Raja beserta Ratu terdahulu mereka—Archelos dan Luisa—baru tiba di area makan selepas dua puluh menit sarapan berlangsung. Anak-anak yang sempat berlarian sana sini kini duduk manis di sisi orangtua mereka. Sama seperti pria dan wanita lain, mereka menunduk hormat di tempat. Bertahun-tahun telak dan pasutri kerajaan itu masih menerima penghormatan luar biasa dari para pengikutnya.
Itu cukup menggundahkan Reeval. Pria bernetra sehitam jelaga itu menelan suapan terakhirnya dengan getir, bahkan rasa sup kari tersebut berganti hambar. Karena itu, ia tidak bisa menahan remasan kepalan tangannya di atas meja. Ia gundah bukan kepalang tanggung, belum memiliki keberanian untuk berhadapan dengan Raja dan Ratu terdahulu. Padahal, cepat atau lambat, ia harus melakukannya. Memohon maaf dan pengampunan atas aksinya yang mustahil dapat ditoleransi.
Tidak sampai di sana, nyalinya semakin menciut mendapati berpasang-pasang netra menjatuhkan tatapan sinis ke arahnya. Para pengikut kerajaan seakan-akan menanti momen di mana Archelos dan Luisa akan memberikan si pengkhianat kerajaan itu pembelajaran. Dahulu, ia mungkin bisa tidak peduli, tetapi sekarang? Ia tidak lebih dari seorang pengecut, seorang pecundang.
Dan Reeval merasa begitu lemah. Ia ingin berserah diri saja.
Kegundahan itu terendus jelas oleh Putri Aeradale. Sudut bibirnya yang sempat terangkat naik begitu mendapati kedatangan orangtuanya berganti pudar saat tahu suasana hati Reeval sedang tidak baik-baik saja. Ia menggeser sedikit kursinya, mengimpit ke sisi Reeval. Melirik sepintas Archelos dan Luisa yang sudah duduk tenang di meja tersudut—menikmati santapan sup kari mereka, Arcaviel mendaratkan tangannya ke atas kepalan Reeval. Lamunan pria itu spontan terpecah.
“Reeve,” manik biru jernih Putri Aeradale memandang teduh pria itu, “tidak apa-apa.”
Tubuh belakang Reeval menegang. Ia memandang Arcaviel dengan binar tak terkatakan. Ucapan Arcaviel barusan sukses meruntuhkan pertahanan air muka datarnya. Reeval mencondongkan sedikit tubuhnya agar rautnya tidak tampak oleh siapa pun, kecuali Arcaviel. Pendar yang membersit pada netra hitamnya agak gentar. Tidak ada suara yang dapat ia lontarkan dan Arcaviel tampak memakluminya.
Mendaratkan kecupan singkat di pelipis Reeval, Arcaviel kembali berkata dengan bisikan halus, “Jangan khawatir. Aku bersamamu, Reeve.”
Reeval kian dibuat bungkam. Ia merapatkan netranya, kemudian tawa parau lolos dari bibir ranum pria itu. “Terima kasih, Cavi ….”
Jemari lentik Putri Aeradale menyeka lembut setetes cairan bening seukuran biji jagung yang baru saja mencuat dari pelupuk netra hitam Reeval. Hati Arcaviel berdenyut pilu. Bertahun-tahun ia mengenal Reeval, pria itu bisa menangis terhitung jari. Reeval selalu berusaha menekan perasaan sedihnya dalam-dalam di balik air muka setenang riak air tersebut.
Tidak ada yang bisa melihat secara transparan isi hati pria itu, kecuali sang Putri. Itulah mengapa hanya berbekal dukungan dari Arcaviel, ia bisa menampakkan kegundahan dan meruntuhkan pertahanan begitu saja.
“Aku akan meminta maaf sekarang,” bisik Reeval saat ia sudah kembali tenang.
“He-em, lakukan apa yang ingin Reeve lakukan,” Arcaviel mengangguk pelan, “apa aku bisa ikut denganmu?”
“Kali ini, biarkan aku berjuang seorang diri untuk mendapat maaf dari Raja dan Ratu.”
Kendati skeptis, Arcaviel tetap mengangguk. Ia harap-harap cemas saat Reeval mendorong kursinya menjauh dari meja semata-mata beranjak untuk mendatangi Archelos dan Luisa. Semua yang masih menikmati santapan mereka, termasuk pasutri kerajaan itu, menunda kegiatan tersebut saat tahu si pengkhianat kerajaan tengah mendatangi sepasang pria dan wanita paruh baya itu. Samar-samar,
Arcaviel bisa mendengar cibiran untuk kali sekian yang ditujukan untuk pria itu. Tetapi, kali ini Arcaviel akan membiarkannya.
“Semangat, Reeval …,” bisik seseorang, tertangkap di indra pendengar Arcaviel.
Kala ia menoleh, Arcaviel baru teringat dengan keberadaan Aimee. Mereka dipisahkan oleh kursi kosong Reeval. Menahan diri untuk tidak mendengkus, Arcaviel menoleh lagi menuju pria itu. Ia tertegun begitu tahu pria bersurai hitam itu menjatuhkan dirinya ke permukaan tanah untuk bertelut di hadapan Archelos dan Luisa.
Reeval yang dahulu paling tidak suka merendahkan moralnya, kini rela mati-matian menjatuhkan moralnya begitu saja demi mendapat maaf dari Raja dan Ratu terdahulu. Tidak hanya Arcaviel, semua orang di seisi area makan turut terkejut bukan main.
Sementara itu, olok-olok yang sempat ditujukan kepada Reeval sepanjang ia datang mendekat tidak luput dari indra pendengar Archelos dan Luisa. Mereka saling melempar pandang. Keprihatinan mendominasi di sana, sebelum mendaratkan netra kembali menuju sosok pria sepantar putranya di hadapan mereka. Belum sempat bersuara, keduanya kembali dikejutkan dengan pergerakan tiba-tiba Reeval yang menjatuhkan diri bersujud tepat di depan alas kaki mereka.
Semua orang semakin tertegun. Seisi area makan berganti hening, memusatkan atensi pada Reeval Lanford seorang. Si pengkhianat kerajaan. Ia tidak kunjung menaikkan pandangan, pundaknya gemetaran di antara tangan yang bertopang pada tanah. Sekilas, sosok pria yang dianggap begitu keras dan tidak berhati, tampak begitu lemah.
Pertahanan Reeval runtuh. Ia merasa tidak memiliki muka sekadar melihat pasangan Raja-Ratu terdahulu itu.
“Maaf … maafkan saya.”
Reeval berulang kali mengucapkan permohonan maaf, yang ia pikir mustahil sepadan jika dibandingkan aksi kotornya. Akan tetapi, hanya kalimat itu yang dapat ia tuturkan sejauh ini. Masih dengan bersujud, merendahkan dirinya di depan pasutri itu, Reeval memejamkan netranya rapat-rapat saat tahu mereka tidak akan mengucapkan apa-apa.
Tanpa ia sadari, tangan kanan Luisa terangkat di udara bertepatan suara Aimee merebak. “Yang Mulia!” Aimee memelesat ke depan, berdiri menghadap Luisa dan menunduk dalam-dalam. “Maafkan Reeval, Yang Mulia Ratu dan Yang Mulia Raja.”
Archelos dan Luisa kembali saling melempar pandang, sebelum mereka menjatuhkan tatapan ke titik lain. Arcaviel. Air mukanya begitu muram, sebelum melengos kepada sup karinya. Pasutri kerajaan itu segera menghela napas. Sementara itu, tepat Reeval mendengar kawannya repot-repot membelanya, ia lantas menaikkan pandangan menuju Aimee—sedikit menggeser tatapan ke tangan Luisa yang masih terangkat di udara.
Dari sana, Reeval tahu mendapat maaf dari pasutri itu akan sulit dan mustahil.
“Aimee, kau tidak perlu—”
“Saya memohon, Raja, Ratu. Beri Reeval satu kali kesempatan lagi ….”
Reeval memicing tajam. “Aimee!”
Kawannya satu itu menatap Reeval nanar. “Kau pernah menyelamatkanku. Biarkan aku membalasnya.”
Napas Reeval tersekat. Ia tahu benar maksud Aimee. Dahulu, saat ia masih seorang kesatria, Reeval dan Arcaviar pernah melakukan ekspedisi bersama Raja Archelos dan kesatria pribadinya—Topaz—ke sebuah desa. Mereka mendapat laporan tentang serangan bersenjata dan penculikan anak untuk diperdagangkan secara ilegal. Reeval terpencar dengan Arcaviar dan di sanalah ia bertemu pertama kali dengan Aimee yang berada di salah satu sangkar kurungan.
Reeval tentu tidak diam saja. Ia mencoba membantu Aimee membebaskan diri, namun tertangkap basah oleh salah seorang penculik. Berbekal pengetahuan tentang cara berpedang, Reeval berhasil melumpuhkannya dan membebaskan Aimee. Diketahui selanjutnya, Aimee merupakan seorang yatim piatu. Ia meminta tolong kepada Reeval untuk dipekerjakan dalam kerajaan. Karena pria itu, Aimee menemukan tujuan untuk hidup.
Gadis bersurai hijau tersebut betul-betul berutang budi dengan Reeval dan ingin membalasnya melalui ini; membantu pria itu mendapat maaf dari Raja dan Ratu.
Netra hitam Reeval menutup rapat. Ia menghela napas, sangat tahu Aimee tidak akan menyerah. Akhirnya, Reeval kembali bersujud. Membiarkan kening dan tangannya bernoda tanah. Ia masih mempertahankan posisinya ketika sepasang tangan mengangkat pundaknya.
“Berdirilah, sayang.”
Suara feminin Luisa, si pemilik tangan, menyapa halus telinga Reeval. Dengan gerakan anggun, ia membantu Reeval beranjak dari posisi tak berdaya pria itu, membiarkannya bertelut saat menyadari Reeval enggan berdiri. Luisa setengah merunduk, menggapai pipinya agar mereka bisa mendaratkan tatapan satu sama lain.
Binar netra hitam Reeval tampak bergetar gentar, kontras dengan keteduhan mustahil yang dilemparkan Luisa padanya. Setelah apa yang kuperbuat … mengapa? batin pria itu, menurunkan pandangan dari netra Luisa. Ia lantas melirih parau, “Yang Mulia ….”
“Kau sudah tumbuh menjadi pria dewasa dari terakhir kami melihatmu,” ujar Luisa di luar dugaan, yang mana membuat pria itu semakin mendalamkan tundukannya. “Bagaimana kabarmu, sayang?”
Napas Reeval tersekat. Lidahnya terlampau kram untuk merespons. Mengetahui pria bersurai hitam tersebut tidak memiliki kekuatan dalam berkata-kata, Luisa melemparkan tatapan sejenak kepada suaminya. Archelos menghela napas, lalu menepuk pelan pundak Reeval, mengisi posisi Luisa tadi sebelum bersemuka dengan pria yang telah merampas takhtanya itu.
“Bangkitlah, tunjukkan sisi kesatriamu, Reeval.”
“S-Saya—” Reeval menaikkan pandangan dengan air muka tertegun, “—tidak pantas, Yang Mulia Raja.”
“Aku bukan Raja lagi, Nak.” Archelos tertawa pelan dan menujukan pandangan ke arah Arcaviar. Putranya satu itu, seperti biasa, masih memakukan sorot datarnya ke arah mereka, tampak tidak acuh. “Melainkan putraku, dia rajamu sekarang.”
Percakapan itu tidak luput dari indra pendengar seisi area makan. Berbagai sorot penuh tanya begitu kentara pada air muka mereka. Pasalnya, Archelos seakan-akan masih menganggap si pengkhianat kerajaan sebagai kesatria putranya. Jelas-jelas pria itu melanggar sumpah kesetiaan, belum lagi markas mereka senantiasa diusik. Perbuatan buruk Reeval untuk mereka jelas tidak dapat ditoleransi.
Merasa disebut oleh ayahnya, semua orang lekas menjatuhkan atensi menuju Arcaviar, tidak terkecuali Reeval. Arcaviar mendengkus malas. Ayahnya mengapa senang sekali membuat pening di kepalanya? Ia mungkin sudah berbaik hati kepada mantan kawannya itu, tetapi mengakui kekasih adiknya sebagai kesatria pribadinya di depan seluruh pengikutnya? Jelas ia gengsi!
Keparat. Helaan napas lolos dari bibirnya. Melirik sepintas Arcaviel yang duduk cemas di kursi meja panjang, Arcaviar berdeham. Orang-orang itu mulai memasang telinga ketika rajanya berbicara, “Lanford, apa kau ingin kumaafkan?”
“Sangat, Yang Mulia.”
Sudut netra Arcaviar berkedut tidak senang. Apa-apaan panggilan sopan itu? Ia seperti sedang berinteraksi dengan orang lain. Masih dengan raut dinginnya, Arcaviar kembali bertanya, “Apa kau masih ingin menjadi kesatriaku?”
Reeval mematung sesaat. Ia memandang Arcaviar bagaikan pria itu baru saja berkata di luar nalar. Dengan satu anggukan ragu, Reeval berkata lirih, “Bila Anda berkenan, Yang Mulia.”
Kening sang Raja mengerut tidak senang. “Katakan sekali lagi.”
“Bila Anda berkenan ….”
Binar netra biru kehijauan Arcaviar mengilat tak puas. “Lagi.”
“Bila Anda berkenan, saya akan—”
“Kenapa suaramu kecil sekali?”
Raja k*****t! Ingin rasanya Reeval melontarkan cercaan itu kepada rajanya. Meski hampir luput dari indra penglihat orang awam—mereka yang tidak tahu watak asli rajanya, Reeval sadar benar kakak kekasihnya itu tengah menjahilinya. Jika situasi memungkinkan, ia bisa saja berdecak kesal, alih-alih mengubah intonasinya dan berkata dengan tegas, “Ya, saya masih ingin menjadi kesatria Anda, Yang Mulia!”
Arcaviar memiringkan senyum. “Baiklah, aku memaafkanmu. Pastikan kau siap.”
Pada detik itu juga, Reeval tahu rajanya satu itu tidak mungkin membiarkannya mengawal dengan tenang begitu saja. Tetapi, selama ia masih diterima dalam ruang lingkup anggota keluarga kerajaan, Reeval tidak akan menolak. Ia bersumpah tidak akan lagi mengecewakan Archelos, Luisa, Arcaviar, dan terutama Arcaviel.
“Saya sangat siap,” jawabnya, penuh keyakinan. Lalu, ia berterima kasih kepada Archelos dan Luisa sebelum kembali ke meja panjang bersama Aimee.
Kepalan jemari kawannya satu itu memukul pelan pundak Reeval, melemparkan seulas senyum bangga. “Jangan patahkan kepercayaan mereka lagi, oke?”
Reeval mengangguk pelan tanpa berkata lebih. Pria bernetra hitam itu menyelatkan diri, duduk di antara Arcaviel dan Aimee. Ia sedikit mengerutkan kening begitu Arcaviel menolak untuk menatapnya, sibuk berkutat dengan sup kari yang kadar kepedasannya telah dibagi dua dengan milik Reeval.
Jemari kukuh Reeval menyugar helaian sang Putri dengan lembut agar ia dapat menyantap sup karinya tanpa terusik oleh surai cokelat pirangnya. Tetapi, Arcaviel mengelitkan kepalanya sebelum Reeval dapat menyentuhnya lebih jauh.
“Cavi,” panggilnya halus, menatap Arcaviel seteduh mungkin meski gadisnya tidak bisa melihat. “Kenapa?”
Direspons dengan gelengan lesu Arcaviel, lekas ia bawa tubuh mungil Putri Aeradale ke dalam rengkuhan pria itu, menahan netra biru Arcaviel cukup lama. Seakan-akan tahu akar permasalahan yang membuat Arcaviel mendadak bungkam, netra hitam Reeval mengilat geli. Arcaviel melengos, secara paksa meloloskan dirinya dari sisi Reeval. Ia kentara dalam suasana hati sangat tidak baik.
Fakta Aimee membela Reeval mati-matian di hadapan orangtuanya membuat Arcaviel merasa tidak berguna. Mengapa harus Aimee?
Menanggalkan sikap manisnya jauh-jauh di belakang, Putri Aeradale beranjak dari kursi tanpa berpikir panjang. Ia bahkan menolak untuk sekadar menatap Reeval, yang mana sukses membuat pria itu tertegun. Sepanjang ia berinteraksi dengan Aimee, tidak pernah sekali pun Arcaviel tampak sediam saat ini. Arcaviel biasanya secara terang-terangan menunjukkan kekesalan dan itu kerap menghiburnya.
Tetapi, sekarang? Tidak, pria itu sama sekali tidak terhibur.
Baru ia ingin beranjak dari meja panjang untuk menyusul, Rodeus sudah lebih dulu memanggilnya. Reeval memandang bingung mantan koleganya satu itu. “Kenapa?” tanyanya, mengangkat satu alis.
“Viar berkata Helga Crane ingin menemuimu—juga Putri.” Rodeus mengamati punggung Arcaviel yang menjauh dari balik pundak Reeval dengan aneh. “Gadismu merajuk lagi?”
Reeval meremas pelipisnya sesaat, baru berkata, “Katakan pada Yang Mulia aku akan menyusul.”
“Tidak perlu.” Arcaviar tiba-tiba muncul dari balik pundak Rodeus, melirik sosok si pemuda pirang yang berdiri di belakang Reeval. “Barro, susul Putri—antar dia menuju kediaman Helga. Dan kau, Lanford, ikut kami.”
Bibir Reeval terbuka setengah, siap melontarkan protes apabila tidak ingat bahwa Arcaviar telah menjadi rajanya. Tanpa ia tahu, Rodeus mengulum tawa. Pria bernetra cokelat itu sepertinya puas mengetahui sang kolega dalam posisi tidak berdaya, entah karena Putri Aeradale ataupun Arcaviar yang tampaknya ingin memberikan sedikit pembelajaran untuk Reeval secara ‘halus’.
Menoleh dengan sarat dongkol kepada Ignacio yang tampak merekah, akhirnya Reeval kembali menatap Arcaviar dan mengangguk enggan. “Baik, Yang Mulia.”
Rodeus gagal menahan tawa. Alhasil, ia tergelak keras-keras dan mengundang sorot aneh dari orang-orang sekitar. Seorang Reeval menyebut Viar dengan ‘Yang Mulia’? Oh, ini akhir dari kontinen namanya.[]