Bekas rengkuhan pria itu masih cukup membuat Arcaviel untuk kembali terlelap. Tetapi, dikarenakan ia bangun dan tidak menemukan sosok Reeval di sisinya, Arcaviel mengurungkan niat untuk melanjutkan tidur. Ia berderap keluar kamar pria itu, berniat kembali ke ruang kamar pribadi Putri Aeradale, namun penampakan Sahara tepat di depan pintu membuatnya terlonjak.
Pelayan berparas manis itu masih menggantungkan kepalan di udara, sewaktu ia berkata, “Selamat pagi, Putri. Saya baru saja ingin membangunkan Putri.”
“Ah, selamat pagi, Sahara.” Arcaviel mengatur keterkejutannya dengan mengulaskan senyum manis. Ia menggeserkan tatapan menuju troli berisikan hidangan, mendadak ingin muntah ketika teringat kembali kejadian semalam. “Dapur memangnya sudah bisa dipakai?”
“Tentu saja bisa, Putri.” Sahara menatap nonanya bingung. “Memang ada apa dengan dapur?”
Eh? Apakah Reeve sudah mengurus tubuh kesatria itu? pikir Arcaviel, lantas menggeleng pelan sebagai respons untuk pelayan manisnya. “Tidak, tidak. Jangan dipikirkan. Omong-omong, di mana Reeve?”
Arcaviel bisa menebak bila pria itu tengah mendapat urusan, sehingga mereka tidak bisa menikmati hidangan di ruang makan. Sebetulnya, tanpa Reeval, Arcaviel bisa saja menuju ruang makan seorang diri. Hanya saja ia lebih nyaman tinggal di kamarnya ataupun kamar Reeval. Meskipun tidak etis-etis amat, keluarga aslinya maupun Reeval, tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut.
“Yang Mulia sedang mengurus seorang gelandangan, Putri.”
“Gelandangan?”
“Iya, Putri. Tadi pagi-pagi sekali, seisi kastel cukup gempar lantaran ada seorang gelandangan berusaha menerjang gerbang masuk.” Sahara menguraikan apa yang sempat ia dengar. “Lalu, Putri, anehnya beliau mengaku sebagai ayah dari Yang Mulia Raja dan Putri.”
“Astaga.” Arcaviel spontan berbicara, tiba-tiba sebuah nama terlintas dalam pikirannya. “Sekarang, di mana mereka?”
“Yang Mulia Raja mengusung beliau ke ruang kerjanya, Put—Putri?!” Sahara terperanjat ketika tahu-tahu saja Arcaviel sudah berlenggang ke kiri, ruangan di mana Reeval biasanya bekerja. “Kakak Anda melarang Anda untuk—”
Terlambat. Belum sempat Sahara menuntaskan bicaranya, Arcaviel sudah telanjur membuka pintu ruang kerja Reeval dan memasuki teritorialnya. Mau tidak mau, Sahara menjadi ketar-ketir sendiri. Pasalnya, Raja Aeradale sempat memerintahkan Sahara untuk mendampingi Arcaviel di ruang kamar sang Raja selama pria itu mengurus si gelandangan dari antah-berantah.
Kendati Sahara bingung mengapa Arcaviel tidur di kamar kakaknya, pelayan manis itu tetap menurut dan menampik pemikiran aneh tentang hubungan i***s sepasang saudara berdarah biru tersebut. Menggaruk tengkuknya selagi menghela napas, ia hanya bisa berharap Raja Aeradale tidak mengamuk ketika mendapati fakta Sahara gagal menahan Arcaviel menuju ruang kerjanya.
Ia menatap prihatin hidangan yang telah dipersiapkan para pemasak di dapur. Aku jadi lapar, batin Sahara, bersandar di dinding selagi menunggu nonanya kembali.
Sementara itu, di balik pintu ruang kerja Reeval, dugaan Arcaviel benar. Ia mendapati keberadaan Topaz Lanford, ayah dari Reeval, sekaligus kesatria pribadi dan penasihat kerajaan dulu. Terakhir kali Arcaviel melihat pria dengan usia mencapai kepala empat itu, Topaz sangat gagah, tetapi sekarang sungguh bertolak belakang.
Pria itu tampak lusuh, bertelut di hadapan Reeval, merengek untuk membiarkannya singgah di kastel. Reeval, seperti biasa, hatinya selalu keras. Ia menolak presensi Topaz atas satu dan lain hal. Mereka memang sempat bersitegang ketika Reeval melengserkan keluarga kerajaan dan mengisi posisi sebagai Raja Aeradale.
Topaz mengatainya dengan kalimat yang membuat Reeval, sebagai anak, merasa sakit hati. Topaz tidak sudi mengakui Reeval sebagai putranya, pria itu malu dengan Raja Aeradale asli—ayah Arcaviel dan Arcaviar. Jadi, Topaz tidak pernah lagi berhubungan dengan sang Raja asli semenjak beliau memilih pergi saking malunya dengan perbuatan Reeval.
Hati Reeval beku. Nuraninya sirna. Ia hanya menunjukkan kehangatan jika itu untuk Arcaviel, sisanya, pria itu tidak mau tahu.
“Yang Mulia, bagaimana keputusan Anda?” Lobelia Anh berdiri di samping kursi kebesaran Reeval, ia menurunkan tatapan menuju si gelandangan. “Saya rasa kejiwaan beliau sedikit terganggu.”
Reeval bergeming cukup lama. Ia tidak sudi menatap Topaz, merasa sedikit terganggu karena pria paruh baya itu masih bersujud di depan meja kerjanya. Raja Aeradale justru menatap titik lain. Arcaviel. Entah mengapa keberadaan sang Putri di sini membuat emosinya mereda, sekalipun ia sudah meminta Sahara untuk tetap mendampingi gadis itu di kamar.
“Bawa dia menuju menara pengasingan,” putus Reeval.
Arcaviel membeliakkan netra birunya. “Tidak!” ia spontan berteriak. “Reeve, kau tidak bisa seperti ini!”
Sudut netra Reeval berkedut tidak suka, sedangkan Lobelia hanya bisa terkejut karena perubahan sikap adik dari rajanya. “Kau tidak dengar tadi? Kejiwaannya terganggu, Cavi,” balas Reeval, tetap mengatur emosinya sedatar mungkin. “Ia mengaku sebagai ayah kita.”
“Tetapi, Re—” Arcaviel mengatupkan bibir tepat pria itu melemparkan picingan, “—intinya, kau tidak bisa bertindak seenaknya. Lobelia, kau pemedis andalan Aeradale, bukan? Pulihkan jiwa orang ini.”
“Putri, jika saya bisa, sudah saya lakukan sedari tadi.” Lobelia menghela napas. “Sebagai pemedis, saya hanya bisa menyembuhkan luka fisik, bukan luka batin.”
Telinga Arcaviel memerah, rasanya ingin marah. “Bawa dia ke kamar Brigid, bukan menara,” titahnya, terdengar menolak satu pun bantahan.
Lobelia melirik rajanya sepintas, kemudian menjatuhkan pandangan kepada Putri Aeradale. “Maaf, Putri. Keputusan ada di tangan Yang Mulia,” balasnya, seakan-akan tahu Reeval juga menentang keputusan sang Putri.
Reeval mengangkat kecil satu sudut bibirnya. Ia bertopang dagu selagi menatap lurus manik biru Arcaviel, bisa merasakan kilat lebih dari sekadar amarah. Kecemburuan, mungkin. Entahlah, pria itu jelas menikmatinya. “Anh benar, Arcaviel. Keputusan jelas ada di tanganku, kakakmu. Mengaku sebagai anggota kerajaan bukan suatu perkara yang dapat kita toleransi, bahkan jika kejiwaan gelandangan ini stabil.”
“Putraku, aku sungguh waras!” Topaz mengangkat kepala usai sedari tadi bersujud di atas lantai. “T-Tidakkah kau melihat kesamaan diriku dengan yang dulu?”
Arcaviel tidak bisa menahan diri lagi untuk beringsut menuju Topaz. Dengan satu tangan mencekal d**a pria paruh baya itu untuk kembali bersujud, ia berkata, “Tidak perlu seperti itu, Pa—”
Belum sempat menuntaskan bicara, tubuh kumal Topaz tiba-tiba tertarik dari belakang oleh siluet hitam utusan Reeval. Kabar baiknya, Raja Aeradale masih berbaik hati karena pria itu tidak mendarat dengan kasar pada permukaan dinding. Tetapi, tetap saja Arcaviel tidak bisa menerima perlakuan tersebut. Topaz merupakan ayah kandung Reeval! Ke mana hati pria itu?
“Anh,” didengarnya Reeval memanggil nama Lobelia, “usung gelandangan ini menuju kamar Brigid.”
“Bagaimana, Yang Mulia?” Lobelia mengerutkan kening dalam-dalam.
“Reeve memintamu mengantar paman ini ke kamar Brigid!” Arcaviel tidak repot-repot mengatur suaranya agar tidak terdengar sewot. “Jadi, pergi sekarang—berikan pakaian yang layak untuknya membersihkan diri. Jangan memperlakukan paman ini dengan buruk.”
Lobelia sekali lagi memastikan ucapan Arcaviel, dengan menatap rajanya.
“Dengarkan saja adikku,” jawab Reeval, seakan-akan memahami tujuan dari lirikan pemedisnya tersebut.
Sesuai permintaan kedua atasannya, Lobelia lekas menggiring Topaz versi gelandangan menuju kamar Brigid. Arcaviel tidak henti-hentinya menaruh atensi kepada Lobelia, saking muaknya ia melihat interaksi antara Reeval dan Lobelia yang sebenarnya biasa saja. Daripada marah dengan keputusan Reeval untuk mengasingkan ayah kandungnya, Arcaviel lebih sulit untuk mengatur emosi jika melibatkan afeksinya.
Reeval beringsut dari kursi kebesarannya usai memastikan Lobelia sudah pergi bersama Topaz. Ia mengambil kesempatan untuk berduaan dengan Arcaviel. Dengan satu tarikan lembut, Reeval mengusung sang Putri untuk bersemuka dengannya selagi pria itu duduk di sisi meja. Paras masam Arcaviel berhasil meloloskan tawa halus dari pria bernetra hitam tersebut.
“Aku tidak bisa menoleransimu,” ketus Arcaviel. “Paman Topaz adalah ayahmu, Reeve!”
Binar menggoda di netra sehitam jelaga Reeval meredup. Ia membuat Arcaviel jatuh di atas pangkuannya, menenggelamkan wajah pria itu di antara ceruk lehernya. Deru napas Reeval memberat selagi ia berkata, “Topaz mengataiku sampah karena membuatnya merasa malu.”
“Kau bukan sampah,” balas Arcaviel, menghela napas.
“Yang membuatku marah bukan karena perkataannya, Cavi.” Pria itu mencoba untuk membuka diri pada Arcaviel. “Melainkan, aku marah karena ucapannya memang benar. Aku sampah. Ia kecewa berat denganku, karena sudah mengambil takhta keluargamu.”
Arcaviel menggeleng. Ia mengusap surai hitam Reeval, berharap akan memberikan sedikit ketenangan untuk pria itu. “Cerita semua keluh kesahmu, Reeve. Aku di sini.”
“Aku takut, dengan menerima kehadirannya di sini, itu akan membuat Raja memusuhi ayahku—cukup aku yang mereka musuhi. Tidak perlu melibatkan ayahku,” terus Reeval, selagi ia mulai mengerahkan tenaga untuk bercerita mengenai masa-masa sebelum ia dan Putri Aeradale berpisah. “Malam itu, keluargamu memisahkan kita.”
“He-em.” Arcaviel ingat betul saat ia didesak pergi bersama Rodeus dan kedua pengasuhnya—yang selanjutnya dijadikan sebagai Mom dan Dad di alam fana. “Apa yang Mom, Dad, dan Kak Viar lakukan padamu?” Ia tidak tahu pasti nasib Reeval karena Arcaviel sendiri tidak sedang berada di sana ketika keluarganya ingin mengurus pria itu.
“Mereka menghapus ingatanku tentangmu—melalui penyihir muda didikan Brigid.” Reeval mengeratkan lingkar lengannya di antara perut Arcaviel, seakan-akan tidak ingin melepaskannya lagi. “Selama itu, aku berpura-pura melupakanmu. Aku tersiksa, Arcaviel. Aku tidak bisa berpikir jernih sedikit pun. Kau … satu-satunya yang kubutuhkan.”
Pengakuan itu sangat jujur dan tulus. Arcaviel menahan cairan bening lolos dari manik birunya. Dengan tangan kiri, ia meremas jemari kukuh Reeval di dekat perutnya selagi mendengar cerita dari sudut pandang Reeval. Katanya, semenjak saat itu, ia menyusun cara untuk melengserkan keluarga kerajaan tanpa kekerasan. Reeval mengambil jalan pintas melalui cara kotor.
Ia membuat penghuni Aeradale melupakan wajah Raja, Ratu, dan Putra Mahkota. Setelah Reeval berhasil memegang kendali atas takhta, ia menyuruh para siluet untuk mengasingkan keluarga kerajaan ke bagian terdalam Hutan Ash. Reeval tahu keputusannya teramat keliru, tetapi ia tidak bisa berpikir jernih semenjak kehilangan satu-satunya sosok terkasih.
Atas ambisinya, mana hitam Reeval menguat. Sebetulnya, mana hitam Reeval termasuk terkuat di antara mana hitam orang lain. Dengan berbekal mananya, ia bahkan bisa membantu Arcaviel untuk memiliki mana yang sama dengan miliknya. Oleh karena itu, Reeval dianggap sebagai ‘bayang’ dalam sebuah nujum berlarik: masa depan Aeradale akan jatuh ke tangan sang Putri bersama bayang.
“Aku percaya nujum itu keliru, Reeve.”
Dada Reeval terasa hangat. Separuh bebannya hilang begitu saja selepas menceritakan semua hal yang sudah dilewatkan oleh Putri Aeradale. Arcaviel masih duduk di atas pangkuan Reeval, enggan menjauhkan diri dari pria itu. Ia sungguh menikmati kebersamaan mereka. Hal yang membuat Reeval bersyukur, Arcaviel tidak pernah satu kali pun menilainya buruk.
“Apa kau menginginkan takhta ini kembali kepada keluargamu?” bisik pria itu, tepat di samping cuping telinga Arcaviel.
“Aku tentu ingin, Reeve,” Arcaviel hanya ingin berkata jujur, “karena semenjak awal, takhta ini milik keluargaku.”
Reeval mengukir senyum kecut.
“Izinkan aku meluruskan hal ini kepada keluargaku, Reeve,” imbuh Arcaviel, membuat lingkar lengan Reeval mengendur begitu saja. Tanpa terganggu dengan sorot enggan pria itu, Arcaviel beranjak dari atas pangkuan paha Reeval dan bersemuka di depannya. “Masih ada waktu bagi kita mendapatkan kepercayaan mereka kembali.”
“Tidak semudah itu, Arcaviel.” Reeval menahan tatapan mereka, mencoba untuk biasa saja, tetapi kemarahannya sudah pasti tertangkap di indra penglihat Putri Aeradale. “Mereka hanya akan berakhir memisahkan kita kembali.”
Arcaviel menggeleng. “Mereka akan mengerti,” ucapnya, meraih kedua tangan Reeval untuk menenangkan emosi pria itu. “Kau tulus mencintaiku, begitu juga aku. Tidak akan ada lagi yang dapat memisahkan kita.”
“Aku tetap tidak mau.” Jawaban itu berhasil meloloskan helaan napas lolos dari bibir ranum Arcaviel. “Satu-satunya cara jika keluargamu ingin mengambil takhta ini adalah dengan kau pergi sejauh mungkin bersamaku.”
“Maksudmu?”
“Aku berpikir kita berdua akan pergi dari kontinen. Itupun jika kau ingin keluargamu menempatkan kastel ini kembali.”
“Mustahil, Reeve. Aku tidak mungkin meninggalkan keluargaku sendiri.”
Seakan-akan tidak terusik dengan raut memelas sang Putri, Reeval tetap berkata dengan nada teguh, “Kalau begitu maafkan aku, Arcaviel. Aku tidak bisa memberikan takhta ini.”
“Reeve!” Arcaviel menggigit bibirnya.
“Kau tahu aku, Cavi.” Ibu jari Reeval terangkat untuk mengusap pipi halus Arcaviel, memandangnya begitu teduh, kontras saat ia meneruskan ucapannya, “Cukup sekali aku kehilanganmu—dan selanjutnya, jika mereka memisahkan kita lagi, kupastikan akhir dari nujum itu terealisasi.”[]