06. Kelebat Mimpi

2343 Kata
Harum vanila menguar di udara tatkala pintu kamar kecil terbuka. Kaki tanpa alasnya menginjak keluar dari lantai keramik yang basah. Amorette menggigil sejenak. Malam ini terasa dingin bukan main. Embusan angin Aeradale lebih buas ketimbang angin di desanya. Amorette meletakkan handuk basah secara asal di atas dipan, kemudian menujukan pandangan ke teras ruang kamar. Pintu teras berlapis kaca transparan itu sedikit tersingkap. Arus datang angin sudah pasti melesak masuk dari celahnya. Sembari merengkuh dirinya sendiri—melipat tangan dan mengusap lengan, segera ia melangkahkan kaki mendekati pintu. Ia berniat untuk merapatkan pintu kaca dua rangkap itu, tetapi Amorette mengurungkan intensinya dalam sekejap. Panorama kemegahan luar teras memukau netranya. Ruas-ruas jemari lentik Amorette menyuruk celah pintu, kemudian mengekspos akses menuju teras semakin lebar, baru menapakkan kaki di sana. Lantai keramik dan pembatas terasnya sedikit berdebu, mungkin karena jarang terpakai. Terlepas dari itu, teras kamar ini cukup terpelihara. Cat putih gadingnya masih mulus dan tidak rontok. Putri Aeradale tidak mungkin aku, Amorette membatin lirih. Lagi-lagi ia mengingat ungkapan Reeval tadi. Jika ia memang putri beruntung itu, sudah pasti ia enggan bertolak dari kastel. Selama ini, Amorette menghabiskan napasnya bersama keluarga kecil yang sederhana. Hidupnya jauh dari kata mewah, terlebih ia tinggal di desa primitif seperti Silkvale. Raja itu keliru. Benar. Dia pasti keliru! Amorette berniat untuk berbalik badan. Ia tidak dapat menjernihkan pikiran sebagaimana Reeval menitahkannya tadi. Pria itu menjanjikan Amorette untuk berbincang esok hari, tetapi Amorette tidak dapat menahan rasa penasaran lebih lama lagi. Bertepatan Amorette berbalik badan, yang ia cari rupanya sudah berdiri di hadapannya. “Kak Reeve?” sebut Amorette, dengan napas tersekat. Ia bersumpah tadi tidak merasakan kehadiran siapa-siapa. “Sejak kapan?” Reeval memandang datar. “Kau belum tidur.” Itu pernyataan, bukan sesuatu yang perlu ditanggap oleh Amorette. Gadis bersurai cokelat pirang itu beringsut mundur ketika Reeval memasuki teras. Mendongak, Amorette menginspeksi paras tampannya secara tanpa sadar, bahkan sampai lupa cara untuk berkedip. Ia baru sempat memperhatikan sedetail ini wajah rupawan penguasa Aeradale. Ada setengah lingkaran hitam—tidak terlalu besar, di bawah kelopak netra hitam asertif Reeval. Pria itu terlihat kelelahan, seperti habis mengerjakan sesuatu yang pelik, namun kadar ketampanannya sama sekali tidak luntur. Amorette tidak habis pikir bagaimana gurat sayu itu tidak berdampak signifikan untuk parasnya. Mungkin bila Amorette becermin sekarang, paras eloknya akan tampak konyol. “Apa yang kau pikirkan?” Suara maskulin Reeval menyentak kesadaran Amorette. Amorette buru-buru beralih muka dari Reeval, menghadap luar teras untuk melihat sebagian besar dari pelataran taman yang sempat ia lalui bersama kesatria-kesatria tadi. Dari tingkat dua, Amorette baru sadar, pelataran megah kastel hanya sebagian kecil dari sekian bagian milik kastel lain. Parit melebar ke samping, bahkan penghujungnya tidak terjangkau dengan mata telanjangnya. Ia berdecak kagum dalam batin. Lucunya, tebersit pemikiran ironi—diam-diam Amorette menginginkan posisi Putri Aeradale untuk sekarang ini. Panorama kemegahan kastel terlampau sedap di mata. Hati kecil Amorette ingin menjadikan panorama depan teras sebagai kudapan sehari-harinya. Mau tidak mau, Amorette menertawai dirinya sendiri. Akan tetapi, ukiran di bibirnya sirna dalam satu kedipan. “Saya sedang memikirkan keadaan seseorang,” akunya, usai ia menjeda cukup lama untuk merespons ucapan Reeval. Reeval menoleh cepat. “Siapa?” Helaan napas lolos dari bibir ranum Amorette. Ia meletakkan lipatan kedua tangannya di atas pembatas teras, memandang lurus rembulan dan taburan bintang yang mengisi langit kelam Aeradale. Reeval menanti jawaban Amorette dengan tidak sabar. Ia melangkah ke sisi Amorette sembari menghunjamkan netra ke profil kiri wajah adiknya. Reeval seketika urung menagih balasan pasca mendapati Putri Aeradale itu berkaca-kaca. “Sepupu saya,” lirih Amorette. “Namanya Pierce. Sebelum berakhir di sini, Pierce masih bersama saya, tetapi ….” Sesak menyergap. Amorette memerlukan waktu sejenak untuk meneruskan kata-katanya. Dirasakannya panorama di depan sana mulai mengabur. Amorette mengejap singkat. Entah mengapa, ia tidak mau terlihat rapuh meskipun kepergian Pierce mengguncang jiwanya. Amorette bahkan tidak tahu bagaimana kabar sepupunya satu itu. Bisa-bisanya ia justru berakhir di sini—kastel menawan dan diperlakukan secara baik oleh sang Raja. “... Pierce diculik oleh sesuatu—saya rasa itu siluet.” Reeval mematung. “Siluet?” ulangnya. Gadis berparas elok itu menoleh cepat. “Kak Reeve tahu soal ini?” Lalu disebutkannya karakteristik siluet hitam yang masih Amorette ingat; figur hitam utuh, tubuh jangkung dan bisa bertumbuh, tidak berwajah, serta mengeluarkan sulur hitam. “Jika Anda tahu, bisakah Anda membantu saya untuk mendapatkan Pierce kembali?” Tidak salah lagi, Reeval membatin pasca kesadarannya telah naik ke permukaan. “Sudah larut. Tidurlah, Cavi,” perintahnya, datar. Amorette menggeleng keras. Ia tidak acuh bila bersikap bebal untuk saat ini. Keselamatan Pierce nomor satu. “Saya tidak mungkin bisa tertidur apabila Pierce—” Dua tangan Reeval yang terjuntai bebas mulai berkontraksi. Indra pendengarnya terasa panas mendengar nama asing itu. Siapa Pierce? Mengapa juga adiknya malah mencemaskan pemuda lain, sementara pria itu telah berada di sisinya? Reeval mencoba memutar otak, sampai satu buah nama familier terlintas di dalam pikirannya. Ck, pasti bocah itu. “Kau perlu beristirahat,” tekan Reeval, final. “Ingat janjiku tadi? Esok hari, akan kujelaskan semua yang kutahu, termasuk kebenaran identitasmu sebagai Arcaviel.” “Tetapi, Kak—” “Jangan bebal.” Pria itu mendorong lembut kepala belakang Amorette untuk ia sandarkan ke d**a bidangnya. “Selamat tidur, Cav.” Rasa kantuk muncul tanpa aba-aba. Tanpa sepengetahuan Amorette, telapak tangan besar Reeval menguarkan sulur-sulur kehitaman. Pria itu kemudian menekan kepala belakang Amorette. Dapat ia rasakan kepala adiknya tidak lagi bertenaga. Lambat laun, tubuh Amorette ikut melemah. Kesadaran Amorette hilang saat itu juga. Ia tumbang, bertepatan Reeval merengkuh erat tubuh rapuhnya. * Mengejap sekali, sebuah anak tangga tampak bersandar di dinding parit. Colekan singkat di pipi kanan mengalihkan atensinya secepat kilat. Seorang pemuda—ia tidak dapat melihat dengan jelas karena wajahnya mengabur, mulai beranjak naik. Kaki pemuda itu terlihat sangat lincah kala menaiki satu per satu undakan. Tampaknya sudah terbiasa dengan itu. “Ayo, naik! Kau lamban!” ejek pemuda itu. Tidak menghiraukan ejekan, ia segera menyusul dengan sedikit kesulitan. Dipandanginya pemuda itu tertawa lepas dan merentangkan tangan ke sisinya. “Aku bisa sendiri,” gerutunya, masih mencoba untuk mengangkat satu-satu kakinya pada undakan. “Lama. Sini, jangan bebal.” Pemuda yang telah menduduki bagian teratas parit, hendak meraih tangannya. Ia terlalu gengsi untuk menerima uluran tersebut, sehingga menampik tangan pemuda itu jauh-jauh. Namun, anak tangganya berguncang. Ia kehilangan keseimbangan. Sebelum ia benar-benar terjatuh, pemuda itu menangkap pergelangan tangannya. Ia menurunkan pandangan ketika anak tangga tadi sudah terjatuh ke samping. Netranya kemudian mengilat kesima sewaktu sulur-sulur hitam muncul seperti kabut, tepat di bawah kakinya yang menggantung bebas. Senyumnya merekah. Ia bisa merasakan tubuhnya melayang naik sampai sejajar dengan pemuda itu. Dapat ia dengar gerutuan dari arah si pemuda. Ia segera saja mengulaskan senyum manis. “Salahkan tangganya,” ucapnya, menunjuk anak tangga yang tergeletak di tanah. “Salahkan kau,” kening pemuda itu mengerut tidak sependapat, “siapa suruh tidak menerima tanganku?” “Aku malas mencuci tanganku lagi,” balasnya, enteng. Pemuda itu mendelik tidak suka. “Kau kira aku apa, hei?!” Bertepatan sulur serupa kabut menghilang dari bawah kakinya, ia segera duduk di samping pemuda itu. Dapat ia rasakan pandangan pemuda itu terus tertuju kepadanya begitu ia masih dibuat terkesima oleh kabut tadi. Merasa kebingungan, ia lantas menoleh untuk memandang balik pemuda di sampingnya. Sentuhan di dagu membuatnya mendongak dan bibirnya sedikit terbuka. “Tidak ada siapa pun di sini,” kata pemuda itu, dengan sejuta makna di dalam kalimatnya. Ia tertawa merdu. “Aku benci melihat kita hanya bisa melakukan ini diam-diam,” balasnya. “Suatu saat nanti, kita tidak perlu melakukannya secara diam-diam.” “Setelah kau melangkahi mayat kakakku, maksudmu?” tanyanya, cemberut. Pandangan pemuda itu melunak. “Aku akan mencari cara la—” Ucapan pemuda itu terputus kala bibir ranum lawan bicaranya telah menyapu halus miliknya tanpa aba-aba. Tendensi lumatan bibir keduanya semakin kuat dan lasak. Jemari kukuh pemuda itu mengusap lembut dagu gadisnya. Ia bisa merasakan lidah pemuda itu mampu menjamah atap mulutnya. Satu kali, dua kali, bahkan berkali-kali. Rasa vanila tidak pernah absen meresap di indra pengecap begitu mereka masih berbagi napas. Cukup lama, sampai pemuda itu mendekatkan bibir menuju telinganya dengan napas terengah-engah. “Kelihatannya kau sudah andal, hm?” “Siapa dulu yang selalu mengajarkanku?” ia balas berbisik sembari tertawa manis, “tentu saja kau.” Pemuda itu mengacak surainya sampai awut-awutan, kemudian menghirup pelipis kirinya cukup lama—untuk mengingat betapa harumnya aroma tubuh lawan mainnya. Tanpa mereka sadari, ada sepasang netra mengintai dari atas menara. Guratnya mengeras dan pandangannya menajam. Si pemuda yang sedang menikmati harum tubuh gadisnya sadar, tetapi kala ia mendongak, tidak ada siapa-siapa. Irama ketukan pintu membuatnya terjaga. Amorette sontak mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia sempat panik lantaran ruangan ini bukan kamarnya, namun setelah mengingat-ingat, helaan napas lolos dari bibir ranumnya. Ia berada di Aeradale, bukan di Silkvale. Semalam, ia bertemu dengan sang Raja—Reeval—yang mengaku sebagai kakaknya. Tentu sampai detik ini, Amorette tidak percaya. Ia mengamati sejenak perbedaan ruang kamar aslinya dengan ruang kamar Putri Aeradale. Teramat berbeda. Ada almari putih gading sebelah pintu masuk, sedangkan kamar aslinya hanya lemari biasa berwarna cokelat. Ada meja rias yang sengaja diletakkan berseberangan dengan dipan, sedangkan kamar aslinya bermodal cermin dan nakas saja. Masih banyak lagi, namun kesenjangan sosial ini hanya akan membuatnya sedikit kesal. “Putri Arcaviel,” suara feminin dari luar kamar terdengar, “apakah Anda masih tertidur?” Amorette tersentak. Ia buru-buru menyingkap selimut hangat—tunggu, sejak kapan ia tertidur di dipan? Seingatnya, semalam ia berada di teras. Mungkin Kak Reeve memindahkanku, terkanya, entah itu kabar baik atau kabar buruk. “Ya, sebentar. Masuk saja tidak apa, aku sudah bangun.” Pintu kemudian terbuka dengan hati-hati, menampakkan batang hidung seorang gadis berseragam hitam. Ada apron putih yang talinya terikat di leher. Kucir duanya menutup sedikit dari apron tersebut. Amorette mengejap singkat. Manis sekali, ia membatin secara tanpa sadar. Pasca menilai penampilan gadis asing paras manis itu, Amorette menebak bila ia merupakan salah seorang pelayan Aeradale. Senyum terulas di bibir ranum Amorette sembari melipat selimut, namun pelayan di ambang pintu spontan memelototinya. “Putri sedang apa?” tanyanya, kaget. “Merapikan—” “O-Oh, tidak perlu, Putri. Biar saya saja.” Gadis itu buru-buru memasuki ruangan dan mengambil alih selimut dari tangan Amorette. “Yang Mulia Raja memanggil Anda untuk makan siang.” Mendengar kata Raja, Amorette lantas mengurungkan niat untuk merebut kembali selimut tersebut. Pelayan yang belum ia tahu namanya itu mengerjakan pelipatan kain penghangat tubuhnya dengan tanggap. Begitu selesai, ia mengantar Amorette menuju ruang makan sambil mengintroduksi diri. Benar dugaan Amorette, Sahara Yvette—nama gadis berparas manis itu, mengabdikan diri sebagai pelayan Aeradale. Kata Sahara, Reeval menugasinya untuk melayani Amorette—dan tentu saja, Amorette diam-diam mengelaknya. Ia akan pergi dari sini setelah membuktikan kepada Raja Aeradale bahwa Amorette bukan Arcaviel, adiknya. Kecuali bila Reeval bersedia membantu Amorette untuk menemukan Pierce. Jika itu terjadi, ia mungkin bisa berada di sini lebih lama lagi, berpura-pura sebagai Arcaviel tentunya. Amorette mengulum senyum kecut. Mengapa ia jadi bertingkah picik seperti ini? Padahal kedepannya, Amorette bisa saja dihukum mati karena telah memanfaatkan Raja Aeradale demi sepupunya. Helaan napas untuk kali sekian lolos dari bibir Amorette. Pierce, kupastikan kau berhutang nyawa kepadaku setelah ini …, batinnya, tidak sungguh-sungguh. “Selamat siang, Putri.” Suara maskulin yang tidak asing merangsek ke indra pendengar Amorette. Kala ia mendongak, Amorette lantas memakukan pandangan menuju figur di depan pintu dua rangkap ruang makan. Kesatria Deulake berdiri kikuk di sana. Hari ini ia tidak mengenakan zirah. Jika bukan karena surai pirang terikat bagian tengahnya, Amorette mungkin tidak akan mengenali kesatria itu. “Siang juga, Marc.” Amorette melemparkan senyum tulus. Ironisnya, dapat ia lihat Marcus terbatuk singkat dan buru-buru menarik knop pintu dua rangkap. “Silakan masuk. Yang Mulia telah menunggu Anda,” katanya. “Terima kasih.” Amorette memasuki bagian dalam ruangan usai pintu terekspos sempurna. Ia berbalik sesaat begitu tidak merasakan Sahara dan Marcus mengekornya. “Kalian tidak ikut makan?” “Hah?” Marcus spontan bersuara. Tersadar, ia buru-buru berkata, “Tidak, Putri. Kami sudah makan tadi.” Amorette menjatuhkan tatapan kepada pelayan manis di sisi Marcus. “Sahara juga sudah?” tanyanya, memastikan. “Biarkan mereka, Arcaviel.” Suara maskulin dari dalam ruangan menyentak Amorette dari rasa penasaran. “Masuklah, kau belum sarapan.” Yang dipanggil lantas berbalik. Di sanalah perawakan Raja Aeradale terlihat, sedang berdiri di salah satu sisi kursi meja makan besarnya. Reeval mengangguk singkat kepada dua sosok di belakang Amorette. Pintu kemudian menutup rapat, meninggalkan mereka hanya berdua. Atmosfer dingin merebak seiring Amorette berjalan mendekat. Reeval bertanya, bertepatan adiknya sampai di seberang pria itu, “Bagaimana tidurmu?” “B-Baik,” ucap Amorette, ragu-ragu. Ia jadi teringat dengan mimpi tadi—bunga tidur abstrak yang tidak dapat ia panggil kembali. Semakin Amorette coba untuk mengingatnya, semakin mengabur juga citra mimpi tersebut. Melupakan semua itu lebih dulu, ia memandang Reeval yang menginstruksikan Amorette untuk segera duduk berseberangan dengan pria itu. Amorette menelan liur, tergugah saat aroma kudapan yang terhidang di atas meja menguar sampai ke rongga hidungnya. Perut gadis itu meraung-raung, namun ia mengabaikan rasa lapar itu dengan mengamati Reeval. Merasa ditatap, netra hitam Reeval memancang lurus kepada manik biru adiknya. Ia bisa merasakan gelagat risi—atau entahlah, hanya dengan melihat cara duduk gadis itu. “Ada apa? Kau tidak suka menu—” “B-Bukan, Kak.” Amorette menggeleng cepat. “Maaf jika terkesan buru-buru, namun bisakah Anda menjelaskan tentang siluet yang saya bicarakan kemarin?” “Jangan berbicara seformal itu.” Reeval memicing tidak suka. “Isi perutmu lebih dulu, Cavi. Kau melewatkan sarapan, tidak baik untuk lambungmu.” Amorette membasahi bibir ranumnya sejenak. Ia ingin memprotes, namun urung karena perintah pria itu kedengaran mutlak. “Baik, Kak,” jawab Amorette, seadanya. Helaan napas kemudian lolos dari pria di seberangnya. Ragu-ragu, gadis bernetra biru itu mendongak dari bacon yang baru saja ia ambil untuk piringnya dan memandang bingung gurat kusut pria itu. Salah apa lagi dirinya? “Cukup panggil aku Reeve,” tutur Reeval, menujukan atensi ke hidangan bacon pria itu kembali—tanpa berkata apa-apa lagi.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN