37. Cemburu

2166 Kata
Meluangkan waktu semalaman penuh dengan kedua orangtuanya, Arcaviel sebisa mungkin menghindari topik berat. Ia bercerita panjang lebar tentang alam fana dan penduduk ramahnya, terutama Desa Silkvale. Putri Aeradale kini merebah berimpitan dengan tubuh besar Archelos dan Luisa, sepasang Raja-Ratu terdahulu sebelum kakaknya. Arcaviel menghaluskan suaranya ketika mendengar dengkur keras dari Archelos. Ia dan ibunya melemparkan tawa halus, sebelum Luisa membawa Arcaviel ke dalam rengkuh hangatnya. Jemari lentik Luisa menyugar helaian halus surai cokelat pirang putrinya dengan subtil. Arcaviel menikmati sentuhan halus dan penuh kehangatan milik sang ibu. Balas memeluknya, Arcaviel membenamkan kepala ke d**a Luisa dan berkata, “Viel rindu Mom. Maafkan Viel karena baru kemari, ya, Mom?” Luisa mengulaskan senyum teduh meski tidak terjangkau oleh indra penglihat Arcaviel. “Semestinya, Mom yang harus meminta maaf kepada Viel,” bisik Luisa, sepelan mungkin agar tidak mengusik tidur suaminya. “Maafkan Mom, Dad, dan kakakmu, ya? Karena sudah mengirim Viel jauh sekali ke alam fana.” Arcaviel menggeleng. Ia mendongak untuk melihat paras elok Luisa. Manik biru mereka berserobok detik itu juga. “Viel bertemu banyak orang baik di sana dan Viel sama sekali tidak menyesal untuk itu,” katanya, berusaha meyakini sang Ratu terdahulu agar wanita paruh baya itu tidak merasa bersalah. “Mom … maafkan Reeve juga, ya?” Permintaan penuh kesungguhan dan ketulusan itu berhasil membuat Luisa menghentikan gerakan jemari lentiknya. Ia menatap lurus Arcaviel, tidak ada sarat kemarahan di sana, tetapi cukup membuat Arcaviel sedikit gentar. Baru saja putrinya akan kembali membenamkan paras eloknya, Luisa membuka suara, “Viel sangat mencintai Reeval?” Yang ditanya mengangguk cepat. “Sangat,” bisik Arcaviel, menggigit bibir ranumnya takut-takut. “Kalau begitu, baiklah.” Luisa tertawa halus begitu putrinya mendongak terkesima. “Mom dan Dad tidak mau membatasi kebahagiaan Viel lagi.” “Mom … serius?” “Tidak pernah seserius ini, sayang.” Sang Ratu terdahulu sama sekali tidak berbohong. Jika memang putrinya teramat melekat dengan kesatria itu, maka Luisa dan Archelos tidak bisa melakukan apa-apa. Usai mereka tahu penjahat sebenarnya adalah Topaz, kemungkinan besar ancaman keluarga mereka bukan Reeval. Tetapi, dibandingkan mendapat maaf dari pasutri itu, Reeval lebih memerlukan usaha ekstra untuk melunakkan hati Arcaviar. Luisa tahu benar karakter putranya. Gengsi si raja muda melebihi apa pun dan mustahil membiarkan sang adik berakhir dengan seorang kesatrianya semudah itu. “Mom, terima kasih!” Arcaviel memeluk erat tubuh molek ibunya, merasa bahagia bukan main. Mengingat malam kian larut, ibu dan anak itu tidak lagi meneruskan perbincangan. Dalam pelukan Luisa, Arcaviel bisa tertidur pulas hingga pagi tiba. Ketika masih mendapati orangtuanya belum bangun, ia berniat kembali ke rumah kayunya sendiri untuk membersihkan diri. Bertepatan ia menapakkan kaki di luar rumah kayu milik sang Raja dan Ratu terdahulu, angin segar di pagi hari benar-benar membuat Arcaviel seperti terlahir kembali. Ia juga bisa mencium aroma masakan dari samping kanan. Rupanya, masih agak menjorok masuk ke dalam, terdapat semacam lahan luas berisikan meja-meja dan peralatan makanan yang masih agak primitif. Orang-orang dengan celemek berjalan sana sini sambil membawa piring atau bahan makanan. Itu tempat di mana mereka semua akan sarapan, makan siang, dan makan malam. Menggeser atensi dari sana, Arcaviel segera menuruni serambi rumah kayu untuk menjangkau miliknya. Letak rumah kayu Arcaviel bersisian dengan Arcaviar, tetapi milik orangtua mereka letaknya paling jauh. Pintu rumah kayu Arcaviar kelihatan masih menutup rapat saat ia mengintip ke sana. Menduga kakaknya masih tidur, Arcaviel tidak mau ambil pusing dan memasuki miliknya sendiri. Suhu rumah kayu Arcaviel masih agak pengap, mengingat ia baru saja tinggal di sini dan itupun ia habiskan semalaman di rumah kayu orangtuanya. Begitu Arcaviel memelesat ke dalam, ia dapat melihat beberapa kemasan berisikan busana dan alat-alat mempercantik diri. Mengerutkan kening, Arcaviel mencoba ingat-ingat kembali isi rumah kayunya kemarin. Tidak ada apa-apa, kecuali dipan dan almari. Daripada memikirkan itu, Arcaviel lekas bersiap-siap untuk membersihkan diri dan sarapan. Sehabis mandi, ia hanya memoles tipis bibir ranumnya dan membubuhkan sedikit bedak agar tidak tampak pucat. Tanpa usaha lebih, perawakan semampai Arcaviel sudah tampak baik dari cermin. Ia kini mengenakan tunik putih berlengan pendek. Di atas dadanya, terdapat sebuah pita serut dengan dua tali menyilang di antara lehernya yang cukup terekspos. Merasa tidak lagi menemukan kekurangan, ia keluar dari rumah kayu dan berbelok kanan untuk menuju area makan. Setiap berpapasan dengan pengikut kakaknya, ia kerap menerima sapaan hormat dan sanjungan untuknya. Arcaviel tetap mempertahankan senyum manis sampai ukirannya memudar begitu mendapati Reeval sudah duduk di salah satu meja panjang. Ada dua mangkuk kari di sana, milik Aimee yang baru saja beranjak entah untuk apa. “Viel,” panggil Arcaviar. “Ingin bergabung?” Entah sejak kapan, saat Arcaviel menoleh, pria itu tahu-tahu saja telah berdiri di belakangnya bersama Ebony. Ketika Arcaviel melempar senyum kepada Ebony, ia bisa melihat gadis bernetra merah itu menenteng sebuah baki berisikan dua mangkuk. Dalam sekali lihat pun, Arcaviel tahu kakaknya mempunyai hubungan khusus dengan gadis bernetra cantik itu. “Tidak, aku tidak ingin mengusik kalian.” Arcaviel tersenyum penuh arti. “Selamat makan, Kak. Aku mau mengambil makanan dulu.” Arcaviar mengangguk singkat sebelum adiknya memapasi pria bernetra biru kehijauan itu. Bersama dengan Ebony, mereka segera menempati satu meja kosong dan menyantap kari masing-masing dalam hening. Tidak sampai lima menit, Ebony mengetukkan ruas-ruas jemari Arcaviar, menginstruksikan pria itu untuk melihat ke belakang. Di sana, dapat ia temukan adiknya tengah kepedasan dan menciptakan secuil kehebohan. Mendengkus pelan, Arcaviar mengibaskan tangan dan berkata, “Jangan dipusingkan. Sudah biasa adikku ketika cemburu bersikap seperti itu.” Ebony tersenyum geli pada detik itu juga. Dengan gerakan bibir, ia berkata tanpa suara, “Sama sepertimu, tahu.” Arcaviar mengusap wajahnya masam. Ebony benar dan pria itu tidak akan mengelaknya. * Selesai Arcaviel mengantre karinya, ia duduk tepat di samping Reeval tanpa membuka suara. Itu jelas disadari oleh kekasihnya, namun pria itu juga tidak kunjung mengatakan apa-apa. Selain karena ia perlu menjalani hukuman dari Arcaviar, pria itu juga ingin tahu sejauh mana Arcaviel akan merajuk. Sikap menggemaskan dari gadis itu ketika marah kerap menghiburnya. Akan tetapi, ada suatu hal yang berhasil membuat hiburan itu berganti kesal saat tahu Ignacio duduk di samping sang Putri. Arcaviel sendiri menerima kehadiran Ignacio dengan tangan terbuka. Cara pemuda mana ilusi menatap Arcaviel saat menerima sikap bersahabat itu membuat Reeval ingin mencungkil mata si pirang. Kentara sekali Ignacio sangat memuja Putri Aeradale. Beberapa kali, Reeval sengaja mendeham agar Arcaviel berhenti berbicara—tetapi tidak. Gadisnya itu sengaja menulikan indra pendengar. Bila Aimee berada di sisi Reeval, maka Arcaviel juga memiliki Ignacio. Bukankah itu impas? “Cio …,” panggil Arcaviel, begitu ia menelan suapan kari pertama. Ignacio baru saja ingin melahap, menundanya untuk menoleh kepada Arcaviel. “Iya, Putri?” ujarnya, sedikit bingung saat melihat wajah sang Putri lebih merah dari sebelumnya. Sekilas, ia melirik ke samping Arcaviel, mendapati ada kuping lain yang mendengar. Cih, penguping. Arcaviel menutup mulutnya dengan tangan. Ia sadar tadi sempat memasukkan bubuk cabai cukup banyak, tetapi sama sekali tidak menduga akan sepedas ini. “Apa karimu pedas?” tanya sang Putri, memastikan niatnya tetap sesuai dengan rencana awal. Menahan air mata kepedasan yang mulai mencuat dari pelupuknya, Arcaviel kembali berkata, “Kurasa aku salah mengidentifikasikan bubuk cabai sebagai penyedap ….” Ignacio memiringkan kepalanya, sedikit panik saat tahu Putri Aeradale menangis. “Putri, jangan menangis! Bagaimana jika Anda menukar kari Anda dengan milik saya?” tawarnya, kemudian menggeser atensi menuju kuali kari. “Atau Putri ingin saya membawakan kari lagi?” “Tidak, tidak usah. Orang lain nanti kehabisan.” Arcaviel mengibaskan tangan di depan mulutnya yang terasa terbakar. Kalau tahu begini, ia tidak mungkin menuangkan tiga sendok bubuk cabai sekaligus di dalam karinya. “Aku sempat berpikir … bagaimana jika kita saling berbagi?” Yang ditanya gelagapan. Berbagi kari bersama Putri Aeradale? Tentu ia ingin, tetapi ia tidak mau mati! “Putri, kari saya untuk Anda saja. Tidak perlu—” “Makan kariku.” Denting sendok memukul mangkuk terdengar dari arah Reeval, membuat dua orang itu beralih atensi menuju sumber suara. Air mukanya jengkel ketika ia menggeser mangkuknya di hadapan Arcaviel. Putri Aeradale lekas memandang Reeval dengan kilat jahil, tetapi teringat kembali dengan rasa pedasnya, Arcaviel buru-buru mengambil gelas di atas meja yang berisi setengah dan menenggaknya sampai habis. “P-Putri, gelas itu milik … saya.” Arcaviel spontan membeliak. Ia menatap gelasnya sendiri—masih bertengger cantik di depan mangkuk kari pedasnya. Satu insiden ini terjadi di luar kendali Arcaviel, tetapi akhirnya ia tetap menjaga ekspresinya semanis mungkin dan berkata, “Maaf, Cio. Ambil saja gelas punyaku.” “Tidak apa, Putri.” Pipi Ignacio memerah. Ia membayangkan bibir di gelas pemuda itu sudah disentuh oleh Arcaviel membuatnya, mau tidak mau, salah tingkah. Dengan netra berair, ia menoleh kembali menuju Reeval. Air muka pria itu semakin suram saja. Namun, bukan menegur Arcaviel, satu tangan Reeval terulur untuk menyeka air mata gadis bernetra biru tersebut. Pria itu tidak mengatakan apa-apa. Heningnya membuat indra pendengar Arcaviel malah menangkap perbincangan pengikut raja asli yang lain—mayoritas mengatai Reeval dengan buruk dan memandanginya seperti sampah. Ia mendengarnya, batin Arcaviel, mendapati sorot hitam pria itu meredup. Kenapa tidak memarahi mereka saja, sih? Seakan-akan ikut merasakan sakitnya dibicarakan secara terang-terangan, Arcaviel tidak mau diam saja. Berhubung mereka masih menempatkan atensi ke arah keduanya, Arcaviel merangkul leher Reeval dengan tangan kiri, mendorong kepalanya lebih dekat. Tangan yang lain mengusap rahang tegas pria itu, sebelum akhirnya memagut lembut bibir mereka. Situasi area makan berganti hening. Gunjingan tadi—terutama tentang Reeval memikat Putri Aeradale dengan mananya—menjadi bungkam, sebab mereka bisa melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana sang Putri menciumnya lebih dulu. Sementara area makan dipenuhi keterkejutan, Reeval sendiri menegang. Ia tidak merespons pagutan bibir mereka, sampai-sampai Arcaviel perlu menggigitnya keras-keras untuk memaksa lidah pria itu menjelajahi bagian dalam mulutnya. Seperti mempermainkan Reeval, Arcaviel menarik bibirnya ketika pria itu siap membalas pagutannya. Reeval hampir mendengkus kesal, tetapi suara halus dan tenang Arcaviel terdengar pada seisi tanah luas itu. “Semua, gunakan waktu kita untuk makan—jangan mengisinya dengan membicarakan hal-hal tidak berguna,” kata Putri Aeradale, melontarkan sindiran halus untuk mereka yang tidak tahu apa-apa tentang Reeval dan menilai buruk dari sikapnya. Tanpa sadar, Reeval mengangkat tipis sudut bibirnya. Ingin sekali ia mendekap sang Putri seerat mungkin. Betapa ia berterima kasih kepada Arcaviel atas semua kepercayaan ini. Pada akhirnya, Reeval meremas lembut jemari sang Putri dan mengecup ruas-ruasnya penuh kasih sebelum menerima suapan kari yang diberikan Arcaviel kepadanya dengan tangan lain. “Kau mendiamkanku,” gerutu Arcaviel, sepelan mungkin agar tidak terdengar oleh siapa pun kecuali Reeval. Reeval balas berbisik dengan nada main-main, “Itu hukumanku—mendiamkanmu selama tiga hari dan telah gagal bahkan di hari pertama.” Arcaviel merengut sebal. “Ya sudah, kembali mendiamkanku saja. Berinteraksi sana dengan Aimee-mu,” ketusnya, menyuapkan kari ke dalam mulutnya sendiri. Disusul oleh kekeh pelan dari arah pria itu, Arcaviel kembali menggerutu, “Menyebalkan.” Menggeser mangkuk kari Reeval kembali kepada si pemilik, Arcaviel berniat untuk mengonsumsi kari pedasnya. Itu terlalu sayang untuk ia buang. Kendati pedasnya tidak main-main, Arcaviel sudah diajarkan dari kecil untuk tidak membuang makanan—terlebih pedasnya kari itu disebabkan oleh tangannya sendiri. Mau tidak mau, Arcaviel harus menghabiskan. Namun, belum sempat ia memegang sendoknya, Reeval mencekal lengan sang Putri dan menukar mangkuk mereka. “Perhatikan kesehatanmu, Cav.” Pria itu merasai kari pedas Arcaviel dalam satu suapan, kemudian mengerutkan kening tidak senang. “Kau membahayakan lambungmu demi membuatku cemburu, hm?” Merasa niatnya terekspos, Arcaviel cepat-cepat menukas, “Aku tidak—” Reeval mengulaskan senyum miring. Ia kian menyudutkan Arcaviel dengan gurat arogansinya. Seakan-akan lupa cara untuk mengatur air muka salah tingkahnya, Putri Aeradale menekukkan kepala dalam sekali sampai-sampai Reeval meloloskan tawa geli. Berdetik-detik kemudian, pria itu menepuk subtil mercu kepalanya. “Lihat kemari,” pinta Reeval, tanpa melepaskan telapak tangan dari mercu kepala Arcaviel. Ia mengulum senyum saat menyadari paras elok gadisnya berubah kemerahan. “Apa?” bisik Arcaviel, nadanya hampir terdengar sewot. Reeval ingin kembali tertawa, tetapi ia urung dan menatap lurus manik biru kekasihnya dengan beragam kilat—ketulusan, kasih sayang, ketidaksetujuan, dan lain sebagainya. Sepintas, air muka pria itu tidak terbaca. Arcaviel yang gagal mengidentifikasi ekspresi pria bernetra sehitam jelaga itu, mengejap beberapa kali. Selama beberapa waktu, mereka berhasil menahan tatapan tanpa kedipan. Selesai mengagumi gadisnya dari segala aspek yang ada, Reeval berbicara begitu halus, “Jangan seperti itu lagi. Bagaimana jika kau sakit?” “Tinggal dipulihkan oleh pemedis … atau yang paling ampuh, olehmu.” Reeval mengacak surai cokelat pirang itu sampai awut-awutan. Tidak seperti tadi, sekarang ia sama sekali tidak peduli bila aliansi Arcaviar kembali memusatkan atensi secara terang-terangan ke arah mereka. Ada yang lebih pedas di sisinya daripada bibir orang-orang itu—tentu saja Arcaviel. Siapa lagi yang berani mengutarakan sindiran secara halus namun terang-terangan selain gadisnya itu? “Memang aku bisa memulihkanmu?” Reeval mencubit gemas pipi Arcaviel. Pria itu tidak kuat menangani tingkah manis putri satu ini. “Coba beri tahu aku bagaimana.” “Cukup beri aku satu-hari-pelukan—dan aku akan pulih pada hari itu juga.”[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN