20. Mimpi & Afeksi

1937 Kata
Barak kesatria berbanding jauh dengan ruang kamarnya. Ironisnya, sebagai Putri Aeradale, Arcaviel justru lebih nyaman singgah di dalam barak. Ia bisa beberapa kali meluangkan waktu di sana, tentu saja tidak seorang diri. Pertama, Arcaviel bukan seorang kesatria. Hanya kaum pria yang mendapat pangkat itu—meski ia sendiri pernah menjadi ‘bagian’ dari mereka. Dan kedua, dengan menyandang gelar ‘Putri’, bukan hal bijak untuk tinggal di dalam barak sementara ia sendiri memiliki tempat terdamai di kastel utama. Maka dari itulah, Arcaviel perlu orang dalam untuk singgah di barak, setidaknya setiap kali Pangeran Aeradale mengadakan kunjungan ke kediaman bangsawan lain bersama salah seorang kesatrianya. ‘Orang dalam’ yang Arcaviel maksud sebenarnya hanya satu, si calon kesatria pendamping masa depan Raja Aeradale. “Kudengar Kak Viar sedang mengunjungi Yang Mulia Aristide bersama Kak Rodeus,” Arcaviel menyelonong ke dalam sebuah barak kayu, tanpa ketukan, tanpa sapaan, dan tanpa secuil pun rasa bersalah, “kenapa kau tidak ikut?” Si empunya barak terlonjak singkat. Ia sedang asyik berleha-leha di atas dipan, mengingat pemuda itu mendapat hari bebas lantaran Pangeran Aeradale dan kesatria satunya tengah bepergian. Mendapati sang Putri berada di dalam baraknya memang bukan kemustahilan. Ia sudah terbiasa mendapat kunjungan mendadak dari Arcaviel, lagi pula dirinya sama sekali tidak keberatan. “Sini.” Pemuda itu menepuk dipannya, menginstruksikan Arcaviel untuk bersandar tepat di sampingnya. Begitu Arcaviel merangkak ke atas dipan dan telah mendarat di sisinya, Putri Aeradale lantas menjadikan lengan kukuh pemuda itu sebagai bantal. “Ini giliran Rodeus. Aku, kan, sudah—sekitar dua atau tiga bulan lalu,” jawab pemuda itu. Manik biru Arcaviel tidak lepas dari dua netra sehitam jelaga itu. Si empunya barak lekas mencubit pipinya dengan binar menggoda. “Kau memangnya ingin aku pergi?” tanya pemuda itu, mengubah guratnya menjadi berpura-pura sedih. “Tidak!” sanggah Arcaviel, cepat. Ia melingkarkan leher pemuda itu dengan lengan mungilnya, kemudian berbisik, “Aku ingin bermalam di sini.” Pemilik netra sehitam jelaga itu mengejap. Sebetulnya, tidak ada yang salah dengan permintaan Putri Aeradale. Kalau dipikir-pikir, sudah berapa kali mereka diam-diam ‘bermalam’ bersama? Lima kali? Sepuluh? Entahlah, ia bahkan tidak pernah menghitung. Pemuda itu kemudian terkekeh. Ini untuk pertama kalinya Arcaviel secara terang-terangan memintanya untuk ‘bermalam’. Hanya tidur, tidak lebih. “Reeve?” Arcaviel memanggil namanya lembut. “Iya, boleh.” Ditemukannya manik biru dan senyum manis di bibir ranum Putri Aeradale ketika Reeval—nama asli pemuda itu—menundukkan kepalanya. Dengan segera, ia mengangkat satu telapak tangannya untuk menyentuh pipi mulus Arcaviel. “Tidak bisakah kau berhenti memandangku dengan raut semanis ini, Cavi?” Arcaviel menggeleng cepat. “Tidak,” jawabnya, mantap. “Kau menggodaku, tahu?” “He-em, sengaja.” Arcaviel mengeluarkan lidahnya tanda mengejek, kemudian tersenyum manis lagi. “Kalau tidak, sainganku semakin banyak.” Bukan rahasia umum bagi seisi kerajaan inti untuk tahu bila banyak sekali para gadis menaksir berat kesatria masa depan Aeradale di hadapannya. Karisma Reeval kuat dan memikat, bahkan seukuran Putri Aeradale saja, berhasil dibuat terpikat oleh pemuda itu. Reeval satu-satunya sosok yang berhasil membuat Arcaviel mencurahkan sisi aslinya. Pemuda itu terlalu mengerti dan Arcaviel menginginkan sosoknya. “Aku tidak tertarik dengan gadis-gadis itu,” aku Reeval, kemudian direngkuhnya pinggang Arcaviel untuk mengikis jarak di antara keduanya. Setiap inci dari tubuh mereka bersentuhan—terasa begitu solid, hangat, dan nyaman. “Lagi pula, jika mereka mendekat, kau akan langsung merangkap sebagai Putri Bengis, alih-alih Putri Aeradale Yang Manis.” Rona merah terbit di pipi Arcaviel. Ia ingin mengelak, sayangnya itu benar. Semenjak seisi kastel tahu identitas asli Arcaviel—berikut dengan kedekatan mereka, sikap Putri Aeradale menjadi lebih posesif. Ada suatu kali ketika seorang gadis pelayan berinteraksi dengan Reeval, Arcaviel justru menarik pergi kesatria itu dari hadapan si pelayan. Dari sana, terbitlah rumor tentang hubungan khusus antara Putri Aeradale dengan kesatria masa depan kakaknya. “Tetapi,” Reeval mengecup lembut kelopak netra lawan bicaranya, “aku lebih suka dirimu yang ini.” Bibir ranum Arcaviel meloloskan tawa halus. Ia menatap lama sosok pemuda di depannya, membatin betapa besar perasaan melekatnya terhadap Reeval. Perlahan, Arcaviel mengangkat sedikit kepalanya dari lengan kukuh pemuda itu, meraup pipi Reeval dan memagut bibir ranum itu dengan miliknya. Reeval mulanya agak terkejut, tetapi akhirnya ia merespons dengan lembut. Indra pengecap Arcaviel terasa sopan begitu mencecap mulutnya. Aroma vanila dan mint menyatu selagi mereka berbagi napas. Reeval berhenti sejenak ketika Arcaviel menarik diri untuk meraup udara di sekitar, tetapi belum juga puas ia mengisi pasokan udaranya, pemuda itu kembali menerjang dengan cumbuan, membagikan napas hanya dari miliknya. Punggung mungil Arcaviel tersentak mundur menuju kepala dipan. Manik birunya tidak lepas dari kobaran intens yang mengilat dari manik hitam Reeval. Bibir dengan bibir. Mata dengan mata. Napas dengan napas. Hanya itu yang membersit dalam benak mereka. Tidak ada perkara lain—orang lain yang mengusik afeksi kedua remaja itu. Setelah melumat bibir Putri Aeradale dengan lapar, indra pengecap Reeval mulai menuruni bibirnya, menyisir ke dagu, hingga menuju leher. Samar-samar, telinga pemuda itu mendengar suara kesiap Arcaviel. Ia mengabaikannya, terus-menerus mendaratkan lidah pada leher gadis itu, memaksa sang Putri untuk mendongak dan membebaskannya bertindak. Arcaviel tidak menolak. Ia seutuhnya tunduk kepada kesatria itu, meremas pundaknya dan menatap lurus langit-langit barak sambil sesekali menggigit bibir untuk menahan lenguhan. Putri Aeradale bisa merasakan tubuhnya bukan lagi sepenuhnya milik gadis itu, terutama saat indra pengecap Reeval mulai menghunjamkan gigitan ke sebagian kecil dari kulit lehernya. “Reeve—” Baru Arcaviel membuka suara ketika Reeval membenamkan kepala di antara ceruk lehernya. Helaian surai pemuda itu terasa menggelitik. “Hm?” Kali ini Reeval hanya sekadar mendaratkan satu kecupan lembut di daerah ceruk leher Arcaviel. “Hm, tidak.” Pipi Arcaviel lagi-lagi merona. Usai menjeda beberapa saat, akhirnya ia meneruskan, “Hanya ingin memberi tahu, aku mencintaimu.” Reeval mendesis begitu mendengar pengakuan Arcaviel. Tanpa berpikir panjang, ia mendongak untuk memandang teduh lawan bicaranya. “Itu harusnya kalimatku,” ucap pemuda bernetra hitam itu, mengecup bibir Arcaviel sekali lagi. “Aku mencintaimu.” Putri Aeradale menarik sudut bibirnya, memamerkan senyum jahil. “Aku mencintaimu,” katanya, lagi dan lagi, terlampau menikmati perubahan air muka Reeval. “Aku mencintai—” Gemas, Reeval meloloskan geraman dan tidak pernah absen mendaratkan kecupan demi kecupan di bibirnya, sebanyak Putri Aeradale berkata demikian. Di sela keheningan, Reeval mencondongkan wajahnya ke telinga Arcaviel. Deru napasnya menyapu halus tengkuk gadis di bawahnya, membuat roma halus Arcaviel tampak meremang. Reeval menikmati itu.  Jadi, dengan nada serendah mungkin, ia mulai berbisik, “Apalagi aku, Cavi.” Bisikan itu berhasil mengaktifkan reseptor Arcaviel, ia dibuat menggigil. Tidak lama, dapat ia rasakan tangan kiri Reeval mulai turun dari pundaknya, menyisipkan jemari kukuh pemuda itu di bawah pinggangnya. Arcaviel mulai mengalungkan lengan mungilnya pada leher kesatria itu dan membenamkan kepalanya di sana. Ia biarkan Reeval bertindak semaunya. Helaan napas berat kemudian lolos dari bibir Reeval. Guratnya frustrasi saat ia menarik diri dari sang Putri, kemudian mendecak—hampir bersungut-sungut, “Ck. Kau masih di bawah umur.” Arcaviel meloloskan tawa halus, turut menarik diri dari rengkuhan Reeval. Ia membiarkan tubuhnya kembali merebah di dipan, memandang teduh binar kewalahan Reeval di atasnya. “Lalu, kenapa?” tanya Arcaviel, entah hanya ingin menguji atau benar-benar tidak tahu betapa sulitnya pemuda itu menahan diri. “Tidak. Aku tidak bisa melakukan lebih dari ini.” Segera Reeval membanting tubuhnya ke samping Arcaviel, merapatkan sepasang netra hitamnya dan meremas pelipis dengan jari tengah. “Tidurlah, sayang.” Reeval meringkuk untuk berhadapan dengan Arcaviel, kemudian ibu jarinya mengusap bibir dan dagunya lembut. “Catat, empat tahun lagi.” “A-Apa?” Arcaviel tanpa sadar membeliak ketika menangkap sorot jenaka di antara manik hitam lawan bicaranya. “Habis kau,” desis Reeval di antara giginya, tak sabar. Wajah Arcaviel memanas. Ia spontan mencubit perut Reeval dan tanpa berkata apa-apa lagi, dirinya meringkuk memunggungi pemuda itu. Samar-samar, didengarnya tawa kemenangan yang tidak akan ia acuhkan. Arcaviel hanya merapatkan netra, kemudian menarik tipis sudut bibirnya usai merasakan lingkaran lengan Reeval meraih pinggangnya dan memeluknya erat. Tidak lama setelah itu, alam bawah sadarnya mengantar Arcaviel kepada bunga tidur terindah. Reeval Lanford benar-benar tempatnya berpulang. * Benak Reeval teramat kacau. Baru kali ini, ia merasakan emosi negatif meletup dan memaksa ingin keluar dari kepalanya. Pria itu bahkan terjaga sampai tengah malam. Atensinya tidak pernah lepas dari Putri Aeradale, bagaikan bila ia melamun sedikit saja, maka gadis itu akan raib dari sisinya. Berbeda dengan Reeval, Arcaviel justru tampak terlelap dalam damai di atas dipan. Reeval terus mengamati Arcaviel dengan intens. Jika diumpamakan, Arcaviel seperti barisan huruf dalam buku. Setiap fitur wajahnya diamati oleh Reeval, tidak ingin melewatkan satu pun. Paras eloknya murni kepolosan, itu mampu mereduksi amarah Reeval terhadap tindakan Orbit Desertir. Ya, penyusupan tadi memang dilakukan oleh para pengikut Raja k*****t itu. Siapa lagi yang merekrut seorang pemilik mana ilusi sebagai anggotanya? Menghela napas, Reeval kembali menaruh atensi kepada gadis berdarah biru itu. Tanpa sadar, otaknya mereka ulang seluruh kepingan memori tentang keduanya—di mana mereka saat itu saling berbagi afeksi dan proteksi. Semua mungkin masih akan berlanjut jika saja tidak ada nujum yang sangat dipercayai oleh para b*****h kolot semacam keluarga kerajaan itu. “Aku tidak mungkin menjerumuskanmu, Cavi.” Tahu Arcaviel tidak akan mendengar, Reeval hanya bermonolog. “Nujum itu keliru. Aku mustahil membiarkan diriku mendampingmu memimpin dalam ketaksaan.” Pria itu meraih ruas-ruas jemari lentik Arcaviel dan mengecupnya lembut. “Keluargamu tidak akan mengerti.” “Ree ... ve.” Arcaviel mengigau dalam tidurnya. Sempat merasakan jantungnya berhenti, Reeval seketika kembali lega karena Arcaviel tidak benar-benar mendengar ucapan pria itu. Ia tidak bisa membayangkan bagian terburuknya jika gadis itu tahu Reeval Lanford bukan Raja Aeradale sesungguhnya. Reeval tidak pernah sefrustrasi ini selama ia mengambil alih kedudukan Oakley. Ditariknya kembali tangan pria itu dari sisi Arcaviel, kemudian memutuskan untuk mengamati paras polos Arcaviel lagi. Ia mendapati kening Arcaviel mengerut dalam, lantas diusapnya kening sang Putri dengan ibu jari. Itu sia-sia, tidak ada perubahan signifikan. Maka dari itu, tangan Reeval beralih dari keningnya dan meraup pipi Arcaviel. “Bermimpi buruk?” tanyanya, kemudian mencondongkan sedikit tubuhnya untuk mengecup kening Putri Aeradale. Pasca ia menarik diri, lambat laun kelopak mata Arcaviel memicing buka, menampakkan netra biru sayu milik gadis itu. Arcaviel tidak melihat ke arahnya, melainkan langit-langit ruang kamar Reeval. Sorotnya kosong seperti masih setengah sadar. Ia baru berpaling dari lampu kandil yang sengaja dimatikan ketika suara maskulin Reeval memanggil namanya. “Sesuatu mengusikmu?” Reeval melemparkan sorot cemas kala netra mereka berserobok. Arcaviel tidak merespons. Reeval tetap menanti jawaban dengan sabar, tetapi berhenti saat menyadari atensi Putri Aeradale bukan tertuju pada manik hitamnya. Perhatian itu mendarat di bibirnya. Reeval menahan gugahan untuk tidak berpikir macam-macam. Ia berniat tidur memunggungi Arcaviel, tetapi di luar dugaan, kepala Arcaviel terangkat menujunya—memagut halus bibir mereka. Pria itu mematung dalam keterkejutan. Tentu sebagai seorang pria, ia tidak akan menolak. Justru, Reeval menekan lembut bibir Arcaviel dengan miliknya sampai kepala gadis itu kembali bersandar di atas bantal. Reeval terus melumatnya, seakan-akan lupa dengan status mereka sebagai sepasang saudara. Itu berlangsung tidak sampai satu menit. Arcaviel tidak lagi merespons lumatan bibir pria itu, rupanya sudah terlelap kembali dalam tidur ketika Reeval memeriksanya. Merasa diberikan pengharapan palsu, butuh tenaga ekstra bagi pria itu untuk menjauh. Diacaknya surai hitamnya sendiri sampai awut-awutan, sama seperti keadaan benaknya saat ini. Selamat, kau berhasil membuatku seperti pria berengsek, Cavi! Menahan gugahan yang berdenyut secara memalukan untuk diakui olehnya secara pribadi, pria itu buru-buru memunggungi Putri Aeradale. Dan tanpa sepengetahuan Reeval, kelopak dari sepasang netra bermanik biru itu terbuka dan secercah kuning menyala-nyala di dadanya. Arcaviel mengatur napas sehalus mungkin, berharap tidak akan terdengar sampai ke indra pendengar pria satu dipannya. Apa yang baru saja kulakukan? Juga ... makna dari mimpi itu?[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN