Kelontang zirah merobek senyap. Ia jatuh terduduk ketika berpasang-pasang kaki berbalut lapisan baja itu menapak tanah, telah turun dari pelana kuda masing-masing. Satu dari orang-orang beratribut zirah itu memutari tubuh Amorette, sedangkan lainnya datang mendekat dan berancang-ancang menarik busur. Amorette tersudut. Ia tidak berani lagi melontarkan suara. Terakhir kali ia coba berbicara, anak panah memelesat untuk kali kedua.
Itu hanya gertakan agar ia bungkam. Gadis malang itu terduga-duga sebagai seorang penyusup kontinen Aeradale—mereka sebut demikian. Orang-orang itu, menilik dari atribut zirah yang mereka kenakan, sudah pasti kesatria dari kontinen Aeradale-Aeradale ini. Berpasang-pasang netra setajam elang terasa mengintai sekujur anggota tubuhnya dari balik helm zirah.
“Bangkitlah.” Kesatria paling dekat dengan Amorette tiba-tiba saja meraup ketiaknya, mendesak gadis bergaun serut biru tanpa motif itu berdiri. “Bersiap untuk menemui ajalmu sebentar lagi karena sudah menyusup kemari.”
“Sudah kubilang, aku bukan—aduh,” Amorette seketika beralih muka dan merintih.
Ia sepertinya terlalu bersemangat menoleh sampai sudut bibirnya bersinggungan dengan lapisan baja luar biasa keras itu, menerbitkan sensasi pedih di dekat bibirnya. Bisa ia rasakan tumbuh satu buah bonggol, untungnya tidak begitu besar. Amorette mengejap. Mengapa juga ia perlu memikirkan besar atau tidaknya bonggol tersebut di saat ia sendiri akan menemui ajal sebentar lagi?
“Kau pasti pionnya,” kata si kesatria, mengangkat pinggang Amorette dengan lancang ke atas kudanya. “Cukup disayangkan karena ketua bodoh itu akan kehilangan pion cantiknya sebentar lagi.”
Amorette bersuara lirih, “Aku tidak mengerti maksudmu.”
Lecut cambuk membelah udara, mengagetkan Amorette saat itu juga. Ia terperanjat dan melompat kecil dari pelana kuda, sedangkan si kesatria tepat di belakang terfokus ke depan. Belasan derap tapak kaki kuda mulai terdengar kala kuda tunggangan mereka berbalik arah menuju lembah. Amorette baru sadar, daerah ini persis dengan lembah tadi.
Tebing batu berlubang-lubang menamengi bagian dalam kontinen dari dunia luar. Yang menjadi pembeda adalah tidak ada rawa-rawa, namun lebih mengejutkan lagi saat kuda mereka mencapai turunan. Bukan hanya permadani rerumputan, melainkan ada himpunan kelap-kelip—yang sempat ia lihat dari dalam perbukitan. Letaknya cukup jauh dari mereka, bersumber dari puluhan rumah yang tersebar di sana sini.
Amorette menengadah ke langit. Netra birunya mengilat terpana. Butir-butir penuh kilau melatarbelakangi bentangan pekat langit, mendampingi sang rembulan. Seingat Amorette, tidak ada bintang—hanya terang rembulan. Bukan karena ia sempat menapak di lembah tadi, melainkan cukup jarang juga terlihat bintangan dari Desa Silkvale.
Jauh dari sentuhan polusi perindustrian tidak menutup kemungkinan desanya bersih.
“Jangan berlagak kau tidak pernah kemari, Nona Penyusup.”
Apa-apaan? Amorette rasanya ingin marah, namun ia seketika urung. Gadis itu perlu menjaga sikap agar alibinya dapat diterima dengan baik oleh atasan mereka. “Itu memang benar,” balas Amorette, seadanya.
“Yang Mulia Lanford tidak akan menoleransi seorang penyusup sepertimu, apalagi kau pasti berasal dari orbit sialan itu. Akui saja, Nona. Jujur atau tidak, kau tetap akan berakhir ditebas.”
Amorette melipat tangan di depan d**a. Ia hanya diam, percuma saja untuk mendapat kepercayaan dari kesatria bebal itu. Untuk saat ini, ia akan mencoba menyusun kata-kata dan mengolah kalimat agar terdengar meyakinkan bagi Yang Mulia Lanford—entah siapa dia. Netra birunya menatap lurus ke depan. Kosong melompong selain rumah-rumah pedesaan.
Penghuni di dalamnya mungkin sudah tertidur pulas, bergelung di balik kehangatan selimut masing-masing.
Kuda-kuda para kesatria tidak melintasi pedesaan. Lecut cambuk kembali membelah udara, seketika kuda tunggangan Amorette dan kesatria lain berbelok arah. Mereka tidak benar-benar mencambuk hewan berkaki empat itu, melainkan menarik tali kekang terlalu keras sampai suaranya mirip cambukan. Amorette cukup lega karena setidaknya kuda-kuda itu tidak perlu merasakan kesakitan.
Lucu, ia malah memedulikan kondisi belasan hewan tersebut di saat-saat situasi krusial seperti sekarang ini. Padahal, penentuan takdir Amorette berada tidak jauh di depan mata. Pasca kuda berbelok arah, memang terlihat langsung dari sepasang netra biru Amorette, ada sekelompok bangunan besar, berjarak sekitar satu kilometer kedepan. Parit bebatuan membentengi bangunan-bangunan bercat putih gading itu, melindungi bagian dalam dari ancaman luar.
Amorette menduga itu adalah kastel, meski ia sendiri masih skeptis. Derap kaki kuda terasa semakin cepat. Pelana di b****g Amorette seperti akan lepas dari tubuh hewan berkaki empat itu bila saja tidak ada si kesatria dan dirinya di atas kuda. Lecutan cambuk lagi-lagi terdengar. Amorette sedikit terperanjat kala mereka berbelok tajam ke kanan.
Detik itu juga, ia baru sadar sisi kanan mereka sedari tadi bukan lahan kosong, melainkan kubus-kubus rerumputan tinggi seperti yang biasa ada di dalam labirin. Bicara tentang labirin, Desa Silkvale sudah sangat familier dengan lorong-lorong rerumputan pengecoh itu—kerap dijadikan lokasi perlombaan lokal untuk para penduduk memenangkan cendera mata.
Para kesatria meneroboskan kudanya masuk melalui sebuah terowongan yang sengaja diciptakan sebagai akses keluar masuk kastel. Kini, tepat di depan mata Amorette, terlihat gerbang kayu raksasa dalam keadaan terkunci rapat. Ia tidak bisa mencegah manik birunya membulat. Para penunggang kuda tidak ada niatan untuk berhenti, seperti ingin menyerbu gerbang tersebut bertubi-tubi.
“Pasukan inti Yang Mulia telah kembali!” Suara maskulin seorang pria terdengar dari atas menara. “Buka gerbangnya!”
Amorette tidak dapat melihat raganya di atas sana. Pria itu mungkin berada di sisi berlainan dengan mereka. Gerbang kemudian menderit. Seperti telah lekang dimakan waktu dan tidak diberikan pelumas, suaranya terlampau pekak. Amorette dibuat memicing karenanya. Ia menghela napas untuk sekian kali. Debu-debu beterbangan mengikuti arus angin bertepatan dibukanya gerbang itu.
Tanpa menghentikan pacuan kuda, para kesatria melintasi gerbang dengan sangat cepat. Indra penglihat Amorette mengedar ke sekeliling. Seakan-akan lupa tempat, manik biru Amorette mengilat kesima. Pelataran taman dan pancuran air yang sedang mereka lewati terlihat begitu terpelihara. Lampu taman tersebar merata di setiap sudut. Ada kupu-kupu beterbangan, serta beberapa ekor tupai dan kelinci tertidur pulas menikmati angin malam.
“Turun.”
Suara maskulin si kesatria seketika menjungkirbalikkan suasana hati Amorette. Ia jadi teringat dengan takdirnya saat ini. Menahan cemberut, Amorette turun dari pelana. Ia terlalu fokus dengan keindahan pelataran sampai tidak sadar kesatria-kesatria itu telah memarkir kuda mereka. Bertepatan Amorette menapak di atas rerumputan berembun, si kesatria satu tunggangan dengannya lagi-lagi menarik kasar lengan gadis itu.
Amorette diantar secara paksa melintasi barak. Perlakuan tidak etis darinya membuat Amorette muak bukan main. Salah besar jika mereka mencemaskan Amorette akan melarikan diri dari orang-orang beratribut zirah itu. Ia lebih baik berserah diri lebih dulu sebelum memperkuat alibi. Amorette juga paham, mustahil dapat lolos dari para kesatria. Ia bukan tandingan mereka, sangat tidak sebanding.
Tepat di penghujung barak, sebuah menara tinggi tertanam di atas tanah. Sebagian cat putih gadingnya terkelupas, mengindikasikan sudah lama tidak terurus. Para kesatria menuntunnya ke sana. Begitu Amorette menoleh ke balik pundak, seorang kesatria lain berancang-ancang dengan busur terarah padanya. Amorette meringis. Ia betul-betul diperlakukan tidak etis.
“Cepat masuk,” ucap si kesatria, menyeret lengan Amorette memasuki bagian dalam menara.
Ketibaan Amorette langsung disambut dengan undakan naik dan undakan turun. Si kesatria satu tunggangan dengan Amorette ikut turun bersamanya, sedangkan kesatria lain menunggu di luar menara. Amorette mengikuti langkah besarnya dengan setengah hati. Kakinya terasa sakit, mengingat ia sempat berlari dan hampir terkilir beberapa kali karena siluet hitam tadi.
Kelontang besi zirah si kesatria mengisi gema dalam undak turunan menara. Beberapa kali kepala Amorette terantuk atribut tersebut karena ia bergerak terlalu lamban. Ia rasa si kesatria sudah muak dengan kelambanan Amorette. Di akhir turunan, tangan berbalut lapisan baja kesatria melepaskan cengkeraman dari ketiak Amorette.
BRUK!
Pembebasan tak terduga itu membuatnya hilang keseimbangan. Amorette berakhir terjatuh dengan dagu mencium permukaan lantai beton yang penuh debu. Ia spontan mengaduh. Benturan di dagu membuatnya kesakitan. Bahkan, netra birunya sudah berkaca-kaca. Amorette langsung dibuat memikirkan Pierce, kedua orangtuanya, dan Silkvale. Ia meraup udara sebanyak mungkin untuk menahan tangis.
“Keseimbanganmu payah untuk seukuran anggota orbit pembangkang itu.”
Netra asertif dari balik helm zirah si kesatria menginspeksi penyusup kontinen Aeradale di hadapannya yang masih tiarap. Amorette langsung sadar akan posisinya saat ini. Ia lekas bangkit, namun kali ini kakinya benar-benar terkilir. Amorette segera memegang pergelangan kaki kirinya sembari mengaduh. Baru saja ia melihat si kesatria ingin meraih kaki gadis itu, suara maskulin lain terdengar dari atas undakan.
“Sir Deulake, Yang Mulia Lanford telah berada di dekat sini.”
“Cepat sekali,” gumam si kesatria. “Pastikan dirimu tidak ke mana-mana.”
Kesatria Deulake buru-buru menaiki undakan. Amorette mengabaikan ucapan kesatria tidak berhati itu. Ia rasa Kesatria Deulake memiliki masalah kepercayaan. Mustahil ia bisa lolos dengan kondisi kaki seperti saat ini. Alih-alih menaiki undakan, Amorette justru menjauhkan diri dari undakan terakhir. Bisa ia rasakan gaun serut biru tanpa motifnya sudah penuh dengan debu.
“Pierce, kau di mana?” bisik Amorette, mengurut pergelangan kaki kirinya yang terasa sakit bukan main.
Hening. Pertahanan gadis itu seketika runtuh. Cairan bening lolos dari manik biru berkaca-kacanya. Air mata Amorette menetes di lantai beton hingga menciptakan noktah-noktah. Indra penciumnya terasa pedih. Ia kesulitan meraup udara sekitar, mungkin tersumbat oleh ingus atau terhambat karena terlalu banyak debu. Yang pasti, sensasi di ulu hatinya tidak mengenakkan. Firasatnya buruk.
Jemari lentik Amorette mengipas-ngipas netra panasnya. Sambil tetap mengurut pergelangan kaki kiri dengan tangan satunya, indra pendengarnya menangkap derap kaki lebih dari satu orang. Kesatria itu lagi?
“Di sini dia, Yang Mulia.”
Pandangan Amorette sedikit mengabur, tetapi ia dapat melihat dinding menara merefleksikan dua siluet. Suara derap semakin terdengar dekat. Amorette mengusap sepasang netra dan pipi basahnya, menunggu kedatangan dua orang itu dari atas undakan. Tidak lama, sepasang sepatu bot memunculkan batang hidungnya—disusul perawakan seorang pria tampan beratribut serbahitam, serta kesatria berzirah besi tadi.
Amorette terpaku. Pria itu sempat dipanggil Yang Mulia. Bila tebakan Amorette benar, berarti ialah atasan mereka.
“Kami menemukan bocah ini di perbatasan.” Kesatria Deulake berhenti di tengah undakan, sedangkan tuannya tetap turun. “Ia tidak ingin mengaku sebagai pion Orbit Desertir, bahkan sampai detik—”
“Kau ….”
Suara maskulin pria tampan bersurai hitam itu memotong kalimat kesatrianya dalam sekejap. Netra hitam setajam elang mengintai tubuh rentan Amorette dari atas sampai bawah. Amorette bisa menangkap kebingungan dari lagak Kesatria Deulake di balik atribut zirahnya. Jangankan kesatria itu, Amorette saja bingung bukan main kala atasan si kesatria ini mendekatkan diri padanya, bertelut, dan mendongakkan dagunya.
“Yang … Mulia?” gumam Amorette, gemetar takut-takut.
Manik biru Amorette tidak lepas dari milik pria itu. Mereka sempat menatap satu sama lain, sebelum akhirnya si Yang Mulia menjatuhkan tatapan ke sudut bibir dan dagu mungilnya. Rahang asertif pria itu seketika mengeras. Ia menolehkan kepala menuju Kesatria Deulake, membuat tubuh kesatria itu membeku kebingungan—bahkan tangan berlapis bajanya secara tanpa sadar malah menggaruk helm.
“Marcus Deulake.”
Kesatria bernama lengkap Marcus Deulake itu buru-buru menanggapi tuannya, “Ya, Yang Mulia Lanford?”
Rajanya geram bukan main mendapati reaksi polos kesatrianya. Lekas ia tatap Marcus dengan netra hitam menusuknya tersebut, kemudian bertanya dengan suara rendah, “Kau ingin mati, ya?”[]