15. Buah Bibir Penggosip

2214 Kata
Pacuan kuda putih tercantik milik kerajaan itu memelan. Raja Aeradale mengendurkan cengkeraman pada tali kekang, tidak terlalu mengepalkannya lagi. Sepanjang penelusuran area industri dekat kastelnya, tibalah sepasang saudara berdarah biru tersebut, beserta ketiga kesatrianya, di depan sebuah butik langganan kerajaan. Lecut cambuk dari penarikan tali kekang menyentak Arcaviel. Tapak kaki Hugen berhenti berderap. Hewan itu meringkik singkat. Arcaviel menoleh ke kanan, mendapati depot berarsitektur klasik putih gading. Warnanya begitu senada dengan kastel mereka. Ini membuatnya bertanya-tanya, apakah pemilik butik merupakan kerabatnya? Arcaviel menginspeksi lagi. Ukuran depot memang tidak terlalu megah, namun dapat dikatakan terbaik daripada rentetan depot lain. Butik ini hanya terdiri atas satu tingkat dengan atap berbentuk segitiga sama sisi. Ada dua jendela besar terpasang di samping kanan dan samping kiri pintu, menampakkan bagian dalam butik yang penuh dengan tunik dan gaun cantik. Entah berapa fulus yang akan Reeval rogoh dari koceknya. Yang jelas tidak akan murah, mengingat busana di butik langganan kerajaan ini niscaya berkualitas dan kredibel. Hugen berderap mundur. Arcaviel beralih muka dari butik untuk menatap Reeval. Pria itu sempat meliriknya sepintas lalu, kemudian terfokus kembali menuju depan. Ia memarkir Hugen dengan rapi dalam posisi vertikal. Tiga kesatria juga melakukan hal yang sama. Usai melompat turun, Raja Aeradale dan ketiganya kemudian mengikat para kuda di dekat pagar butik. Ada rerumputan di sana, seolah-olah memang dipersiapkan sebagai kudapan kuda-kuda itu. “Yang Mulia?!” Itu seruan mendadak yang berhasil menjadi pusat atensi kelima orang itu. Reeval mengangguk singkat sebagai sapaan untuk si pemilik suara. Seorang wanita paruh baya bertubuh semampai tergopoh keluar dari ambang pintu untuk menjamah rajanya. Tanpa memikirkan etiket lancang atau tidaknya, wanita itu mengambil tangan kanan Reeval dan mengurutnya dengan lembut. Seperti biasa, reaksi Raja Aeradale terbilang datar. “Kenapa Anda tidak membuat janji temu lebih dulu?” Sorot bingung kentara tampak di guratnya yang semakin menua dari terakhir Reeval bersua. “Butik kami agak ramai hari ini. Kami takut Anda tidak bisa leluasa—” “Tidak apa, Bibi Herrecia,” selat Raja Aeradale, kemudian melirik adiknya terdiam bingung di atas Hugen. Herrecia ikut beralih dari rajanya semata-mata membeliakkan netra. “Oh, dia—” Arcaviel skeptis untuk melompat turun, tetapi ia lebih terheran-heran dengan kemunculan si wanita paruh baya itu. Reeval tersenyum singkat, berbalik memunggungi Herrecia dan menawarkan tangan ke hadapan Arcaviel. Ada binar bahagia dari netra wanita itu saat Arcaviel bertemu tatap dengannya, sebelum akhirnya Arcaviel menerima uluran Reeval dan melompat turun ke dekapan singkat mereka. “Lain kali belajar untuk turun sendiri,” ejek Reeval, “manja.” Apa-apaan kakaknya itu? Arcaviel menunduk dalam-dalam. Ia jengah bukan main mendengar ejekan pria itu. “Oh, Tuan-Tuan Penguasa!” Herrecia bersorak dengan bangga, meleburkan kekesalan Arcaviel detik itu juga. “Kalian manis sekali. Apakah gadis cantik ini calon permaisuri Anda, Yang Mulia?” Arcaviel kehabisan kata-kata. Ia refleks mundur, menarik diri dari Raja Aeradale hanya untuk memasang gurat yang seakan-akan berkata ‘Anda salah paham!’. Berbeda halnya dengan Arcaviel, Reeval mendengus geli melihat reaksi salah tingkah Putri Aeradale, sebelum akhirnya berbalik menghadap Herrecia dan merangkul Arcaviel ke sisinya. “Putri Aeradale Yang Hilang,” jawab Reeval, tetap tidak berniat meluruskan ucapan wanita itu secara gamblang. Tetapi, hanya butuh empat kata untuk membuat Herrecia mengerti sampai memelotot tidak percaya. “Astaga, Tuan-Tuan Penguasa betul-betul melindungi Anda, Putri.” Wanita itu buru-buru melangkah ke hadapan Arcaviel dan menyentuh pipi, pundak, dan tangannya. “Anda benar-benar nyata.” “I-Iya, Bibi.” Lidah Arcaviel terasa kelu saat mengucapkan itu. Herrecia tersenyum, lalu berpaling menuju Reeval. “Jadi, Yang Mulia mengusung Putri kemari untuk membelikannya gaun?” terkanya. “Ya.” Reeval berniat merespons seadanya, tetapi ia tentu tidak bisa mengabaikan tata krama, jadi segera ia menambahkan, “Pesta perjamuan kembalinya adikku akan diadakan dalam waktu dekat. Kira-kira, adakah gaun jadi—” “Oh, tidak, tidak.” Herrecia mengacungkan telunjuk dan mengayunkannya seraya menggeleng. “Gaun jadi butik kami terlalu pasaran untuk dikenakan oleh Putri Aeradale.” Kening Arcaviel mengerut. Baru kali ini seorang pemilik butik mengatai hasil jahitannya sendiri di depan orang lain. Sementara Reeval, pria itu mengulum tawa. Ibu jarinya terangkat untuk menyentuh kening Arcaviel dan mengusapnya lembut. Perlakuan itu tidak luput dari pandangan Herrecia ataupun tiga kesatria mereka yang diam-diam mencuri pandang dari dekat kuda. Herrecia jadi menyayangkan ikatan saudara di antara mereka. Akan lebih cocok bila mereka berdampingan menjadi Raja dan Ratu! pikirnya, sedikit tidak terima, namun mau bagaimana lagi? Dua saudara itu berbagi darah yang sama. Hm, apa kujodohkan saja Putri Aeradale dengan putraku? “Ah, mari kita masuk.” Herrecia berbalik memunggungi mereka untuk menuju pintu. “Kami akan mengukur tubuh Putri lebih dulu, setelah itu mencari referensi gaun yang diinginkan Putri. Kami janji gaun baru dan satu-satunya untuk Putri akan tiba di kerajaan esok hari.” “Terima kasih, Bibi,” balas Arcaviel, melirik sepintas Reeval yang masih bersisian dengannya. “Katakan ‘terima kasih’, kakak.” Bisikan itu mengundang sorot enggan dari Reeval. “Terima kasih, Bibi,” ucap Raja Aeradale, terdengar malas-malasan. Arcaviel cemberut. “Begitu saja perlu kuingatkan, manja.” Reeval membeliak sebentar. Apa itu tadi? Putri Aeradale baru saja mencibir balik dirinya. Inikah yang dinamakan ‘senjata makan tuan’? * Cermin persegi panjang merefleksikan citra tubuh semampai Arcaviel. Sekarang, ia tidak lagi mengenakan tuniknya, melainkan atasan putih tanpa lengan yang membalutnya ketat. Ia ditinggal sendiri di sebuah ruangan, sempat diberikan privasi untuk mengganti pakaian. Begitu ketukan pintu terdengar, Arcaviel mempersilakan orang itu masuk. Ia sedikit melipat tangan di depan d**a untuk berjaga-jaga dengan area vitalnya, baru akhirnya melucutkan sikap defensifnya saat Herrecia dan dua gadis sepantarnya memelesat masuk. Tangan ketiganya penuh. Herrecia membawa alat ukur dan perlengkapan lain, sedangkan anak buahnya mengusung gaun-gaun dari beragam warna dan model yang bervariasi. Mereka mengucapkan sepatah dua kata pada Arcaviel untuk formalitas. “Maisey dan Tara di sini akan membantu Putri mengenakan gaun-gaun ini.” Herrecia terentang ke samping tubuhnya, mengintroduksi kedua gadis itu. “Saya harap Putri tidak keberatan.” Arcaviel selalu terbiasa mengenakan busana seorang diri, namun ia mustahil menolak mengingat Maisey dan Tara bekerja untuk itu. Jadi, ia mengangguk sekali dan melemparkan senyum manis agar mereduksi garis tegang di wajah cantik dua anak buah butik itu. Entah mengapa, mereka terlihat takut-takut. Mungkin karena kasta Arcaviel sebagai adik satu-satunya Raja Aeradale, atau entahlah. Herrecia memelesat ke hadapannya, berniat meminta permisi. “Tetapi sebelum itu, saya izin mengukur ukuran tubuh Anda, Putri,” katanya, memamerkan sebuah meteran yang tergelung rapi. “Baik, Bibi.” Arcaviel mengangguk, tanda tidak keberatan. Dinaikkannya sepasang tangan Putri Aeradale dalam posisi terentang. Herrecia menepuk singkat lengan Arcaviel, meminta adik dari Raja Aeradale itu untuk tetap mempertahankan posisinya sampai waktu yang belum ditetapkan. Arcaviel menurut. Ia membiarkan si pemilik butik mulai mengukur setiap inci dan lingkaran anggota tubuhnya—d**a, lengan, perut, bahkan paha. “Putri, maaf bila terkesan menyinggung.” Bahkan dari ekspresi tak enak hati Herrecia pun, Arcaviel sadar wanita itu baru saja akan mengomentari tubuhnya. “Anda perlu menambah porsi makan Anda agar lebih berisi dan semakin seksi.” Arcaviel tidak mengelak. Ia hanya mengulaskan senyum, mengangguk mengiakan. Putri Aeradale, entah bagaimana, tidak tersinggung sama sekali. Justru ia senang mendengar kalimat frontal dari Herrecia. Semenjak Arcaviel berakhir di Aeradale, ia belum pernah menerima sikap terus terang dari orang lain. Bahkan ketika di Desa Silkvale, hanya sepupunya yang selalu berterus terang. Tidak lama kemudian, Herrecia menegakkan punggungnya kembali usai bertelut cukup lama. Ia membetulkan kacamata yang membingkai indra penglihatnya sesaat—wanita itu hanya akan mengenakan kacamata saat mengukur tubuh pelanggan butik, kemudian menginstruksikan Maisey dan Tara untuk mengisi posisinya. Bongkahan gaun itu bercerai-berai di dekapan mereka. Maisey, si gadis berbando polkadot, mengoper bongkahan gaun dari tangannya ke koleganya dan hanya memungut salah satunya. Ia menjuntaikan gaun tersebut di hadapan Arcaviel, meminta izin untuk membantu Putri Aeradale mengenakan gaun itu. Arcaviel patuh dan tidak banyak bicara selama Maisey mencoba mengetatkan tali serut di punggung Arcaviel. Rasanya sedikit sesak. Sepasang netra Herrecia mengilat di balik kacamata, memberikan penilaian subjektif wanita paruh baya itu dalam catatan di tangan. “Coba yang lain,” perintah Herrecia kepada anak buahnya. Gaun demi gaun sudah Arcaviel coba kenakan. Bisa ia rasakan pasokan udara menipis. Ia hampir bernapas lega saat Tara—bertukar peran dengan Maisey—mengetatkan gaun referensi terakhir, tetapi kedatangan Reeval tiba-tiba mengagetkan Tara. Ia semakin kuat menarik serut. Arcaviel tanpa sadar memekik tertahan, sedangkan netra Reeval mengilat cemas. “Astaga, Tara!” Herrecia siap mengomeli Tara begitu Reeval mendadak mengisi posisinya dan mengendurkan serut punggung Arcaviel. “Kau ini—” “A-Aku tidak apa-apa, Bibi.” Arcaviel masih terengah-engah. Ia tanpa sadar bersandar di rangkulan Reeval, tidak peduli dengan peluh yang mungkin mengotori pakaian pria itu. “Aku hanya tidak terbiasa. Jangan memarahi Tara, ia tidak salah.” Herrecia mengatupkan bibir, kemudian membungkuk dalam-dalam. Maisey dan Tara turut bersikap serupa. “Mohon maaf, Yang Mulia dan Putri. Kami lalai dan tidak menyadari bila Putri tersiksa dengan gaun-gaun itu,” ucap Herrecia, tidak enak hati. “Kami janji kami akan membuat gaun terbaik yang sama sekali tidak akan mengekang Putri seperti tadi.” Reeval menghela napas. Ia pada akhirnya mengangguk kecil. “Ganti pakaianmu kembali,” gumam Raja Aeradale dalam rangkulan lengannya. “Aku akan menunggu di luar.” Arcaviel kembali menegakkan punggungnya, baru sadar ia masih bersandar di d**a bidang Reeval. Bahkan Arcaviel berani bersumpah, ia akan betah di sana bila tidak mengingat bahwa tempat bersandarnya merupakan d**a bidang sang kakak, alih-alih bangku atau dinding. Menarik napas sesaat, Arcaviel mulai memperhatikan Reeval keluar dari ruangan. “Maaf sebesar-besarnya, Putri,” ucap Tara, dengan penuh rasa bersalah. “Tidak perlu begitu, Tara.” Arcaviel mengulaskan senyum meski tidak terjangkau oleh indra penglihat Tara. Posisi gadis tanpa bando itu sedang berdiri di belakang tubuhnya, membantu Arcaviel melucutkan lengan gaun sehingga pundak Putri Aeradale mulai terekspos. Sementara itu, Maisey membantu Putri Aeradale untuk mengimbangi kakinya kala Arcaviel akan membebaskan diri dari gaun tersebut. Herrecia datang dengan tunik milik Arcaviel. Usai mengucapkan terima kasih, ketiga orang itu memelesat keluar dari ruangan, kembali meninggalkan Arcaviel sendiri untuk memberinya privasi. Lantas saja Arcaviel melepaskan atasan putih tanpa lengan dan mengenakan lagi tunik miliknya tanpa berlama-lama. Ia sempat becermin sejenak, memungut satu-dua lembar tisu yang tersedia di atas meja, kemudian mengusap peluhnya. Aku tidak percaya mencari gaun akan serumit ini, batin Arcaviel, kemudian berbalik memunggungi cermin dan keluar dari ruangan dalam butik. Yang ia tangkap pertama kali merupakan figur Reeval. Saat itu juga Arcaviel melihat dua anak buah Herrecia membungkuk untuk sekian kali di depan pria itu, kentara masih merasa bersalah atas insiden tadi—apalagi Tara. Melihat kemunculan sang adik, Reeval segera melontarkan satu atau dua kata, kemudian keduanya pergi mengurus pelanggan-pelanggan butik lain. Arcaviel kemudian beringsut mendekati Reeval. Sedikit di luar dugaan sepasang saudara itu, Arcaviel mengulurkan lengan, secara tidak langsung meminta pria itu untuk menggamit jemarinya. Arcaviel belum sadar sampai akhirnya keheningan menaikkan kesadarannya kembali. Putri Aeradale buru-buru menarik tangannya menjauh, berniat melangkah lebih awal saat Reeval menangkap tangannya. “Aku punya sesuatu,” gumam Reeval, memutar tubuh Arcaviel untuk memunggungi pria itu. Arcaviel sedikit terlonjak. “Iya?” balasnya, penasaran. Lagi-lagi hening, Arcaviel siap bersuara ketika sesuatu seperti rantai kecil melingkari lehernya. Itu kalung, dan terkaannya benar. Begitu Arcaviel menunduk, ia mendapati bandul anak panah—lengkap dengan busurnya, menggantung bebas di antara ceruk lehernya. Manik birunya bersinar, sama terangnya dengan pantulan lampu pada kalung itu. “Reeve, ini—” “Aku belum menghadiahimu selama kau kembali,” Reeval mengusap telinganya sejenak, “dan kau dulu sangat suka memanah. Jadi, kupikir ingatanmu akan kembali perlahan tetapi pasti dengan adanya ini.” Arcaviel lekas bersemuka dengan Reeval, mengulaskan senyum termanis yang pernah dimilikinya. “Reeve sungguh kakak termanis,” aku Putri Aeradale, tulus. Dan alih-alih mengukir senyum, yang dipuji justru bergeming. Arcaviel tidak tahu mengapa, tetapi ada kilat tak terkatakan di sana. Sebelum Arcaviel sempat mengatakan apa-apa, Reeval telanjur menepuk puncak kepala adiknya, kemudian menggamit jemari lentiknya untuk keluar dari butik. Herrecia berpaling dari pelanggannya sesaat dan berteriak ‘terima kasih’ kepada sepasang saudara itu. “Itu benar-benar Yang Mulia Lanford?” tanya seorang pelanggan butiknya, berdiri paling dekat dengan Herrecia. Suaranya begitu pelan, hampir mencicit—mungkin takut ada telinga lain mendengar. Sambil memeriksa kembali rajutan gaun yang akan dibeli oleh si pelanggan, Herrecia tertawa pelan. “Benar. Jika bukan Yang Mulia, siapa lagi?” “Dan bagaimana dengan gadis di sampingnya? Calon Ratu?” Bibir ranum Herrecia melengkung ke bawah, menambah keriput di area kening wanita itu. “Mulanya aku berpikir begitu, tetapi rupanya ia Putri Aeradale. Adiknya telah kembali.” “Astaga, aku sama sekali tidak mengenalnya,” sepasang netra si pelanggan butik membeliak, “andaikan sindikat itu tidak—ah, aku tidak berani membicarakannya di sini. Tetapi, jika boleh jujur, Yang Mulia dan Putri Aeradale lebih cocok menjadi pasutri tidak, sih?” “Ck, selalu saja jika aku bertemu denganmu, kita akan bergosip seperti ini.” Herrecia menggulirkan netranya sejenak, tetapi tidak berusaha menyamarkan ketertarikan pada topik pembicaraan mereka. “Aku pun berpikir demikian. Perlakuan Yang Mulia untuk adiknya, bahkan tidak tampak seperti layaknya sepasang saudara pada umumnya.” “Hm, kurasa ini akan menjadi perbincangan panas di seantero Aeradale.” “Oh, Nyonya Penggosip, mulailah berhenti mengurus hidup orang lain.” Herrecia berkacak pinggang, lalu mengulur tangan kanan ke depan seperti akan menagih, atau niatnya memang begitu. “Nah, sekarang, bayar gaunku.”[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN