18. Dirimu Yang Dulu

1821 Kata
Sensasi dingin terasa menampar tepat Arcaviel keluar dari kamar kecil hanya dengan balutan handuk. Giginya gemeletuk, kentara kedinginan meski luar teras dapat terbilang terik. Sahara memeluk lengan kiri Arcaviel, sementara dua pelayan lain mengekor dari belakang. Arcaviel tidak begitu mengenal mereka seperti ia mengenal Sahara, tetapi jika dilihat, mungkin mereka lebih tua dua tahun dari Arcaviel. Karena acara perjamuan atas kembalinya Putri Aeradale akan berlangsung siang ini, ketiga pelayan Aeradale akan membantunya mengurus diri. Arcaviel bisa mencium semerbak yasmin dari sepenjuru anggota tubuhnya. Ia memang sempat berendam air hangat berisikan minyak esensial sekitar lima belas menit. Jadi, tidak heran lagi bila dirinya saat ini wangi bukan main. “Putri, kami izin mengeringkan rambut Anda,” kata Hecca, menginstruksikan Rora melalui netra kelabunya. Memahami instruksi dari kawan satu kerjanya, Rora lantas mengeluarkan sebuah alat pengering di dalam tas transparan. Ada banyak ikatan dan benda-benda lain untuk mempercantik diri Arcaviel. Arcaviel terkesiap begitu Rora menaruh tangan pada alat tersebut. Mana putih, pikir sang Putri. Aliran listrik terhantar dari telapak tangan Rora, kemudian suara alat pengering terdengar. Arcaviel takjub. “Mana-mu listrik, Rora?” tanyanya, menerbitkan rona merah di pipi si pelayan Aeradale. “Benar, Putri.” Rora mengangguk malu-malu, baru ia mendekatkan diri dengan alat pengering di tangannya. “Katakan bila anginnya terlalu panas, ya.” “Tidak, sudah oke.” Arcaviel berpaling ke sisi kanan. Hecca tampak berkutat dengan sebuah kotak berisikan beberapa botol kecil yang terdiri atas beberapa warna—pewarna kuku, tentu saja. Putri Aeradale tanpa sadar tertawa pelan. Astaga, sepertinya ia akan dipermak habis-habisan hari ini. Bukan dia sama sekali. “Hecca, bolehkah aku memilih warnaku?” Mendengar namanya tersebut, Hecca lekas beralih muka dari kumpulan botol kecil itu menuju Arcaviel. “Tentu saja, Putri,” jawabnya, mengangguk cepat. Ia buru-buru mengusung kotak itu kepadanya, mengizinkan Putri Aeradale untuk memilih warnanya sendiri. Lalu, manik biru Arcaviel berpindah dengan cepat menuju gaun dalam kotak di atas meja rias. Hm … gaunku putih. Mungkin krem akan cocok untuk jariku, simpulnya, kemudian jemari lentik Arcaviel lekas mengambil satu botol berwarna krem. “Ini, kurasa cukup selaras untuk gaunku. Bagaimana menurutmu, Hecca?” “Pilihan tepat, Putri.” Hecca mengacungkan ibu jarinya tanpa segan, itu membuat Arcaviel tertawa halus. “Saya izin mewarnai kuku Anda, Putri. Ini akan berlangsung cepat.” Arcaviel mengangguk patuh. Ia menanti selama beberapa menit. Rora sudah hampir mengeringkan seluruh bagian surai cokelat pirangnya, begitu pun Hecca yang sudah menuntaskan pewarnaan kuku tangan dan kuku kaki Putri Aeradale. Sementara dua kawannya sibuk, Sahara hanya berdiri paling belakang. Ia mendapat tugas untuk menata surai sang Putri. “Sudah, Kak Rora?” Sahara maju dua langkah pasca melihat Rora telah menarik mana putihnya kembali dari alat pengering. Ketika ia menerima respons anggukan dari pelayan seniornya, Sahara lekas meraih kotak dari butik dan menjuntaikan gaun putih yang akan dikenakan oleh Putri Aeradale selama perjamuan nanti. Binar cerah spontan mendominasi netra bulat Sahara. Indah sekali! kagumnya. Akan ia buat nonanya teramat cantik seharian ini. Belum luput juga binar cerahnya, Sahara lantas berkata dengan ceria, “Putri, mari berdiri. Kami tidak sabar melihat betapa mengesankannya Putri setelah ini!” Bibir ranum Arcaviel tertarik naik. Ia tidak banyak bicara selama Sahara, Rora, dan Hecca bahu-membahu membantunya mengenakan gaun. Sama seperti Sahara, sebetulnya Arcaviel sendiri tidak sabar becermin dengan busana tersebut. Herrecia, si pemilik butik, benar-benar membuatkan gaun untuknya dengan model melebihi ekspektasi Putri Aeradale. Dari hasilnya, ia tidak akan heran bila butik tersebut menjadi langganan kerajaan. “Impresif!” Napas Sahara tersekat saking kagumnya. “Astaga, saya bahkan belum menata surai Putri dan Anda sudah secantik ini!” “Sahara,” kepala Arcaviel tertunduk jengah, “kau membuatku malu, tahu.” Pelayan Aeradale itu memamerkan deretan giginya, mengulaskan senyum semringah. “Saya hanya membicarakan fakta, Putri. Benar, kan, Kak Rora, Kak Hecca?” “Benar sekali,” jawab Rora dan Hecca, serentak. Tidak dapat mereka mungkir, Putri Aeradale begitu jelita. Setiap garis wajah dan lekuk tubuhnya hampir seperti pahatan, terlalu simetris. Jika saja mereka seorang pria, Rora, Hecca, apalagi Sahara niscaya menaksir berat Putri Aeradale. Sahara saja tidak akan heran bila Raja Aeradale dapat lupa diri dan mencintai adiknya sendiri—karena sang Putri memang seelok itu! Menerima sanjungan dari ketiga pelayannya, kepala Arcaviel kian tertunduk. Ia bahkan tidak repot-repot untuk menginspeksi tubuhnya secara keseluruhan, memberikan Sahara kesempatan lebih dulu untuk menata surainya, sementara Rora dan Hecca sudah pamit undur diri dari ruang kamarnya. Mereka berdua telah menuntaskan pekerjaan mereka di sini, sehingga tersisa Arcaviel dan Sahara. Jemari mungil Sahara bergerak lasak dan telaten selama ia mengepang sebagian kecil helaian cokelat pirang nonanya. Arcaviel memperhatikan pergerakan itu dari cermin. Ia hanya bisa melihat penampilan dirinya sampai ke d**a saja. Oleh karena gaun dari butik tidak memiliki lengan, Arcaviel hanya bisa melihat pundak polosnya dan—ia mengejap, kemudian membasahi bibir ranumnya kikuk. Belahan d**a Arcaviel rupanya sedikit terekspos. Gadis itu mendadak risau. “Selesai, Putri.” Oh, cepat sekali? Arcaviel mendongak dengan dagu terangkat. Lagi-lagi ia mengejap, dengan bodohnya ia mulai bertanya-tanya siapa sosok di balik cermin itu. Begitu tersadar, ia hampir terlonjak saat ingin berdiri. Arcaviel lekas beralih dari refleksi dirinya menuju gurat cerah Sahara di balik pundaknya. Sahara kembali memujinya dengan kalimat-kalimat manis. Arcaviel mendengarkan, tetapi tidak ada satu pun yang melekat di benaknya. Putri Aeradale justru sibuk menginspeksi refleksi dirinya. Bisa ia temukan bagaimana Sahara menata sebagian kepangan surai cokelat pirangnya agar melingkari mercu kepala gadis itu, sedangkan helaian lain dibiarkan menjuntai sampai ke punggung. Penataan sederhana, tetapi cukup membuat Arcaviel tampak berbeda. Belum lagi, perbedaan ini didukung oleh gaun butik. Ada dua lapis kain yang membebat tubuh Arcaviel. Kain pertama berbahan satin putih, menutupi seperempat bagian dadanya dan menjuntai sampai tempurung lutut. Kain kedua, itu tule—bahan kain teramat ringan, tipis, dan transparan. Lapisannya terdiri atas jaring-jaring berlubang heksagon sangat kecil dan sengaja disambungkan dengan satin yang membebat tubuh Putri Aeradale. Sekitar lima senti di bawah pundak polos Arcaviel, tule melingkari kedua lengannya. Ketika Arcaviel mencari titik temu mereka, rupanya itu terletak pada belahan dadanya sehingga membentuk huruf V. Lagi-lagi, kedua pipi halus Arcaviel dibuat merona. Ia tidak terbiasa mengenakan busana terbuka seperti ini, bahkan ketika ia masih tinggal di Desa Silkvale. Atensinya teralih tidak lama setelah indra penglihatnya menangkap kilap hasil pantulan sinar lampu kandil berlapis kristal di atap ruangan. Kalung pemberian Reeval masih ia kenakan, tidak seperti Arcaviel akan melepasnya. Diangkatnya jemari lentik Putri Aeradale untuk menyentuh bandul anak panah dengan busur itu. Dapat ia rasakan dadanya menghangat, tidak serisau tadi. Menarik napas, Arcaviel kemudian menurunkan kembali tangannya dan tidak sengaja menyentuh kain daerah pinggangnya. Keningnya mengerut begitu merasakan sedang memegang beberapa manik agak kasar. Benar saja, kala Arcaviel ditemukannya sejumlah payet—hiasan berkilap yang memang sengaja disediakan sebagai aksesori gaun. “Putri,” suara Sahara terdengar dari luar teras, entah sejak kapan ia berdiri di sana, “sepertinya semua bangsawan antusias ingin melihat Anda.” “Mereka hanya ingin menaikkan moral dengan datang tepat waktu, Sahara.” Arcaviel tertawa halus begitu perawakan mungil Sahara sudah ada di belakangnya. “Aku sudah siap. Mari kita keluar.” Sahara mengiakan, kemudian melihat Sang Putri tengah mengenakan sepatu haknya seorang diri. Arcaviel menolak untuk dibantu, tentu saja ia sudah terbiasa memakai hak selama di Desa Silkvale. Bisa dibayangkan betapa femininnya gadis bernetra biru itu ketika berada di dunia fana. Para pemuda dan pria menyanjung tinggi etiket baik Arcaviel—Amorette. Ini membuat Arcaviel ingin menghitung. Sudah berapa lama ia meninggalkan nama itu di Aeradale? Lorong tingkat dua hening ketika Arcaviel dan Sahara melintasi jajaran pintu dan lukisan dirinya. Baru saat hampir mencapai pertengahan lorong, manik biru Arcaviel tidak dapat jelalatan ke arah lain, kecuali perawakan seorang pria dengan balutan atribut hitam berbahan kulit. Reeval juga mengenakan jubah yang menutupi seluruh bagian punggungnya. Ada wol pada bagian atas jubah, seakan-akan berguna untuk menghangatkan si pemakai. Reeval tidak sendiri. Ia bersama—entahlah, Arcaviel tidak bisa menerka sosok di balik helm zirah. Sepertinya Marcus, siapa lagi kesatria kepercayaan Reeval selain Kesatria Deulake? Putri Aeradale hanya melemparkan senyum begitu manik milik Reeval berserobok dengannya, tetapi seulas senyum itu pudar beberapa saat kemudian. Entah ini hanya perasaannya atau manik sehitam jelaga Raja Aeradale berubah lebih pekat. “Yang Mulia,” sapa Sahara, membungkuk formal. Reeval mengangguk satu kali, kemudian memandang Arcaviel lagi. Pria itu sempat menurunkan sedikit pandangan, namun buru-buru berhenti pada detik itu juga. Batinnya geram bukan main, semestinya ia memeriksa lebih dulu gaun pemberian Herrecia sebelum membiarkan Putri Aeradale mengenakannya. Kalau sudah begini, mau bagaimana lagi? Reeval harus menjaga sang Putri setiap saat dari para bangsawan pria bermata keranjang. Raja Aeradale menawarkan tangan kanan untuk Arcaviel dan jemari mungil itu lantas menerimanya. Diikuti Marcus dan Sahara dari belakang, bersama-sama mereka menuruni undakan spiral, berniat menjamah auditorium di sayap lain kastel. Reeval menghela napas. Campuran emosi berkelibang dalam benaknya. Tidak bisa ia mungkir, penampilan memukau Arcaviel saat ini nyaris membuatnya lupa diri. “Reeve.” Arcaviel membuka suara ketika mereka akan berbelok kanan, menuju ke luar kastel. Ia menelengkan sedikit kepalanya menghadap Reeval. “Ada apa?” Reeval mengangkat satu alisnya. “Ada apa apanya, Cav?” “Reeve kelihatan …,” Arcaviel menjeda sejenak, kemudian memelankan suaranya, “marah.” Sudut bibir Reeval nyaris terangkat. “Apa yang membuatmu berpikiran seperti itu, Cavi? Dan kenapa juga aku harus marah?” tanyanya. “Hanya menebak?” Suara feminin itu bahkan terdengar skeptis. Sebetulnya, Putri Aeradale tidak sepenuhnya salah. Ia jelas marah, betapa menyesalnya pria itu karena tidak mengantisipasi Herrecia agar tidak membuat model sedemikian terbuka untuk Arcaviel kenakan saat perjamuan. Alasannya, seperti tadi, para bangsawan pria memiliki mata keranjang—kemudian alasan kedua, Reeval juga sama seperti pria-pria berotak rusak itu. “Tidak. Aku tidak bisa melakukan lebih dari ini.” “Tidurlah, sayang. Catat, empat tahun lagi.” Suara maskulin empat tahun silam menggema dalam benaknya. Reeval merapatkan netra, kemudian meremas pelipisnya frustrasi. Tidak lama, suara lain—suara malu-malu dan tergagap, melintas di benaknya lagi. “A-Apa?” “Habis kau,” gumam Raja Aeradale tanpa sadar. Ia terlampau larut dalam memori tersebut, begitu indah untuk ia kenang sampai-sampai hampir dibuat lupa bila gadis itu kini sudah kembali ke sisinya. Tanpa sepengetahuan Raja Aeradale, Arcaviel memperhatikan gelagat pria itu sepanjang mereka meneruskan langkah ke luar kastel. Sorotnya penasaran, namun Arcaviel tidak berusaha untuk mengutarakan keheranannya. Dua kesatria penjaga pintu menyambut sepasang saudara itu penuh formalitas, sebelum akhirnya satu di antara mereka memelesat membuka pintu. Deritnya terdengar bertepatan sinar mentari pagi menjelang siang menyapa dengan terik. Arcaviel melenguh, tanpa sadar ia melangkah mundur dan berselindung ke balik pundak Reeval. Pergerakan Putri Aeradale terlalu impulsif. Arcaviel, entah mengapa, mulai menyadari ada keanehan setiap kali ia berdekatan dengan Reeval. Perasaan untuk ingin terus berlindung di balik pria itu, bersikap infantil, dan hal-hal lain yang sebetulnya bukan Arcaviel sama sekali. Tidak hanya Arcaviel, Raja Aeradale bahkan mulai menyadari perubahan drastis atas sikap sang Putri. Sudut bibir Reeval mulai tertarik naik bertepatan mereka menapakkan kaki di serambi. Aku seperti melihat dirimu yang dulu, Cavi.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN