“Coba katakan sekali lagi.”
Baru pertama ini, Arcaviel dibuat ngeri hanya dengan mendengar empat kata dan satu kalimat bernada rendah itu. Semestinya, ia tahu Reeval akan menolak keras permintaannya, entah atas alasan apa. Ia baru saja mengatakan ingin pergi ke perbukitan untuk menemui Mom dan Dad di Desa Silkvale. Arcaviel betul-betul mencemaskan mereka yang pastinya panik karena ia dan Pierce hilang.
Arcaviel mengejap sekali. Ia mana mungkin mengulangi ucapan ketika mendapat respons tak terduga dari kakaknya, si Raja Aeradale. Lipatan kedua tangan di atas meja, punggung tegap, dan sorot tajam netra sehitam jelaga itu terlampau mengintimidasi. Lidah Arcaviel terasa kelu. Semua kata yang ingin ia lontarkan tertelan begitu saja.
Reeval niscaya mempunyai semacam aura agar lawan bicaranya kehabisan kata. Tidak lama pasca hening merebak, helaan napas kasar dari pria berdarah biru di hadapannya membelah udara. Nyali Arcaviel semakin ciut. Ia menunduk selagi meremas tunik dengan kepalan tangannya. Arcaviel menolak menerobos sepasang manik jelaga tersebut atau itu akan berakhir menjadi bumerang tersendiri untuknya.
“Kau sudah tahu jawabanku, Cav.” Arcaviel setengah hati mengiakan ucapan Reeval. Pria itu berdecak, adiknya tidak kunjung menatapnya. Itu membuat Reeval lekas bangkit dari kursi kerjanya, mengitari meja semata-mata bersemuka dengan Arcaviel. “Portal. Kau—bahkan aku pun, tidak tahu di mana letak portal itu berada.”
“S-Sepertinya aku tahu, Reeve.” Arcaviel gugup bukan main. Ia tidak sanggup menangkap kilat tajam dari pria itu, sehingga ia hanya menunduk hingga sekarang. “Alasan mengapa aku ada di sini, i-itu karena … kunang-kunang.”
Reeval mengerutkan kening, tidak mengerti maksud dari ucapan sang adik. Namun, gurat heran itu tergantikan dengan sorot tidak suka. Dengan telapak tangan, ia meraih dagu Arcaviel. Sepasang netra mereka kini saling berserobok, mengorek-ngorek satu sama lain. Satu menusuk tajam dan satunya tampak gentar. Reeval meludah dalam hati. Ia kentara tidak suka menerima tatapan itu, sebuah tatapan yang membuatnya merasa menjadi orang paling jahat di sini.
“Biasakan melihat mataku dan lawan bicaramu ketika berbicara, Cav,” ucapnya, dingin. “Itu merupakan etiket vital untuk bangsawan Aeradale.”
Sekujur tubuh Arcaviel terasa kaku. Ia seketika teringat siapa dirinya sekarang. Ia bukan lagi Amorette, si kembang desa Silkvale, melainkan Arcaviel, seorang Putri Aeradale Yang Hilang. Ketika Arcaviel masih seorang Amorette, ia peduli amat dengan etiket, tidak terlalu kaku dalam bersikap. Namun, sekarang ia kesulitan untuk kembali menyelaraskan diri sebagai Arcaviel. Empat tahun bukan waktu singkat.
Reeval mendengus. Ia bisa menangkap sikap tunduk dari Arcaviel. Separuh hati kecil pria itu menaruh rasa tidak suka. Ia mungkin lebih tua dua atau tiga tahun dari Arcaviel, namun bukan berarti Arcaviel dapat takluk dengan semudah itu. Reeval jadi teringat dengan memori lama mereka yang membuat darah menjalar naik ke atas kepalanya sampai mendidih.
Sikap tunduk Arcaviel dengan orang itu membuat Arcaviel terjebak, berkedok dalam identitas yang berlainan—dan membuat mereka menjadi seperti sekarang. Secara tanpa sadar, Reeval meremas kepalan tangannya. Ruas-ruas jemari pria itu memutih, tetapi begitu sadar, ia cepat-cepat mengendurkan kontraksi itu sembari menetralkan parasnya kembali.
“Kunang-kunang. Seingatku, kau sempat membicarakan ini juga sehari yang lalu.” Reeval mengubah nada bicaranya menjadi lebih tenang. Ia cukup lega karena perubahan nada pria itu berimbas kepada Arcaviel yang saat ini gelagatnya tampak lebih santai. “Apa maksudmu?”
Arcaviel menyorot skeptis netra hitam kakaknya, tetapi ia tetap berkata, “Begitu kami dihadapkan dengan siluet Orbit Desertir, kunang-kunang itu menamengiku dari … serangan sulur hitam.”
Jawaban itu membuat alis Reeval terangkat sebelah. Ia tetap bergeming, menanti kelanjutan pemaparan Arcaviel, namun menurunkan alisnya kala menyadari gurat Arcaviel berubah sendu. Bulu mata lentik Arcaviel menambah kesan sayu pada elegansi penampilan gadis berbusana tunik biru muda tersebut. Selama beberapa saat, hanya ada kicauan burung di luar jendela.
“Lalu,” Arcaviel menjeda sesaat, ia memutar otaknya untuk menyusun kosakata, “begitu siluet telah merampas Pierce dariku, kunang-kunang itu mengantarku … ke sini.”
Reeval dibuat terheran-heran. “Kau sedang mengada-ada?” tanyanya, setengah curiga.
“Tidak!” Arcaviel menyelat cepat, tanpa sadar menaikkan oktaf bicaranya. Begitu sadar, ia terkesiap, kemudian menunduk selagi melirih parau, “Tidak. Itu benar-benar ….”
Arcaviel menekan kuat-kuat bibir bawahnya dengan gigi. Ia panik bukan main, takut nada impulsifnya tadi membuat Reeval semakin enggan mengizinkannya menemui Amalie dan Gill. Reeval mendeteksi kegentaran adiknya. Pria itu benar-benar jengah dan marah—terhadap dirinya sendiri. Reeval mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangan, menatap nanar lampu kristal di langit-langit ruangan.
Segera ia beralih muka dari sana, turun menuju paras adiknya. Reeval mendesak Arcaviel untuk menatap netranya. Telapak tangan besar Raja Aeradale menangkup pipi mulus, seperti fetus, milik Putri Aeradale. Arcaviel memucat, masih tidak melepaskan gigitan dari bibir ranumnya sendiri. Hal itu membuat Reeval perlu menahan napas. Dengan ibu jari, ia mengusap subtil bibir sang adik.
“Jangan takut,” bisik Reeval, “maaf, aku tidak bermaksud membuatmu terintimidasi, Arcaviel. Kau tidak perlu takut denganku. Aku … tidak seburuk itu.”
Arcaviel mengejap. Manik bulat birunya mengilat antara lega atau berkaca-kaca. Ia mengangguk kecil, tanpa sadar merapatkan sepasang netra sewaktu pria itu mulai mengusap pipinya. Sentuhan lemah lembut dari Reeval membuat Arcaviel, entah mengapa, begitu menikmatinya. Ia merasakan ketakutan dalam dirinya memudar, tergantikan oleh rasa hangat yang seakan-akan belum ia jumpai lagi sejak lama. Perlahan namun pasti, tebersit dalam hatinya bahwa pria itu merupakan tempatnya berpulang.
Reeval menegang. Sensasi tidak wajar merisaukan benaknya. Tanpa sepengetahuan Arcaviel—lantaran gadis itu masih saja merapatkan netra dan sialnya begitu tenang, tidak seperti perasaan kalut Reeval saat ini, pria itu menggelengkan kepalanya keras. Ia mengusir bisikan gugahan yang memuakkan tersebut dari benaknya sesegera mungkin, sebelum ego akan menguasai penuh otaknya.
“Cav,” Reeval mendeham untuk menyamarkan serak, “terkait pertanyaanmu tadi, jangan dulu, ya?”
Dapat ia temukan kilat enggan dari manik biru lawan bicaranya yang sudah terekspos. Meski kentara tidak setuju, Arcaviel tetap mengangguk lesu. “Jika portal menuju dunia fana sudah ditemukan, apa Reeve akan mengizinkanku untuk menemui mereka?” tanyanya, harap-harap cemas.
Tanpa keraguan, Reeval menganggukkan kepalanya masif. “Ya, tentu saja. Apa pun yang kau inginkan, akan kupenuhi, Arcaviel.”
*
Arcaviel melamunkan banyak hal. Ia mungkin harusnya lega dan tidak perlu memikirkan apa-apa. Aeradale telah memperlakukan Arcaviel dengan sangat baik, terlepas dari dugaan awal bahwa ialah penyusup dan menerima sikap tidak etis dari kesatria. Namun, Arcaviel tidak bisa. Semakin ia coba menenangkan diri, semakin awut-awutan juga kinerja otaknya.
Bahkan, terkadang visualnya ikut kacau. Citra rupa Pierce, Amalie, dan Gill tersebar di dinding meski hanya sepintas. Kalau begini terus, bisa-bisa akal sehatnya akan runtuh. Amit-amit, Arcaviel tidak ingin kehilangan kewarasannya, tidak sebelum ia mendapat kabar tentang Pierce baik-baik saja. Orbit Desertir, benak Arcaviel terus menggumamkan sindikat ilegal itu. Rasanya, ia ingin sekali mengutuk mereka.
Jenuh karena terus-terusan berada di ruang kamarnya, Arcaviel berniat menelusuri kastel. Intensinya untuk bangkit dari dipan terjeda sebentar oleh ketukan pintu. Iramanya halus, stabil, dan teratur. Tidak mungkin Reeval—sejauh yang ia tahu, pria itu tidak pernah merepotkan diri untuk mengetuk pintu saat memasuki teritorialnya. Arcaviel menduga itu pelayannya, bisa jadi Sahara Yvette atau yang lain.
“Iya, masuk saja tidak apa,” Arcaviel menyahut ketukan itu dengan suara tidak terlalu keras, namun cukup untuk menghentikan seseorang mengetuk pintunya.
Sembari beringsut dari dipan dan menghampiri meja rias untuk mengatur surai cokelat pirangnya, Arcaviel bisa merasakan pintu ruang kamarnya terekspos secara sopan. Paras manis Sahara muncul dari balik sana. Ia masih berbusana sama dengan kemarin, tentu busana pelayan, karena memang itulah abdinya kepada kerajaan inti Aeradale. Kucir duanya meloncat-loncat pendek begitu ia masuk.
“Putri, apakah Anda sedang senggang?” tanyanya, menyoroti Arcaviel dengan sinar cerianya.
“Kau bisa lihat kejenuhanku dari ekspresiku, bukan?” Arcaviel tertawa halus begitu Sahara mengamatinya cukup lama dengan kening berkerut. “Benar, Sahara. Aku sedang sangat senggang. Apakah kau ada ide?”
Gurat Sahara berganti cerah lagi, bahkan sebanding dengan terik mentari siang ini. “Yang Mulia Raja Lanford menitahkan saya untuk mengantar Anda menelusuri kastel. Apakah Anda—”
“Bagus!” Arcaviel menyelat cepat, membuat tubuh mungil Sahara terperanjat, “Itu yang kubutuhkan saat ini.”
Arcaviel menoleh kembali menuju cermin. Jemari lentik Putri Aeradale itu dengan telaten menyugar surai cokelat pirang panjangnya, memilin, kemudian mengaturnya menjadi satu gelungan. Belajar dari betapa terik mentari di luar teras kamar, ia yakin membiarkan surainya terjuntai bebas hanya akan membuatnya lepek dan berkeringat.
Pasca menyanggul, Arcaviel dan Sahara bersama-sama keluar dari ruang kamar. Arcaviel sempat mengamati pintu ruang kerja Reeval kala keduanya membelah lorong. Ini sudah sekitar satu setengah jam semenjak ia bertolak dari ruangan tersebut untuk kembali ke kamarnya, namun Arcaviel masih yakin pemilik ruangan itu belum kunjung pergi.
“Sahara, apakah Raja selalu sibuk seperti itu?”
Akhirnya, Arcaviel memuntahkan pertanyaan tersebut saking penasarannya. Bukan tanpa sebab, sudah genap dua—tiga bila malam pertamanya di Aeradale termasuk dalam hitungan, Arcaviel kerap mendapati Reeval di ruang kerja, alih-alih kamarnya. Mereka juga jarang bersua, kecuali saat sarapan, makan siang, atau makan malam. Itupun perbincangan ala kadarnya.
“Kalau saya boleh jujur,” panas menjalar ke pipi putih Sahara, ada rona merah di sana, “Yang Mulia seorang pekerja keras.”
Arcaviel memiringkan sedikit kepalanya. Reaksi malu-malu Sahara sedikit mengejutkan gadis itu. Bahkan, tanpa Sahara beralih muka ke arah lain, pelayan berparas manis itu kentara menaksir si Raja Aeradale. Namun, Arcaviel sama sekali tidak heran. Maksudnya, siapa yang tidak terpikat dengan pesona Reeval? Pria itu rupawan, pekerja keras, dan kuat fisik.
Harus Arcaviel akui, kakaknya mempunyai itu semua.
“Kau menyukai Reeve, ya?” risaknya, tersenyum penuh arti.
“Ah, t-tidak—” Sahara mengembungkan pipi, kentara salah tingkahnya, “e-eh, maksud saya, tentu saja. Yang Mulia … semua gadis pasti menyukai kakak Anda.”
“Aku mengerti.” Arcaviel tertawa halus. Ia sungguh puas melihat gurat dari pelayannya. “Jika aku bukan adiknya, mungkin aku akan menaksir—”
“Akan menaksirku juga?”
Baik Arcaviel maupun Sahara, keduanya sama-sama menahan napas tatkala sebuah suara maskulin familier melesak di antara ucapan terpotong Putri Aeradale. Panjang umur, presensi sasaran pembicaraan mereka nyatanya berdiri tepat di belakang mereka—sekitar tiga pintu dari posisi Arcaviel dan Sahara berada. Sahara lekas menunduk. Pelayan Aeradale itu rasanya ingin tenggelam sekarang juga.
Yang Mulia mendengar pengakuanku. Bagaimana ini? Sahara menutupi sebagian besar wajahnya di antara kucir dua mengembangnya. Mau kutaruh ke mana lagi mukaku?!
Reeval mengangkat satu alisnya, diam-diam puas dengan pembungkaman dua gadis itu. Sebetulnya, ia telah mendengar perbincangan adiknya dengan sang pelayan, bahkan semenjak mereka baru keluar dari kamar. Ia punya bayangan yang dapat ia andalkan. Setiap kali ada yang membicarakan Reeval, hasil dari mana hitam pria itu terus memberi tahunya.
Rata-rata hanya omong kosong atau paling tidak, seputar pujian saja.
Ia mungkin akan peduli amat bila orang lain membicarakan pria itu sebagai objek penaksiran. Tidak bermaksud meninggikan harga diri, Reeval hidup untuk itu—dipuja sana sini sudah menjadi kudapan sehari-harinya. Namun, bila mendengar dari bibir ranum milik sosok berharganya, Arcaviel, adiknya itu berhasil mematahkan sisi bodo amat dalam diri Reeval.
Reeval menekan gelenyar t***l itu dengan bersikap penuh arogansi. Ia tersenyum miring, meski tipis, namun begitu kentara di indra penglihat Arcaviel. Putri Aeradale masih terus mengulum bibirnya. Ia bisa merasakan bila Sahara dan dirinya saat ini tengah berbagi rasa malu kepada satu sama lain. Arcaviel tidak menyukai sensasi aneh itu sedikit pun. Untuk apa ia bisa merasa semalu ini?
Reeval Lanford merupakan kakak kandungnya, itu sudah jelas. Tetapi tak bisa ia mungkir, entah mengapa Arcaviel masih meragukan ikatan persaudaraan di antara keduanya.[]