05. Putri Aeradale?

1949 Kata
Pintu menara berderak menutup rapat. Dalam sekejap, terang rembulan telah meruah di atas kepala Amorette dan Raja Aeradale. Ironisnya, hanya mereka. Menara di belakang atau jajaran barak di depan tidak tersentuh sinarnya secuil pun. Mungkin suatu kebetulan saja. Atmosfer hening namun damai terasa begitu nyata. Amorette seketika lupa akan tempatnya saat ini. Sejak tadi, ia benar-benar diam membisu pasca menerima perlakuan tak terduga dari Raja Aeradale. Bukannya menagih alibi, pria itu malah mengangkut Amorette seperti memikul karung beras—mengusungnya bertolak dari dalam menara, menuju entah ke mana. Pria tampan itu kemudian membenarkan posisi tubuh semampai penyusupnya di atas pundak, spontan lengan Amorette di antara lehernya melingkar erat. Napas Amorette tersekat. “Y-Yang Mulia, saya bisa jalan sendiri,” katanya, setelah ia sadar atas posisinya saat ini. Raja Aeradale tidak menghiraukan. Bobot tubuh Amorette pada pundak kanannya masih ia tanggung tanpa terlihat terbebani. Kentara dari afek datarnya—yang tidak terjangkau indra penglihat Amorette, pria itu enggan menurunkannya. Amorette buru-buru mencoba untuk mengayun kaki. Belum sempat menendang udara, bibirnya telanjur meloloskan rintihan. Rasa nyeri dengan cepat menghampiri area kaki yang terkilir. “Jangan keras kepala,” tegur sang Raja, melirik singkat punggung Amorette di atas pundak. “Kecuali kau ingin kakimu patah.” Bicaranya terlalu santai, tidak selaras dengan ancaman terselubung di balik kalimat itu; diam atau kupatahkan kakimu sekarang. Amorette dibuat pucat bukan main karenanya. Ia tanpa sadar mulai berkeringat dingin dan tremor. Raja Aeradale cukup peka untuk mendeteksi ketakutan gadis itu terhadapnya. Tanpa sadar, pria darah biru bernama lengkap Reeval Lanford itu mengangkat satu sudut bibirnya, tersenyum arogan. Amorette, mau tidak mau, tunduk. Kalau sudah begini, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Pada akhirnya, ia menenggelamkan wajah di punggung Reeval lantaran tidak sanggup lagi menahan kepalanya di udara. Dapat ia lihat menara mengecil seiring Reeval mengusungnya semakin jauh, melintasi jajaran barak. Pintu-pintu usangnya tertutup rapat. Sebagian penghuni barak sepertinya tertidur pulas, dan sebagian lagi terjaga—ada pasang-pasang netra mengintip pada celah tirai lusuh. Ringkik kuda terdengar dari sisi kirinya—kanan bila dari posisi tubuh Reeval saat ini. Amorette beralih muka dari jajaran barak, mendapati istal tepat di sisi kiri. Rupanya, ia dan Raja Aeradale telah mencapai lokasi di mana para kuda terparkir. Amorette tanpa sengaja menjatuhkan pandangan ke salah satu kuda putih dan bersurai lebih lebat dibanding yang lain. Mata hitam bulat kuda putih tersebut sangat cantik. Ada bulu mata lentik di sana. Lengan kiri Amorette spontan terentang menuju kepala hewan itu, berniat menjamahnya. Tidak lama, antusiasme dan keterpanaan Amorette memudar. Ia gagal menjamah kuda tersebut, mengingat posisinya saat ini. Gadis itu mengerucutkan bibir, menarik kembali tangan terentangnya, lagi-lagi melingkari leher milik pria yang masih memikul tubuhnya seperti karung beras. Reeval mengamati kelakuannya diam-diam. Ia berbelok ke kanan setelah melintasi istal. Netra biru Amorette masih terpancang lurus kepada kuda itu sampai batang hidungnya raib ketika mereka memasuki belokan. Amorette berakhir menatap pelataran lagi dan beralih muka dari sana, memandang bangunan berarsitektur victorian yang luasnya bukan main. Ornamen ruwet namun atraktif terpahat secara elegan di dinding kastel. Belasan jendela berjarak satu rentang tangan berderet dengan begitu apik. Bentuknya bukan sekadar kotak—seperti desain umum di desanya, melainkan pada bagian puncak kaca menyerupai kubah. Kusen kayu bercat putih gading mengelilingi bentuk jendela kastel. Dari satu jendela ke jendela lain, peletakannya teramat simetris. Deretan jendela itu telah mereka lalui sampai langkah Reeval berhenti tepat di depan serambi. Agak condong ke dalam, sebuah pintu kayu bercat selaras dengan warna dominan kastel menguasai atensi Amorette secepat kilat. Ia membeliak kala itu juga. Raja Aeradale rupanya sangat serius dengan ucapannya—tentang pria itu akan mengusung Amorette menuju kastel. Fakta tidak terduga itu … apakah memang benar? “Kau ingin mati, ya?” Marcus Deulake terdiam membisu pasca mendengar penuturan amarah tertahan dari tuannya. Amorette bisa melihat kilat keheranan dari sepasang netra di balik helm kesatria itu. Ada sedikit ketakutan di sana, namun tidak terlalu kentara. Identitas di balik atribut zirah itu sepertinya sudah terbiasa mendapat amukan. Ketimbang takut, ia lebih penasaran dengan raut Raja Aeradale saat ini. Pria berdarah biru itu menghela napas. “Kau bangunkan pemedis, segera temui aku di kamarnya,” perintah sang Raja, melirik singkat Amorette yang masih terduduk di lantai menara. “B-Bagaimana, Yang Mulia?” di luar kesadaran, Marcus lagi-lagi menggaruk helm, “Kamarnya?” Kesatria itu tercengang begitu Raja Aeradale meraup kedua ketiak Amorette secepat kilat dan memikulnya ke pundak. Amorette terkesiap, secara impulsif melingkari leher pria itu erat-erat. Yang dilingkari lehernya saat ini tidak mengambil pusing, kontras dengan Marcus. Ia tidak bisa menyamarkan keterkejutan meski tubuhnya tertutup oleh lapisan baja. “Ia adikku, bagaimana bisa kau tidak mengenal ciri-cirinya?” geram tertahan sang Raja. “A-Apa?” sahut Amorette, ukuran pupilnya kini sama besar dengan milik Marcus. “Apa lagi yang kau tunggu?” Raja Aeradale memelototi kesatrianya. “Cepat bangunkan pemedis nomor satu kerajaan atau kupatahkan kakimu sekarang.” Marcus tidak lagi menyempatkan diri untuk bertanya lebih lanjut. Buru-buru ia bertolak dari menara untuk memanggil pemedis nomor satu Aeradale atas perintah dari sang tuan. Netra biru, surai cokelat pirang. Sial, mengapa ia baru ingat ciri-ciri Putri Aeradale sekarang? Bahkan Raja sudah berkali-kali mengingatkannya. Hah, baiklah, keteledorannya masih dapat Marcus pikirkan di lain waktu. Sebelum sang Raja akan mematahkan kaki—atau bagian terburuknya, memenggal kepalanya, ia harus membangunkan Lobelia Anh sekarang. Pintu kayu dua rangkap itu berderit. Bagian dalam kastel terekspos. Reeval meneruskan langkah tegapnya, tetap memikul tubuh ringan Amorette. Pria itu melirik singkat dua kesatria tanpa helm zirah yang menunduk hormat di dekat pintu. Tanpa berkata apa-apa, Reeval dan Amorette beranjak dari sana. Dua kesatria itu bertatapan, baru menjatuhkan netra mereka kepada manik biru sarat permintaan tolong Amorette. Kesatria-kesatria itu beralih muka darinya. Amorette menggerutu singkat. Hanya samar, namun Reeval bisa mendengar. Ia tidak begitu acuh. Yang Raja Aeradale lakukan hanya terfokus ke depan selagi pria itu melintasi lorong kastel. Jajaran lukisan aliran gotik mendampingi perjalanan mereka. Amorette menilik satu-satu lukisan tersebut, terkagum-kagum dengan kapabilitas para pelukis. Di antaranya, ada lukisan Raja Aeradale. Gurat-gurat pria itu terlukis sedemikian rupa—terkesan sangat riil. Ah, Amorette jadi ingin meminta pelukis-pelukis itu melukiskan parasnya. Itu mustahil, sih, mengingat sebagai apa dirinya sekarang. Penyusup kontinen Aeradale? Para kesatria, terkhususnya Kesatria Deulake, telah menganggapnya demikian. Raja Aeradale sudah pasti bercanda, tentang identitasnya sebagai Putri Aeradale. Ia bahkan tidak melihat satu pun figurnya dalam lukisan. Lorong berlanjut sampai ke penghujung. Akan tetapi, tepat di pertengahan kastel samping kiri, sebuah tangga spiral marmer menjulang sampai ke lantai dua. Reeval mengusung Amorette menaiki satu per satu undakan tanpa kesulitan. Padahal, Amorette sedikit ngeri mengingat tangga ini cukup tinggi. Bila mereka jatuh, bagian terbaiknya hanya patah tulang, atau bagian terburuknya, mereka mati terpenggal undakan. Amorette bergeming pasrah. Nyeri pergelangan kakinya mulai pulih, hanya saja masih terasa senyar—mungkin karena ia jarang menggerakkannya. Pegangan di leher Reeval mengendur bertepatan mereka sampai di lantai dua. Pintu-pintu kini menyambut keduanya. Jumlah ruangan di lantai dua tidak terlalu banyak. Sebagian besar dinding lorong lagi-lagi berisikan lukisan yang membuat Amorette membeliak kala itu juga. “Yang Mulia,” Amorette berbicara lirih dengan sepasang netra tertuju kepada lukisan wajahnya, “Anda bisa menurunkan saya sekarang.” Lukisan beraliran gotik itu tidak benar-benar mirip. Tetapi, Amorette yakin benar itu memang parasnya. Bukan seperti ia terlampau percaya diri, apalagi surai cokelat pirang dalam lukisan itu hanya sepundak. Manik biru, hidung bangir, dan bibir ranum betul-betul mencerminkan identitasnya. Amorette tidak bisa berkata apa-apa. Apakah ini hanya ilusi optik semata? Lagi, Raja Aeradale tidak menghiraukan keinginannya. Pria itu terus meneruskan langkah. Derap kakinya asertif, suatu pembawaan alami seorang raja. Ia melangkah lurus ke depan sampai berhenti di sebuah pintu berornamen. Letaknya paling ujung, berseberangan dengan pintu berornamen lain. Ornamen itu selaras dengan permukaan dinding kastel tadi. Terkesan ruwet namun atraktif. Dua pintu tersebut paling kontras daripada jajaran pintu lain. Menggunakan satu tangan bebasnya, Reeval memutar knop. Bagian dalam ruangan terekspos sempurna. Aroma pengap tidak lama tercium setelahnya. Jemari kukuh pria itu segera meraba-raba dinding. Kala ia menemukan sakelar dan menekannya, lampu kandil berlapis kristal di tengah ruangan menyala. Sinar lampu kontan menerangi seisi ruangan. Reeval mengusung Amorette untuk duduk di atas dipan ukuran raja. Suara dipan berderak. Amorette menghela napas lega. Akhirnya, ia terbebas dari posisinya yang seperti karung beras. Namun, Amorette teringat kembali bila dirinya belum benar-benar bebas. Masih ada Raja Aeradale itu, tidak mungkin ia bisa tenang saat mengingat ulang takdirnya saat ini. “Ini benar-benar kau,” telapak tangan Reeval meraup pipi Amorette dan mengusapnya dengan ibu jari, “aku benar-benar merindukanmu, Cavi.” Manik biru Amorette mengilat gentar. “Anda siapa?” tanyanya, gemetaran. Reeval ingin marah. Rahangnya telah mengeras, tetapi segera ia tekan kemarahan itu kuat-kuat dengan mendekap kepala gadis itu. “Aku kakakmu—Reeval. Reeve. Biasa kau menyebutku itu.” “Kak … Reeve?” Amorette mengeja namanya, kelu. Ia benar-benar asing. Segera ia menarik diri dari Reeval dan mengimbuh sembari menahan gugup, “M-Maaf, sepertinya Kak Reeve salah orang.” “Tidak. Aku tidak mungkin salah jika itu tentangmu, Cav.” Amorette membasahi bibir ranumnya takut-takut. “Saya tidak mengenal Kakak. Di dalam keluarga saya, saya hanya anak tunggal,” akunya. Akan lebih baik bila ia berkata jujur, meskipun penentu takdirnya ada di depan mata. “Siapa namamu?” tanya Reeval. Degup jantung Amorette mengeras. Raja Aeradale percaya? “Amorette. Amorette Tallis, Kak.” “Amorette.” Reeval mengeja namanya dengan kerutan dalam di dahi. “Baiklah. Detik ini juga, identitasmu bukan lagi nama itu. Arcaviel—itulah identitasmu mulai dari sekarang.” .... Atau tidak. Baru saja Amorette ingin mengelak, kedatangan dua orang di ambang pintu membuatnya urung. Reeval mengikuti arah pandang Amorette. Ia lantas berbalik untuk bersemuka dengan bawahan pria itu, seorang pria beratribut zirah tanpa helm dan seorang gadis berbusana pelayan. Gadis itu menunduk takut-takut kala merasakan tatapan tajam Reeval menghunjamnya. “Deulake, bukankah aku memerintahkanmu untuk membangunkan Anh?” Deulake? Amorette termangu. Kesatria tadi—si Marcus Deulake—tidak lagi mengenakan helm. Itu membuat Amorette menjadi pangling. Surai pirang Marcus terbilang panjang untuk seukuran pria. Sedikit helaian terikat ke tengah kepala sehingga tidak menutupi paras tegasnya. Dibandingkan seorang kesatria, Marcus lebih tampak seperti seorang bangsawan. “Kebetulan setelah Anh menampar dan mengusir saya, pemedis ini muncul.” Marcus memandang santai si gadis. “Lagi pula, Yang Mulia, adik Anda tidak terluka parah.” “Terserah.” Reeval bersandar ke almari dekat pintu, mengedikkan dagu ke arah Amorette. “Kuberi kau lima menit untuk memulihkan adikku.” Pemedis itu kontan melangkah terburu-buru menuju Amorette. Ia tampak gugup bukan main. “Permisi, Putri,” gumamnya, meminta izin kepada sang Putri untuk memulihkan sekujur tubuh Amorette. Amorette mengejap. Pemedis tersebut datang dengan tangan kosong. Mana mungkin ia dapat—eh? Amorette mematung. Nyeri dan geranyam pada area pergelangan kakinya raib secara utuh, bertepatan sulur-sulur kehijauan muncul dari permukaan telapak tangan pemedis. Amorette langsung menggerakkan kaki, mengayun berkali-kali, dan kakinya benar-benar tidak terasa sakit lagi. Bagaimana bisa? heran Amorette. “Bagaimana bisa Anda ….” “Cukup. Kau bisa pergi sekarang,” putus Reeval, mengabaikan suara penuh keterkejutan dari adiknya. Tanpa berlama-lama, si pemedis lekas meninggalkan ruang kamar Putri Aeradale. Langkahnya terlihat begitu terburu-buru, melintasi Marcus di ambang pintu. Entah mengapa, gurat Kesatria Deulake terlihat jauh lebih santai saat tidak mengenakan penutup kepala. Tidak seperti saat di bawah menara tadi, Marcus kebingungan dan gugup bukan main. “Arcaviel.” Reeval datang mendekat, beranjak dari sandarannya di pintu almari. Saat telah sampai di hadapan Amorette, ia lebih dulu melirik kesatrianya, baru memandang teduh sang adik. “Sekarang, beri tahu aku. ” Sebentar, firasat Marcus jadi tidak enak. Ia mendeham parau. “Beri tahu aku—kekerasan apa saja yang telah Deulake perbuat kepadamu?” Ck, Marcus telah menduga itu. Ia spontan meremas kedua pelipisnya. Tamat kau sekarang, Deulake tolol.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN