19. Potret Ganjil Keluarga

2178 Kata
Iseng, jemari lentik Arcaviel memilin wol jubah Raja Aeradale yang tersemat pada area tengkuk pria itu. Lantaran terlalu fokus dengan bulu teramat halus itu, Arcaviel seakan-akan lupa tempat. Ia, Reeval, Sahara, dan Marcus hendak berderap keluar dari lingkar dalam serambi. Mereka kemudian langsung dihadapkan dengan pelataran megah kerajaan. Putri Aeradale belum sadar juga bila sekitar mereka ramai oleh para bangsawan. Ia mengambil satu langkah di belakang Reeval, berselindung di balik punggung pria itu, masih juga sibuk dengan kebodohannya. Beberapa pria bangsawan mencuri-curi pandang ke arah gadis berparas elok itu, tetapi hanya ada lipatan di permukaan kening mereka. Reeval tentu peka. Semestinya lebih baik bila pria-pria itu tidak bisa melihat sosok Putri Aeradale, tetapi sebagai seorang Raja, ia tidak bisa diam saja. Bukan hal bijak untuk tidak menampakkan figur penting kontinen, jadi Reeval segera berputar balik dan menangkap jemari Arcaviel. “Kemari,” Reeval mengusapnya sejenak sebelum mempersilakan gadis itu bersisian dengannya. “Tetap bersamaku nanti.” “He-em.” Arcaviel mengangguk mengiakan. Ia tidak banyak tanya—tidak seperti Putri Aeradale berani berinteraksi dengan bangsawan lain. Sepanjang perjamuan, Arcaviel hanya akan mengandalkan sang kakak dan mungkin, indra penglihatnya, agar ia bisa menemukan Pierce atau petunjuk lainnya mengenai pemuda itu. Diraupnya udara dalam-dalam, mengisi pasokan udara ke paru-paru, lalu mengembuskannya pelan. Kegelisahan Arcaviel tentu saja dapat ditangkap langsung oleh Raja Aeradale. Pria itu terlalu tahu dan mengenal seluruh gelagat Arcaviel tanpa kecuali. Jadi, Reeval melepaskan jemarinya dari sisi Arcaviel—itu sempat membuat Putri Aeradale menjauhkan diri, namun secepat mungkin Reeval merangkul pundak polos Arcaviel dan mengusapnya subtil. Sepanjang melintasi kastel utama untuk menjamah auditorium, kerumunan para bangsawan pria, terutama mereka yang bermata keranjang, sudah lebih dulu bergidik ngeri. Jarak bersisian sepasang saudara itu sangat dekat. Sebelum netra mereka bergerak ke arah lain, Reeval sudah lebih dulu menghunjam tatapan ‘kau akan mati’ dari kejauhan. Raja Aeradale tentu sangat menjaga adiknya, pikir mereka. “Yang Mulia!” Itu suara Tahala. Arcaviel mengenal betul meski mereka baru bertemu satu kali. Helaan napas lantas terlontar dari bibir Putri Aeradale, mendadak ia ingin beringsut lebih dulu menuju paviliun tempat di mana auditorium berada. Alih-alih melepas gamitan kakaknya, Arcaviel justru meremas telapak tangan Reeval, seakan-akan meminta mereka untuk tetap meneruskan perjalanan tanpa memedulikan kedatangan Tahala. Namun, Reeval justru mengabaikan Arcaviel. Netra sehitam jelaganya memancang lurus kepada Tahala. Wanita bersurai putih itu turun dari atas kuda, dibantu dengan kesatria pria di sisinya. Tahala buru-buru beringsut mendekat ke arah sepasang saudara bangsawan Aeradale itu. Sorot netra kelabunya masih sama menggodanya dengan kemarin. Tahala menerjang Reeval dengan dekapan singkat, kemudian beralih mendekap Arcaviel. “Kau benar-benar menawan hari ini, adik ipar,” sanjung si bangsawan Aristide, kemudian menarik dirinya kembali. “Pasti setelah ini, kau akan diberikan banyak sekali permohonan lamaran dari para pria.” Arcaviel merasakan kedutan saat ia melemparkan senyum. “Anda juga, Lady,” balas Putri Aeradale, seadanya. “Nah, berhubung perjamuan kembalinya Putri Arcaviel sudah dapat diadakan,” Tahala mengerling kepada Reeval tanpa memedulikan betapa dinginnya sorot pria itu saat ini, “acara kita kapan, Yang Mulia?” “Tidak.” Itu bukan respons dari Reeval, melainkan Arcaviel. Putri Aeradale mengulum bibirnya sejenak, merutuk betapa impulsifnya gadis itu sekarang. “Tidak dalam waktu dekat, Lady Hala.” Samar-samar, Reeval bisa merasakan sudut bibirnya terangkat naik. Ia mengabaikan gurat kesal dari Tahala, kemudian meremas jemari Arcaviel yang masih bertaut dengan pria itu dan berterima kasih karena sudah mewakili jawabannya. Namun, bagi Arcaviel, bukan itu respons yang ia inginkan dari Reeval. Raja Aeradale semestinya menegaskan bila ia tidak akan menikahi Tahala. Perbincangan tidak terhenti sampai di sana. Usaha Tahala untuk menaklukkan hati Raja Aeradale seperti tidak ada batas akhirnya. Yang Reeval lakukan hanya diam sepanjang ketiga bangsawan itu akan menjamah auditorium, sedangkan Arcaviel terus mengusap telinganya kepanasan. Ia melirik Tahala—wanita itu terus memeluk lengan kiri Reeval. Arcaviel sendiri masih menautkan jemarinya dengan milik pria itu. Sepintas, mereka terlihat seperti dua wanita yang ingin merebut seorang pria. Kenapa menjadi seperti ini? batin Arcaviel menggerutu. Perlahan, ditariknya jemari lentik Putri Aeradale dari gamitan. Begitu lengan Arcaviel akan terjuntai bebas ke sisi tubuhnya sendiri, secepat kilat Reeval sudah menangkapnya lagi, menyelipkan tangan Arcaviel di balik jubah. “Perhatikan sikapmu, Lady Hala.” Reeval menekan setiap kata untuk calon tunangannya. Ia segera menurunkan lengan Tahala dari sisinya, menolak untuk didekap oleh wanita bersurai putih itu. “Jangan mengundang kabar burung dari bangsawan lainnya. Aku belum menerima tawaranmu, Lady.” Pipi putih Tahala merona jengah. Ia tidak dapat berkutik lagi, kemudian mendahului langkah sepasang saudara itu pasca mendapat atensi dari berpasang-pasang netra di sekitar mereka. Arcaviel mengulum senyum menatap kepergian Tahala, sedangkan Reeval hanya mengembuskan napas, memutuskan untuk lanjut melangkah sampai sebuah paviliun terjangkau oleh indra penglihat mereka. “Tadi itu,” Arcaviel membuka suara dan mengejap, “kejam.” Mendengar opini dari Putri Aeradale, alih-alih marah, Reeval justru menarik satu sudut bibirnya membentuk senyum miring. “Sepenglihatanku, kau tersenyum, Cavi,” balas Reeval, enteng. Lalu pria itu sedikit membungkuk sekadar berbisik, “Kau pikir aku tidak memperhatikan guratmu tadi, hm?” Niat ingin mengerjai sang kakak, justru malah berbalik menjadi bumerang untuk diri Arcaviel. Mau tidak mau, ia melengos ke arah lain—hampir dibuat salah tingkah. Reeval menahan hasrat untuk tidak tertawa, setidaknya tidak untuk saat ini. Tawa pria itu mahal bila dilihat oleh orang lain. Jadi, Reeval kembali memfokuskan atensi ke depan, sebelum akhirnya berbelok masuk ke dalam paviliun. Auditorium sengaja diletakkan terpisah dengan kastel utama, mengingat sayap utama kastel dijadikan sebagai tempat tinggal bangsawan Aeradale. Pengamanan di dalam sana jauh lebih ketat. Tidak mungkin Raja Aeradale membiarkan para bangsawan menaruh kaki mereka di dalam kastel utama. Maka dari itulah, ia memilih paviliun satu tingkat sebagai auditorium tempat acara biasa diadakan. Sepatu hak Arcaviel berhenti berderap tepat mereka tiba di ambang pintu paviliun. Kemegahan auditorium lantas menguasai penglihatan Arcaviel kala itu juga. Luasnya bukan main, membuat Arcaviel terkesima dan mulai menaksir berapa sekian miliar juta aset yang perlu sesepuhnya rogoh dari kocek demi membangun kediaman kerajaan inti Aeradale ini. Sepenglihatan Arcaviel, ada dua meja teramat panjang. Jika diukur dalam satuan ruangan, mungkin panjangnya sekitar tiga ruang kamarnya sekaligus. Di atas setiap meja, hanya ada jajaran piring dan alat makan kosong. Hidangan baru akan disediakan saat perjamuan sedang berlangsung. Sebagian tempat duduk sudah terisi oleh para bangsawan, sisanya masih kosong—mungkin beberapa ingin mengitari kastel lebih dulu. “Ini adikmu, Yang Mulia?” Suara maskulin memecah keterkesimaan Arcaviel dari kemegahan auditorium. Ia perlu berjinjit untuk melihat si pemilik suara, sebab perawakan tinggi Reeval menghalau indra penglihatnya dari depan. Tahu berjinjit tidak terlalu membuahkan hasil, lantas Arcaviel beringsut maju dan bersisian dengan Reeval. Manik birunya langsung saja berserobok dengan milik pria bernetra amethyst. Ungu? Arcaviel mengejap. Ia tidak pernah melihat sepasang netra seunik itu. Reeval melirik singkat kedatangan Arcaviel di samping. “Ya,” tanggap sang Raja, seadanya. Menerima respons sedemikian apatis, pria bernetra ungu itu menahan ringis. Tetapi, ia kembali tidak peduli dan justru menjatuhkan tatapan kepada Arcaviel. Sembari menarik senyum memesona, ia membungkuk sejenak sebagai formalitas. “Putri, suatu kehormatan bisa melihat kembalinya kau di Aeradale,” ucapnya, ramah. “Aku Drago Dynorel, putra tunggal Duke dan Duchess Dynorel. Senang bertemu denganmu, Putri Arcaviel.” Arcaviel menelengkan kepalanya sejenak. Ia merasa pernah mendengar nama itu, tetapi kapan? Segera ia mendongak untuk menatap Raja Aeradale. Seakan-akan mengerti, Reeval lantas berbisik, “Strata tertinggi kedua. Perwakilan mana hitam.” Manik biru Arcaviel mengalami dilatasi. Ia membentuk bibirnya menjadi bulat dan mengangguk beberapa kali, mengindikasikan ia telah mengingatnya. “Senang bertemu dengan Anda juga, Yang Mulia Dynorel.” Raja Aeradale spontan mendelik ke arah Arcaviel, sedangkan Drago tertawa pelan. “Cukup Drago saja, Putri. Tidak perlu ada embel-embel seperti itu,” ucapnya, lalu tersenyum teduh—membuat Arcaviel kemudian merapatkan tubuhnya ke sisi Reeval. Semenjak berakhir di Aeradale, entah mengapa pertahanan Arcaviel setiap kali melihat pria rupawan, apalagi sedang mengulaskan senyum, terasa goyah. Sungguh, Arcaviel merasa Amorette sudah tidak lagi ada. Reeval hampir berdecak jika saja ia tidak segera mendeham keras. Dengan subtil, lengan kukuhnya meraup pinggang Arcaviel. Ia semakin merapatkan tubuh mereka, menandakan bila Drago tidak bisa menarik Putri Aeradale begitu saja. Bersama dengan lontaran pandangan tajam menuju si putra satu-satunya pasangan Dynorel, Reeval berkata, “Perjamuan sudah mau dimulai. Kembali ke tempatmu, Drago.” Drago, di luar dugaan, menggulirkan sepasang netra ungunya. “Sepertinya aku perlu bekerja ekstra sebelum surat lamaran sampai di kediamanmu, Yang Mulia,” balasnya, jenaka. “Tidak akan terjadi.” Reeval mengibas tangan ke hadapan Drago. “Pergilah.” “Ya, ya, ya. Kau sungguh seorang kakak yang protektif, Lanford.” Drago manggut-manggut, kemudian netra birunya mengilat ramah saat ia menjatuhkan tatapan kembali menuju Arcaviel. “Kalau begitu, aku undur diri dulu, Putri. Mungkin aku akan mengundangmu ke kediamanku di lain waktu.” Arcaviel mengulaskan senyum manis. “Aku akan sangat menanti itu, Drago.” * Perjamuan hari ini berlangsung mulus. Arcaviel dapat dengan mudah memberikan sambutan di hadapan para bangsawan, seakan-akan ia terbiasa mengisi hidupnya untuk itu. Beberapa kali Arcaviel juga menemukan dirinya berinteraksi dengan baik bersama mereka, para pria dan wanita berdarah biru. Tetapi, dengan mengenakan sepatu hak selama seharian, Arcaviel berakhir kewalahan. Maka dari itu, atas izin Raja Aeradale sebelumnya, Arcaviel lantas kembali menuju kastel utama. Dua kesatria penjaga pintu, seperti biasa, menyambut kedatangan Putri Aeradale kala ia tiba di serambi. Tanpa berlama-lama, Arcaviel menyapa balik mereka dan memasuki lorong kastel dengan jajaran lukisan. Kali ini, kastel utama tampak kosong melompong lantaran disibukkan oleh perjamuan. Klik! Arcaviel terperanjat. Lampu kandil di langit-langit lorong mendadak mati. Warna hitam tersebar di mana-mana. Mengatur napasnya agar kembali normal, Arcaviel kembali meneruskan langkah sampai sebuah sulur keemasan mengilat sepintas, tertangkap oleh ekor netranya. Segera saja ia berbalik ke belakang, mendapati hitam yang sama—namun kali ini berbeda. Terpampang satu buah potret dan seorang pria berdiri menghadap bingkai tersebut. Pria itu terlalu asing bagi indra penglihat Arcaviel. Tentu saja ia tidak mengenalnya. Dengan langkah waswas, didekatinya sosok tersebut. Begitu banyak pertanyaan berkelibang dalam benak Putri Aeradale. Siapa dia? Apa yang sedang ia lihat? Apa yang ia lakukan? Kenapa aku dapat berakhir di sini? Dan lain sebagainya. Tetapi, yang berhasil ia lontarkan hanya satu kata, “Siapa?” Pria itu beralih muka dari lukisan. Surai pirang pria itu terlihat redup di antara warna hitam, tetapi tidak dengan netra hijau mengilatnya. “Kemarilah, Putri,” katanya, sama sekali tidak berniat merespons pertanyaan dari Arcaviel. “Yang Mulia telah menunggumu.” “Yang Mulia? Reeve?” Arcaviel mendadak menghentikan langkahnya. Tidak, ia tidak boleh terkecoh. “Untuk apa Reeve menungguku di saat ia sendiri bisa langsung datang kemari tanpa perantara sepertimu?” “Lihat ini, Putri.” Pria itu bahkan tidak repot-repot beradu mulut dengan Arcaviel. “Anda akan tahu kebenaran dari potret ini.” Meski sempat ragu, Arcaviel kembali beringsut maju. Tanpa mengurangi kewaspadaan, ia segera bersisian dengan pria asing tersebut—dan ketika Arcaviel memandangi potret tersebut, netra birunya tidak lagi terfokus kepada apa pun. Ia tidak sadar bila figur si pria di sampingnya sudah melebur bersama warna hitam. Putri Aeradale jelas memakukan pandangan hanya kepada potret keluarganya. Benar, ada sosok Arcaviel dalam potret itu. Ia juga dapat melihat karakteristik wanita dan pria yang ia asumsikan sebagai Mom dan Dad. Tetapi, ada seorang pria lagi, mungkin dua atau tiga tahun di atasnya. Dan itu bukan Reeval—sama sekali tidak ada mirip-miripnya. Arcaviel menggelengkan kepalanya. Ia niscaya salah melihat. Belum sempat mengamatinya lagi, sebuah tangan menangkap lengannya secepat kilat. Lamunan Arcaviel terpecah kala itu juga. Arcaviel spontan mengejap, mendapati dirinya sudah kembali menuju realitas. Ia berbalik menghadap si empunya tangan dan Raja Aeradale sudah berada tepat di depan wajahnya. Bisa ia lihat betapa kerasnya gurat Reeval saat ini. “Reeve?” panggil Arcaviel, pelan. Reeval mengabaikan gadis itu. Ia justru melongok kepada seorang pelayan, kebetulan baru keluar dari arah lorong dapur. “Singkirkan para tamu!” titahnya, nadanya begitu mutlak. “T-Tetapi, Yang Mulia—” “Sekarang.” Reeval tidak sudi menerima penolakan. Darahnya terasa menjalar sampai ke kepala. “Katakan kepada mereka, kita kedatangan penyusup.” “B-Baik, Yang Mulia.” Dengan langkah tergesa-gesa, si pelayan Aeradale meninggalkan kastel utama untuk mengerjakan titah dadakannya. Arcaviel belum sempat melihat kepergian si pelayan, karena Reeval langsung menarik lengannya untuk menaiki undakan spiral di pertengahan lorong. Sepanjang perjalanan, hanya ada deru napas kasar Reeval. Arcaviel tidak berani bersuara secuil pun. Ini pertama kalinya Raja Aeradale terlihat marah besar. Alih-alih mengusungnya ke kamar Putri Aeradale, Reeval justru menuntunnya ke kamar pria itu dan baru melepaskan tangan Arcaviel dari sisinya untuk menutup pintu dengan satu bantingan kasar. Arcaviel bisa merasakan detak jantungnya memburu-buru. Ia belum juga bergerak dari posisi berdirinya saat ini, mengamati gelagat Reeval yang penuh dengan amarah. “Reeve …,” cicitnya, takut-takut. Raja Aeradale mengusap kasar wajahnya, kemudian menatap Arcaviel dengan amarah tak terkatakan di sana. “Malam ini tidur di kamarku,” titahnya, final. “Lupakan insiden tadi. Seseorang ingin menghancurkan kita.” Telapak tangan besar Reeval menepuk pelan puncak kepala sang Putri, sebelum akhirnya berlalu ke sudut ruangan untuk melepas jubah wolnya. “Bersihkan dirimu dan istirahatlah, Cavi.” Arcaviel mengatupkan bibirnya—hanya mengiakan dengan satu kali anggukan.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN