Sandaran kursi menderit begitu dirinya membanting punggung ke sana. Pria dengan netra sehitam jelaga itu memancang lurus pada langit-langit ruang kerjanya. Berkutat seharian dengan berkasan traktat tanah antarbangsawan, ketersediaan sumber daya, dan lain sebagainya telah menjadi kudapan sehari-hari Reeval Lanford. Ia terbiasa mengisi luangnya dengan itu, sesekali kesatrianya akan datang untuk laporan.
Reeval mengabaikan lembaran kertas yang berserakan sana sini, berniat untuk tidur sebentar ketika pintu dua rangkap ruang kerjanya terlempar buka sampai membentur dinding. Pria itu meremas pelipisnya sejenak, baru menegakkan tubuh semata-mata mendapati empat figur di dekat pintu. Reeval menghela napas dan menjaga rautnya tetap datar, menginspeksi satu-satu dari mereka.
Pertama, ada seorang wanita beruban—ia menganggap surai putihnya itu uban, Tahala Aristide, calon tunangan yang tidak akan ia terima lamarannya sampai kapan pun. Lalu, ada adiknya, Putri Arcaviel, yang mampu mereduksi sumpah serapah Reeval terhadap si wanita beruban. Terakhir, dua bawahannya di ambang pintu, Kesatria Deulake dan Sahara Yvette.
Reeval tidak segan menghunuskan sorot tajam kepada mereka. “Apa lagi, Lady Hala?” tanyanya, memindahkan pusat atensi dari dua orang itu menuju si wanita beruban. Sepintas, tatapan pria itu singgah sementara pada manik biru Arcaviel.
“Kudengar dari adikmu, kau sudah menerima lamaranku, Yang Mulia?”
Hah? Reeval mengerutkan kening. “Aku tidak,” jawabnya, tegas.
Ironisnya, Tahala merespons penolakan itu dengan semringah. “Ah, Yang Mulia. Jangan gengsi seperti it—oh! Apa kau berencana untuk mengejutkanku namun aku telanjur tahu dari adikmu?” terkanya, binar kebahagiaan mendominasi di sana. Itu membuat tiga figur di belakang meringis, miris dengan kepercayaan diri Tahala. “Yang Mulia sungguh tidak perlu melakukan itu.”
“Arcaviel,” Reeval melirik adiknya tajam, “apa yang kau katakan kepada Lady Hala?”
“T-Tidak ada,” balas Arcaviel, terpatah-patah.
Reeval menaikkan satu alis, berniat mengintimidasi adiknya, namun Tahala masih berceloteh panjang lebar—tentang tanggal pernikahan, resepsi, lokasi malam pertama, dan lainnya yang dianggap sepintas lalu oleh Raja Aeradale. Kadang kala, setiap ada kesempatan, Tahala akan menyentuh tangan Reeval. Bukan seperti Raja Aeradale mudah disentuh, biasanya tidak. Pria itu hanya ingin memastikan satu hal.
“Bagaimana, Yang Mulia?” Tahala berbinar-binar. Ia mungkin seorang Duchess di masa depan, tetapi harga dirinya ada jauh di bawahnya.
Begitu Tahala selesai dengan angan-angan nonsensnya, Reeval segera berkata dengan nada rendah, “Lady Hala, sebaiknya kau kembali ke kediamanmu.”
Tahala tersentak. Atmosfer terasa lebih dingin. Bukan Tahala saja, Marcus dan Sahara juga merasakan hal yang sama. Berbeda dengan mereka, Arcaviel ingin tertawa saat mendengar pengusiran calon tunangan kakaknya tersebut, tetapi ia mengurungkan animo itu, terutama setelah sadar bila Reeval sedang melempar sorot tajam untuknya. Salah apa dia?
“B-Baiklah, Yang Mulia.” Kalau sudah begini, Tahala tidak berani memprotes. “Nanti beri tahu aku saja kapan waktu tepat untuk—”
“Kembali sekarang, Lady.”
Reeval menginstruksikan Marcus untuk mengantar Tahala pergi. Pria itu sudah tidak betah lama-lama. Sesuatu mengusik benaknya, memantik api kecil dalam diri Raja Aeradale. Tidak mau dirinya larut dalam amarah, selepas kepergian Marcus dan Tahala—wanita beruban itu jelas tidak sudi pergi bila calon masa depannya tidak seperti tadi, tersisa tiga orang saja dalam ruang kerjanya.
“Kau bisa pergi.”
“Baik, Yang Mulia.”
Mulanya, Arcaviel mengira Reeval akan mengusirnya juga pasca kepergian Tahala dan Marcus. Tetapi, suara Sahara membuatnya kembali mengatupkan bibir. Arcaviel lantas menoleh ke balik pundaknya sendiri, semata-mata mendapati Sahara telah beranjak dari sana, menyisakan hanya sepasang saudara itu di dalam ruangan. Hening cukup lama sampai Putri Aeradale berniat untuk kembali ke kamarnya.
“Cav.”
Bertepatan ia akan memunggungi meja kerja Reeval, suara maskulin itu memanggil namanya. Arcaviel menatap lurus manik hitam sang kakak, ada hal-hal tak terkatakan di sana. Ia tidak tahu mengapa bisa berasumsi demikian di saat air muka Raja Aeradale sendiri datar bukan main. Arcaviel hanya tahu. Tak ada pembuktian nyata, tetapi ia bisa melihatnya.
“Iya, Reeve?” Arcaviel mengangkat dua sudut bibirnya.
“Kau merestuiku?”
Eh? Ada sedikit redupan di sana. Buru-buru Arcaviel berkata, “Terserah Reeve, tentu saja.”
“Hm .…” Reeve menatap skeptis Arcaviel. Ia sempat menangkap kelebat redupan itu, tetapi belum cukup puas dengan tanggapan adiknya. “Kau yang menentukan.”
“Kenapa aku?”
“Karena kau adikku?” Raja Aeradale balas bertanya. “Kalau kau setuju dengan kami, aku—”
“Aku tidak setuju.” Itu di luar kesadaran Arcaviel, sungguh, seperti ada sesuatu yang mendesaknya untuk menolak kelahiran Ratu Aeradale baru. Arcaviel membasahi bibir ranumnya, gugup bukan main. “Ada banyak yang lebih baik dari Lady Hala, Reeve. Siapa pun, jangan dia.”
“Misalnya?” Reeve mengulum senyum miring. “Sebutkan satu nama.”
“Sahara, mungkin?”
Hanya nama pelayan itu yang terlintas dalam benak Arcaviel. Entah mengapa, ia sedikit kalut. Sahara merupakan opsi paling tepat, namun tetap saja ia tidak akan bisa menerima begitu saja bila kakaknya benar-benar ingin bersama Sahara. Arcaviel jadi tidak paham dengan pikirannya sendiri, mungkin dampak dari eksistensinya di ‘Dunia Seberang’ tidak memiliki siapa-siapa selain kakaknya sehingga gadis itu menjadi egois, takut sendirian.
“Kau menjodohkanku dengan pelayanmu?” Raja Aeradale melemparkan kilat main-main. “Jadi, jika aku bersama Sahara, kau bersedia?”
“Jika aku bersedia,” Arcaviel hampir tidak mengenal suaranya sendiri, “memangnya Reeve akan setuju?”
“Kenapa tidak?”
Niat Reeve mengusik Arcaviel sesungguhnya sekadar memperbaiki suasana hati pria itu—lebih tepatnya, membalas perbuatan adiknya sendiri. Tidak dapat ia mungkir, pandangan Arcaviel untuknya berbeda, tidak seperti dulu. Arcaviel empat tahun lalu tidak pernah segan untuk mengusir gadis-gadis yang mungkin bersedia menyerahkan tubuh mereka kepada Reeval, tetapi sekarang?
Ia biarkan Tahala menyentuh kakaknya begitu saja. Apa-apaan? rutuk Reeval tadi, sebelum akhirnya mengusir Tahala pergi.
Hanya saja, Reeval sekarang tahu masih ada sedikit dalam diri Arcaviel yang belum pudar. Ia hanya belum utuh, masih terbawa oleh kepribadian selama di dunia fana. Itu cukup membuat suasana hati Reeval membaik, namun sebagai gantinya, Arcaviel justru kelihatan tidak senang. Reeval puas dengan gurat adiknya, mungkin ia memercayai kakaknya akan menikah dengan pelayan Aeradale. Gila saja.
“Jangan sekarang,” gumam Arcaviel. “Reeve bisa menikah, tetapi jangan sekarang.”
Cukup. Reeval tidak bisa menahan kejahilannya lebih lama. “Aku tidak akan menikah,” balas pria itu. “Tidak sebelum cinta pertamaku kembali.”
Arcaviel semestinya lega karena setidaknya ia tidak akan sendirian dalam waktu dekat ini, tetapi hati kecilnya berteriak tidak. Aku tidak mungkin cemburu, bukan? pikirnya, cemas. Demi Dewa dan Dewi, Reeve itu kakakku. Tidak mungkin—
“Cav?” Jantungnya mencelus. Ia buru-buru menatap Reeval. Pria itu menghela napas. “Berhenti melamun, Arcaviel. Kau dengar aku?”
“Aku mendengarnya.”
“Apa?”
“Reeve akan menikah,” Arcaviel mendadak skeptis dengan jawabannya sendiri begitu air muka Reeval berubah, tetapi ia tetap meneruskan, “setelah cinta pertamanya kembali?”
Dua sudut bibir Reeval tertarik naik. Pria itu bahkan tidak berniat menyamarkan gurat tersebut dari sang adik. “Kau tidak mendengar, Arcaviel.” Raja Aeradale tertawa geli melihat rona merah langsung terbit di pipi mulus adiknya. “Aku bilang, kita mungkin akan mempersiapkan perjamuan untuk menyambut kedatanganmu kembali di Aeradale. Bagaimana?”
“Entahlah.” Arcaviel belum bisa berpikir jernih, ia masih malu bukan main karena tertangkap basah tidak mendengar. Benaknya berada di awang-awang, mencoba untuk mengolah pertanyaan dari Reeval, sampai akhirnya ia mulai bertanya, “Apakah itu harus?”
“Perjamuannya tidak, tetapi orang-orang tidak akan mengenal wajahmu—sekadar tahu nama.”
“Hm, apakah itu memungkinkan Pierce untuk mengetahui tentang eksistensiku di sini?”
“Pierce lagi?” decak Reeval, kentara nadanya terdengar tidak suka. Pria itu mendengus singkat, lalu berkata, “Mungkin iya dan mungkin tidak. Semua tergantung Orbit Desertir.”
Masih ada kemungkinan, batin Arcaviel. “Baiklah, aku rasa mengadakan perjamuan tidak masalah.”
Lama dalam hening, belum ada lagi respons dari Raja Aeradale. Diamnya pria itu membuat Arcaviel spontan cemas dan keheranan. Lalu, ia teringat dengan tanggapan Reeval sebelumnya—‘Pierce lagi?’. Apakah karena itu sampai kakaknya merajuk dan enggan untuk berbicara? Tetapi, kenapa? Bila diselisik lagi, sepertinya Arcaviel memang salah.
Kepekaanku selalu datang terlambat, pikir Arcaviel.
Empat tahun, selama itu Reeval kerap mencari dan merindukan adiknya, sedangkan Arcaviel sendiri justru terlupa. Ketika sepasang saudara itu kembali bersua, Arcaviel malah mencemaskan hal lain—pemuda lain, yang mana tidak memiliki kesamaan darah dengan Putri Aeradale. Ini sejujurnya tidak adil untuk Reeval. Arcaviel kini seutuhnya sadar, tetapi sulit untuk menghilangkan wajah sepupunya yang sedang terancam.
Jadi, Arcaviel hanya bisa bergumam lirih, “Reeve, maaf ….”
“Hm?” Reeval mengejap sekali.
“Maaf atas empat tahun ini.” Arcaviel meremas tuniknya dan membiarkan kata-kata selanjutnya lolos dari bibir ranum Putri Aeradale, “Reeve pasti kesepian, bukan?” Ada jeda sejenak, baru ia meneruskan, “Jadi, maaf.”
Senyap kembali membelah udara. Sorot pandang Reeval dibuat melunak oleh penuturan adiknya. Ia tidak berkata apa-apa selain memutari meja untuk menggapai tubuh mungil Arcaviel, merengkuhnya dalam dekapan. “Aku tidak pernah menyalahkanmu, Cav. Satu kali pun tidak,” Reeval bisa merasakan deru napasnya sendiri memberat, “jangan seperti ini lagi—menganggap dirimu salah. Aku tidak pernah memintamu seperti ini, Arcaviel.”
Itu kalimat terpanjang yang pernah terlontar dari Raja Aeradale, juga suara terhalus yang pernah ia dapatkan dari siapa pun. Dengan kepalan tangan, ia meremas kain baju Reeval dan membenamkan diri pada d**a bidang pria itu. Suhu tubuh Reeval terasa dingin, tetapi dekapan itu rasanya hangat, bahkan tidak pernah sehangat ini ketika pernah berpelukan sekali dengan Pierce.
“Aku tidak akan pergi lagi.” Arcaviel tidak bisa menahan gugahan untuk meneruskan kata-katanya, “Aku pulang, Reeve.”
Tanpa sepengetahuan Arcaviel, Reeval merapatkan netranya cukup lama. Raja Aeradale ingin lebih lama mempertahankan tubuh mungil ini, sudah lama ia menanti kedatangan sang Putri. Hati nuraninya bahkan hampir beku pasca insiden malam itu, ketika Reeval nekat melakukan apa yang semestinya tidak ia lakukan—berkhianat. Jika bisa jujur, ia menyesal, tetapi semua terlambat.
Takhta sudah jatuh ke tangannya. Dan Arcaviel sudah ada di sisinya. Ia akan mempertahankan kedua hal ini.
Tanpa sadar, Reeval mengulaskan senyum kosong. Ia menghirup aroma tubuh Arcaviel selagi lengannya semakin mengikis jarak di antara dua orang itu. Di antara redupan ruang kerja, sesuatu membayang pada pintu yang menutup rapat. Reeval baru saja memanggil siluet barunya dan Arcaviel sama sekali tidak sadar. Gadis bersurai cokelat pirang itu sibuk mengorek kehangatan sang kakak lebih dalam.
Temukan Orbit Desertir dan ratakan markasnya—tanpa kecuali. Bertepatan dengan ia menitahkan dalam batin, siluetnya menyuruk dari celah terbawah pintu. Hasil ciptaan mana hitamnya muat seperti benda cair, lantas keluar dari ruangan untuk melaksanakan titahan tuannya. Kau dan keluargamu menginginkan ini terjadi, bukan? Maka akan kurealisasikan nujum itu, Oakley.
“Hm, Reeve?”
Suara halus itu berhasil menaikkan kesadaran Reeval ke permukaan. Tubuh Raja Aeradale menegang. Kepalannya mengendur, sehingga Arcaviel segera mengeluarkan diri dari lingkaran lengannya. Arcaviel segera mendongak, seketika sepasang netra mereka berserobok. Begitu ia menemukan kepekatan di sana, kening Arcaviel mengerut dan dua alisnya bertaut.
“Reeve, ada apa?” Jemari lentiknya tanpa sadar terangkat untuk menyapu pipi halus sang kakak.
“Aku baik-baik saja.” Reeval menangkap jemari Arcaviel dan meremasnya singkat. “Mari kita makan malam, Cavi.”[]