Helga Crane mempunyai suatu sorot yang tidak bisa dibilang teduh, namun tidak juga dingin. Lebih kepada sarat intimidasi yang begitu kental dari sepasang netra hijau jernihnya. Melalui mana yang terpusat di manik hijau itu, Helga mampu menghapus ingatan seseorang. Empat tahun lalu, ia ditugaskan untuk menghapus ingatan Reeval tentang Putri Aeradale.
Ia juga yang selama ini meracik pil pengubah suara, termasuk pil pemanipulasian yang dimantrai oleh Gurunya, Brigid, untuk dijadikan semacam kabut sebelum mengirimkan Arcaviel dan Rodeus ke alam fana. Helga seorang pemilik mana putih yang juga terberkati oleh Penguasa Alam, begitu pula mendiang Brigid. Terhitung jari seberapa banyak penyihir dalam kontinen Aeradale, bahkan tidak sampai satu persen. Berkat dari Penguasa Alam membuat Helga dapat membaca petunjuk yang diberikan oleh alam secara langsung.
Derit pintu terdengar buka, Helga menaikkan pandangan dari cangkirnya dan mengukir senyum sopan di bibir ranum penyihir muda itu. Sang Raja muda memasuki kediamannya paling pertama, disusul dua pria yang bersisian di belakang—Rodeus dan Reeval. Helga memusatkan atensi ke arah pria bernetra hitam yang kentara menolak menatapnya balik. Mengabaikan itu, Helga mempersilakan ketiganya duduk di bangku-bangku yang tersedia.
“Di mana Putri Aeradale, Yang Mulia?” tanya Helga, meletakkan tiga cangkir teh di atas meja sebelum duduk di tempatnya kembali.
Arcaviar melirik singkat Reeval, sebelum ia menjawab, “Sedang menuju kemari.”
“Apa kita tidak bisa memulainya lebih dulu?” Rodeus mengangkat suara.
Penyihir muda berusia mendekati kepala tiga itu menatap mereka secara bergantian, merasa tidak enak. “Alam menginginkan saya untuk membaca Putri dan Reeval secara serempak. Ia menjanjikan kita langkah selanjutnya,” balas Helga, menjatuhkan pandangan menuju Reeval yang mulai terheran-heran.
Kening pria itu mengerut dalam. Ia tidak mengerti mengapa Alam baru mengizinkan mereka mendapatkan langkah selanjutnya jika ia dan Arcaviel bersama-sama. Di tengah kebingungan, ia memandang Rodeus di samping Arcaviar yang tampak sedikit melontarkan seringai. Ia beralih tatap dari sana menuju Arcaviar. Rajanya, seperti biasa, tidak banyak membuka suara dan berwajah datar. Tidak heran bila Putri Aeradale selalu merasa ketakutan berdekatan dengan sang kakak.
“Mungkin kau bingung, Reeval.” Helga mengangkat bicara, seketika pusat atensi pria itu beralih padanya. “Tetapi, sebelum itu, aku ingin kau menyebut isi nujum yang mengaitkan Putri Aeradale.”
“Masa depan Aeradale akan jatuh ke tangan Putri bersama bayang.” Reeval ingat benar isinya saat menguping perbincangan keluarga kerajaan bersama Rodeus. Nujum yang mereka simpan rapat-rapat darinya dan membuat Reeval gelap mata.
“Ada lagi?” Penyihir itu kembali bertanya.
Reeval menaikkan satu alisnya. “Bukankah hanya itu?”
Helaan napas lolos dari bibir ranum Helga. Ia mendaratkan tatapan sebentar kepada Arcaviar, seperti meminta persetujuan. Anggukan singkat membuatnya kembali berkata, “Apa yang membuatmu mencintai Putri?”
Reeval lekas membatin, Mengapa ini menjadi sesi penginterogasian? “Semuanya.”
“Yang lebih spesifik.”
“Tidak ada.” Reeval mulai bergerak tidak nyaman, terutama ia merasakan pundaknya dingin akibat lirikan tajam sang Raja muda. “Aku mencintai semua tentang Putri. Mengapa kau menanyakan ini?”
“Suara.” Helga menjeda sejenak, memperhatikan air muka Reeval yang terkesan biasa saja. “Apa kau mengagumi suaranya—sampai-sampai kau menginginkan suara Putri terus bersama dirimu?”
“Aku menyukai apa pun tentangnya. Tidak hanya suara.” Reeval mulai kesal. “Ada apa dengan pertanyaanmu itu?”
“Kehancuran terjadi karena sebaris melodi.”
“Apa?” Pria itu memicing sebentar, memastikan indra pendengarnya tidak salah dengar.
“Itu bait nujum kedua yang kurasa terlewat oleh indra pendengarmu saat itu.” Helga bertopang dagu di atas meja. “Kau pernah mengambil suara Guru, bahkan Ebony. Tidakkah kau berniat mengambil suara sang Putri?”
“Tentu saja aku tidak.”
“Kita tidak tahu kehancuran apa yang akan terjadi pada suatu saat nanti—bila kau memang merupakan subjek ‘bayang’ nujum tersebut, Reeval.”
“Aku kehilangan mana hitam dan siluetku,” Reeval menghela napas, “bagaimana aku bisa menciptakan kehancuran tanpa mereka?”
“Entah mengapa,” Rodeus yang sedari tadi diam merampas atensi Reeval dan Helga dari satu sama lain, “aku merasa subjek ‘bayang’ pada nujum adalah Paman Topaz.”
“Maksudmu, Dad mencintai Putri?” tanya Reeval, terperangah atas asumsi yang ia buat sendiri.
Melirik Reeval malas, Rodeus meneruskan tanpa berminat menanggapi ucapan koleganya, “Pertama, ayahmu menginginkan kekuasaan. Beliau bisa saja menarik Putri Aeradale ke sisinya. Entah dengan cara apa, ia niscaya membuat Putri menjadi penguasa kontinen. Lalu, kedua, kehancuran terjadi karena sebaris melodi. Kuncinya ada di suara Putri. Siluetmu—maksudku siluet ayahmu, mempunyai kemampuan untuk mengambil suara orang-orang, bukan?”
Reeval terdiam. “Ya, aku selalu mengerahkan siluet Dad untuk mengambil suara Brigid dan … Ebony.” Mendengar jawaban itu, Arcaviar mengetatkan rahang di samping Reeval. Ia ingin membogem pria itu mentah-mentah, tetapi segera ia tekan kuat-kuat keinginannya saat Reeval meneruskan, “Tetapi, apa hubungannya? Mengambil suara berarti tidak bisa berbicara. Bila suara itu tidak ada, bukankah kehancuran tidak akan terjadi?”
“Secara harfiah, ya. Tetapi, bagaimana bila siluet ayahmu memiliki kekuatan lain? Mencuri suara, semisal?”
Hening. Keempatnya larut dalam pemikiran masing-masing. Reeval merapatkan netra hitamnya, merasakan pelipisnya dihantam palu habis-habisan. Di tengah pening, pintu kediaman Helga diketuk. Reeval dan yang lain lantas memecahkan lamunan, serta menggeser atensi menuju ketibaan sosok yang telah mereka tunggu sedari tadi. Netra Reeval langsung memicing tajam mendapati mantel Ignacio membebat tubuh gadisnya yang basah.
Arcaviar dan Rodeus sama-sama bangkit dari kursi mereka, mendorong salah satu kursi hingga menyisakan dua kursi. Satu untuk Reeval dan satu untuk Arcaviel. Arcaviar menghampiri adiknya, menuntun Arcaviel duduk di samping Reeval dan bersemuka dengan Helga.
Arcaviar berbisik, “Kenapa basah begini?”
“Berenang di telaga, Kak.” Arcaviel mengulaskan senyum polos. “Viel kira Hugen sudah mati di Hutan Ash.”
Arcaviar mengacak surai cokelat pirang sang adik dengan gemas. “Tentu tidak. Aku meminta Ignacio mengusungnya ke markas.”
“He-em, Cio sudah beri tahu tadi.”
Mengangguk kecil, Arcaviar beringsut mundur untuk mempersilakan Helga melaksanakan tugas utamanya. Arcaviel lantas memusatkan atensi menuju penyihir muda itu, mengabaikan Reeval yang secara terang-terangan menatapnya tidak senang. Gadis itu merapatkan mantel Ignacio saat embusan angin dari luar memasuki sela-sela rumah kayu Helga. Ia sedikit menggigil sebelum tangan kukuh Reeval menyelinap dari bawah mantelnya untuk meraih jemari lentik Arcaviel.
“Isi mulut kalian dengan ini.” Helga meletakkan dua cangkir lain berisikan cairan hijau tepat di depan keduanya. Selanjutnya, penyihir muda tersebut mengambil porselen dengan air bening terisi penuh. “Lalu, tuangkan dalam porselen ini.”
Arcaviel melepaskan tangan kanannya dari Reeval untuk meraih cangkir. Tindakan itu sukses membuat Reeval merengut meski ia tahu Arcaviel melakukannya karena dirinya melaksanakan instruksi dari Helga. Sama seperti gadis itu, Reeval juga mengisi bagian dalam mulutnya dengan cairan hijau. Meski tidak terasa atau berbau, mereka enggan menampung cairan itu lebih lama di mulut. Secara serempak, keduanya mencondongkan wajah ke arah porselen dan memuntahkannya di dalam sana.
Helga mengangguk. Ia meminta satu tangan Arcaviel dan Reeval untuk ia pegang pada kedua sisi. Memusatkan mana pada sarat teduh dan mengintimidasinya, ia menatap permukaan air bening porselen cukup lama. Bibir ranumnya mengawali bacaannya dengan menggumamkan kata-kata yang tidak teridentifikasi, semacam permintaan persetujuan dari Penguasa Alam untuk ia baca.
Tidak berapa lama, Helga secuil pun tidak mengejap. Ia masih menatap permukaan air bening, melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh siapa pun kecuali dirinya. Manik biru Arcaviel mengejap beberapa kali sebelum menujukan pandangan ke arah Reeval. Pria itu mengulaskan senyum begitu tipis, namun tidak luput dari jangkauan indra penglihat sang Putri. Arcaviel mengembungkan pipinya dan melengos, menolak bertatapan lebih lama dengan pria satu itu.
Helga baru berkedip dua menit kemudian. Ia menatap bergantian Arcaviel dan Reeval, sebelum tatapan penyihir muda itu jatuh ke balik mereka. Arcaviar dan Rodeus yang berdiri agak jauh mulai menggerakkan kaki untuk datang mendekat. Dengan sorot tanya dari netra biru kehijauan Arcaviar, Helga mulai menguraikan apa yang telah ia baca dari porselen di hadapan mereka.
“Naga Emas. Ia konon pemegang kunci keselamatan Aeradale dari Topaz—tidak ada yang tahu pasti di mana letak guanya,” Helga menghela napas, “air bening dalam porselen berganti menjadi merah tua dan biru. Saya yakin itu merupakan petunjuk dari Penguasa Alam.”
“Apa arti dari petunjuk tersebut?” Arcaviar mengangkat suara.
“Tidak ada yang tahu, Yang Mulia. Alam tidak mengizinkan saya untuk tahu lebih lanjut.”
“Jadi, langkah yang akan kita tempuh selanjutnya adalah ….”
“.... Mencari Naga Emas.”
*
“Tetap di sini.”
Reeval menahan pundak Arcaviel agar tetap berdiri di depan pintu kayu yang baru saja ia tutup. Putri Aeradale menurut meski belum berkata apa-apa lagi setelah kepulangannya di rumah kayu kepunyaannya dari kediaman Helga. Ia mengusap lengannya yang masih dibebat mantel Ignacio selagi menatap Reeval memasuki kamar kecil. Tidak lama, pria itu kembali dengan sebuah handuk.
Ia biarkan Reeval mengeringkan surai cokelat pirangnya yang basah akibat air telaga. Pria bernetra hitam itu menahan tatapan mereka cukup lama, tetapi tidak bersuara sama sekali—dan itu sedikit banyak membuat Arcaviel kesal. Tanpa sadar, sorot kesalnya terpampang begitu saja, membuat Reeval berhenti menggerakkan usapan handuknya semata-mata tersenyum tipis.
“Siapa yang menyuruhmu menceburkan diri ke dalam air, Cavi?”
Arcaviel mengejap satu kali. “Aku sendiri?” balasnya bertanya.
“Kenapa?” Reeval kembali menggerakkan handuk, kali ini menuju paras elok Arcaviel—berhenti tepat di hidungnya. “Keluarkan dulu airnya.”
Arcaviel menggeleng. Akan sangat memalukan bila ia membuang air dan lendir hidungnya di depan Reeval. “Tidak usah!” ketusnya, memundurkan tubuhnya satu langkah.
Seakan-akan tidak habis akal, Reeval mencubit hidung Arcaviel lama untuk memperhambat jalan napas. “Keluarkan atau mati,” ancamnya, mendelik tajam. Meski tidak sungguh-sungguh, Reeval tetap tidak akan melepaskan hidung sang Putri sebelum ia menuruti permintaannya.
“Reeve, lepas!” Arcaviel melemparkan pukulan demi pukulan ke lengan kukuh Reeval, mencoba mati-matian meraup napas dari mulutnya. “Reeve! Kau sadis!”
Karena merasa kasihan, Reeval menarik tangannya menjauh dari hidung Arcaviel. Sang Putri lekas meraup napasnya dalam-dalam yang sempat terhambat akibat ulah sadis Reeval kepadanya. Menerima sorot kesal bukan main dari netra biru jernih itu, Reeval melingkarkan lengan kirinya ke pinggang Arcaviel. Ia mengentak lembut punggung gadis itu ke dinding untuk memberikan kecupan singkat di bibir ranumnya.
“Kenapa menceburkan diri?”
“Karena ada Hugen!”
“Benarkah karena itu?” Reeval mengecup bibirnya sekali lagi. “Sayang, itu hanya alasan klasik. Alasan sebenarnya, bukankah kau menginginkanku menyusul agar kita bisa—”
“Reeve! Pikiranmu!”
Reeval tertawa pelan. “Aku tidak ingin kau sakit karena kecemburuanmu untuk kali sekian, Cavi.”
Arcaviel bergeming. Pipinya terasa memanas. Ingin sekali mengelak bahwa alasan ia menceburkan diri ke telaga untuk memeluk Hugen yang sedang berendam. Tetapi, apa yang diasumsikan Reeval merupakan fakta. Ia sengaja menceburkan diri ke telaga untuk mendapat atensi Reeval dari Aimee. Namun, alih-alih Reeval, yang menemukannya justru Ignacio. Arcaviel bahkan sempat kesal karena mengira Reeval lebih memilih duduk berbincang dengan Aimee ketimbang menyusulnya, sebelum Ignacio berkata Helga ingin menemui gadis itu.
Terhanyut dalam sentuhan hangat pada permukaan pipinya, Arcaviel tidak sadar netra hitam itu menelisik parasnya tepat di depan mata. Baru saja Arcaviel ingin membuka suara, ia secara spontan menutup hidungnya untuk bersin. Belum lagi, lambungnya masih sedikit sakit akibat memakan sup kari pedas tadi. Entah apa yang ia pikirkan sampai-sampai nekat menyiksa tubuhnya sendiri demi memperoleh atensi dari pria di hadapannya. Jelas, Arcaviel saat ini begitu kontras dengan Amorette di Desa Silkvale.
Sementara itu, Reeval berdecak. Ia memberi kehangatan dengan mendekap erat tubuh mungil Putri Aeradale. “Jangan diulangi lagi. Cukup bubuk cabai dan menceburkan diri,” bisiknya. “Jika kau kesal, mengapa tidak berubah menjadi Putri Bengis saja?”
“Aku sudah dewasa, Reeve,” balas Arcaviel dengan wajah masih menempel di d**a bidang Reeval. “Harus bermain cantik, apalagi di depan Aimee-mu itu.”
“Sudah dewasa, hm?” Reeval menarik mundur tubuhnya, memandangi Arcaviel dengan kilat yang langsung dimengerti oleh sang Putri. “Benar juga kau sudah dewasa dan harus bermain cantik. Kalau begitu, ingat janjiku empat tahun lalu?”
Arcaviel memiringkan kepalanya. Ia mencoba untuk mencerna kata-kata pria itu sebelum netra birunya membulat sempurna. Reeval meloloskan seringai begitu ia meneruskan, “Bagaimana jika kita melakukan janji itu sekarang? Dengan bermain cantik, Aimee tidak akan bisa merebutku darimu, bukan?”
“Reeve!” Arcaviel mencubit pinggang Reeval penuh salah tingkah. “Jangan bicara apa-apa lagi. Aku kesal. Minggir!”
Setelah sekian lama, Reeval berhasil tertawa lepas. Ia menangkap lembut lengan Arcaviel yang hendak beringsut menjauh ke kamar kecil. Menekan ruas-ruas jemari lentik gadisnya dengan bibir, pria itu membatin betapa manisnya sikap sang Putri dan betapa berharganya ia untuknya. Tidak mungkin Reeval akan menggantikan posisi Putri Aeradale dengan yang lain di saat pria itu sendiri telah memiliki berliannya. Pernah hidup terkungkung oleh kegelapan dan muslihat sang ayah, Arcaviel telah menjadi terangnya.
Dad, aku bersumpah tidak akan segan mengotori tanganku dengan darahmu bila kau berani menyentuh Putri.
Reeval tidak akan peduli sekalipun itu dibayar atas nyawanya sendiri. Memandangnya lamat-lamat, ia berbisik di antara ruas-ruas jemari Arcaviel. “Terima kasih telah menjadi terang dalam redupanku, Putri.”[]