Pengakuan satu menit silam mungkin akan mengusung mereka kepada keheningan abadi jika saja Arcaviel tidak segera memeluk erat lengan Reeval. Iris biru jernihnya berair hingga air mata lolos dari pelupuk netranya karena pria itu sejak tadi sama sekali tidak berkutik. Perlakuannya cukup berhasil untuk menarik kembali kesadaran kekasihnya dari keterpakuan. Tawa getir tiba-tiba lolos dari pria bernetra hitam itu. “Lantas, apa yang kauinginkan tentang ‘kita’ sekarang, Cav? Menyudahinya?” tanya Reeval, parau. Beberapa saat kemudian, pria itu mengacak surai hitam jelaganya sampai awut-awutan. Lidahnya sama sekali tidak bermaksud untuk menanyakan hal tersebut. Hanya saja, ia tidak mampu berpikir jernih usai mendengarkan respons gadisnya. Dua kata itu—ikatan tersendiri—sudah sangat cukup mengacau

