08. Insiden Putri Aeradale

1938 Kata
Tuk. Tuk. Tuk. Suara alas sepatu bot zirah Kesatria Deulake menggema tatkala ia melintasi lorong lantai dua kastel. Jajaran lukisan gotik dan pintu-pintu setia mendampingi perjalanan Marcus menuju ruang kerja sang Raja. Amanat dari rajanya tadi—tentang pria itu ingin menemuinya pasca urusan dengan Putri Aeradale selesai—membuat kesatria itu sedikit risau. Sebagai kesatria inti Aeradale, sekaligus kepala dari kesatria lain, Marcus merasa jengah atas dua hal. Pertama, ia belum mendapat informasi apa pun mengenai itu dari kesatria-kesatria suruhannya. Titahan Raja Aeradale bahkan sudah ada sebelum mereka menciduk Putri Aeradale. Lalu kedua, tentu saja tentang Arcaviel. Ia sama sekali tidak menduga, orang yang telah ia tuduh sebagai penyusup ialah adik dari Raja Aeradale yang hilang. Marcus terhenti di satu buah lukisan pertengahan lorong kastel. Pasca ia amati sekali lagi, memang begitu banyak kemiripan antara si gadis dalam lukisan dengan Arcaviel. Yang menjadi pembeda mungkin terletak pada surai pendeknya saja, sisanya sama persis. Argh, mau ditaruh ke mana lagi mukanya bila berpapasan dengan Putri Arcaviel? Ia jadi teringat kembali dengan sikap sok tahunya waktu itu. “Kau pasti pionnya. Cukup disayangkan karena ketua bodoh itu akan kehilangan pion cantiknya sebentar lagi.” “Pion, kepalamu t***l,” Marcus bermonolog parau. “Siapa yang kau sebut t***l?” Suara lembut itu terasa mengintimidasinya. Marcus terlonjak dari tempat kakinya berdiri saat itu juga. Ia dengan tanggap memutar tubuh ke arah sumber suara, kemudian memelotot tidak percaya. Bagaimana tidak, sosok Putri Aeradale dalam lukisan kini terealisasi tepat di depan sepasang netranya. Ia Amorette, setidaknya itu nama manusia si Putri Aeradale. Marcus membasahi tenggorokan. “S-Sejak kapan?” “Sejak kau memandang lukisanku seperti itu,” Amorette tertawa ringan, bahkan tawanya begitu mirip dengan kebanyakan bangsawan wanita, “dan mengataiku tolol.” Keparat, ia mendengarnya! “A-Anda salah paham, P-Putri. Saya sedang—em, mengingat kebodohan saya karena sudah ….” Senyum tipis terulas di bibir Amorette. “Tidak apa, aku mengerti,” balasnya, enteng. “Sampai kapan kau ingin memperhatikan lukisanku? Kak Reeve sepertinya menunggumu di ruang kerjanya.” ‘Kak’ Reeve? Apa Putri Aeradale telah mengakui kedudukannya? Ya sudahlah, daripada ambil pusing, sebaiknya Marcus berpamitan dengan gadis itu sekarang sebelum kesatria itu mendapat amukan dari rajanya. Belum sempat Marcus melangkah lebih jauh, batang hidung Putri Aeradale sudah tidak lagi tampak. Mendengar dari tutupan pintu, sepertinya ia telah masuk ke ruang kamarnya. Marcus kembali meneruskan langkah sampai tiba di sebuah pintu dua rangkap. Letaknya bersampingan dengan ruang kamar pribadi rajanya. Kesatria Deulake meraup udara sebentar, kemudian mengangkat kepalan tangan di udara. Ia memosisikan kepalannya cukup lama. Pasca memantapkan diri, Marcus segera mendaratkan ketukan pintu dengan ruas-ruas jemari terkepalnya tiga kali. “Masuk.” Sahutan asertif sang Raja terdengar dari dalam. Tidak terlalu keras, bahkan tidak lebih keras dari detak jantungnya saat ini. Kedua hal itu masih terlalu mengusik benaknya, belum lagi ditambah ketika Putri Aeradale berasumsi kesatria itu mengatainya t***l. Rasanya Marcus ingin mengutuk sepasang saudara itu yang membuat perasaannya menjadi awut-awutan. Setengah berserah diri, akhirnya Marcus memutar knop dan memasuki ruang kerja rajanya. Seperti biasa, terik mentari dengan cepat merangsek ke indra penglihat Marcus. Kesatria Deulake mengejap sebentar agar ia mampu beradaptasi terang remang lorong kastel dan terang terik mentari. Selagi demikian, Marcus setengah membungkuk sebagai sambutan penghormatan kepada sang Raja. Reeval beralih atensi dari berkas-berkas di tangan. Pria itu mendongak semata-mata memicing tajam. “Belum ketemu?” tanya Reeval, langsung kepada intinya. Yang ditanya lantas merespons dengan gelengan terpatah-patah. “Belum, Yang Mulia. Kesatria inti kami masih mencari ke mana siluet itu pergi,” jawab Marcus, mengatur suara agar terdengar setenang mungkin. “Lupakan soal siluet itu,” Reeval menumpukkan berkas-berkasnya menjadi tumpang tindih kembali, kemudian mendongak lagi, “aku ingin kau dan kesatria lain menemukan markas huni Orbit Desertir.” Marcus menggaruk tengkuknya. “Anda yakin, Yang Mulia?” tanya kesatria andalan Aeradale itu, tidak yakin dengan keputusan rajanya. “Itu sama saja Anda—” “Lakukan saja perintahku.” Kesatria Deulake menjengit. Seharusnya ia tahu perintah Raja Aeradale itu mutlak, tidak dapat diganggu gugat. Akan tetapi, ironis melihat Reeval ingin melibatkan diri kembali dengan para pembelotnya sesudah pria itu berhasil memukul mundur dan mendapatkan kembali kejayaannya. Marcus tentu saja ingin menentang keputusan itu. Namun, mau bagaimana lagi? Pangkatnya yang cuman kesatria tidak berhak untuk menolak perintah. “Baiklah, Yang Mulia.” Marcus tersenyum masam. Ia berniat memunggungi Reeval untuk beranjak dari singgasana Raja Aeradale, tetapi suara Reeval dengan cepat menghentikan pergerakannya. “Satu lagi, Deulake,” imbuh Raja Aeradale tersebut. “Ya, Yang Mulia?” “Jangan sampai kabar tentang siluetku terdengar hingga ke telinga Putri Aeradale, termasuk rahasia yang memang hanya dapat diketahui oleh kesatria inti saja.” Kendati penasaran, Marcus tetap mengangguk. Dengan tegas, kesatria itu mengiakan perintah sang Raja. Reeval kemudian mempersilakan Marcus untuk keluar, namun kali ini langkah Marcus tertahan dengan sendirinya. Ia sedikit merasakan ada yang janggal, sehingga Marcus tidak bisa menahan lebih lama. Kesatria Deulake hanya takut bila rajanya terlupa atau bagaimana. “Terkait kembalinya Putri Aeradale Yang Hilang, apakah Anda sudah berencana mengadakan pesta perjamuan?” tanya Marcus. “Maksud saya, penghuni kontinen harus tahu—” “Akan kupikirkan nanti,” Reeval memotong ucapan Marcus. Ia bisa memahami maksud kesatrianya itu. “Saat ini, laksanakan saja tugasmu bersama para kesatria lain.” Marcus mengangguk singkat. Ia setengah membungkuk sembari berkata, “Baiklah. Kalau begitu, saya pamit undur diri, Yang Mulia Lanford.” Pasca batang hidung kesatrianya tertelan pintu yang sudah menutup rapat, Reeval membanting punggungnya ke sandaran kursi. Suara derit merebak ke indra pendengarnya. Pria itu mendongak ke langit-langit ruangan, di mana lampu kristal dalam keadaan mati bertengger tenang di atas sana. Sepasang netra hitam jelaga Reeval memancang lurus dengan benak berkelibangan. “Pesta perjamuan, ya?” Reeval meloloskan tawa parau. Menutup keberadaan Putri Aeradale dari rakyatnya bukan hal bijak. Susah payah dirinya membangun kembali kepercayaan penduduk Aeradale tentang posisinya sebagai sang pemegang takhta. Reeval juga mengingat betul, betapa besar usahanya dalam melakukan apa yang telah ia mulai. Bermula dari tindakan sepele hingga ia dapat menjadi sebesar ini. Pria itu tidak mungkin mengakhirinya begitu saja. Akan tetapi, mengadakan pesta perjamuan nyatanya terlalu mengundang atensi dari para b*****h itu. “Kulihat pengikutmu sudah mulai bergerak, ya?” Reeval bermonolog dengan kedua tangan terkepal erat. “Tidak akan kubiarkan kau memisahkan kami lagi, keparat.” * Malam itu, tidak seperti malam sebelumnya. Kastel Aeradale dibuat gempar oleh ratusan petir yang kerap menghantam pelataran setiap sepuluh detik. Cuacanya begitu buruk. Penjaga menara gerbang yang bertugas memantau akses kastel terpaksa kembali ke barak akibat petir terus menghantam tanah bertubi-tubi. Keteledoran ini mengundang aksi diam-diam dari sebuah sindikat ilegal. Orbit Desertir, ialah perkumpulan para pembelot yang paling mengancam kesejahteraan kontinen Aeradale, bahkan termasuk dunia fana. Entah bagaimana caranya mereka dapat menembus portal menuju dunia yang tidak tersentuh magis. Anggotanya sering menyusup, merangkak dalam gelap, berselindung di balik bayang, dan beraksi dengan begitu cerdiknya. Satu kata, ‘Iblis’. Orang-orang menyebut mereka demikian. Bukan tanpa sebab, konon mereka sering melakukan pembunuhan secara besar-besaran, menculik mereka yang hilang—entah menculik manusia atau sesama pemagis. Itu semua karena mereka menginginkan superior untuk mana mereka. Mana merupakan sebutan lain dari magis. Semua penghuni Aeradale mempunyai mana. Hitam dan Putih. Dua warna yang berlainan, namun tetap tidak terpisahkan. Lupakan sejenak soal Orbit Desertir, dulunya pemilik mana hitam dan mana putih tidak dapat hidup berdampingan. Mana hitam selalu dianggap sebagai manifestasi dari penderitaan, kesengsaraan, dan konotasinya begitu negatif. Sebaliknya, mana putih dipenuhi dengan konotasi positif; kesucian, kesejahteraan, dan kebahagiaan. Atas traktat kedua leluhur, akhirnya dua jenis mana yang saling bertolak belakang ini dapat hidup berdampingan. Namun, bukan berarti kesenjangan antara kedua mana dapat berakhir begitu saja. Isu-isu negatif merebak, perlakuan diskriminatif, adu domba, dan lain sebagainya tanpa sadar membangkitkan kegelapan yang tentunya identik dengan mana hitam. Satu hal yang tidak mereka sadari, sifat seseorang tidak dapat ditentukan hanya dari warna magisnya. Memang benar adanya bahwa kegelapan identik dengan mana hitam, namun tidak menutup kemungkinan bila mana putih akan bersih dari noda. Konotasi semacam itu justru melahirkan sindikat mana putih, yang mengambil kesempatan untuk mengadu domba para penduduk Aeradale, demi melengserkan takhta Raja dan menaikkan kedudukan serta kekuasaan mereka. Mereka menyebut kelompoknya sebagai Orbit Desertir—dengan itu menuai banyak istilah lain dari para penghuni Aeradale, seperti pembelot, pengkhianat, penipu ulung, b*****h, dan masih banyak lagi. Mereka tidak memedulikan caci maki tersebut, karena sejak awal, mereka hanya menginginkan kekuasaan, termasuk mengungguli Raja Aeradale. Pada malam itu pula, mereka beraksi. Seorang pemilik mana putih ilusi menipu kerajaan. Ilusinya mencitrakan cuaca teramat buruk, petir-petir terus bertebaran sana sini, kubangan air, dan lain sebagainya untuk mengecoh para penjaga menara gerbang. Maka ketika penjaga-penjaga itu telah kembali ke barak, Orbit Desertir mulai menyusup ke dalam kastel dan berniat membunuh Reeval. Reeval sebelumnya telah memiliki intuisi yang cukup akurat. Ia memutuskan bermalam di kamar bersama adiknya, Arcaviel. Semalaman itu, dengan deras hujan tiada henti, Reeval tidak bisa tidur lelap. Di sanalah, telinganya mendengar kegaduhan di luar ruangan. Tidak lama, vibrasi berskala besar mengguncang kastelnya. Arcaviel seketika bangun atas guncangan tersebut. Reeval memintanya untuk melompat melalui teras ruang kamar Arcaviel. Atas tuntutan sang kakak, akhirnya Arcaviel mematuhi dengan setengah hati. Reeval lega begitu tahu adiknya dapat melarikan diri saat Orbit Desertir menyerbu kediaman mereka—tanpa Raja Aeradale itu tahu-menahu bila setelahnya, Arcaviel tidak lagi menampakkan batang hidungnya sampai empat tahun lamanya. Dipan berderit tatkala Amorette melemparkan punggungnya sendiri ke atas sana. Ia biarkan gaun mengembangnya terburai menutup kaki jenjang gadis itu. Otaknya tidak bisa memikirkan apa pun, kecuali perbincangan antara dirinya dan Raja Aeradale setengah jam lalu—termasuk penanaman ingatan kembali tentang jati dirinya dan insiden penyerbuan Orbit Desertir sampai Putri Aeradale dinyatakan menghilang. “Siluet itu merupakan hasil dari energi para korban,” Amorette ingat betul betapa seriusnya kilat netra hitam jelaga Reeval kala pria itu menceritakan semuanya, “dan sebagian besar pion-pion sindikat itu merupakan hasil dari penanaman doktrin anggotanya.” Dari sekian banyak ancaman Aeradale, Orbit Desertir satu-satunya sindikat yang pintar mengelabui Reeval sehingga eksistensi mereka jarang terendus—bahkan semenjak Reeval dan kesatria-kesatrianya berhasil memukul mundur mereka pada insiden masa itu. Namun, Reeval perlu menahan kepahitan saat Orbit Desertir menggunakan mana berskala besar agar seluruh penduduk lupa dengan rupa penguasa Aeradale. Apalagi, Reeval melalui semua itu tanpa Arcaviel, sang adik, yang betul-betul merupakan diri Amorette. Reeval menekan rasa kesepian itu dalam-dalam dengan membangun kepercayaan rakyat Aeradale terhadap sosoknya secara bertahap. Empat tahun bukan waktu singkat. Reeval masih menerima keraguan dari rakyatnya sendiri lantaran sindikat itu menutup wajahnya dari semua orang. Mendengar itu saja sudah membuat kepala Amorette pening bukan main. Rasa bersalah terus menggerayangi benaknya. Kepingan ingatan Amorette belum utuh. Reeval tidak mampu mengerahkan semua energinya hanya agar Amorette bisa mengingat momen-momennya sebagai Putri Aeradale secara keseluruhan. Oleh karena itu, Amorette sendiri tidak tahu mengapa ia bisa berakhir bersama keluarga kecilnya; Gill, Amalie, dan Pierce. Ah, ini benar-benar memusingkan …. Amorette—tidak, Arcaviel, tergugah untuk kembali tidur. Terlalu banyak informasi yang ia dapat tentang jati dirinya pada hari ini. Namun, satu nama terlintas dalam benak Arcaviel kala itu juga. Pierce. Ia nyaris melupakan sepupunya yang kondisinya saat ini terancam. Arcaviel jadi sedikit janggal dengan sebutannya terhadap Pierce Tallis, pemuda sepantar yang hampir menjadi satu-satunya teman main dan sepantar gadis itu selama di Silkvale. Reeval memang sempat menjanjikan keselamatan untuk Pierce, tetapi Arcaviel harus memenuhi dua syarat. Satu, kembali singgah di Aeradale. Dua, tidak mengambil andil alias turun tangan selama Reeval memerintahkan kesatrianya untuk menemukan keberadaan Pierce. Kedua syarat itu tentu langsung disetujui oleh Arcaviel tanpa pikir panjang, namun begitu mengingat paras Gill dan Amalie, orangtua mereka di Silkvale, Arcaviel menjadi ragu. Bagaimana perasaan Mom dan Dad bila mereka tahu Pierce menghilang dan aku kembali ‘pulang’?[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN