Bukan hal baru bagi seorang kesatria mempunyai luka, minimal tiga torehan dalam setiap pelatihan. Di suatu waktu, Reeval juga pernah menerima satu luka yang cukup fatal dekat jantungnya. Lawan pria itu brutal saat menerjang tubuh Reeval membabi buta, sebab ia tidak menerima kekalahan karena Reeval termasuk kesatria muda yang mumpuni.
Lawannya tiga tahun lebih tua darinya, namun dalam hal pengendalian emosi, sang lawan sangat kurang.
Bagaikan pria itu kedatangan keajaiban, Putri Aeradale datang menolongnya. Itu sebenarnya bukan hal baru, tidak seperti satu atau dua kali saja Arcaviel menjadi malaikat penolong bagi Reeval. Entah mereka memang diciptakan terhubung atau bagaimana, selama mereka bersama, keduanya saling menjaga.
Luka fatal hasil torehan lawan Reeval berhasil Arcaviel berikan penawar melalui mananya, yang mana hampir mustahil karena mana putih Arcaviel tidak sebesar itu untuk menawar luka dalam skala besar.
Keluarga kerajaan tahu tentang keganjilan ini. Mereka beberapa kali meminta Arcaviel untuk menawar luka besar seekor kelinci, namun tidak menuai hasil sedikit pun. Kelinci itu bahkan mati pada hari berikutnya. Raja dan Ratu kembali menjajal hewan lain dengan luka yang sama fatalnya, tetap tidak terjadi. Mereka semua mati tanpa reaksi dari mana putih Arcaviel. Hingga ada seorang kesatria lain mengalami luka fatal dan mereka bawa kesatria itu ke hadapan Arcaviel.
Lagi, tidak ada reaksi. Si kesatria berakhir demam tinggi meski dirinya selamat dari kematian setelah pemedis membantu pemulihan.
Melihat kegagalan Arcaviel dalam menawar luka makhluk lain selain Reeval, keluarga kerajaan mulai cemas bila nujum itu benar adanya. Reeval niscaya membuat sesuatu dari mana hitamnya untuk bisa berhubungan dengan Arcaviel. Maka dari itu, Raja, Ratu, dan Arcaviar memutuskan untuk memisahkan mereka karena tidak ingin Putri Aeradale terjebak afeksi bersama pemilik mana hitam.
Reeval selama ini bersikap baik kepada mereka, hanya saja mereka takut itu semata-mata kedok. Nujum membuat mereka takut dan selalu berpikiran buruk dengan pria itu. Akan tetapi, siapa yang menduga bila Arcaviar saat ini mematahkan pemikiran buruk tersebut—ketika sosok yang jelas-jelas telah melengserkan takhta keluarganya dalam keadaan sekarat?
Mendapatkan ketibaan Arcaviel begitu melegakan. Pria itu lekas berdiri, membiarkan adiknya mengisi posisi untuk mendekatkan diri kepada musuhnya. Menggeser tatapan dari sana, Arcaviar menoleh ke balik pundaknya semata-mata mendapati kehadiran Ebony. Arcaviar mengangkat tipis sudut bibirnya dengan sarat lelah dan bersalah.
Gadis bernetra merah itu menangkap lengannya dan meremasnya lembut. Arcaviar selalu nyaman saat merasakan sentuhan Ebony, lebih dari apa pun. Jika memang Arcaviel dan Reeval sama-sama merasakan kenyamanan semacam ini, mau bagaimana lagi?
Sementara itu, Arcaviel mencoba menjejali sentuhan demi sentuhan ke sekitar abdomen Reeval. Rautnya terlihat sangat cemas, namun ia berusaha membendung air matanya dengan memusatkan diri pada mana di telapak tangan gadis bernetra biru jernih itu. Ia tidak melepaskan atensi sedikit pun dari fitur wajah Reeval. Kondisinya terburuk dari yang pernah ia lihat. Bekas darah di bibir ranum pria itu sudah mengering sempurna.
Netra hitam yang biasanya kerap memicing tajam, kini tertutup dengan sayu.
Arcaviel mencondongkan wajahnya selama ia mulai mengerahkan mana di daerah abdomen pria itu. “Bertahan, Reeve,” bisik sang Putri, mengecup pelipisnya lama sekali. Jemari kirinya terus mengusap surai hitam Reeval yang lepek akibat keringat. Sepanjang ia memberikan penawaran, Arcaviel selalu berdoa dalam hati, mengharapkan keselamatan Reeval dari Tuan-Tuan Penguasa dan Dewa-Dewi.
Hingga dirasakannya ruas-ruas jemari Reeval mulai bergerak perlahan-lahan untuk menjamah pinggangnya. Arcaviel menarik sedikit bibir ranumnya dari pelipis pria itu, kemudian mengulaskan senyum tipis mendapati manik hitam itu kembali terbuka.
“Kau … menyelamatkanku sekali lagi,” bisik Reeval, meraup pipi Arcaviel untuk merapatkan kening mereka.
“Aku akan terus melakukannya, bahkan sampai kau bosan hidup, Reeve.” Arcaviel mengejap pelan, seketika meloloskan cairan bening dari sana. “Jangan pernah mati.”
Reeval terkekeh pelan, kemudian meringis ketika ia mencoba untuk berdiri. Arcaviel lekas membantu pria itu, bersamaan dengan Rodeus memelesat ke arah mereka. Atas bantuan dari Arcaviel dan Rodeus, Reeval sudah dapat kembali bangkit. Ia mengedari sekitar sampai tatapannya menjumpai sorot tajam dari Arcaviar yang bersisian dengan Ebony Hunt.
Pria yang hampir sekarat tersebut menundukkan kepala saat itu juga, tidak memiliki kekuatan untuk menatap rajanya setelah semua yang telah mereka lalui.
“Yang Mulia! Portal—” Ignacio datang dari arah pintu pembuangan, menatap sengit Reeval ketika tahu pria itu sudah kembali sadar, “—sudah tutup.”
Arcaviar meremas pelipisnya sejenak. “Mau tidak mau, kita harus kembali dengan berjalan kaki.”
“Bersama orang ini?” Pemuda pirang itu melirik kesal Reeval. “Presensinya akan menghambat perjalanan kita, Yang Mulia.”
“Maka dari itu, jangan banyak berbicara.” Di luar dugaan, Arcaviar seakan-akan membela musuhnya. “Kita pergi sekarang. Kau dan Primus bantu dia.”
Reeval mengejap. Ia menoleh sekilas ke arah Arcaviel, mendapati gadis berparas elok itu seperti menahan senyum. Dalam situasi krusial semacam ini, mengapa juga Arcaviel masih bisa tersenyum? Belum sempat Reeval bersuara, Arcaviel memberikan Ignacio posisinya untuk membantu pria itu melangkah. Ia lalu meninggalkan Reeval dengan Rodeus dan si pemuda mana ilusi yang jelas tidak pernah menyukainya.
Tidak lama, kening Reeval mengerut tidak senang.
Berhenti menatap Putri, k*****t! pikir Reeval, mendapati pemuda pirang itu tidak melepaskan atensi dari Arcaviel yang mulai berjalan seorang diri menuju pintu pembuangan dapur. Reeval memutuskan untuk menekan kejengkelannya dengan memusatkan atensi ke punggung Putri Aeradale. Tidak hanya ia dan si pemuda mana ilusi, Arcaviar, Rodeus, dan Ebony juga menatap penuh tanya Arcaviel.
“Viel, ada apa?” Arcaviar paling pertama membuka suara.
Arcaviel mengarahkan telapak tangan di permukaan pintu pembuangan. “Mencoba memanggil kunang-kunang,” balas si Putri Aeradale, menambah kerutan di kening kakaknya. “Mereka pernah membantu Kak Viar dan Kak Ode pergi dari menara. Mungkin, mereka juga bisa membantu kita sekarang.”
Benarkah? Ignacio menatap Arcaviel penuh pukau, namun ia tekan air mukanya sedemikian rupa ketika menyadari tatapan tajam dari samping—siapa lagi selain si pengkhianat kerajaan?
Berdecak kesal, ia menggerakkan tangannya berpura-pura merenggangkan tubuh, kemudian menyikut pinggang Reeval. Yang disinggung lekas memelototi pemuda pirang itu. Aura persaingan menguar pada detik itu juga, mengundang tatapan aneh dari Rodeus yang cukup peka dengan hubungan tidak baik antara kedua orang itu.
Sementara itu, Arcaviel masih mencoba mengabsen si kunang-kunang yang sudah memberikan kontribusi lebih untuknya sejak ia menjadi Amorette. Cukup lama dalam keheningan sampai dari balik visual hitamnya, ia bisa merasakan titik-titik kuning mulai ada di sana. Arcaviel lekas membuka mata dan senyum langsung merekah. Pintu pembuangan berganti menjadi pintu keemasan. Kunang-kunang beterbangan dari sana, membuka pintunya dan menyebar ke seisi dapur.
Arcaviel bersuara dengan penuh kelegaan, “Terima kasih.”
Arcaviar memutari tubuh menghadap ketiga orang di dekat pintu dapur, menginstruksikan mereka untuk masuk lebih dulu. Rodeus dan Ignacio membantu Reeval berjalan menuju pintu keemasan, disusul oleh Ebony dan Arcaviar. Ketika ketiga bawahannya sudah masuk, Arcaviar menyuruh Ebony untuk mendahuluinya memasuki pintu keemasan.
Kini, di dalam dapur tersebut, hanya menyisakan sepasang saudara itu. Arcaviel tampak berinteraksi dengan kunang-kunang melalui gerak tubuhnya. Ia baru menoleh ke arah kakaknya ketika antena dari salah satu hewan mungil bertubuh oval itu tertuju ke balik pundaknya.
“Kakak.” Di luar dugaan, Arcaviel memeluk singkat kakaknya sebelum menarik tangan pria itu untuk memasuki pintu keemasan. “Jangan melamun saja, ayo kita masuk.”
Untuk pertama kali setelah sekian lama, Arcaviar melemparkan senyum teduh kepada sang adik. Ia menepuk singkat kepala Arcaviel dan berkata, “Ayo, Viel.”
*
Presensi si pengkhianat kerajaan cukup membuat sebagian besar orang tersedak dan sisanya menganga. Reeval sudah bisa menaksir reaksi itu dari para aliansi raja asli. Ia menatap hampa orang-orang yang berhasil diselamatkan oleh Battasti dari perbuatan terdahulu Reeval—menghapus ingatan tentang Arcaviar dan keluarga kerajaan.
Kembaran dari Battista, si penjaga istal, tersebut rupanya berhasil mengevakuasi mereka tanpa sepengetahuannya. Itu artinya, pandangan orang-orang itu terhadap Reeval sudah buruk. Menghela napas, Reeval meyakinkan dirinya pantas untuk mendapat perspektif tidak baik dari mereka.
“Reeval!” seru sebuah suara feminin yang agak sedikit lengking.
Manik hitamnya membulat melihat kedatangan si pemilik suara yang baru saja membelah kerumun. Aimee Burns, kawan lama pria itu ketika ia masih seorang kesatria. Aimee mengabaikan sorot aneh dari orang-orang di sekitar yang terlempar menuju gadis bersurai hijau itu. Alih-alih, ia berlari menghampiri keenam sosok yang baru saja tiba dari portal keemasan.
Lalu, Aimee mengusir Ignacio dan mengisi posisinya untuk merangkul Reeval.
Jelas perlakuan bersahabat Aimee mengundang kekesalan dari dalam diri Arcaviel. Ia tentu mengenal Aimee, seorang pelayan dan saingan—meski hanya Arcaviel yang menganggapnya seperti itu. Aimee murni bersahabat dengan Reeval, katanya begitu. Akan tetapi, perlakuan Aimee untuk Reeval terkadang di luar nalar dan sering memantik api kecemburuan dalam jiwa Putri Aeradale.
Namun, Arcaviel belum sempat bertindak apa-apa saat Arcaviar mulai menarik tangan sang adik. “Aimee, Primus, antar dia ke gubuk—bawa satu-dua pemedis untuk memulihkannya.” Arcaviar memerintahkan kedua bawahannya, sebelum menggeser atensi kepada Ebony dan Ignacio. “Kalian antar Putri menuju rumah kayu samping milikku.”
Terakhir, ia lemparkan pandangan kepada adiknya yang masih tampak kesal. “Bersihkan dirimu. Makan malam akan disiapkan sebentar lagi.”
“Di mana Mom dan Dad?” Arcaviel menoleh ke sana sini dengan kening mengerut.
“Mom sedang menemani Dad beristirahat. Kau akan bertemu mereka nanti ketika makan malam.”
Napas Arcaviel tersekat. “Dad kenapa, Kak?” tanya sang Putri, terkejut dan khawatir di waktu yang sama.
“Ia baik-baik saja.” Arcaviar menyugar poni adiknya yang basah. “Sedikit tidak enak badan, namun tidak ada yang perlu kaucemaskan. Sekarang, ikut Ebony dan Barro.”
Arcaviel mengangguk kecil. Ia melirik orang-orang di sekitar mereka, sepertinya sedang berbisik mengenai Reeval—karena ia kerap mendengar mereka menyebut pengkhianat, pengkhianat, dan pengkhianat. Memuakkan!
“Reeve bukan—”
“Sstt … tenang, Viel.” Arcaviar menahan Arcaviel yang siap meneriakkan mereka. Ia mengusung tubuh mungil adiknya ke dalam rengkuhan dan berbisik, “Aku akan memberikan pengertian.”
Kendati Arcaviar berkata demikian, Arcaviel masih tidak tenang. Ia akhirnya menurut untuk ikut dengan Ebony dan Ignacio ke salah satu rumah kayu di markas aliansi. Samar-samar, begitu ia sudah beranjak menjauh dari sana, Arcaviel tahu saat ini orang-orang mempertanyakan keputusan kakaknya dengan membawa pria pengkhianat itu kemari.
“Yang Mulia, Anda tidak salah membawa pengkhianat itu kemari?”
“Apa yang Anda pikirkan, Yang Mulia?”
“Bagaimana dengan kerajaan? Apakah kita sudah bisa kembali ke sana?”
“Tenang dulu, semua.” Suara Arcaviar berkumandang sampai ke telinga Arcaviel yang sudah cukup jauh. “Akan saya ceritakan semuanya. Saya harap kalian dengar baik-baik.”
Sebelum Arcaviel sempat mendengar sang kakak meneruskan kalimatnya, Ebony dan Ignacio sudah mengusungnya naik ke salah satu rumah kayu. Ignacio memutar knop pintu dan membukakannya untuk Arcaviel, sementara Ebony membawa jemarinya mengusap punggung Arcaviel lembut. Perlakuan itu tentu membuat Arcaviel terkejut, namun merasa hangat di saat yang sama.
Ketika netra biru Arcaviel berserobok dengan sepasang manik merah tersebut, ia mengulaskan senyum manis. Tetapi, dalam diam, ia mempertanyakan mengapa gadis itu dapat berakhir bisu.
Ignacio mengangguk pelan begitu Arcaviel mulai memasuki rumah kayu dan berterima kasih kepadanya. Sebelum pemuda pirang itu pergi, ia sempat bertemu tatap dengan Ebony. Seakan-akan paham, Ignacio segera berkata, “Putri, untuk pakaian, handuk, dan alat mandi sudah Nona Hunt siapkan di atas dipan.”
“Baiklah. Terima kasih, Kak Ebony, Kak … Cio?” Arcaviel menelengkan kepalanya.
Ignacio tanpa sadar terkekeh. “Kita sepantar, Putri.”
“Ah, kalau begitu Cio saja.” Arcaviel manggut-manggut paham. “Terima kasih kalian sudah mengantarku kemari. Kurasa aku akan membersihkan diri sekarang.”
Begitu Ignacio dan Ebony telah pamit undur diri, Arcaviel cepat-cepat membersihkan dirinya. Ia bahkan tidak repot-repot meluangkan waktu untuk memperhatikan rumah kayu. Dalam benaknya, ia hanya ingin bertemu dengan Mom, Dad, dan Reeval. Mengetahui Aimee tengah bersama Reeval cukup membuatnya tidak tenang. Belum lagi, kondisi pria itu masih agak buruk. Aimee tidak mungkin meninggalkan Reeval begitu saja.
Ia keras kepala—dan sifat bebalnya itu membuat hubungan Arcaviel dengan Aimee tidak terlalu baik.
Selesai membersihkan diri, Arcaviel bergegas mengenakan tunik putih tanpa motif yang sedikit melebihi tempurung lututnya. Mungkin tunik itu milik Ebony, mengingat gadis bermanik merah itu lebih tinggi beberapa senti darinya. Yang terpenting, Arcaviel sudah berpenampilan bersih. Ia lantas keluar dari rumah kayu sesudah mengenakan sendal tipis yang tersedia di dekat almari.
Semilir angin sore terasa menerpa tubuh Arcaviel. Giginya sempat bekertak. Ia mengusap lengan polosnya berkali-kali, tetapi terhenti begitu ia mendongak dan mendapati dua figur yang sudah lama tidak ia lihat. Merasakan cairan bening siap keluar dari pelupuk netra birunya, Arcaviel lekas menampik rasa dingin itu dengan menuruni undakan—membaurkan diri kepada sepasang pria dan wanita paruh baya itu, mengorek kehangatan dari dekapan keduanya.
“Mom! Dad! Viel merindukan kalian ….”[]