12. Calon Tunangan Raja

1848 Kata
Gemercik air kelebihan tumpah dari timba terdengar tidak jauh dari menara, mungkin sumber suaranya ada di balik sana. Bukan satu atau dua kali, bahkan lebih dari belasan kali. Suara itu mengundang sorot heran dari Putri Aeradale. Jelas itu bukan suara air pancur. Ada begitu banyak konversasi dan langkah kaki orang-orang, terlalu hidup daripada sekadar pancuran. Penasaran, Arcaviel menunduk ke sisi pundak kirinya, lekas tatapan si Putri Aeradale jatuh pada pelayan manisnya itu. Dilihatnya Sahara tetap setia berdampingan dengan Hugen—hatinya teguh, tetap tidak ingin ikut duduk di atas tunggangan bersama Arcaviel. Kucir dua ikalnya sesekali memukul udara kosong di setiap derapnya. Gurat pelayan itu dua kali lebih berseri-seri pasca percakapan terakhir antara dirinya dan nonanya. Tidak lagi pada kerajaan seperti yang sudah-sudah, Sahara memantapkan diri untuk mengabdi pada Putri Aeradale. Baru saja Arcaviel akan menanyakan tentang bising itu, kudanya telanjur berbelok kiri usai berderap semakin jauh dari menara. Pemandangan orang-orang yang sedang berhiliran mengangkut timba tersuguh di depannya. Tetapi, bukan karena itu pupilnya mengalami dilatasi. Dari atas tunggangan, ia kentara terkesima, baru tahu ada telaga seluas ini di dalam kastelnya dan Reeval. Arcaviel bertaruh, luas telaga bahkan melebihi kediamannya di Silkvale. Baru puas dengan keterkesimaannya, netra Putri Aeradale memancang lurus ke orang-orang itu. Rata-rata menggunakan kaos polos, agak lusuh dan kotor, terdiri dari belasan pria dan wanita. Menilik dari busana itu, Arcaviel lantas menyimpulkan bila mereka bukan para kesatria ataupun pelayan. Jadi, siapa mereka? Arcaviel mengerutkan kening. Mengapa ia malah berasumsi tidak-tidak dengan menduga mereka merupakan para b***k kerajaan? Larut dalam pemikiran negatifnya, Putri Aeradale tidak sadar ketibaannya bersama Hugen dan Sahara berhasil menarik atensi orang-orang itu dari kesibukan mereka. Bagi orang-orang itu, paras Arcaviel terbilang asing, namun juga tidak asing. Tak sedikit dari mereka mulai menerka siapa gadis berparas elok ini, sampai-sampai lupa bagaimana cara melakukan tata krama. “Sahara.” Arcaviel lagi-lagi menunduk, semata-mata mendapati netra mereka sudah saling bertumbuk. Aku harus meluruskan ini. Reeve tidak mungkin sediktator itu! “Siapa mereka? Apakah Raja merampas orang-orang ini untuk dijadikan b***k kerajaan?” Sahara hampir terlonjak. “B-b***k, Putri?” Ia buru-buru menggeleng. Sahara takut kesalahpahaman ini dapat membuat hubungan persaudaraan Putri Aeradale dengan Raja Aeradale menjadi buruk, jadi ia segera meluruskan, “Tentu tidak, Putri. Yang Mulia bukan sosok seperti itu. Justru, Yang Mulia berbaik hati dengan memberikan tempat tinggal untuk orang-orang ini.” Arcaviel baru bisa bernapas lega. “Jadi, siapa mereka?” “Anggota keluarga dari para kesatria yang sudah berkeluarga, Putri.” Sahara melemparkan senyum cerah, sekaligus bangga. Ia siap memuji rajanya tanpa sungkan di depan adiknya. “Yang Mulia memenuhi kebutuhan mereka, tetapi sebagai gantinya, mereka bekerja untuk kerajaan—sebagian menjadi tukang cuci, penambah pasokan air di dapur, dan tugas-tugas lainnya. Kakak Anda benar-benar luar biasa, Putri.” “Ah, baiklah.” Arcaviel mengerti. Ini membuatnya semakin yakin, kakaknya masih berhati. “Mari teruskan perjalanan. Aku masih ingin melihat-lihat lebih dalam.” Sahara mengangguk patuh. “Tetapi, sebelum itu—hei, setidaknya sapa Putri Aeradale lebih dulu daripada melongo seperti itu,” seru Sahara, sedikit sebal karena tidak ada satu pun dari orang-orang itu bersikap wajar. Padahal, momen kembalinya Putri Aeradale Yang Hilang sangat bersejarah untuk mereka semua. Orang-orang itu semakin ternganga. Arcaviel menundukkan kepala, malu bukan main. Ia memang terbiasa menjadi pusat atensi selama di Desa Silkvale, atau ketika para kesatria berniat meringkusnya akibat prasangka salah mereka, namun kembali menjadi pusat atensi seperti sekarang—apalagi Sahara berteriak secara terang-terangan, terlalu memberinya kesan ingin cari perhatian dari pihak mereka. “Mohon maaf, Putri!” Satu suara, entah dari mana asalnya, mulai berkembang satu demi satu dari seputar telaga. Permintaan maaf melolong tanpa henti, mengisi udara sekitar yang justru membuat Arcaviel lupa cara untuk bernapas. Sahara mencoba meredakan keributan dengan panik. Sebagian dari para pekerja bahkan meminta Putri Aeradale untuk tidak memecat mereka. Arcaviel mengibas-ngibas tangan, namun tidak ada di antara mereka yang memperhatikan. Orang-orang itu sibuk membungkuk sembilan puluh derajat, merasa bersalah karena telah memperlakukan Putri Aeradale secara tidak layak. Itu bukanlah hal bijak. Mereka cukup tahu bila adik dari raja telah kembali, namun atas insiden penyerbuan Orbit Desertir empat tahun silam, mereka menjadi tidak familier dengan wajah Arcaviel. Itulah mengapa mereka membutuhkan waktu lama untuk sadar bila putri itu sudah berada di depan mata. “Tenang, semuanya.” Arcaviel akhirnya dapat menemukan suaranya sendiri, lebih lembut daripada yang sempat ia duga. Cara bicaranya persis seorang bangsawan bijak saat ia bertutur kata, “Tidak masalah. Silakan lanjutkan pekerjaan kalian, aku hanya mampir sebentar untuk melihat-lihat. Jangan lupa untuk beristirahat setelahnya.” “Baik, Putri.” “Anda baik sekali.” “Terima kasih, Putri. Semoga kebahagiaan selalu menyertai Anda.” Dan masih banyak lagi. Arcaviel mendengar semua ucapan dan harapan positif tersebut, mengaminkan beberapa di antaranya, sesekali mengangguk, serta melempar senyum. Hugen kembali berderap dengan Arcaviel di atas tunggangan dan Sahara di sisi kiri kuda putih bersurai lebat itu. Manik biru Arcaviel tidak berhenti mengitari seputar telaga dan para pekerja yang bolak-balik dari sana. Mereka menimba air menggunakan wadah cukup besar. Itu untuk memasok air di dapur kerajaan, jelas Sahara begitu nonanya terlihat ingin tahu. Belasan meter dari telaga, ada jajaran paviliun yang sengaja tersambung dengan kastel. Paviliun itu terdiri atas tiga tingkat. Cat putih terpoles di permukaannya, namun ada sedikit terkelupas pada bagian-bagian tertentu. Sahara menguraikan pada Arcaviel bahwa paviliun tersebut merupakan tempat tinggal pada pekerja, berseberangan dengan kebun dan peternakan kecil kerajaan. Derit pintu pembatas kebun dengan pelataran kosong di depan paviliun membuat pandangan Arcaviel teralih ke sana. Ada tiga bocah keluar tertatih-tatih dengan binar antusias dari pintu putih bersulur bunga-bunga itu. Satu memegang tiga buah apel, satunya memegang sejumlah stroberi, dan bocah paling gempal memegang sebuah semangka dengan tangan yang bahkan tidak lebih besar dari buah manis berdaging merah itu. Lalu, seorang pria paruh baya bertopi koboi melongokkan kepala dari dalam dan menguncinya lagi. “Hoho, selamat menikmati, Nak!” ucapnya bersahabat, kemudian berbalik memunggungi. “Terima kasih, Paman!” Usai mengucap itu bersamaan, ketiganya memelesat ke pelataran. Bocah-bocah itu sepertinya berniat kembali ke paviliun ketika salah satunya tergelincir di tanah. Sahara secara impulsif menghampiri bocah yang terjatuh itu. Arcaviel masih menutup mulutnya dengan terkejut ketika satu stroberi menggelinding tepat di depan Hugen. Ringkik senang terdengar satu detik setelahnya. Kuda peliharaan kerajaan itu kontan merunduk, mendekatkan moncong pada stroberi dan menyantapnya dengan nikmat. Arcaviel beranjak turun dari tunggangan, tetapi pendaratannya kurang mulus. Senyar cukup mengerumuni pergelangan kakinya. Arcaviel menelan rintihan dan langsung menghampiri Sahara yang sedang menghibur si bocah agar tidak menangis. Dua bocah lain berada tidak jauh dari mereka, tampak ketakutan saat melihat kehadiran Arcaviel sebagai si penunggang kuda putih. Bukan rahasia umum lagi, satu-satunya kuda putih itu merupakan milik terpenting kerajaan. Jangan dekat-dekat dengan kuda putih kerajaan. Milik Yang Mulia Raja—itu yang selalu mereka dengar. Dan karena itulah, tidak ada satu pun anak kecil yang berani menaruh tangan pada Hugen ataupun si penunggang. Setidaknya itu yang Sahara ceritakan kepadanya. Arcaviel menghela napas. Ia masih ingat betapa pucat gurat ketiga bocah itu kala dirinya menghampiri mereka. Penanaman doktrin sejak dini dan disertai ancaman para orangtua seperti ‘nanti Raja akan mengamuk’, ‘kudanya akan menghitam jika kalian sentuh’, dan ancaman irasional lain yang jelas menumbuhkan kesan buruk tentang Raja Aeradale di mata anak-anak itu. “Putri, Anda baik-baik saja?” Sahara mendongak sambil melemparkan sorot heran kepada Putri Aeradale. Arcaviel sudah lama diam, hampir murung mengingat ancaman para orangtua itu. Entahlah, ia telah mengetahui bagaimana Reeval bermurah hati bersedia menampung dan memenuhi mereka di kastelnya, tetapi ia justru dipandang buruk oleh anak-anak. Mereka kurang bersyukur, batin Arcaviel, miris. “Aku baik-baik saja, Sahara.” Hanya itu yang bisa ia lontarkan saat ini. “Omong-omong, sudah hampir sore. Mari kembali ke kastel.” Sahara ingin memprotes bila kastel masih terlalu luas, namun menangkap binar kemurungan dari Arcaviel membuatnya urung. Pelayan Aeradale itu jelas bingung. Ia rasa tidak ada secuil pun kata darinya yang menyinggung adik dari rajanya. Mungkin Putri hanya kewalahan, pikir Sahara. “Ayo kembali, Putri.” * Arcaviel menapak di permukaan tanah usai memarkirkan Hugen di dalam istal. Ia dan Sahara melemparkan senyum sopan untuk Battista, si penjaga istal, baru akhirnya kembali menuju kastel. Sesampai mereka di serambi, Arcaviel dikejutkan dengan dua pria gagah perkasa di depan pintu. Tinggi mereka menjulang, bahkan hampir mencapai atap. Kedua pria itu mengenakan busana formal, tidak seperti kesatria penjaga pintu. “Selamat sore, Putri.” Kedua kesatria penjaga pintu membungkuk penuh hormat saat melihat kedatangan adik dari Raja Aeradale itu. “Putri?!” Suara feminin, lantang, dan hampir lancang terdengar dari ambang pintu. Arcaviel lekas menjatuhkan pandangan ke sumber suara, mendapati perawakan seorang wanita bersurai putih—bukan uban, itu warna aslinya. Panjang helaiannya jatuh sampai ke pinggul. Ia memiliki manik kelabu yang begitu cantik dan bibir ranum yang teramat menawan. Arcaviel bahkan terlalu kesima untuk sadar bila dirinya telah dipanggil oleh wanita rupawan itu. Manik birunya masih terfokus pada gaun sabrina putih di depannya. Kedua pundak dan ceruk leher si gadis terekspos. Siapa dia? Melihat wanita menawan itu rasanya membuat Arcaviel sedikit khawatir. Entah apa yang ia cemaskan, Arcaviel sendiri tidak mengerti. “Putri,” kali ini Sahara memanggil, mendekatkan diri pada nonanya dan berbisik, “ini Lady Hala, calon tunangan Yang Mulia.” Jantung Arcaviel terasa mencelus. Semestinya ia sudah bisa menebak itu! “Ah, selamat datang, Lady Hala.” Arcaviel memajukan salah satu kakinya ke depan dan menekuk sedikit, sekadar penghormatan basa-basi. “Senang bisa bertemu dengan Anda di sini.” “Kau mengetahuiku?” Ada binar kebanggaan tebersit dalam netra kelabu Tahala. “Apakah Yang Mulia menceritakanku kepadamu?” Arcaviel tanpa sadar mengusap tengkuk. Ia melirik Sahara sejenak, mendapati ekspresi pelayan manisnya tidak semanis biasa. “Mari, Lady. Anda bisa masuk,” sambut Putri Aeradale, mempersilakan calon tunangan Reeval memasuki kastel. “Anda pasti kemari untuk menemui kakak saya.” “Benar.” Tahala mengangguk penuh arogansi. “Tetapi, tidak juga. Aku kemari untuk bertemu denganmu—dan rupanya kau tumbuh dengan sangat baik, Putri.” “Anda bisa saja, Lady.” Arcaviel tertawa, entah mengapa lebih hambar dari biasanya. “Lady Hala juga tumbuh begitu baik. Anda pasti merawat diri. Pantas saja kakak saya—” “Sebentar, sebentar.” Langkah Tahala terhenti, begitu pun Arcaviel dan Sahara. Kemudian, Tahala beranjak untuk bersemuka dengan Arcaviel. “Apakah kau baru saja membocorkan padaku bila Yang Mulia menerima lamaran ini?” Eh? Arcaviel menelengkan kepala. Apa maksudnya? Belum sempat ia merespons, Tahala sudah lebih dulu berseru dengan keras, “Astaga, akhirnya dia luluh juga!” Putri Aeradale mengejap. Ia ingin berbicara, tetapi tidak menemukan suaranya lagi. Wah, calon tunangan kakakku unik sekali, tidak mengenal tempat dan tidak mengenal malu, pikir Arcaviel. Tebersit pikiran jahat. Sesuatu mendesak Arcaviel untuk menolak memberi restu pada kakaknya dan sang calon tunangan. Ya, ia pikir dirinya akan membuat sang kakak membatalkan pertunangan itu. Dengusan terdengar dari samping—memecah bersitan jahat tersebut dari otak Arcaviel—itu Sahara, dan Arcaviel tidak bisa untuk tidak mengulum senyum. “Biarkan, Putri. Teruskan saja langkah Anda. Kita tinggalkan cacing kepanasan itu di belakang,” kata Sahara, mengundang tawa halus dari nonanya saat itu juga. Dan tanpa ingin berlama-lama, Arcaviel lantas mengiakan.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN