16. Perbatasan Aeradale

2415 Kata
Marcus melipat satu kaki dan bersandar di pagar, mengamati tiga kuda kerajaan tengah melahap rerumputan lezat. Terlepas dari pengamatan itu, Kesatria Deulake dalam diam menguping perbincangan dua kesatria Aeradale lain. Mereka asik membicarakan gadis-gadis bertubuh jam pasir di sekitaran sini—dan bukan hal aneh lagi mengingat dua kesatria itu masih bujangan alias belum laku. Mirisnya, sama seperti dirinya. Akan tetapi, ia tidak berminat ikut andil dalam pembicaraan tersebut. Ia lebih sering menaruh atensi kepada kuda-kuda, terutama kuda putih milik dua atasannya. Kesatria itu menepuk beberapa kali leher dan tubuh berisi Hugen, terkadang meminta kuda cantik tersebut untuk makan banyak. Tentu saja perlakuan itu mengundang gelak tawa dari kedua koleganya. “Mulanya kupikir kau ini impoten, Sir Deulake.” Lus, si kesatria dengan potongan rambut seperti ukiran cakra, mengaku dengan begitu entengnya. Ia bahkan tidak terdengar segan dengan si instruktur dari para kesatria muda. “Tetapi, syukurlah kau masih bernafsu.” “Bernafsu dengan kuda,” timpal Thelr, si kesatria setengah plontos—ada anak rambut baru tumbuh di sana, mengulum tawa bersama Lus. “Aku tidak akan kaget bila suatu hari mendengar kabar kalau Hugen telah kehilangan keperawanannya.” “Bereng—” Marcus harus menahan umpatan di penghujung lidah tatkala Lus dan Thelr yang mulanya masih bisa cekikikan, berganti tegang. Atmosfer damai itu secepat kilat berubah. Dua kesatria muda itu spontan berdiri tegap menghadapnya—oh, bukan. Indra penglihat Lus dan Thelr terpisah dari Marcus, menuju ke balik pagar. Tanpa Marcus perlu melongok pun, ia tahu urusan kedua atasan mereka di butik telah selesai. Mulut kesatria-kesatria muda itu terkatup sempurna, menciptakan seringai jahat dari bibir Marcus. Perbincangan tak pantas tadi niscaya terdengar sampai ke telinga sang Raja. Biarlah mereka rasakan akibatnya, batin si Kesatria Deulake, tetapi mau tidak mau merinding juga saat netranya berserobok dengan hitam jelaga milik Raja Aeradale. “Angkat kaki,” titah Reeval, “kembali ke kuda kalian.” Lus dan Thelr terbirit-b***t naik ke kuda tunggangan masing-masing pasca melepaskan ikatan dari pagar, sedangkan Marcus masih meluangkan waktu untuk membungkuk singkat sebelum kesatria itu turut melakukan hal serupa. Reeval mengangguk, menghela napas singkat. Indra pendengarnya terasa panas mendengar kalimat tidak pantas tadi dari lidah para kesatrianya. Jemari Reeval menangkap pergelangan tangan Arcaviel, mendampingi Putri Aeradale kepada Hugen. Sementara Reeval melepas ikatan yang mengekang Hugen untuk bergerak lasak, Arcaviel mencoba untuk menaiki hewan berkaki empat itu dengan sedikit kesulitan. Atas beberapa kali percobaan menginjak undakan di pelana, akhirnya ia berhasil—dan tanpa ia sadari, Reeval sudah lebih dulu duduk di belakangnya. Arcaviel mengejap. “Bagaimana ….” “Aku hanya butuh satu lompatan kecil,” Reeval mengedikkan pundak sebelum akhirnya merunduk untuk meraih tali kekang Hugen di kedua sisi tubuh Putri Aeradale, “tidak sepertimu. Kau lamban.” “Reeve!” ketus Arcaviel, guratnya berganti masam. Tak dapat ia mungkir, akhir-akhir ini sikap Reeval terhadapnya kerap kali menyentil emosinya. Perlakuan Raja Aeradale seratus delapan puluh derajat berubah dari ketika mereka bertemu kali pertama di perbukitan. Pria itu kini jauh lebih sering membuatnya jengkel, ingin mengamuk, menggerutu, cemberut—intinya, semakin menjadikan Arcaviel lebih ekspresif. Arcaviel tidak mengerti. Bahkan dengan sepupunya, ia mustahil berubah secepat ini. Kadang ia menunjukkan ekspresinya terang-terangan dan kadang ekspresinya masih bisa disamarkan. Namun, Arcaviel seakan-akan kehilangan kemampuan untuk mempertahan ekspresinya bila berada di dekat Reeval. Sesulit apa pun ia mencoba, hati kecil Arcaviel menginginkan perhatian lebih dari pria itu. “Hm?” Reeval melirik sepintas profil kiri Arcaviel selagi ia mengemudikan Hugen mundur dari pagar. Bibirnya terangkat tipis saat samar-samar menangkap suara dengus halus di depan. “Jangan merajuk, aku tidak akan peduli.” Itu satu dari sekian omong kosongnya, tetapi cukup membuat pria itu puas atas tindakan menjengkelkannya. Hugen tidak bersalah dan Arcaviel menolak untuk acuh. Kakinya justru mengentak gemas kuda malang itu, lantaran saking panasnya kepala Arcaviel usai mendengar ucapan sang kakak. Reeval tentu sadar meski posisi Putri Aeradale memunggunginya. Pria itu sontak mendesis dan menahan kaki Arcaviel dengan tangannya. Sentuhan mendadak tersebut spontan menghentikan Putri Aeradale kembali bertingkah. “Aku tidak tahu temperamenmu seburuk itu, Cavi,” ejek Reeval, seakan-akan belum puas dengan kekesalan bertubi-tubi sang adik. “Tutup mulut atau aku akan turun,” ancam Arcaviel, meninggalkan sikap manisnya di belakang sekali. Alih-alih tutup mulut, suara tawa tertahan tepat di belakangnya merangsek ke indra pendengar Arcaviel. “Jangan tertawa, Reeve!” “Ada apa denganmu, Cavi? Biasanya kau selalu manis denganku.” Reeve membasahi bibirnya, masih juga menahan tawa, sebelum ia meneruskan, “Sedang ‘membawa bulan’?” “Membawa bulan ….” Arcaviel tidak menoleh, tetapi sudah pasti ia sedang mengerutkan kening. Sedetik setelahnya, Reeval bisa mendengar kesiap dan Arcaviel tahu-tahu saja telah melongok menatapnya geram, “Turunkan aku, sekarang!” “Oh, rupanya benar.” Cavi sedang membawa bulan, batin Reeval cengar-cengir. Pantas saja Putri Aeradale itu sentimen dengannya, seperti dulu. * “Cav.” Satu colekan pipi kiri Putri Aeradale tidak kunjung meruntuhkan pertahanan Arcaviel. “Cavi.” Bagaikan suaranya tidak sampai ke indra pendengar gadis bersurai cokelat pirang di depan, Reeval menjadi gemas sendiri. Ia mencubit dua pipi mulus itu dari belakang, samar-samar telinganya mendengar decak kesal lolos dari bibir ranum Arcaviel. “Aku tidak akan berhenti mencubitmu sebelum kau berbicara.” “Reeve, lepas.” Arcaviel mengibas-ngibas tangan, berniat mengusir jemari Reeval dari sisinya, namun sang kakak masih enggan untuk menarik jauh tangannya. “Reeve!” Reeval mengangkat tipis sudut bibirnya. “Masih merajuk?” tanya pria itu, kemudian indra penglihatnya terfokus kembali pada jalan keluar permukiman di balik pundak Arcaviel. “Tidak,” tanggap Arcaviel, seadanya. Ia menurunkan kembali tangan Reeval di pipinya dan kali ini pria itu patuh. “Oh, masih.” “Reeve!” Gurat Arcaviel kini masam bukan main, kentara kesal dengan sikap berbeda seratus delapan puluh derajat itu. Astaga, kenapa rasanya darahku menjalar naik dengan begitu mudahnya? Dalam hati, Reeval mendecak sebal. Teruslah memanggil namaku dan kau akan habis bila aku mengangkutmu ke kam—berengsek, otak rusak! umpat Raja Aeradale, menggeleng keras untuk menampik pemikiran itu dari otaknya. Lalu, setelah ia mendapat kuasa penuh atas pikirannya sendiri, Reeval akhirnya bersuara, “Kau mau apa?” “Apa?” Arcaviel melongok ke balik pundaknya, semata-mata mendapati netra mereka telah berserobok. Ia kentara bingung mengingat dirinya tidak meminta apa-apa dari sang kakak. “Kau mau apa? Aku menurutimu. Asal kau—” Reeval menjeda sejenak, dengan satu tangan terulur untuk menjentik kening Arcaviel, “—tidak merajuk lagi.” Arcaviel memundurkan kepala, berniat mengusap keningnya, tetapi Reeval sudah menggosoknya lebih dulu. “Aku tidak merajuk,” balas Putri Aeradale, membela dirinya meski gurat bahkan mengatakan sebaliknya. “Hm, sedikit. Aku ingin pergi ke Bukit Spirithorn.” “Bukit Spirithorn?” Kali ini, Reeval terang-terangan mengerutkan kening. Arcaviel menuntaskan dendamnya dengan menjentik milik pria itu. Reeval mendengus tak acuh, kemudian berkata, “Tidak ada nama seperti itu di Aeradale.” Ah, benar juga. Arcaviel baru ingat ia tidak lagi berada di Silkvale, niscaya Bukit Spirithorn mempunyai sebutan lain dari Aeradale sendiri. “Bukit di mana Marcus dan kesatria lain meringkusku,” urai Arcaviel, disusul suara terbatuk-batuk dari Kesatria Deulake yang rupanya memasang telinga untuk mereka, “dan juga menuduhku sebagai ‘penyusup’ Aeradale.” Lecut cambuk merobek percakapan sesaat dan Marcus mempercepat pacuan kuda cokelatnya tanpa bertutur kata. Kesatria itu kentara ingin menjauhkan diri dari sepasang saudara berdarah biru tersebut, mengekor Lus dan Thelr di depan sana—seakan-akan ia lupa tentang tugasnya di sini sebagai penjaga Reeval dan Arcaviel di belakang. Reeval menggulirkan netra secepat kilat, memutuskan akan mengurus kesatrianya nanti. “Oh, di sini kami hanya menyebutnya ‘Perbatasan’,” jelas Reeval, lalu menghela napas. Ia tahu persis ada yang tidak beres di balik permintaan Putri Aeradale, hanya saja ia tidak sanggup menolak. “Jangan lama, sebentar saja.” “He-em, aku janji kita hanya memakan bekal, kemudian pulang.” Arcaviel mengangguk antusias, tetapi binar netra birunya meredup ketika ia menatap kosong penghujung jalan keluar permukiman yang hampir tersuguh di depan mata. Namun, tak bisa kumungkir bila aku mengharapkan kemunculan kunang-kunang itu kembali, batin Arcaviel kemudian, mengukir keinginan tak terkatakan dari lubuk hatinya. Kira-kira itu percakapan terakhir sepasang saudara bangsawan tersebut sampai akhirnya mereka hampir tiba di Perbatasan. Sepanjang Hugen mendaki dengan Arcaviel dan Reeval di atas tunggangan, Arcaviel masih juga terkesima dengan tebing bebatuan tinggi yang seakan-akan mengungkung Aeradale dari dunia luar. Kata Reeval, itu adalah kontinen lain. Tebing menjadi pembatas antarkontinen, sama seperti Perbukitan Spirithorn sebagai pembatas dunia fana dan daerah tersentuh magis laiknya Aeradale. Tiap kontinen bersifat distingtif: alam lain, makhluk lain, dan kisah lain. “Jadi, kita mustahil untuk pergi ke balik sana?” Arcaviel mencoba menarik kesimpulan. “Portal satu-satunya jawaban, Cavi.” Reeval memecut Hugen untuk semakin mempercepat pendakian. “Aku—kita semua—tidak tahu. Portal Pertama muncul di Aeradale sudah sangat lawas. Itu mempertemukan Aerthyr dan Euradale untuk pertama kali.” “Aerthyr? Euradale?” sebut Arcaviel, lidahnya terasa kelu lantaran tidak terbiasa menyebutkan dua kata itu. “Aerthyr, tempat huni para pemilik mana putih. Euradale, tempat huni para pemilik mana hitam.” Reeval mengulum senyum begitu Arcaviel kembali menggumam dua kata tersebut dengan terbelit. “Singkatnya, Aeradale merupakan hasil pengintegrasian kedua kontinen itu pasca leluhur kita memutuskan untuk mengimplementasikan traktat perdamaian.” “Tetapi, perdamaian itu tidak langsung tergenggam begitu saja, bukan?” Arcaviel kembali teringat tentang Orbit Desertir, salah satu dari sekian oknum yang berniat merusak kesejahteraan. “Ya, benar.” Sudut bibir Reeval tanpa aba-aba berkedut dengan sendirinya. “Semua tidak mungkin serbainstan, Cavi. Semua dilakukan oleh penerus kerajaan secara bertahap.” “Ada berapa banyak kerajaan di Aeradale?” tanyanya. “Satu, kerajaan kita.” Reeval tertawa pelan. “Kau sepertinya salah bertanya. Mungkin maksudmu ‘ada berapa banyak garis keturunan bangsawan di Aeradale’?” “He-em, begitulah kira-kira.” “Cukup banyak, tetapi strata tertinggi ada pada kita. Lalu strata tertinggi kedua, jatuh kepada pasangan Duke dan Duchess Aristide, perwakilan mana putih—dan mereka berimbang dengan pasangan Duke dan Duchess Dynorel, perwakilan mana hitam.” Manik biru Arcaviel mengilat kala mendengar sang kakak menyebutkan marga ‘Aristide’. Jadi, Tahala merupakan strata kedua tertinggi? Itu berarti, besar kemungkinan kakaknya betul-betul akan bertunangan dengan putri dari pasangan tersebut? Arcaviel memerosotkan pundaknya, tidak bisa membayangkan lebih jauh lagi tentang masa depannya ketika memiliki kakak ipar semacam Tahala. Rusak sudah garis keturunan, pikiran buruk itu terlintas begitu saja di otak Arcaviel. Astaga, kenapa aku jadi jahat begini? “Kita sampai.” Suara maskulin itu berbisik tepat di belakang cuping telinga Putri Aeradale, membuatnya seketika bergidik. Reeval hanya mengangkat satu alis, sebelum akhirnya melompat turun dari pelana. “Mau kubantu turun kembali?” “Aku bisa sendiri,” jawab Arcaviel, tiba-tiba kekesalannya terbit lagi pasca mengingat ejekan sang kakak tadi. Ia lekas mencondongkan posisi duduknya ke arah samping, kemudian mengayunkan kaki, bersiap untuk melompat turun. Sebetulnya, ini bukan pertama kalinya Arcaviel mencoba turun dari Hugen. Ia ingat sekali saat melihat satu dari tiga bocah penakut di kastel terjatuh dan dirinya spontan turun, meski sempat sedikit terkilir, namun ia dapat pulih dengan cepat. Arcaviel tentu bisa turun dari atas Hugen tanpa bantuan siapa-siapa—hanya ketika bersama Raja Aeradale, entah mengapa hati kecil Arcaviel ingin sekali bergantung kepada pria itu. Ia sendiri mulai bertanya-tanya atas masa lalunya sebelum insiden empat tahun silam itu terjadi. Apakah ia memang begitu melekat dengan kakaknya? “Lamban.” Reeval meraup pinggang Arcaviel dari atas, gemas sendiri ketika melihat gadis itu justru melamunkan hal lain ketimbang turun dari Hugen. Karena seseorang tiba-tiba merampas pinggangnya, Arcaviel spontan melingkarkan lengan pada leher si pelaku—Reeval—ia terkesiap bukan main. Begitu kedua tungkainya telah menapak rerumputan, Arcaviel buru-buru mundur dan tanpa sengaja membentur Hugen. Bibir ranum Arcaviel mengap-mengap. Semua kata-katanya tertahan di tenggorokan. Pasca mendapat kembali pengendalian dirinya, Arcaviel berkata dengan gurat setengah kesal, yang lebih tampak seperti salah tingkah, “Aku bisa sendiri, Kak Reeve!” “Aku di sini bukan hanya untuk melihatmu melamunkan hal lain.” Reeval beranjak dari sisi Arcaviel, memunggungi sang adik dan beringsut menuju hamparan rerumputan luas. “Kalian bertiga istirahatlah.” Lus dan Thelr mengangguk serentak, sementara Marcus sibuk menepuk gelambir kuda cokelatnya. “Terima kasih, Yang Mulia,” balas ketiga kesatria itu. “Sudah diberi istirahat dan kau masih sibuk dengan kudamu? Wah, sepertinya kau benar-benar tidak impoten lagi karena kuda, Sir Deulake,” ejek Lus ketika rajanya telah menjauh dari ketiga kesatria itu. “Tutup mulutmu, Lus.” Kesatria Deulake menggulirkan sepasang netra, kemudian bergabung duduk di atas rerumputan bersama kedua koleganya. “Argh, aku haus!” gerutu Thelr, menatap embun rerumputan seakan-akan tergugah untuk menjilatnya. “Rasai saja embun itu,” balas Lus, tergelak puas ketika melihat gurat malang kawannya. “Kelakuan kau, kan, mirip kuda.” “Berengsek! Lebih baik kau cukur rambut tatomu sampai gundul.” “Maaf-maaf saja, aku tidak ingin kembaran denganmu.” “Argh, mati saja kau, Lus—” “Maaf, apa aku mengganggu kalian?” Thelr mengatupkan bibir. Lus mengejap. Marcus duduk tegap. Tiga kesatria itu terlambat bereaksi untuk berdiri saat melihat Putri Aeradale berdiri menjulang di depan mereka. Tubuh Arcaviel memang terbilang mungil, tetapi betapa besar dan memukau auranya itu sampai Marcus, Thelr, dan Lus dibuat segan bukan main. Ketiganya bersiap untuk bangkit, namun secepat itu juga Arcaviel menahan mereka. “Tidak perlu, aku tahu kalian kewalahan.” Arcaviel tertawa halus, kemudian bertelut di depan mereka. “Maka dari itu, aku ingin memberikan teh ini untuk kalian.” “Putri, Anda tidak perlu repot-repot.” Marcus mewakili kedua kesatria muda itu, menolak secara halus termos yang masih tergenggam di tangan Arcaviel—meski tak dapat ia mungkir, Marcus sama hausnya dengan Lus dan Thelr. “Sahara sengaja membawakan teh ini untuk Putri dan Yang Mulia.” Arcaviel menggeleng kecil. “Sahara sengaja membawa lebih,” katanya. “Namun, tetap saja—” “Marcus, Lus, Thelr,” sebut Arcaviel satu-satu, membuat ketiga kesatria itu merasakan desir halus. Pesona Putri Aeradale membuat mereka tidak bisa bersikap seperti biasa. “Aku tidak menerima penolakan. Reeve juga memberi ini untuk kalian.” Disodorkannya tiga buah roti, masing-masing satu untuk para kesatrianya. “Anggap saja kami berterima kasih karena sudah menemani perjalanan kami ke … butik?” Marcus terkekeh, namun ia buru-buru mengatupkan bibirnya lagi. “Kalau begitu, terima kasih, Putri.” Arcaviel mengangguk senang. “Selamat makan dan minum,” ucapnya, kemudian berbalik memunggungi ketiga kesatria dan menghampiri sang Raja. Pria itu tampak sengit mengamati interaksi mereka dari kejauhan, melipat tangan dengan kepalan, kemudian mendengus singkat. Teruslah bersikap manis dengan kesatria-kesatria itu dan aku tidak akan segan berbuat pahit untuk mereka, Cavi.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN