Pagi-pagi sekali, ia sudah tidak bisa kembali terlelap. Ingatan malam tadi begitu terpatri dalam benak Arcaviel, termasuk mimpi itu. Semenjak ia tahu tentang kebenaran identitasnya, Arcaviel kerap bermimpi di setiap malam, tetapi ia tidak begitu mengingatnya. Yang ia ingat hanya samar-samar; beberapa pemuda asing dengan wajah mengabur, dirinya berada di lingkungan kastel, dan Hugen.
Tetapi, mimpi kali ini tidak seabstrak biasanya. Itu terasa benar-benar nyata terjadi. Arcaviel dapat mengingat betul mimpi itu, interaksi antara dirinya dengan—argh! Ia terlalu malu untuk mereka ulang bagaimana sekujur tubuh mungilnya merasakan cumbuan kakaknya, bagaimana ia secara berulang-ulang mengungkapkan perasaan kepada sang kakak dan sebanyak itu juga bibirnya dihunjam dengan kecupan.
Bohong besar jika Arcaviel tidak menikmati mimpi tersebut. Penilaian orang-orang tentangnya mungkin seorang gadis polos dan naif, dengan begitu Arcaviel kini sangat malu untuk mengakui kepuasannya secara pribadi. Tetapi, ia tidak bisa mengelak ketika dirinya terjaga dengan separuh kesadaran. Ia mendapati Reeval ada di dekatnya, melemparkan sorot cemas yang entah mengapa sangat Arcaviel rindukan.
Lalu, ketika manik biru sayunya jatuh ke bibir pria itu, ia ingin merasai lumatan itu di dunia nyata, bukan sekadar di mimpi belaka.
Malam itu, Arcaviel sadar ia baru saja melakukan kekeliruan. Ia hampir, bahkan sudah terlena dengan manisnya tendensi lembut bibir Reeval. Di saat ia mengira Reeval akan berusaha untuk melepas bibir mereka, entah mengapa kakaknya juga tidak mengelak. Justru, pria itu masih balas melumatnya, bahkan ketika ia sudah terbaring seutuhnya di atas dipan.
Seperti benang menjerat otaknya, kini benak Arcaviel terasa kusut bukan main. Jiwanya berantakan. Ia ingin meminta penjelasan kepada Reeval, tetapi itu sama saja dengan mengakui bahwa dirinya mencium pria itu secara sadar. Jadi, Arcaviel memutuskan untuk bungkam. Ia yakin suatu saat nanti, dirinya akan menemukan jawaban atas mimpi dan kejadian kemarin.
Mencecap singkat bibir ranumnya, Arcaviel masih bisa merasakan aroma mint Reeval pada miliknya. Itu terlalu khas, sulit untuk ia abaikan.
“Kau sudah bangun?”
Suara rendah itu menyentak kesadaran Arcaviel. Ia menggulirkan netra birunya ke samping kanan, menangkap sosok Reeval di antara keremangan. Pria itu masih terbaring dengan atensi tidak luput dari Putri Aeradale. Teringat kembali dengan kekeliruannya, Arcaviel mengubah posisi menjadi duduk. Reeval turut melakukan perpindahan posisi yang sama.
“Ini masih pukul empat pagi, Cavi.”
“B-Benarkah?” Arcaviel merutuk dalam batin. Ia kentara gugup, hampir merasa telanjang ketika netra hitam Reeval terasa mengorek miliknya sampai ke inti. Untungnya, tatapan itu tidak berlangsung lama. Pria itu menarik diri dan beranjak dari dipan. Sedikit tidak rela, Arcaviel akhirnya kembali bersuara, “Reeve mau ke mana?”
“Aku ada urusan.” Raja Aeradale menatap sang Putri sekali lagi. Ada sorot kewalahan di sana. Dari keremangan, sedikit terlihat kantung mata melingkar di bawah netra hitamnya. Arcaviel tidak tahu mengapa Reeval seperti tidak tertidur semalaman. “Tidur kembali, Cavi.”
“Aku ikut,” tanggap Arcaviel, bertepatan Reeval meraih jubah wolnya.
Dengan jubah dibiarkan tersampir dan terjuntai di lengan kiri Reeval, pria itu kembali mendatangi Arcaviel. Reeval berdiri menjulang tepat di hadapan Arcaviel, lalu setengah membungkuk untuk meraup pipinya. “Ini bukan urusan untuk seorang bocah sepertimu,” tutur Reeval, kemudian mengulum tawa saat menangkap perubahan raut masam Putri Aeradale. “Tidur. Setengah jam lagi aku akan kembali.”
“Kenapa pagi-pagi sekali?” Arcaviel menyuarakan protes. Entah bagaimana, ia memerlukan kehangatan—tentu saja dari sosok pria itu. Mengetahui Reeval akan pergi walau hanya setengah jam saja, Arcaviel merasa … entahlah, ia bahkan tidak bisa menjabarkannya dalam kalimat. Demi Dewa-Dewi, aku seperti tidak mengenali diriku sendiri.
Mengecup singkat kening Arcaviel, kemudian mengulaskan senyum misterius, Reeval hanya merespons dengan bisikan lembut, “Tunggu aku kembali dan kau akan tahu nanti.”
Dan setelah itu, ia bertolak dari ruang kamarnya sendiri—meninggalkan Arcaviel dengan ingatan tentang kejadian malam itu lagi.
*
Reeval menepati janji dengan kembali dalam tiga puluh menit kemudian. Ketika pria itu mendorong pintu untuk memasuki ruang kamar pribadinya, tersuguh si Putri Aeradale tengah duduk menghadap pintu. Arcaviel kini lebih terlihat seperti anak kecil menanti hadiah dari orangtua mereka yang baru datang. Ia mengayunkan sepasang kaki ke sisi dipan dan terkadang menggesek telapak tanpa alasnya di lantai.
Raja Aeradale menarik singkat sudut bibirnya, tetapi tidak berlangsung lama karena ia kembali teringat jika Arcaviel tidak menuruti ucapannya. “Kau tidak lanjut tidur, Arcaviel?” tanyanya, datar. Selain itu, ia juga berpura-pura menajamkan indra penglihatnya. Bukan tanpa alasan, mengetahui Arcaviel tidak mendengar permintaan pria itu kembali tidur cukup membuatnya sedikit kesal.
Bagaimana tidak, semalaman ini Reeval tidak bisa tertidur karena ulah Arcaviel—dan kini gadis itu justru tidak memanfaatkan waktu kosongnya untuk terpejam.
Yang ditanya segera menunduk. Ia mengulum bibir selagi menatap kemilin tunik malamnya, kehabisan kata-kata untuk ia lontarkan. Arcaviel berpikir, ia mana mungkin dapat kembali tertidur sementara ia hanya seorang diri di ruang kamar ini. Arcaviel ingin bertolak dari kamar milik sang kakak menuju miliknya, tetapi hati kecilnya seolah-olah memintanya untuk menetap.
“Hm, aku … merasa asing tidur di sini.” Arcaviel kemudian mendongak semata-mata menemui perawakan Reeval telah bersemuka di dekatnya. “Jadi, aku tidak bisa terlelap lagi.” Setidaknya jika tidak ada kau, batinnya diam-diam mengimbuh.
“Kalau begitu,” Reeval menurunkan satu alisnya yang sempat ia angkat, “kembali ke kamarmu.”
“T-Tetapi—” Arcaviel mengatupkan bibirnya, tidak jadi memprotes.
Permukaan kening Raja Aeradale terlipat dengan sendirinya. Ia bisa melihat sarat enggan di manik biru Arcaviel, tetapi kenapa?
Pada akhirnya, Reeval beringsut mendekat dan meraih dagu mungil Arcaviel. “Ada apa, Cav? Kau masih kepikiran dengan kejadian kemarin?”
“K-Kejadian kemarin?” ulang Arcaviel, terpatah-patah. Merasa malu, ia menggulirkan netra ke arah lain, ke mana pun selain pria itu. Kejadian kemarin? Yang mana? Ketika aku me—
Helaan napas lolos dari bibir Reeval. Ia menarik kesimpulan yang sebetulnya salah, tetapi tidak disadarinya. “Jangan pikirkan itu. Aku sudah mengerahkan kesatria-kesatriaku untuk membersihkan seisi kastel. Penyusup itu pergi.” Reeval mengangkat sudut bibirnya ketika netra mereka kembali berserobok. “Kau sudah aman, Cavi. Tidak ada yang bisa melukaimu.”
Oh? Arcaviel seketika merasa bodoh. Ia kira, Reeval sedang membahas soal malam kemarin—di mana Putri Aeradale melakukan kekeliruan, tetapi pria itu justru membahas soal penyusupan. Arcaviel mendadak linglung. Ia mulai mempertanyakan kebenaran tentang ciuman itu hanya dalam mimpi atau benar-benar terjadi. Pasalnya, Reeval tidak membahas hal ini sama sekali.
Mengejap singkat, atensi Arcaviel kemudian terarah menuju penampilan kewalahan pria itu. Ia yakin Reeval terjaga semalaman ini. Melihat itu, Arcaviel tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, “Reeve, apa semua baik-baik saja?”
Yang ditanya justru memiringkan kepala. Raja Aeradale cukup dibuat bingung dengan pertanyaan sang Putri. Ia belum sempat merespons, lidahnya telanjur kelu sewaktu jemari telunjuk Arcaviel menyentuh kantung matanya dan mengetuknya beberapa kali. Tindakan itu jauh di luar dugaan Reeval. Kini pria itu benar-benar kehabisan suara. Pasca malam ketika Arcaviel menciumnya, apa lagi sekarang?
“Tidak bisa tidur?” Bisikan Arcaviel terlalu halus dan lembut, tetapi semua itu berubah menjadi gerutuan ketika ia tanpa sadar bermonolog, “Dasar, Reeve. Ia memintaku untuk tidur, sementara sendirinya tidak.”
Tentu gerutuan itu tertangkap langsung oleh indra pendengar Raja Aeradale, apalagi ini masih pagi buta dan suasana ruang kamarnya hening. Reeval berpura-pura tidak mendengar ucapan Arcaviel. Ia mengusap tengkuk, kentara salah tingkah. Untuk mereduksi perasaan konyol tersebut, Reeval segera membanting tubuhnya ke atas dipan dan merebah di sisi Putri Aeradale.
“Ada begitu banyak yang harus kupikirkan—dan aku juga perlu menjagamu,” jawab Reeval saat ia mendapat kendali penuh atas dirinya lagi.
Tak bisa ia mungkir, kemiripan sikap manis Arcaviel untuknya antara dulu dan sekarang, membuat Reeval semakin berkeinginan untuk memiliki Arcaviel seutuhnya. Ia selalu dibuat frustrasi oleh sang Putri dan tidak akan berakhir baik untuk kesehatan jantungnya. Arcaviel, entah secara sadar atau tidak, memiliki semacam kekuatan untuk membuat pria itu—bahkan pria mana pun—takluk.
Arcaviel Oakley satu-satunya kelemahan sekaligus kekuatan bagi seorang Reeval Lanford.
Di sisi lain, Arcaviel mengatupkan bibir pasca mendengar jawaban dari sang kakak. Reeval perlu menjaganya, maka dari itu, sang Raja hampir terjaga semalaman. Arcaviel semestinya khawatir bila perilakunya malam itu benar-benar nyata terjadi, tetapi kini ia lebih merasa bersalah dan prihatin. Mengetahui seseorang kewalahan karenanya, Arcaviel mau tidak mau terenyuh.
Tidak lama, Arcaviel ikut merebah di samping Reeval dan meringkuk menghadapnya. “Aku aman di sini, Reeve. Jadi, aku akan menetap sambil menunggu Reeve terlelap,” balasnya, mengusap pipi pria itu dengan lembut, berharap hal ini akan membuat Reeval cepat tertidur.
Reeval menahan seringai. Andaikan Arcaviel tahu bila alam bawah sadar pria itu menolak untuk dipanggil lantaran tidak lain dan tidak bukan terjadi karena ulahnya. Yah, mungkin aku benar-benar akan absen terlelap untuk satu harian ini, batin Reeval, kemudian dengan gerakan cepat menangkap jemari Arcaviel dari pipinya dan menggigit gemas ruas-ruas jemari mungil itu.
“Jadi, kau masih ingin di sini?” Reeval menahan netra mereka dengan memandang teduh manik biru itu. Saat direspons dengan anggukan, netra sehitam jelaganya mengilat dalam berbagai rasa. “Kalau begitu, temani aku sampai aku tertidur, Putri.” Putri—bukan adik. Setelah semalaman ini, mana mungkin juga Reeval bisa menyebut Arcaviel sebagai ‘adik’?
Arcaviel mengangguk lagi. Tetapi bukan Reeval, justru Putri Aeradale yang sudah lebih dulu terlelap tanpa hitungan menit. Reeval menghela napas, sesekali mengusap cuping telinganya yang memerah. Bagaimana tidak, Arcaviel meringkuk dalam dekapan pria itu, ditambah dengan lengan kiri Reeval dijadikan sebagai bantal. Posisi mereka terlalu berimpitan.
Baiklah, selain menjelma sebagai seorang Raja, kini aku juga menjelma sebagai pejantan yang tersiksa, batin Reeval, mendengus kasar. Terserahmu, Cavi. Terserah.
Raja Aeradale jengkel bukan main, tetapi perlakuannya tetap lembut ketika tangan kanannya mulai terangkat untuk menyugar poni cokelat pirang Arcaviel. Helaian itu tenjuntai, menghalau keindahan paras polosnya dari netra hitam Reeval. Maka dari itu, segera ia singkirkan sedikit demi sedikit, mencegah Arcaviel untuk kembali terbangun dari tidurnya.
Begitu netra sehitam jelaganya berhasil melihat pemandangan terindah sepanjang empat tahun terakhir ia hidup sendiri, Reeval sangat menikmatinya. Melupakan skenario status di antara mereka, ditariknya pinggang Arcaviel ke sisi pria itu dengan tangan kanan, mengikis jarak di antara dua orang itu. Reeval tidak lagi peduli pada apa pun. Yang ia inginkan hanya Arcaviel tetap berada di sisinya dan mereka akan bahagia.
Mengendus dalam-dalam aroma vanila dari tubuh Putri Aeradale, Reeval mendapatkan ketenangan tidak terhingga di sana. “Kau benar-benar kembali, Cavi,” lirih pria itu, mulai menutup rapat netranya saat kantuk lambat laun menyergap. “Benar-benar kembali ….”
*
Derap langkah kaki Raja Aeradale berhenti tepat di puncak undakan. Tersuguh langsung oleh sepasang netra sehitam jelaga itu, dua buah pintu yang saling bersemuka di sebuah lorong terkecil dan tersempit, bahkan luasnya tidak sebesar kamar kecil kerajaan. Pria itu tidak pernah peduli dengan kondisi lorong ini, selalu terabaikan dan hampir tidak dikenal seisi kastel.
Mereka hanya tahu Raja Aeradale menyimpan seorang penyihir penyakitan di dalam sana.
“Brigid Valkyrie.” Suara maskulin itu sama sengitnya dengan sorot pria itu detik ini ketika ia berderap memasuki salah satu pintu.
Ada dua makhluk di dalam ruangan. Sinarnya redup dan hampir tidak terpelihara, namun sangat cukup bagi mereka melihat kedatangan sang Raja. Reeval menyeringai begitu menemui tatapan tak bersahabat dari salah satu makhluk berwujud nenek-nenek di atas dipan kolotnya. Ialah penyihir yang seisi kastel ketahui sebagai penyihir penyakitan. Nyatanya, ia sangat sehat, lebih sehat dari yang terlihat.
Begitu Reeval hendak mendekatkan diri pada Brigid, si penyihir ‘penyakitan’, langkahnya tertahan oleh seorang gadis dengan kain menutup setengah wajahnya. Ebony Hunt, sang pengabdi pribadi milik penyihir. Ia tidak seperti seorang gadis pada umumnya. Ebony tidak mampu berbicara, tetapi pengabdi pribadi Brigid itu dapat berbicara melalui mata.
Jika ia mempunyai lidah, maka dirinya mungkin dapat menjadi lawan berdebat Reeval setiap kali pria itu memijakkan kaki di sini.
“Minggir, Hunt. Aku butuh berbicara dengan Nyonya-mu.” Seringai Reeval melebar ketika tahu Ebony tidak mendengarkan. Jadi, ia lantas mengabsen sedikit dari mananya dan melontarkan manifestasi mana hitam itu kepada Ebony. Dalam satu kali entakan, sulur-sulur hitam berhasil mendorong punggung Ebony hingga membentur dinding. “Itulah akibatnya karena kau masih tidak mendengarku.”
“Cukup, Nak.” Brigid menatapnya datar, meskipun ada pancaran kesedihan dari binar netranya. Reeval muak dengan sorot yang kerap ia terima dari penyihir tua itu. “Kau lebih baik dari ini.”
“Kata seorang penyihir yang meramal masa depan kelam Putri Aeradale bersamaku.” Reeval hampir tertawa mengejek. “Aku lebih baik dari ini, Brigid? Sayang sekali, aku tidak bisa. Nuraniku telah membeku bersama dengan tudingan nujum bodohmu itu.”
“Tidakkah kau sadar?” Brigid menghela napas kewalahan. Setelah diperhatikan, kerutan di keningnya menyebar lebih banyak dari terakhir kali Reeval menemuinya. “Nujum itu sudah benar-benar terjadi semenjak kau merampas takhta Viar, Nak.”
“Ya, lalu kenapa tidak?” Reeval sempat beralih muka menuju Ebony yang baru dapat bangkit berdiri, menatapnya tidak kalah sengit. Memutuskan tidak acuh, Reeval kembali menyoroti Brigid. “Kalian merupakan alasanku berbuat busuk seperti ini, Brigid. Kau dan keluarga kerajaan itu—”
“Jika Putri Aeradale tahu tentang tindakan gegabahmu,” Brigid memberikan sebuah tatapan yang mengharapkan Reeval akan kembali berpikir ulang, “Putri tidak akan menyukaimu, Nak. Putri akan membencimu karena kau merampas takhta sebenarnya dari keluarganya.”
“Ia tidak akan tahu.” Reeval mendesis di antara gigi-giginya, kemudian tersenyum sinis. “Itulah tujuanku kemari, Brigid—untuk membungkam mulutmu, sebelum kau akan melepas segel yang mengunci mana gadis itu.”
Lagi, Ebony berusaha untuk mendekat dan melindungi Nyonya-nya, tetapi terhenti oleh sulur-sulur hitam yang kembali membanting punggungnya ke dinding, mengunci pergerakan gadis itu dengan ganas. Brigid hanya melihat pengabdi pribadinya sekilas, kembali memfokuskan pandangan kepada pria itu. Tidak ada satu pun sarat ketakutan dalam sepasang netra sayu Brigid.
Hanya ada keprihatinan di sana.
Reeval muak dengan sorot itu. Keprihatinan dari Brigid begitu menyentil emosinya. Pria itu tidak berpikir panjang untuk mencengkeram keras rahang Brigid, bahkan ketika suara gemeretak merangsek ke indra pendengar Reeval. Netra sayu Brigid menyipit, kentara penyihir itu sedang menahan sakit. Benar kata Reeval, nurani pria itu sudah mati.
“Tenang, Nenek Penyihir. Durasi kelumpuhan bicaramu tidak akan berlangsung lama.” Reeval menggulirkan netra hitamnya sekilas kepada tubuh Ebony yang masih terimpit oleh sulur-sulur hitamnya pada dinding. “Setidaknya, tidak selama-lamanya seperti pengabdimu, Brigid.”[]