14. Berkuda Menuju Butik

1997 Kata
Irama ketukan pintu mulanya pelan, tetapi kemudian menjadi lebih keras. Sahara tidak kunjung menerima respons dari si pemilik kamar. Ia mengetuk sekali lagi dengan kepalan ruas-ruas jemarinya dan hampir menangis karena panik. Bukan tanpa sebab, Raja Aeradale menitahkan pelayan itu untuk membangunkan Arcaviel dan meminta adiknya bersiap-siap. Jika ia gagal, sudah pasti— “Urus perbekalan kami. Aku yang mengurus Putri.” Suara maskulin rajanya sukses mengagetkan Sahara dari kekalutan. Kucir dua mengembangnya terkibas cepat saat ia spontan berbalik. Bila saja Raja Aeradale meniadakan jarak di antara mereka, sudah pasti surainya akan menyapu paras rupawannya, alih-alih menyapu udara kosong. Sahara tidak bisa membayangkan itu, jadi ia buru-buru membungkukkan tubuhnya sebagai penghormatan. Sahara mencuri-curi pandang sejenak untuk melihat penampilan rajanya. Pria itu mengenakan jubah merah berbahan satin, dibiarkan tersingkap menutupi punggung tegapnya, sementara bagian depan tertutup oleh kemeja putih. Dua kancing teratas dibiarkan terbuka. Dari semerbak yang tercium sampai ke rongga hidung Sahara, ia baru sadar aroma itu berasal dari pomade surai hitam sang Raja. Pria itu benar-benar rapi dan wangi. Permintaanku tidak muluk, Tuan-Tuan Penguasa. Cukup dekatkan aku dengan pria seperti Yang Mulia Raja, pinta Sahara kepada Mereka Yang Mengamati, manifestasi dari ‘Dewa-Dewi’ di dunia fana. Reeval mengerutkan kening. “Tunggu apa lagi?” ia membuka suara. Pertanyaan tersebut berhasil menyentak kesadaran Sahara naik ke permukaan. Pelayan Aeradale itu segera saja pamit undur diri dan memelesat pergi dengan langkah terburu-buru. Rona merah terbit di pipi mulus Sahara sepanjang ia membelah lorong dan turun dari undakan di pertengahan lorong. Sahara terus memegang pipinya salah tingkah. Semenjak ia mengabdi untuk Putri Aeradale, frekuensi pertemuannya dengan sang Raja menjadi lebih sering. Itu membuatnya semakin bodoh dan berharap lebih. “Ada apa dengan wajahmu?” ejek Marcus di bawah tangga. Sahara lekas menegakkan tubuh, memelototi kesatria beratribut zirah itu dari atas undakan dengan galak. “Berisik,” sewot si Pelayan Aeradale, kembali turun dan berbelok ke arah kiri menuju dapur. Sepeninggal Sahara, pelayan itu bisa mendengar gelak tawa si Kesatria Deulake. Tambah lagi doaku, Tuan-Tuan Penguasa. Jauhkan aku juga dengan pria seperti Marcus Deulake. Terkadang, tidak semua harapan akan terkabul sesuai dengan keinginan umatnya. Dan, siapa sangka bila suatu saat nanti, doa itu akan berbalik menjadi bumerang untuk mereka yang meminta? Di sisi lain, seperginya Sahara dari depan ruang kamar Arcaviel, Raja Aeradale tidak repot-repot mengetuk pintu dan memasuki ruangan itu. Tirai yang sengaja dipasang kanan kiri pintu teras masih dibiarkan terkatup, menghalau mentari pagi menelusuk dari pintu transparan. Ruang kamar Arcaviel hampir redup sama sekali, hanya ada bias kecil di bagian atas dan bawah tirai. Reeval bisa mendengar dengkur halus milik Putri Aeradale. Pria itu mengangkat dua sudut bibirnya sedikit saat tatapannya mendapati Arcaviel tengah meringkuk seperti fetus. Malam kemarin sepertinya merupakan malam terbaik untuk mereka. Sama seperti Arcaviel, Reeval dapat tidur dengan lelap meski pada akhirnya ia terjaga juga, mungkin sudah habitnya pria itu untuk bangun pagi-pagi. Raja Aeradale berderap menghampiri dipan Arcaviel, mengusap pipi gadis bersurai cokelat pirang itu dengan ibu jari. Arcaviel melenguh sesaat sampai seperempat dari manik birunya terekspos. Reeval segera menarik tangannya kembali dan beranjak menuju pintu teras, menyingkap tirai itu sampai ruang kamar Arcaviel kembali terang. “K-Kenapa,” Arcaviel mendeham untuk mereduksi serak suaranya, “sejak kapan Reeve ada di sini?” “Tidak lama. Kulihat, sepertinya kau lupa ke mana kita akan pergi hari ini?” terka Reeval, bersemuka dengan adiknya yang telah memosisikan diri menjadi duduk. Arcaviel bergeming, mencernanya sejenak lantaran kesadarannya masih di awang-awang, baru ia hanya membulatkan bibir dan mengangguk sekali. Dilihatnya pria itu kembali berjalan mendekat. “Tidurmu nyenyak. Pelayanmu tidak bisa membangunkanmu, jadi kuputuskan untuk datang kemari.” Arcaviel mengulaskan senyum tipis. “Aku bermimpi indah,” akunya. “Beberapa malam terakhir ini, lebih tepatnya.” “Bermimpi tentang?” Reeval mengangkat sebelah alis, penasaran. Bibir ranum Putri Aeradale kemudian terlengkung ke bawah. “Aku tidak memiliki ide tentang itu, karena potongan mimpi tersebut seakan-akan melebur setiap kali aku terbangun. Aku hanya tahu … mimpi itu memang indah sekali.” “Dan kuharap aku akan berhasil merealisasikan keindahan itu untukmu di dunia nyata, Putri.” Reeval tidak repot-repot menahan senyum gelinya begitu Arcaviel mengejap singkat, kentara kehabisan kata-kata karena pria itu. Ia mengacak pelan surai cokelat pirang adiknya, baru kembali berkata, “Sekarang, berdiri dan bersihkan dirimu. Kita akan pergi menuju butik setelah ini.” * Battista, si penjaga istal, sedang memasang pelana untuk dua orang di atas tubuh Hugen begitu sepasang saudara berdarah biru itu tiba. Bertepatan pria paruh baya bertubuh tambun itu selesai, ia langsung menyilangkan satu tangan ke d**a dan membungkuk penuh tata krama. Penghormatan itu direspons anggukan singkat dari Reeval dan senyum manis dari Arcaviel. Sahara dan Marcus juga sama-sama membungkuk saat mereka memapas kedua orang itu, berniat menjamah Hugen. Bagaikan hewan peliharaan kerajaan itu tahu sang majikan telah datang, kuda putih bersurai lebat itu meringkik senang. Reeval mengusap moncongnya sejenak, merasakan kelembapan kuda betina tersebut di telapak tangannya. “Hugen sepertinya menyukai aroma tuannya,” tutur Arcaviel. Netra hitam jelaga Reeval mengilat main-main saat ia memindahkan tatapan dari Hugen menuju adiknya. Itu cuman dapat terjamah oleh manik biru Arcaviel, terlepas dari kedekatan jarak sepasang saudara itu, bawahan mereka tidak pernah melihat kilat lain selain gurat sekeras bongkahan batu di paras rupawannya. Arcaviel sendiri juga berhasil dibuat pangling. Kabar baiknya, ada perubahan drastis sikap sang kakak terhadapnya semenjak perbincangan kemarin—lebih ekspresif, mungkin. Reeval merunduk dan mendekatkan bibir pada cuping telinga adiknya. “Siapa yang tidak?” bisik Reeval, setengah ngawur dan setengah percaya diri. Arcaviel spontan menggulirkan netra meski tidak sempat tertangkap di indra penglihat Reeval. Pria itu kembali seperti semula—raut dingin dengan netra mengilat tajam—ketika sadar berpasang-pasang netra tengah memperhatikan interaksi mereka. Ia segera menarik tangan menjauh dari moncong Hugen, lalu mengulurkan tangan lain di depan Arcaviel. “Kemarikan tanganmu, kubantu kau naik.” Putri Aeradale mengiakan tanpa suara. Ia menerima uluran tangan Reeval, ironisnya terasa begitu solid. Arcaviel mendadak déjà vu, tetapi secepat itu juga ia menampik perasaannya. Dibantu telapak tangan masif Reeval, Arcaviel menapak satu-satu undakan yang disediakan pada pelana. Ada dua pasang undakan di kanan kiri, tidak cukup rendah, namun cukup memudahkan Arcaviel menaiki Hugen. Setidaknya tidak memerlukan pendaratan kasar seperti kemarin, pikir Arcaviel, teringat kembali saat-saat ia mencoba menaiki Hugen dengan bantuan Sahara. “Ah—” Arcaviel tersekat. Kuda putih bersurai lebat itu mengalami sedikit guncangan ketika Reeval turut naik di belakang. Menghadapi ketidaksiapan membuat Arcaviel hampir jatuh ke samping, untungnya tangan Reeval cekatan menangkap pinggangnya. Cukup lama begitu, sampai ia tersadar dan menjauhkan lengan Raja Aeradale dari sisinya. “Bagaimana bila kita mengambil kuda satu lagi? Hugen sepertinya keberat—” “Tidak perlu,” selat Reeval, entah mengapa terasa lebih dingin dari sebelum-sebelumnya. “Hugen sudah ditakdirkan untuk keluarga kerajaan.” Respons hampir tak berhati dari Raja Aeradale sukses membuat Arcaviel membasahi bibir ranumnya dengan indra pengecap dan mengangguk satu kali. Posisi depan belakang mereka mulanya dekat, hampir tidak berjarak—tetapi, ketika Hugen mulai meringkik maju bersama kuda-kuda tunggangan Marcus dan dua kesatria lain, jarak mulai tercipta di antara mereka. Hanya ada kehampaan beraroma kekecewaan yang tidak terkatakan di sana. Indra penglihat Arcaviel mengitari seputar pelataran taman. Dekat dari mereka, ada sebuah pancuran air. Ini kali keduanya ia melintasi pancuran berlapis marmer itu—pertama ketika ia tiba di kerajaan bersama para kesatria sebagai Amorette, bukan sebagai Putri Aeradale, Arcaviel. Lucu juga, dulu ia melintasi pancuran air dengan memegang status penyusup, dan sekarang? Dua tarikan kecil terulas manis di bibir ranumnya. Aroma tanah basah menyeruak di rongga hidung Arcaviel. Rerumputan pelataran taman kerajaan berembun, mungkin karena suhu udara Aeradale tiap malam selalu dingin. Kupu-kupu beterbangan ke dekat Hugen, salah satunya mendarat di moncong kuda putih itu. Hugen meringkik singkat dan menggelengkan kepala untuk menampik hewan mini cantik tersebut. Ia baru diam ketika Arcaviel mencondongkan tubuh. Putri Aeradale segera mengulurkan tangan kanan untuk menjamah sekaligus mengusap subtil kepala Hugen. “Kupu-kupu ini hanya ingin berkawan denganmu, Hugen,” ucap Arcaviel, tertawa halus saat menerima ringkik tak suka dari kuda tunggangannya. Dengan tangan lain, ia mengangkat jemari lentiknya. Si kupu-kupu yang sempat berniat terbang menjauh segera beralih padanya, lalu bertengger di sana. Rasanya seperti mengangkat kapas, pikir Arcaviel. Ia cukup lama memperhatikan fitur cantik hewan mini itu, tetapi tidak cukup lama dibandingkan pengamatan Reeval terhadapnya semenjak mereka melintasi seputar pelataran taman. Pria itu benar-benar mengagumi sikap manis Putri Aeradale dalam memperlakukan makhluk hidup tanpa pandang bulu. Itu membuatnya kembali luluh. Arcaviel tentu punya semacam kekuatan untuk membuat orang-orang tidak dapat menaruh perasaan kesal kepadanya. Ia terlahir di kontinen Aeradale dan ditakdirkan untuk dicintai, bertolak belakang dengan Reeval. Ia lahir untuk dibenci. Sorot teduhnya tidak disadari oleh Arcaviel. Dilihatnya Putri Aeradale masih terlena dengan fitur elok si kupu-kupu. Ada roma halus di sepasang sayap mungil putih transparan, meski tidak terlalu kelihatan dan terasa. Dua antena kupu-kupu terarah ke depan paras Arcaviel, seakan-akan hewan itu menyambut dengan ramah kehadiran Putri Aeradale. Baru beberapa detik, si kupu-kupu mengepak-ngepakkan sayap, kembali terbang pergi. Dan saat itu juga, mereka hampir tiba di akses keluar masuk kastel. Satu kepala pria melongok dari atas menara. “Yang Mulia Lanford dan Putri akan meninggalkan kastel!” Suara maskulin pria itu sama persis seperti si penjaga gerbang kemarin-kemarin, membuat Arcaviel tertarik untuk mendongak. Sama seperti suaranya, paras si penjaga gerbang tidak kalah asertif. Tanpa helm zirah terpasang di kepala, Arcaviel bisa melihat garis rahangnya yang tegas. Ciri khas seorang kesatria begitu melekat dalam diri si penjaga gerbang. Bukan suatu hal yang perlu dipertanyakan—karena tentu saja kakaknya hanya akan memilih perawakan dengan tampang meyakinkan untuk lolos kualifikasi sebagai kesatria. Bertepatan kesatria itu berbicara dengan si kesatria yang berjaga di bawah, gerbang menderit. Arcaviel terpicing sesaat begitu menerima pekak gerbang yang telah lekang dimakan waktu itu, masih sama bisingnya dengan kemarin-kemarin. Ia baru membuka manik birunya kembali kala Hugen dan tiga kuda tunggangan mereka mulai menerobos celah gerbang, belum terbuka sempurna. Langsung tersuguh di depan mata, ada sebuah jalan yang berimpitan dengan berbalok-balok rumput. Itu menjadi pembukaan mereka saat kuda-kuda telah menapak di luar gerbang. Dengan irama tetap, para kuda berderap santai melintasi jalan kecil untuk menuju jalan besar di luar area kastel. Entah atas alasan apa balok-balok rerumputan tinggi ini sengaja dibangun. Mungkin agar tidak sembarang orang berani masuk, terka Arcaviel. Mengingat tempat ini seperti lorong labirin meski tanpa keluk. Tidak memakan waktu terlalu lama, tibalah Raja dan Putri Aeradale, beserta tiga kesatrianya di luar teritorial kastel. Reeval menarik kekang Hugen, memacu kuda putih mereka untuk berbelok ke kanan, tepat memasuki area permukiman. Mengingat mentari sudah mulai terik dan para penduduk tidak membutuhkan penerangan di rumahnya, rumah-rumah itu tampak redup. Berpasang-pasang netra terarah kepada Arcaviel, sementara sebagian lagi membungkuk dan memanggil penuh hormat Raja Aeradale. Arcaviel bisa merasakan tubuhnya menggigil, ditatap lapar oleh sekelompok gadis sepantarnya. Arcaviel bisa menebak mereka merupakan si kembang desa di sini, melihat dari cara berpakaian mereka yang terpelihara dan elegan. Jangan lupakan juga sorot kecemburuan di sana. Mereka tentu menaksir kakaknya. “Apakah butiknya masih jauh?” Arcaviel bertanya, sedikit menggeser mundur, mencari kehangatan suhu tubuh sang kakak untuk punggungnya. Ia benar-benar tidak menikmati tatapan semacam itu. Reeval balas bertanya tanpa memberi jawaban, “Kenapa memang?” Kepala Putri Aeradale menggeleng lesu, tetapi ia tidak merespons lebih. Di luar dugaan, Reeval menangkap tangan kiri Arcaviel yang berada di atas pangkuan paha gadis itu dan meremas ruas-ruas jemarinya lembut. “Mereka belum tahu tentangmu, abaikan saja. Atau kau ingin aku menghukum mereka karena—” “Reeve, tidak perlu.” Arcaviel melongok ke balik pundaknya, kemudian tersekat saat kepalanya justru menemui jakun pria itu. “He-em, aku baik-baik saja, kok.” Raja Aeradale tidak merespons lagi. Arcaviel beralih muka untuk terfokus ke depan, tetapi pikirannya justru ada pada genggaman tangan sang kakak. Ia tanpa sadar mengusung tangan pria itu ke udara, dan seperti kehilangan akal sehat, Arcaviel mengusap kepalan Reeval dengan tangan satunya yang bebas. Cukup lama, sampai duduknya yang tidak terbataskan apa-apa membuatnya hampir hilang keseimbangan. Dengan cekatan, tangan kanan Reeval meraih pinggang Arcaviel. Dan untuk kali ini, ia tidak lagi menolak.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN