Bibir ranum Arcaviel terkatup saat semilir angin datang dari arah pepohonan di belakang sana. Udara tiba-tiba mendesing bagaikan peluru, sudut ekor netranya kemudian menangkap suatu kilat kuning. Arcaviel lekas melongok ke balik pundaknya, menoleh, kemudian secepat kilat debar jantungnya menguat. Bahkan tanpa memedulikan cangkir di tangannya terjatuh dan isinya meruah, Arcaviel beranjak detik itu juga.
Arcaviel seakan-akan menulikan indra pendengarnya dari teriakan sang kakak, serta derap ketiga kesatria yang akan mengejarnya. Manik biru Putri Aeradale terpancang lurus dan terfokus kepada satu titik di dalam Perbatasan—koloni kunang-kunang yang beterbangan serta menguarkan sinar dari tubuh oval mereka. Itu niscaya mereka yang mengusungnya kemari.
“Berhen—”
Ia menghentikan seruan bertepatan seseorang menangkap lengan kirinya. Begitu Arcaviel mengejap, kunang-kunang itu menghilang tanpa jejak. Tidak, di mana mereka?! batinnya menjerit pilu. Bisa ia rasakan tubuhnya melemas, mungkin akan jatuh terduduk di tengah-tengah pepohonan jika saja Reeval, sosok yang menangkap erat lengannya, tidak segera menahan pinggangnya.
“Cavi,” bisik suara maskulin itu, rendah. Ada amarah tak terkatakan di sana, dan Arcaviel baru saja menyadari kesalahannya. “Kita pulang.”
Titahan Raja Aeradale tidak terbantahkan. Arcaviel menegakkan kembali tubuhnya, berbalik bersemuka dengan Reeval semata-mata menatap pria itu dengan berkaca-kaca. Sorot dingin Reeval melunak saat itu juga, kendati afeknya tetap datar. Alih-alih mulai melangkah keluar dari dalam Perbatasan, Arcaviel mengikis jarak di antara mereka dan melingkarkan lengan mungilnya kepada tubuh Reeval.
Perlakuan itu menyentak Reeval, tetapi pria itu masih terlalu marah untuk sekadar balas merengkuhnya. “Kau sudah berjanji tidak akan pergi lagi,” ucap Reeval, tebersit kekecewaan yang teramat kentara dalam nada bicaranya. Bahkan terdengar dingin, hampir tidak berhati.
“Tadi aku melihat mereka, Reeve. Kunang-kunang itu.” Arcaviel segera membenamkan kepalanya di d**a bidang Reeval sambil terisak pelan. “Aku tidak bisa membantu tetapi mengejar mereka. Maaf.”
Reeval meremas ruas-ruas jemarinya sendiri, mengepal erat agar ia bisa menahan diri untuk tidak bertindak di luar kendali. Beberapa garis urat birunya terlihat menonjol di seputar lengan kukuhnya. Pria itu bungkam seribu basa, tampak tidak berminat merespons Arcaviel. Lalu, ia sengaja menarik diri untuk menjauh dari Putri Aeradale.
Dengan langkah besar, ia mulai beranjak dari dalam Perbatasan menuju tempat di mana ia memarkir Hugen.
Pria itu bahkan tidak repot-repot menunggu Arcaviel mengekornya keluar dari Perbatasan. Ia hanya menginstruksikan Lus dan Thelr untuk mendampingi Putri Aeradale kemari, sedangkan Marcus hanya mengamati perubahan drastis suasana hati rajanya. Marcus menghela napas, ia tidak paham mengapa Raja Aeradale bisa semarah ini hanya karena sang adik tiba-tiba berlari menuju Perbatasan.
Sementara itu, kepala Arcaviel tertunduk dalam-dalam. Ia meremas erat-erat tuniknya, tidak sanggup untuk menahan isak tangis. Ulu hatinya terasa nyeri bukan main. Arcaviel memang pernah bertengkar beberapa kali dengan Pierce, tetapi tidak pernah ia setakut dan sesakit saat ini. Bersama Reeval, entah mengapa Arcaviel merasa begitu berbeda. Ia lemah menghadapi kakaknya. Ia takut setiap tindakannya akan menyakiti dan mengecewakan kakaknya.
“Putri, mari.” Lus dan Thelr mendatangi Putri Aeradale, kemudian mendampinginya menyusul Reeval dan Hugen.
Begitu mencapai lingkar luar Perbatasan, bisa ia lihat Reeval sudah lebih dulu menaiki Hugen tanpanya, tidak seperti biasa. Arcaviel menggigit bibir ranumnya keras-keras. Reeval marah besar dengannya karena ia baru saja mengingkar janji. Menarik napas dalam-dalam untuk mencekal air matanya mencuat, Arcaviel mulai menginjak satu-satu undakan pelana di tubuh kuda peliharaan mereka.
Reeval menghela napas. Ia tahu dirinya egois, tidak membiarkan Arcaviel menemui orangtua pura-puranya selama di dunia fana, namun pria itu tidak memiliki opsi lain kecuali mendiamkan sang Putri. Aku hanya tidak ingin kau pergi lagi. Hanya itu, Cavi. Mengertilah, batin Reeval. Meski tidak ia katakan secara langsung, pria itu hanya bisa berharap Arcaviel mengerti atas kehilangan serta kehampaannya selama empat tahun ini.
Pada akhirnya, sepasang saudara bangsawan itu tetap tidak membuka suara sepanjang mereka kembali menuju kastel.
*
Krak! Suara retakan lagi-lagi menggemparkan seisi pelataran. Para pria dan wanita paruh baya bergumul dengan anak-anak, membentuk kerumun dengan cukup banyak kengerian menguar di antara mereka. Sementara yang lain dibuat ketakutan, seorang pria di dalam tenda hanya dibuat bosan oleh suara tersebut. Tetapi, ia enggan mendiamkan, sehingga buru-buru ia menyingkap selubung tenda dan melihat ke luar.
Leher dan kepalanya melongok sejenak, baru meninggalkan tenda medis dengan tangan kiri terbalut perban. Kedatangan pria bersurai cokelat awut-awutan itu mengundang begitu banyak sorot asa di antara binar kengerian dalam kerumunan. Ia bergegas melangkah lebar dan masif. Netra biru kehijauannya memancang penuh asertif kepada punggung seorang pria tambun sekitar setengah kilometer dari posisinya saat ini.
“Oh, Yang Mulia!” Pria tambun itu terlihat ingin membungkuk saat melihat kedatangannya, tetapi tidak bisa lantaran sepasang tangan si pria tambun masih terentang ke depan, menahan retakan selubung tak kasatmata ciptaannya agar tidak semakin membesar. “Mereka meretakkannya lagi, tetapi untungnya berhenti sampai di sini karena Barro berhasil menjeratnya dengan ilusi.”
“Ignacio belum kembali?” Pria dengan panggilan ‘Yang Mulia’ itu melirik si pria tambun. Melihatnya cukup kesulitan lantaran serangan kali ini cukup kuat hingga hampir berakibat fatal, akhirnya pria tersebut kembali berkata, “Aku akan membantu.”
“Belum, Yang Mulia.” Pria tambun itu menurunkan pandangan sejenak kepada tangan kiri Yang Mulia di sampingnya. “Saya rasa Anda tidak perlu repot-repot. Yang Mulia harus beristirahat pasca serangan kemarin, bukan?”
Diingatkan kembali dengan serangan satu hari silam, mau tidak mau, ia jadi kesal sendiri atas keputusannya keluar dari selubung tanpa siapa-siapa. Pria bernetra biru kehijauan itu mungkin selamat, bukan suatu hal yang perlu ia banggakan, tetapi bersua dengan siluet milik k*****t itu berada jauh di luar dugaannya. Sulur-sulur hitamnya hampir mematahkan tangan kiri pria itu jika saja ia tidak tanggap.
Dasar, bocah b*****h! batinnya, mengumpat geram. Ia menolak untuk mengekspresikan kekesalan, alih-alih berkata dengan datar, “Tidak ada kata ‘istirahat’ dalam kamusku, Battasti.”
Pria tambun bernama Battasti itu tidak lagi menolak. Ia mengangguk patuh, kemudian membalas, “Jika Yang Mulia berkehendak, baiklah.”
Bersama-sama, mereka merentangkan kedua tangan ke depan. Selubung tak kasatmata itu mulai sedikit tampak bagai gelembung raksasa. Ada spektrum pelangi membias di sana. Dari arah rentangan dua orang itu, menguarlah sulur-sulur berwarna keemasan, merambat ke sepenjuru selubung. Tidak perlu ada pembuktian untuk tahu bila retakan ciptaan siluet-siluet itu sudah berintegrasi menjadi selubung yang akhirnya kembali utuh.
Beres, batin si Yang Mulia, terbit sedikit kelegaan di benaknya. Ia memutar tubuh untuk menghadap Battasti. Pria tambun itu setengah membungkuk selagi berucap terima kasih. Sebagai respons apatisnya, ia hanya mengangkat satu tangan yang tidak terbalut perban di hadapan Battasti, mengisyaratkan bila bantuan darinya bukanlah apa-apa.
Baru setelah Battasti kembali berdiri tegap, Yang Mulia beringsut darinya untuk melintasi pelataran. Kaki pria itu berderap masif, pundaknya tegap, serta pandangannya memancang lurus ke depan. Si pria dengan sebutan ‘Yang Mulia’ itu memikat atensi orang-orang tadi. Mereka tidak lagi berkerumun, sebagian telah kembali ke aktivitas masing-masing, tetapi beberapa tetap tinggal semata-mata mengucapkan terima kasih.
Hati kecil Yang Mulia hanya bisa mengulaskan senyum getir. Empat tahun telak dan mereka masih mengabdi padanya, menaruh asa setinggi mungkin untuk pria itu—dengan harapan ia bisa merebut kembali takhtanya dari si k*****t. Asa tersebut seakan-akan tidak pernah runtuh, meskipun tiap langkah yang diambil oleh Yang Mulia dan pengikutnya kerap berakhir pahit.
Akan ada berapa kematian lagi bila mereka mencoba untuk beraksi lagi?
Helaan napas lolos dari bibirnya. Langkah pria itu spontan terhenti tepat dirinya sampai di depan salah satu rumah kayu. Ia perlu menaiki tiga undakan kecil untuk tiba di beranda. Baru setelahnya, pria itu menapakkan kaki ke depan pintu kayu dan memelesat masuk ke dalam rumah tersebut. Derit papan kayu di lantai terdengar sepanjang ia berderap menuju sebuah dipan.
Dengkur halus seorang pria tertangkap di indra pendengarnya. Yang Mulia lantas mendelik. Kekacauan baru saja terjadi dan bocah itu justru terlelap dengan damai. Mau tidak mau, ia menghela napas—tentu itu bukan salah kawannya, mengingat pemulihan ingatan tetap butuh waktu. “Bangun,” titahnya, menggulirkan sepasang netra saat ia sama sekali tidak mendapat respons dari makhluk yang dititahkannya. “Bangun, Rodeus!”
Rodeus samar-samar dapat menangkap suara titahan itu dari alam bawah sadar, namun ia menolak acuh. Alih-alih, Rodeus justru memiringkan tubuh, memunggungi si pengusik tidurnya. Geram bukan main, pria bersurai cokelat awut-awutan itu berancang mengangkat satu kakinya dan menekukkan lutut. Tanpa berbelaskasihan, ia lantas menendang punggung Rodeus bertubi-tubi sampai erangan lolos dari bibir pria malang tersebut.
“Argh! k*****t! Berengsek!” Rodeus memegang punggungnya dan berbalik menghadap si penendang, tetapi netranya masih belum ia buka. “Terkutuk kau, siapa pun yang membangunkanku secara tidak etis ini, b*****h!”
Sudut netra biru kehijauan Yang Mulia berkedut kesal. Pria itu lekas mendelik untuk kali sekian menuju Rodeus, siap memberinya pelajaran atas kelakuan tidak ada etis-etisnya. “Sepertinya saat berada di dunia fana, kau sudah belajar cara untuk mengumpat pada rajamu, ya—” suara maskulin familier itu seketika membuat netra cokelat Rodeus memelotot dari pejam, “—Pierce?”
Rodeus—Pierce—menenggak liurnya susah payah, tetapi mulutnya justru meloloskan cengar-cengir tak berdosa. “Halo, kawan.”
*
Seperti fetus, Putri Aeradale meringkuk di atas dipan. Lengannya merengkuh bantal satunya dan membenamkan kepala di sana. Ia pening bukan main. Bukan tanpa sebab, ia sudah menghabiskan satu harinya dengan melamun dan kadang-kadang tertidur. Pasca sarapan bersama Raja Aeradale—diisi oleh keheningan dan kecanggungan—Arcaviel menolak untuk melakukan aktivitas apa pun.
Ia meremas bantal, bagaikan pening akan raib begitu saja ketika ia melakukan demikian, dan tentu saja itu tidak ampuh. Arcaviel menghela napas. Ia kembali melamun lagi, memikirkan apa pun selama ia bisa melupakan pertikaiannya dengan sang kakak. Namun, lamunan Putri Aeradale terpecah kala seseorang membuka pintu ruang kamarnya.
Detik itu juga, manik biru Arcaviel menjumpai perawakan tinggi Reeval. Ia mengejap sekali, mencoba untuk berbicara tetapi seluruh kata-kata tertahan di tenggorokan. Arcaviel buru-buru memosisikan tubuh meringkuknya menjadi duduk, menanti kedatangan Reeval dengan binar redup. Lalu ia menjatuhkan tatapan ke sebuah kotak merah muda dengan pita yang tergenggam oleh tangan Raja Aeradale.
“Perjamuan akan diadakan lusa.” Reeval menaruh kotak itu di sisi dipan Arcaviel saat ia telah menjamahnya. Di luar dugaan Arcaviel, telapak tangan kanan Raja Aeradale meraup pipi kirinya selagi netra sehitam jelaga itu mengamatinya intens. “Persiapkan dirimu baik-baik.”
Arcaviel hanya menanggapi dengan satu kejapan. Manik birunya sama sekali tidak lepas dari milik Reeval. Skeptis, Reeval akhirnya kembali bersuara, “Cavi, kau mendengarku?”
“Aku dengar,” jawab Arcaviel, kikuk.
Tanpa sadar, Reeval mengangkat tipis sudut bibirnya. Ia mendekatkan diri pada Putri Aeradale dan mengecup singkat pelipis gadis berparas elok itu. “Lupakan kejadian kemarin,” bisik Reeval, akhirnya luluh juga setelah hampir satu harian mengabaikan Arcaviel. Pria itu tentu juga tidak tahan merajuk selama itu. Raja Aeradale hanya ingin sang Putri sadar bila ia tidak bisa berbuat seenaknya.
Begitu Reeval menarik dirinya kembali, ia berakhir mendapati cairan bening lolos dari manik biru Arcaviel. Reeval lantas kalut bukan main. “Hei, hei,” gumam pria itu, menyeka air mata di pipi mulus Putri Aeradale. “Kenapa sampai menangis begini?” Saking paniknya, ia hanya bisa melontarkan satu pertanyaan bodoh.
Isak pelan terlontar dari bibir ranum Arcaviel. “Aku takut,” akunya, parau.
Gurat pria itu spontan melunak. Argh, mendadak ia merasa bersalah karena sudah memperlakukan Arcaviel dengan buruk. “Kau tidak perlu takut denganku, Cav,” bisik Reeval, mengusap pipi lawan bicaranya dengan subtil. “Maaf, semestinya aku tidak mendiamkanmu.”
Sudut bibir Arcaviel berkedut, memaksakan diri untuk mengulaskan senyum. “Aku takut mengecewakan kakak,” ralatnya, membuat napas Reeval tersekat.
“Tidak. Sama sekali tidak.” Raja Aeradale berpindah untuk duduk di sisi gadis itu, memberinya rangkulan hangat dan menenangkan. Jemari Reeval sempat menyugar surai cokelat pirang Arcaviel lantaran menghalaunya melihat profil wajah Putri Aeradale. “Aku hanya tidak ingin kau menghilang lagi, Cavi. Maaf, aku memang seorang kakak yang egois.”
Arcaviel hanya menggumam dan mengangguk pelan. Reeval, mau tidak mau, dibuat terkekeh lantaran Arcaviel sendiri bahkan setuju bila dirinya egois. Putri Aeradale kemudian memandang Reeval dengan manik bulatnya. Ia bahkan tidak sadar jika jarak di antara mereka berdekatan. “Jadi, baikan?” tanya Arcaviel, memastikan sang kakak sudah tidak lagi merajuk karenanya.
“Kita tidak pernah bertengkar.” Reeval menjentik pelan kening Arcaviel.
Gurat Arcaviel berubah masam. “Kalau begitu, kita bertengkar sekarang,” balasnya tiba-tiba, kemudian menaikkan oktaf bicaranya saat ia berseru,“Reeve!”
“Hm?” Reeval bergumam enggan.
“Kenapa lusa?!”
Pria itu menanamkan jarak sejenak, mengusap indra pendengarnya—berpura-pura tidak bisa bertahan dengan pekaknya suara Arcaviel. “Lebih cepat, lebih baik,” jawabnya, mengedikkan pundak tak acuh.
“Persebaran undangan, durasi menata aula, menu masakan, dan lain sebagainya. Itu butuh waktu la—”
“Cerewet.” Kilat jenaka mendominasi netra hitam Reeval saat melihat gurat adiknya semakin masam. “Jangan meragukan bawahanku. Bahkan jika aku mau, mereka bisa selesai menata di pagi buta dan perjamuan bisa diadakan tepat esok harinya. Lalu, undangan? Tidak perlu kau khawatirkan karena sekretariatku dapat mengurusnya hanya dalam satu jentik jari. Menu masakan? Aman. Kita punya banyak juru masak di sini.”
Jawaban panjang lebar itu berhasil mengatupkan bibir Arcaviel, ingin memprotes tetapi sadar itu akan berakhir sia-sia. Pada akhirnya, Arcaviel hanya melengos ke arah kotak di sisi dipannya—hanya menyentuh, alih-alih membuka dan melihat isinya. Reeval mendenguskan tawa tertahan begitu melihat Putri Aeradale bungkam seribu basa.
Pada akhirnya, pria itu berdiri dan merapikan surai cokelat pirang awut-awutan milik Arcaviel. Arcaviel memang tidak sempat merapikan—lebih tepatnya suasana hati Putri Aeradale tidak dalam fase ingin berpenampilan rapi, toh ia tidak bepergian ke mana-mana setelah sarapan, alih-alih tertidur dan melamun atas rasa bersalahnya kepada sang kakak.
“Arcaviel,” kesungguhan mendominasi netra hitam Reeval ketika indra penglihat mereka berserobok, “kau akan menjadi ratu di masa depan, perhatikan sedikit penampilanmu.”
“Ratu?” Arcaviel memiringkan kepala.
Jemari Reeval terhenti detik itu juga di atas kepala Arcaviel. “Duchess, atau mungkin Countess—siapa yang tahu?” ia mengoreksi ucapannya.
Lipatan muncul di permukaan kening Arcaviel. Tentu ia ragu, Reeval baru saja menyebut ‘Ratu’ alih-alih ‘Duchess’, ‘Countess’, dan lain-lain. Berbeda gelar, berbeda arti. Tetapi keraguan itu melebur ketika ibu jari Reeval mengusap kening Putri Aeradale. d**a Arcaviel terasa menghangat atas sentuhan subtil dari kakaknya. Tanpa sadar, Arcaviel merapatkan sepasang netra.
Di antara pekat dan rapatnya indra penglihat Arcaviel, deru napas mint Reeval terasa menyapu halus seluruh bagian wajahnya. Bisa ia rasakan kelembapan menyentuh keningnya. Tidak perlu membuka netranya kembali, Arcaviel tahu Raja Aeradale baru saja mengecup kening gadis itu. Entah mengapa, suatu kejanggalan membersit dalam dadanya.
Campuran kebahagiaan, kekecewaan, dan begitu banyak perasaan-perasaan ganjil lainnya. Arcaviel tidak mengerti, bahkan hampir kehilangan akal sehatnya. Ada apa denganku? batinnya, merasa kehilangan arah. Tidak ingin berlarut-larut dalam perasaan tidak wajar, Arcaviel membuka netranya dan menemukan Reeval telah berdiri tegap di hadapannya.
“Kau tidak perlu mencemaskan perjamuan itu.” Entah mengapa, pria itu tampak kewalahan, bahkan gelagatnya ingin cepat-cepat pergi dari ruang kamar Arcaviel. Itu wajar, Reeval tidak bisa menahan diri lebih lama. “Mereka akan menghormatimu sebagaimana mereka menghormatiku.” Menghormati Viar, batinnya meneruskan. “Aku pergi dulu, Cavi. Jangan lupa untuk memeriksa gaunmu. Jika membutuhkan sesuatu, panggil Sahara.”
Reeval tidak repot-repot menanti jawaban dari Arcaviel. Batang hidungnya bahkan sudah tidak lagi tampak ketika Arcaviel mendongak. Pria itu telah menghilang ke balik pintu, mungkin kembali ke ruang kerjanya. Arcaviel menghela napas. “Jika membutuhkan sesuatu, panggil Sahara, ya?” Putri Aeradale mengulang kembali ucapan Reeval, mengulaskan senyum getir. Panggil Sahara, bukan panggil dia.
Tidak yakin sejak kapan, tetapi hati kecil Arcaviel diam-diam mengharapkan bila Raja Aeradale selama ini berbohong—tentang status dan ikatan darah di antara keduanya. Hah … demi Dewa-Dewi, ia tidak ingin menaksir kakaknya sendiri.[]