Arcaviel pergi darinya. “Mungkin ada sekitar tiga puluh dari mereka, kudatangkan ke kastel, dan tidak ada satu pun yang benar-benar mendekati rupamu.”
Raja Aeradale memundurkan tubuhnya satu langkah, kemudian menginspeksi paras elok Arcaviel lama sekali. Arcaviel juga sama, ia tidak ingin melupakan wajah pria itu lagi jika—amit-amit, insiden itu kembali terjadi. Di saat mereka saling menyoroti satu sama lain, sesuatu membersit dalam benak Arcaviel. Pada akhirnya, Arcaviel mengejap untuk memutus kontak sesaat di antara mereka.
“Bagaimana dengan potret keluarga kita?” Arcaviel terdiam sejenak. Ia dibuat teringat lagi dengan penyusup kemarin. Potret yang masih ia yakini sebagai potret keluarganya … tanpa Reeve. Arcaviel membasahi bibir bawahnya, lalu menggeleng satu kali, memaksa dirinya untuk percaya pada Reeval, alih-alih sang penyusup. Ia niscaya ingin mengusik sepasang saudara itu.
Reeval menarik napas. Ia harap jawabannya berhasil membuat Arcaviel kian memercayai pria itu. “Potret keluarga kita dibuat meluruh oleh mana milik anggota Orbit Desertir. Tidak ada yang tersisa,” balasnya, terlalu lancar untuk mengutarakan kebohongan. “Itulah mengapa aku tidak punya satu pun potretmu dan berjuang untuk mencari seorang pelukis yang berhasil melukismu.”
Putri Aeradale manggut-manggut paham, tetapi instingnya tidak sepaham kelihatannya. Arcaviel tidak berkata apa-apa lagi, sedangkan Reeval sedikit puas saat ia melihat gelagat Arcaviel. Pria itu mengira ia berhasil mendapatkan kepercayaan dari Arcaviel. Sejauh ini, Arcaviel dapat menutup kecurigaannya dengan baik. Tidak sekarang, batinnya mengingatkan.
“Sampai akhirnya,” Reeval meneruskan ceritanya, namun kali ini mereka berbalik untuk meneruskan langkah tertunda mereka, “aku menemukan satu pelukis—percaya atau tidak, ia hanya seorang pelukis kaki lima. Namun, ia berhasil melukismu persis seperti rupa aslimu. Dan sepanjang lorong ini merupakan hasil lukisannya, Cav.”
“Apa aku bisa bertemu dengannya?” tanya Arcaviel, di antara derap langkah kaki mereka. “Aku ingin mengapresiasi pelukis itu secara langsung.”
“Aku juga mengharapkan begitu,” Raja Aeradale menjeda kalimatnya, lalu berhenti untuk menanti langkah kaki Arcaviel selaras dengan miliknya, “tetapi ia telah mengembuskan napas terakhirnya semenjak dua tahun silam.”
“B-Bagaimana bisa?” Arcaviel terenyuh.
“Ia mengidap penyakit akut.” Untuk satu ini, Reeval tidak berbohong. Ia menjumpai pelukis bertubuh ceking itu di alun-alun permukiman, kondisinya begitu parah. Nurani Reeval tersentil kala melihatnya. Ia sempat berpikir bila sesuatu yang ringan akan menimpa sang pelukis, sosok tersebut akan mati remuk detik itu juga. “Selagi menunggu maut menjemputnya, ia menghabiskan waktu dengan melukis—secara sukarela.”
Tanpa sadar, indra penglihat Arcaviel mengabur. Reeval spontan menghentikan langkah mereka dan menyeka cairan bening di pipi mulus sang Putri dengan jemari telunjuk pria itu. “Jangan menangis, Cavi,” gumamnya, tidak habis pikir dengan kelembutan hati seorang Putri Aeradale di hadapannya. “Aku tidak akan lanjut bercerita jika kau menangis.”
Arcaviel mengembungkan pipi. “Dasar, tidak punya hati,” cibirnya, pelan.
Karena hatiku telah kuberikan padamu semua, sialan! Ingin rasanya Reeval meneriakkan itu tepat di depan paras naif Arcaviel, tetapi ia tentu tidak bodoh untuk tidak mengingat status palsu di antara mereka saat ini. “Aku benci melihatmu menangis.” Hanya itu yang terlontar dari bibir ranum Reeval, begitu tulus ucapannya didengar oleh Putri Aeradale.
Hati kecil Arcaviel bersungut-sungut dengan perasaan bercampur aduk. Pria itu membuatnya merasa bersalah saja!
“Lanjutkan,” titah Arcaviel, membuat satu alis Reeval terangkat naik.
“Sudah mulai bisa menitahkanku, eh?” Manik sehitam jelaga Raja Aeradale mengilat dengan penuh jenaka, sementara Arcaviel dibuat salah tingkah. “Yah, seperti yang kau tahu, aku mulai menyebut ciri-cirimu kepadanya dan ia berhasil.”
Arcaviel manggut-manggut. “Lalu?”
“Setelah itu, aku ingin memberinya lusinan emas, tetapi ia menolak.” Reeval menarik sedikit sudut bibirnya ketika pupil Arcaviel mengecil dan netranya membesar tak percaya. “Akhirnya kubawa dia kemari, kuberikan perawatan medis sebaik mungkin, tetapi apa boleh buat? Takdir berkata lain. Ia mengembuskan napas terakhir di dalam kastel—mati secara terhormat.”
Lagi, Arcaviel menahan tangis. Reeval tidak mengizinkan untuk itu, karena selanjutnya ia menarik lengan Arcaviel dan mengusungnya ke penghujung lorong tingkat dua, sisi seberang dari lorong satunya. “Lupakan tentang pelukis itu, kau harus ingat tujuanku kemari untuk membawamu pergi ke sebuah tempat,” kata Reeval sebelum ia menerima protes dari Putri Aeradale.
Cairan bening itu meresap kembali ke tempat asal. Arcaviel mendapatkan pertahanannya kembali. Rasa iba atas kepergian pelukis kaki lima itu terganti dengan perasaan heran. Reeval enggan memberi tahunya ke mana mereka akan pergi. Ia hanya tahu, langkah keduanya sesaat lagi hendak memasuki sebuah pintu di penghujung lorong, sekitar tujuh meter dari sini.
“Ruangan apa itu?” tanya Arcaviel. Direspons oleh senyap, indra pengecap Putri Aeradale lantas berdecak. “Ish!”
Kendati terang-terangan merajuk, Reeval tidak acuh—bahkan di saat mereka sudah berdiri menghadap pintu itu. Arcaviel bisa melihat kakaknya mulai memegang knop pintu. Beberapa percik hitam berhasil membuat si Putri Aeradale tertegun. Ia sudah tahu bila Reeval memiliki mana hitam, tetapi baru kali ini ia melihat secara langsung bagaimana mana itu bekerja.
Entah mengapa, Arcaviel merasa déjà vu. Ia seperti pernah melihatnya di suatu tempat dan pancaran auranya … sama seperti siluet itu.
Jantung Arcaviel mencelus. Ia menampik prasangka tersebut secepat kilat, beralih dari tangan Reeval kepada bagian dalam pintu yang mulai terekspos. Tidak lama, sepasang netra Arcaviel mengejap. Alih-alih sebuah ruangan, ia mendapati undakan mengarah ke atas. Hampir tidak ada sinar, paling tidak masih ada cahaya redup membias dari atas sana.
“Reeve?” Arcaviel tanpa sadar meremas kain kemeja pria itu. Ia tidak mendapat tanggapan berarti dari Reeval selain gumaman. “Kita akan ke mana?”
Raja Aeradale hendak menaiki undakan, namun berhenti kala ia melihat binar ketakutan dari netra gadis itu. Kenapa ia setakut ini? Reeval tentu merasa bingung. Tidak tahu saja Reeval jika Arcaviel mulai takut dengan kegelapan usai terintimidasi oleh siluet milik para Orbit Desertir. Karena mereka, ia kehilangan Pierce dan nyawanya nyaris terancam.
“Maaf, aku tidak tahu kau akan setakut ini.” Reeval menghela napas, tebersit rasa bersalah begitu mendapati reaksi demikian dari Arcaviel. “Kita akan mengunjungi penyihir andalan Aeradale—ruangnya ada di atas.”
“Sebentar. Penyihir?” tanya Arcaviel, memutuskan untuk mengekor Reeval selagi pria itu mulai menaiki undakan. “Untuk apa?”
“Membangkitkan kembali manamu.”
Arcaviel mengatupkan bibir. Benar juga, ke mana perginya mana milik gadis itu? Sebagai Putri Aeradale, tentu ia memiliki mana. Arcaviel menjadi linglung sendiri. Sudah berapa hari dirinya tinggal di Aeradale dan tidak menaruh satu pun rasa penasaran tentang mana miliknya? Ia rasa dirinya betul-betul tidak mengenal sosoknya sendiri.
“Manamu tertidur selama kau berada di Bumi,” kata Reeval, seakan-akan menjawab pertanyaan Arcaviel yang ia utarakan dalam batin. “Ketika kau sudah ada di Aeradale, manamu tetap belum terbangun. Itu wajar karena masih dalam tahap adaptasi. Maka dari itulah, aku mengusungmu kepada Brigid.”
Reeval menatapnya sejenak bertepatan mereka telah mencapai undakan teratas. “Aku harap kau tidak keberatan mendapatkan kembali manamu, Arcaviel,” imbuh pria itu, mengulaskan sedikit senyum.
“Aku butuh itu.” Arcaviel mendongak untuk menjumpai manik hitam Reeval, menatapnya penuh harap. “Jadi, bantu aku.”
Pria itu mustahil menolak. Ia mengangguk masif, kemudian meneruskan perjalanan dari undakan teratas. Rupanya, ada sebuah lorong dengan berisikan hanya dua buah pintu. Kedua akses keluar masuk itu saling berhadapan. Keadaan lorong di atas sini terlalu hening, bahkan lebih hening daripada lorong kastel tingkat satu dan tingkat dua. Setiap mereka berderap, pasti akan menimbulkan gema.
Reeval menuntun Arcaviel kepada pintu di dinding lorong bagian kanan, namun atensi Arcaviel justru terpaku pada pintu satunya. Ia seperti merasakan ada sesuatu memanggil namanya, mengundang Arcaviel untuk masuk ke dalam sana. Putri Aeradale hendak memegang knop pintu itu ketika tangan Reeval tahu-tahu saja mencekalnya.
Tanpa berkata apa-apa, lebih seperti menginstruksikan melalui netra, Arcaviel lantas diajak memasuki ruang kamar milik sang penyihir. Ada aroma kayu manis yang sudah hampir pudar, menyergap indra penciumnya. Manik biru Arcaviel lebih dulu mengitari sekeliling, tetapi ia hanya dapat melihat interior kamar. Seperti kamar pada umumnya, tidak semenarik kamar Raja dan Putri Aeradale, pastinya.
Beralih muka dari sana, Arcaviel mulai melongok ke balik tubuh tegap Reeval. Seorang nenek dengan seekor burung hantu putih. Ada kain penutup pada mulut peliharaan si nenek—penyihir andalan Aeradale itu.
“Brigid, ini Putri Arcaviel, kalau-kalau kau lupa.” Tanpa sepengetahuan Arcaviel, pria itu mulai memamerkan seringai penuh kemenangan kepada penyihir bisu dan peliharaannya di atas dipan. Merasa puas saat menerima sorot sengit si burung hantu, ia kembali berkata, “Kami butuh bantuanmu, Nenek.”[]